Menantu Cantik Putri Konglomerat

Menantu Cantik Putri Konglomerat
BAB 45


__ADS_3

Jonathan menatap Tiyas dengan cukup lama. Pria itu menghela napasnya pelan. 


"Stefanny orangnya memang begitu. Mau sekeras apapun Bagas nolak, dia gak akan nyerah. Tapi lo percaya aja deh sama Bagas." 


Mendengar pernyataan Jonathan malah membuat Tiyas dihampiri kebimbangan. Keteguhan hatinya untuk tidak jatuh cinta kepada Bagas kini mulai goyah. Memang benar kata pepatah, tak kenal maka tak sayang. Meski awalnya tidak menaruh rasa apapun, tapi mendapatkan perlakuan manis serta hidup dalam satu atap tentunya pasti akan tumbuh benih-benih cinta. 


"Kalo lo mau jawaban pasti, mending tanya langsung sama Bagas," sambung Jonathan yang sepertinya tahu kegelisahan hati Tiyas. 


Wanita itu hanya bisa tersenyum tipis sedikit getir. 


"Saya mau bantu-bantu dulu. Kalau kamu gak ada kepentingan disini, enakan pergi aja." 


Jonathan berseru protes sambil berdecak kesal. 


"Enak aja ngusir orang sembarangan! Karena ada lo disini, buatin gue kopi ya. Jangan manis-manis!" 


Tiyas mendelik sinis, kemudian tanpa kata wanita itu segera berjalan ke dapur dan membuat pesanan Jonathan. Sedangkan pria itu kini duduk tak jauh dari sana dan fokus pada ponselnya. 


"Nona, anda sedang apa?!" pekik Maria yang baru saja tiba di dapur. Wanita paruh baya itu tampak panik saat melihat majikannya menyeduh kopi sendirian. Sedangkan pegawai yang lain tidak membantu. "Hei, apa yang kalian lakukan? Kenapa gak ada yang ambil alih pekerjaan Nona Tiyas?!" 


Para wanita-wanita disana hanya bisa terdiam sembari mengkerut ketakutan. Tentunya takut jika harus dipecat oleh Maria. Semua pekerja rumah tangga di mansion utama ini dipegang oleh Maria, jadi lanjut bekerja atau dipecat itu semuanya hak penuh Maria. Keluarga Wiguna tidak tahu menahu akan hal ini. 


Tiyas meringis, ia segera menggeleng pelan. Wanita itu sebisa mungkin tidak mengganggu pekerja yang lain, karena tahu mereka semua berada di pihak mertua dan Stefanny. 


"Gak usah marah ke mereka. Saya sendiri yang inisiatif mau bantu disini, pasti kalian kerepotan kan? Ini juga kopi buat Jonathan, kasihan dia gak mau berbaur sama yang lain," ungkap Tiyas dengan senyum tipisnya dan kembali melanjutkan pekerjaannya. 


Sudah bekerja dengan keluarga Wiguna sejak masih lajang hingga hampir memasuki usia kepala lima, Maria tentunya tahu betul apa yang terjadi didalam rumah ini. Dan wanita paruh baya itu hanya bisa menatap sendu Jonathan dan Tiyas. Betapa malangnya nasib kedua orang ini. 


"Buat kopi Tuan Jonathan, biar saya yang antar Nona," tawar Maria yang langsung saja menyambar kopi tersebut dan berbalik pergi menghampiri Jonathan. 


Sedangkan Tiyas kini menatap sekelilingnya dimana semua pekerjaan sudah ada yang menghandlenya masing-masing. Wanita itu berpikir untuk setidaknya mengganti pakaiannya, tetapi tertunda karena sebuah seruan di belakang tubuhnya. 


Seorang wanita muda dengan tatapan sinisnya menatap Tiyas. 

__ADS_1


"Gak liat ya wastafel? Banyak tuh piring kotor numpuk. Dicuci ya, kita semua lagi sibuk." 


Apa Tiyas bisa menolak dengan nada tinggi dan marah-marah? Oh, tentu tidak. Wanita itu mengangguk dengan senyum masamnya yang sudah kepalang jengkel. Menggulung tangan blazernya sampai siku dan juga mengikat rambutnya yang tergerai panjang. 


Mencuci piring bukanlah hal yang sulit. Meski sejak kecil, Tiyas dilarang untuk memasuki dapur. Tetapi dengan kegemarannya memasak, jelas mencuci piring sudah menjadi bagian kegiatan tersebut. 


"Oke, semangat!" bisiknya sembari menyemangati dirinya sendiri. Walau tubuhnya remuk dan meminta untuk diistirahatkan, tetapi Tiyas harus memaksanya sedikit lebih keras. 


Disisi lain, kini Maria tengah menyajikan kopi untuk Jonathan. 


