Menantu Cantik Putri Konglomerat

Menantu Cantik Putri Konglomerat
BAB 37


__ADS_3

Mata Tiyas melebar saat tamparan itu mengenai wajah suaminya. Dirinya menoleh pada sang Ayah mertua yang tampaknya sangat murka. 


"Dasar, anak kurang ajar!" seru Restu dengan penuh penekanan dalam setiap perkataannya. "Kita bicara di dalam ruang kerja kakekmu." 


Setelah peninggalan Restu, Bagas hanya bisa terdiam menahan sakit dan juga malu. Pastinya malu harus ditampar dan tidak berdaya di depan istrinya. Tetapi pria itu tidak bisa berbuat apa-apa. 


"Mas," panggil Tiyas sembari menatap sang suami dengan pandangan khawatir. Tangannya terangkat dan mengelus pelan pada pipi yang memerah. 


Bagas meringis kecil. Ia kemudian menarik tangan sang istri dari pipinya. Rasa perih masih terasa dan elusan tersebut malah tambah menyakitkannya. 


"Gak apa-apa," sahutnya dengan senyuman tipis. "Lebih baik kita ikuti alurnya saja. Lagipula saya bersalah karena main hakim sendiri." 


Tiyas menghela napasnya pelan. Keningnya mengernyit tajam. Tidak menyangka bahwa masalah yang dihadapi suaminya akan dimulai dari amarah keluarganya. 


Maka yang bisa wanita itu perbuat hanya mengikuti langkah sang suami beriringan. Jelas situasi menegangkan ini hal baru bagi Tiyas. Di tengah keluarganya yang harmonis, Tiyas tidak pernah merasa seperti disidang. 


Ternyata di dalam ruangan itu bukan hanya ada Restu, tetapi juga ada Chandra dan Jonathan. Alis Tiyas terangkat, ia tidak tahu bahwa hubungan Jonathan dengan keluarga Bagas cukup erat sampai hadir disini. 


"Duduk," titah Chandra pada pasangan pengantin baru yang baru saja tiba. 


 


Tangan Bagas kini berada di pinggang Tiyas, mengarahkan wanita itu untuk duduk disampingnya bersama Jonathan disana. Memberikan sedikit elusan pelan untuk memberikan ketenangan. 


"Kita langsung saja," sambung Chandra sembari menegakkan posisinya. Menatap Tiyas yang menunduk dalam dan Bagas yang menatapnya datar namun sedikit ketakutan disana. "Apa yang sebenarnya kamu lakukan sampai memukul orang lain, Bagas? Kamu lupa bagaimana kelas etiket yang sudah dipelajari? Kamu itu pewaris, dengan kontrol emosi yang buruk aja sudah ada nilai minus. Dan sekarang kamu pukul seorang aktor yang penggemarnya dimana-mana. Kamu gak tau kalau saham kita dari pagi perlahan turun?" 


Bagas menegakkan punggungnya. 


"Saya sedang mempertahankan apa yang sudah milik saya, Kek." 


Alis Chandra terangkat, pria tua itu kemudian menatap Tiyas yang masih tertunduk takut. Kemudian beralih pada Jonathan yang takut melihat ke arahnya. 


"Apa maksudmu?" 


Sulung Wiguna itu menghela napasnya. Malas rasanya jika harus menjelaskannya dari awal, begitu panjang. 


"Singkatnya ada seseorang yang berusaha mengambil Tiyas dari saya, Kek. Dia menantang saya, maka itulah awal mula dari berita imi tersebar." 


"Gila kamu!" hardik Restu yang langsung memotong percakapan mereka. "Bisa-bisanya hanya karena wanita kamu tanpa berpikir panjang mencoreng nama baik Wiguna!" 


Mata Tiyas terpejam erat sembari kedua tangannya saling bertaut. Sudah ia duga hal ini akan berbuntut panjang. Sepertinya wanita itu juga perlu mengumpat ikiran pendek suaminya. 

__ADS_1


Tetapi sebagai pria jelas Bagas tidak terima dengan perkataan Ayahnya. 


"Pa, dia terang-terangan akan mengejar cinta Tiyas. Dia juga maksa buat peluk istriku. Aku tentunya gak terima dengan perlakuannya yang semena-mena itu!" 


"Sudah, cukup!" seru Chandra berusaha untuk melerai perseteruan Ayah dan anak itu. Pria tua itu sepertinya mulai paham, otaknya mencerna bahwa hubungan Tiyas dan Bagas kini sudah berjalan ke arah yang baik. "Tiyas, kamu kenal siapa laki-laki itu?" 


Tiyas yang tiba-tiba ditanya langsung mengangkat kepalanya. Ia menatap Restu yang enggan menatapnya. Kemudian beralih menatap Kakek Chandra. 


"Saya sering ikut teman yang bekerja di salah satu perusahan untuk memantau artisnya, Kek. Dan saya cukup lama mengenal laki-laki itu namanya Jovan." 


Chandra mengangguk paham. Tentunya ia tahu apa pekerjaan sebenarnya Tiyas, menjadi pemilik perusahaan pastinya beberapa kali harus memantau artis dibawah naungan mereka. Jadi itu bukan hal fatal yang dilakukan Tiyas. 


