Menantu Cantik Putri Konglomerat

Menantu Cantik Putri Konglomerat
BAB 35


__ADS_3

Tiyas menatap ponsel Bagas yang layarnya menghitam. Beberapa detik lalu sambungan panggilan diputus secara sepihak oleh Stefanny. 


Mendengar penjelasan model tersebut membuat tubuh Tuyas menegang. Bibir bawahnya ia gigit dengan satu tangannya berada di kening sembari memijat pelan. Betapa pening ia rasakan karena masalah datang silih berganti. 


"Kamu kenapa? Sakit lagi?" 


Tiyas menoleh pada sumber suara. Disana sang suami menatapnya dengan pandangan khawatir. 


"Harusnya saya yang khawatir sama kamu saat ini," bisik Tiyas dengan sedikit keras hingga Bagas bisa mendengarnya walau samar. 


Alis pria itu terangkat. Tidak mengerti dengan perubahan suasana Tiyas.


"Kenapa sih?" 


"Kita pulang sekarang, Mas," putus Tiyas pada akhirnya. Wanita itu tidak memberikan kesempatan untuk Bagas kembali bertanya. 


Bagas yang tentunya merasa kebingungan dengan situasi ini hanya bisa mengekor kemana arah pergi istrinya. Hingga mereka sampai di luar, barulah pria itu menarik paksa tangan Tiyas. 


"Kamu ini kenapa, sih? Kok tiba-tiba minta pulang? Kalau marah bilang, kamu yang kayak gini bikin aku kebingungan," keluh Bagas sembari memekik kesal. Kedua alisnya menukik hingga hampir menyatu. 


Tiyas memberikan ponsel itu pada pemiliknya. 


"Stefanny tadi menelepon," 


"Harusnya kamu abaikan aja," potong Bagas dengan cepat. 


"Bukan masalah itu! Seharusnya kamu dengar omongan saya dulu, Mas!" tuntut Tiyas dengan menghela napas kesal. Ia menarik tangannya yang dicengkeram oleh Bagas. "Ibu kamu sekarang lagi drop."


"Itu memang sudah biasa, darah tingginya sering kumat," balas Bagas dengan begitu santainya. Seolah-olah mendengar orang tuanya sakit bukan hal besar untuknya. 


Tiyas terperangah, menggeleng tak percaya melihat tanggapan suaminya. 


"Darah tingginya kumat karena ulah anaknya sendiri." 


Kening Bagas mengkerut. 


"Apa maksudmu?" 


Wanita itu menggeleng pelan. Kemudian berjalan duduk di sebuah bangku panjang yang tersedia disana. Melirik pada sang suami yang masih tepekur disana. 


"Buka semua portal berita, Mas. Kamu bakal tau jawaban dari semua pertanyaan tadi." 

__ADS_1


Karena begitu penasaran Bagas segera membuka portal berita. Dimana kini terdapat sebuah judul besar dengan sebuah foto blur menjadi berita terhangat. Meski foto itu diambil dari jarak jauh, tapi wajah Bagas dan Jovan yang sudah babak belur terlihat dengan jelas. 


"Terus?" 


Tiyas tertawa getir, bisa-bisanya tanggapan Bagas begitu santai. Padahal berita menyebar begitu cepat di semua media sosial. 


"Gitu aja tanggapanmu? Tolong yang serius, Mas." 


Bagas menghela napas kasar. Ia kemudian duduk di samping sang istri. 


"Terus saya harus gimana? Berita saya ini sebanding sama apa yang saya lakukan. Kalau aja saya gak kasih pukulan sama pria itu, mungkin dia menjadi semena-mena terhadapmu." 


"Ini bukan cuma karena berita, tapi juga kondisi orang tuamu, Mas," sahut Tiyas sembari menghela napasnya frustasi. "Saya gak tau apa yang terjadi didalam keluarga kalian. Tapi terdengar nyaman kalau seorang anak mengkhawatirkan orang tuanya." 


Pria itu terdiam seribu bahasa. Pernyataan Tiyas seakan menusuk dadanya. Benar, wanita ini tidak tahu apapun tentang bagaimana perang dingin antara ibu dan anak itu yang masih berlangsung sejak pertengkaran mereka di kamar Bagas. 


"Oke, saya minta maaf," sesal Bagas pada akhirnya. Pria itu tidak ingin momen bahagia mereka hancur begitu saja hanya karena masalah ini. "Kalau gitu, kita pulang ya." 


Mau tidak mau Tiyas mengangguk setuju. Berjalan mereka bersisian dengan pikiran masing-masing. Mungkin Bagas tengah berpikir bagaimana meredam media agar segera bungkam. Tidak beda jauh dengan Tiyas, namun kekhawatiran mereka jelas berbeda pada akhirnya. 


Saat ini Tiyas tengah dilanda panik, pasalnya wajahnya yang samar masih terlihat di dalam gambar tersebut. Tentu perseteruan antara kedua pria yang tidak pernah terlibat sebuah hubungan akan menimbulkan berbagai macam spekulasi. 