"Tuan Muda, kopinya," ucapnya dengan bungkukan sopan. 


Jonathan yang sejak tadi bermain ponsel terkejut karena kehadiran Maria.


"Oh, kupikir Tiyas yang buat." 


Maria tersenyum kecil.


"Nona Tiyas yang membuatnya, tetapi saya yang memaksa untuk mengantarkannya pada anda, Tuan." 


"Lumayan," tanggapnya yang mengakui bahwa buatan Tiyas tidak terlalu buruk. 


"Kenapa gak ikut ngobrol? Gak enak sendirian di tempat seramai ini," celetuk Maria yang masih berdiri di tempatnya. 


Jonathan tertawa sarkas. Pria itu menaruh kembali cangkir kopinya dan mengisyaratkan Maria untuk duduk. 


"Gak deh," tolaknya dengan mengedikkan bahunya. "Kamu aja yang duduk, temani saya." 


"Saya masih banyak tugas, Tuan Muda," tolak Maria dengan senyum hangatnya namun matanya menyiratkan kesedihan. "Kalau begitu saya pamit dulu. Jika ada yang diperlukan anda bisa cari saya."


Jonathan mengangguk paham, ia mempersilahkan Maria untuk kembali melaksanakan tugasnya. Pria itu hanya diam sembari menatap atasannya yang begitu disenangi oleh banyak orang. Begitu juga dengan Stefanny yang mudah menarik simpati orang. Kemudian tatapannya beralih pada Tiyas yang kini sibuk dengan piring-piring kotornya. 


Matanya masih tidak lepas dari punggung Tiyas, kemudian memicing saat Stefanny berjalan masuk ke dalam dapur. 

__ADS_1


"Cewek sialan!" umpat Jonathan yang masih memperhatikan gerak-gerik Stefanny. 


Pada sudut pandang yang berbeda. Ketika Tiyas tengah kerepotan dengan tumpukan piring kotor yang sejak tadi tidak ada habisnya dan makin bertambah, tiba-tiba saja Stefanny datang dan berdiri di sampingnya sembari bersandar pada meja wastafel. 


"Oh, gue pikir lo minggat karena malu orang miskin sendirian. Gak taunya malah membabu disini," ledek Stefanny dengan terkekeh kecil. Kemudian kepalanya mengangguk puas. "Bagus deh, biar lo sadar diri. Dimana seharusnya orang rendahan kayak lo berada." 


Tiyas berusaha untuk menulikan telinganya. Menganggap bahwa hinaan tak mendasar Stefanny adalah angin lalu. Bisa saja dengan sekali gerakan, Tiyas melumpuhkan wanita lemah yang hanya pintar membual ini. Tetapi wanita itu tidak akan menggunakan keahliannya untuk hal yang tidak berguna. 


Merasa diabaikan oleh Tiyas, Stefanny makin gencar untuk mengganggunya. 


"Gue pikir orang miskin ramah dan sopan-sopan, ya. Gak taunya malah lebih sombong dari orang kaya," sindir Stefanny dengan dengusan kesal. 


"Maaf Nona Stefanny, saya mau letakkan piring kotor," ucap salah satu pegawai yang ada disana. 


Stefanny dengan sigap mengambil beberapa piring tersebut. 


"Sini biar saya bantu," katanya dengan nada selembut mungkin. Namun jarinya tergelincir dengan sengaja dan menjatuhkan semua piring. "Ups, gak sengaja." 


Tiyas yang menatap banyaknya serpihan pecahan beling disana menghela napas panjang. Ia melirik para pegawai disana yang seperti terdiam tanpa mau memunguti pecahan piring tersebut. 


Karena takut melukai orang lain, Tiyas berinisiatif untuk berjongkok dan memunguti satu persatu pecahan kaca dengan pelan dan sangat berhati-hati. 


Stefanny yang tadinya tersenyum senang, matanya melirik Bagas yang berjalan menembus kerumunan orang. Banyak dari mereka yang penasaran dan sang model dengan cepat ikut berjongkok dan memunguti pecahan kaca tersebut dengan cepat. 


Tiyas menatap Stefanny dengan kening yang berkerut.


"Kamu bisa melukai tanganmu jika mengambilnya dengan ceroboh dan tidak hati-hati," tegurnya dengan ringisan pelan. Ngilu saat melihat jari Stefanny yang sudah dihiasi oleh kuku-kuku panjang kini ikut memunguti pecahan beling. 


Mendengar teguran Tiyas, Stefanny langsung saja mendorong wanita itu dan menggenggam beling tersebut di telapak tangannya. 


"Akh!" Stefanny berteriak dengan penuh kesakitan. 


Dan Bagas sampai disana dengan mata yang melebar. 

__ADS_1


"Ada apa ini?" 


__ADS_2