"Terus?" sahut sang pria tua itu dengan tatapan lembut, berusaha untuk tidak membuat Tiyas merasa tertekan.


Sedangkan Bagas yang memang belum tahu cerita dibalik kedekatan istrinya dengan Jovan, lantas ikut penasaran. Kini kepalanya menoleh penuh pada Tiyas. 


Tiyas yang merasa jadi pusat perhatian hanya bisa meneguk air liurnya kasar. 


"Pertemanan itu udah lama terjalin, dari beberapa tahun terakhir. Awalnya saya biasa aja, tapi semakin lama saya sadar bahwa Jovan punya rasa." 


Artis yang mencintai atasannya sendiri merupakan kejadian yang langka. Mungkin ini karena umur Tiyas dan Jovan yang tak jauh berbeda. 


Wanita itu tersenyum masam sembari menggeleng. 


"Gak, Kek. Saya gak pernah membalas cinta Jovan." 


Helaan napas lega Bagas dan Chandra jelas menggambarkan bagaimana suasana tegang itu kini perlahan mulai menghangat. 


Tetapi tidak untuk Restu yang memang sejak awal mendukung keputusan sang istri dengan tidak menerima Tiyas menjadi menantunya. 


"Kenapa kamu gak menerimanya? Dia aktor, model, ganteng juga. Banyak duit pasti. Kenapa orang pas-pasan kayak kamu dengan entengnya menolak cinta pria itu?" 


Jelas karena keduanya mempunyai strata sosial yang berbeda. Itulah isi hati Chandra yang berteriak dengan kesal. Meski sang artis memiliki uang dan mapan, bukan berarti keluarga sekelas Adhitama menerimanya dengan tangan terbuka. 


"Jelas pemikiran Tiyas dan Stefanny berbeda. Cucu menantuku ini bukan orang yang bisa mencintai seseorang dari kekayaan. Sedangkan Stefanny, sampai sekarang wanita itu terus mengejar Bagas karena cucuku pewaris tunggal PT. W Group," sindir Chandra dengan panjang lebar. 


Restu hanya bisa bungkam setelah mendapat lirikan tajam dari Ayahnya.


"Oh ya, kalau Tiyas jelas alasan dia disana karena temannya. Kalian berdua," ucap Chandra menjeda kalimatnya. Matanya memicing curiga pada Bagas dan Jonathan. "Apa yang kalian lakukan disana?" 


Bagas sontak melirik kesal pada asistennya. 

__ADS_1


"Jonathan memaksaku untuk ikut melihat pemotretan Stefanny.. Dengan dalih kasihan. Dan sialnya partner pemotretan Stefanny adalah Jovan." 


Chandra mengangguk paham. Dengan ini rasa penasarannya telah terpenuhi. Sudah jelas yang menjadi akar permasalahannya adalah Stefanny. Wanita itu akan selalu menjadi duri dalam keluarganya. 


Cepat atau lambat Chandra akan menyingkirkan Stefanny dan juga pria yang bernama Jovan. 


"Untuk berita yang sedang tersebar, tenang aja. Kakek yang akan bereskan semuanya tanpa sisa," ungkap Chandra dengan tersenyum tipis. "Kamu boleh pergi Jonathan."


Pria itu mengangguk pelan sebelum akhirnya berpamitan meninggalkan ruangan. 


Chandra kemudian beralih pada Tiyas yang sepertinya tidak nyaman duduk disana.


"Tiyas, kamu boleh pergi." 


Tiyas menghela napas lega, bahunya yang tegang bahkan mulai melemas. 


"Terima kasih, Kek." 


Dengan bungkukkan sopan kepada Chandra dan Restu. Wanita iti kemudian beranjak dari duduknya dan melangkah pergi. Namun suara sang Kakek membuatnya berhenti. 


"Kamu mau kemana?" tanya sang pria tua tersebut. 


Kening Tiyas mengkerut, katanya disuruh untuk pergi. Sekarang ditanya, sebenarnya apa mau Chandra ini. 


"Gas, kamu mau kemana?" tanya Chandra sekali lagi yang ternyata mengarah pada sang cucu. 


Bagas yang memang ikut mengekori sang istri lantas menyuarakan protesnya. 


"Mau ikut istriku. Minta tolong dikompreskan," jawabnya sembari menunjuk pipinya yang memerah samar. 


Restu yang menjadi pelaku penamparan tersebut hanya bisa terdiam seribu bahasa. 


Sedangkan Chandra menggeleng pelan. Tidak habis pikir dengan kelakuan cucunya. Kepalanya bergerak mengisyaratkan untuk Bagas kembali masuk. . 


"Duduk, kamu harus menaikkan saham perusahaan lagi." 


Bagas mendengus kesal. Ia menatap istrinya dengan tidak rela. Tapi yang ditatap malah cuek saja. 


Ketika Tiyas kembali berpamitan sekali lagi. Langkahnya terhenti saat mendengar perintah Restu. 


"Kunjungilah ibu mertuamu dikamar. Kasih dia semangat." 

__ADS_1


__ADS_2