Tiyas melirik sang suami yang tampak lebih tenang dibandingkan dirinya. Ini bukan hanya soal perkara media. Wanita itu takut jika Jovan bertindak nekat dan membeberkan semua yang sebenarnya. 


"Semoga semuanya gak apa-apa ya, Mas," ucap Tiyas berusaha tersenyum tenang. Tidak, ini bukan untuk menenangkan sang suami. Melainkan perkataannya barusan untuk membuat hatinya sedikit lebih tenang. 


Bagas mengangguk pelan. Ia mengambil tangan Tiyas dan menggenggamnya dengan erat, seraya memberikan elusan pada punggung tangan itu. Setidaknya dengan menggenggam tangan tersebut membuat pikirannya waras dan juga lebih bisa berpikir jernih. 


***


Di sebuah rumah sakit, kini terbaring Jovan dengan pandangan datarnya menatap layar televisi yang menayangkan berita hangat. Tidak lain adalah beritanya yang dipukul sampai babak belur oleh seorang petinggi perusahaan terkenal. 


Semula dirinya tengah fokus sebelum akhirnya seseorang masuk ke dalam ruang rawat inapnya. 


"Gimana kabarmu?" tanya sosok wanita yang tak lain adalah Dirut TD Agency, Beby Belvina. 


Sang model hanya bisa mendengus geli. 


"Basa-basi apa gimana? Gak liat saya terbaring gak berdaya disini." 


Beby terkekeh kecil. Ia kemudian meletakkan buah tangan di atas nakas samping ranjang. 

__ADS_1


"Ada buah-buahan dan vitamin buat kamu. Semoga cepat sembuh ya." 


"Thanks," ucap Jovan dengan pelan. Ia kemudian melirik Beby dengan penasaran. "Katanya diluar banyak wartawan ya?" 


Beby mengangguk. Wanita itu menghela napasnya seraya duduk di sofa panjang jauh dari ranjang artisnya. 


"Bukan cuma wartawan, tapi fans kamu juga banyak yang nunggu didepan. Gila ya, semua pintu penuh sama wartawan. Saya aja kewalahan buat masuk kesini." 


Jovan terkekeh hambar. Tentunya sebagai artis yang sedang naik daun, pria itu tidak menampik bahwa berita ini akan terus naik dan jadi perbincangan hangat. 


"Kayaknya kamu menikmati ya," sindir Beby dengan gelengan pelan. 


Sang model hanya bisa mengedikkan bahunya. Tidak dipungkiri bahwa apa yang dikatakan Beby adalah sebuah kebenaran. 


"Seenggaknya tuh cowok bisa dapet ganjaran karena mukulin aset berharga saya." 


"Kamu juga pantes dapet hadian bonyok kayak gini. Siapa suruh meluk istri orang?" ledek Beby dengan tatapan matanya yang tajam. "Inget Jo, kamu itu lagi naik-naiknya. Jadi kurangin bikin skandal." 


Jovan kembali mengedikkan bahunya tak peduli. 


"Kak, kamu gak liat gimana hubungan Stefanny sama si Bagas itu gimana? Lagian mereka menikah karena terpaksa dijodohkan."


Beby berdecak kesal. Artis kesayangannya ini memang semakin lama semakin keras kepala. Tidak bisa sepenurut saat awal debut sebagai aktor. 


"Mau dijodohkan atau gak, sekarang status mereka sudah sah dimata hukum dan agama. Kamu gak punya hak buat merebut milik orang lain. Kalaupun Stefanny akan menjadi duri didalam hubungan mereka, gak ada sangkut pautnya sama kamu, Jo," nasehat Beby dengan penuh penekanan. 


Walau di depan sahabatnya dan Arya, wanita itu bisa menjadi sosok kekanakan-kanakan dan ceroboh. Tapi kalau sudah berhubungan dengan pekerjaan, Beby selalu profesional dalam menangani artis-artisnya. 


Mendengar pernyataan Beby membuat Jovan hanya bisa mengernyitkan keningnya dalam. Hubungan Stefanny dan Bagas tentu tidak bisa dianggap remeh. Juga pastinya baik Bagas dan Tiyas mereka akan tinggal serumah untuk waktu yang lama, bahkan sekamar dan seranjang, rasanya mustahil jika rasa diantara mereka tidak ada. 


"Keluarga Bagas tahu kalau Tiyas anak konglomerat?" tanya Jovan dengan tiba-tiba. 


Beby menatap sang artis dengan pandangan waspada. 


"Gak usah macem-macem." 


Jovan berdecak kesal. 


"Nanya doang. Kalau gak mau jawab, ya gak masalah." 


Lain dimulut lain dihati. Mendapat tanggapan ambigu dari Beby, membuat Jovan telah mengambil sebuah kesimpulan. Pria itu kini penasaran akan reaksi Bagas jika tahu bahwa sang istri bukanlah orang biasa. 

__ADS_1


__ADS_2