Menantu Cantik Putri Konglomerat

Menantu Cantik Putri Konglomerat
BAB 39


__ADS_3

Kepala Tiyas semakin menunduk saat elusan dari suaminya tak kunjung berhenti. Dengan perkataan Bagas dan sikap lemah lembutnya membuat Tiyas merasa salah tingkah. Pipinya memerah tanpa bisa dicegah. Bagas yang sekarang berbeda dengan Nagas yang dikenalnya pertama kali. Jarang sekali Tiyas mendapatkan ucapan sarkas atau hinaan seperti saat di mal.


"Mas, sudah. Malu," bisik Tiyas seraya menarik kepalanya ke belakang. 


Bagas menatap tangannya yang kini menggantung kemudian ditariknya dan disimpan ke dalam saku celana. Pria itu tak bisa menahan senyumnya, ternyata begitu lembut rambut sang istri membuatnya tak bisa berhenti untuk mengelusnya. 


"Saya kira kamu gak pernah merasa malu," sindir Bagas bercanda. 


Tiyas hanya bisa mendengus kesal. 


"Udah ah, saya mau masak dulu Mas. Nanti mama nunggu." 


Bagas mengangguk mengerti. Tubuhnya sedikit merendah dan condong ke arah istrinya. 


"Emang bisa masak?" tanyanya sembari alisnya terangkat. 


Sang istri hanya bisa mendelik sinis kepada suaminya. Tanpa perasaan Tiyas mendorong dada Bagas untuk setidaknya memberi jarak. 


Bagas menyemburkan tawanya sembari meminta maaf berulang kali. 


"Sorry, saya bercanda, Tiyas." 


"Beneran juga gak apa-apa kok, Mas," sambar Tiyas dengan pedas. Wanita itu segera melangkahkan kakinya tetapi dihalangi oleh sang suami. "Apa?!" 


Pria itu terkejut mendapat bentakan secara tiba-tiba dari istrinya. 


"Duh, maaf Tiyas. Saya beneran cuma bercanda kok, jangan dimasukin hati ya." 


Tiyas hanya bisa menghela napasnya pasrah sembari menahan agar bola matanya tidak ikut berputar. Selain pengontrolan emosinya yang tidak bagus, Bagas juga memiliki selera humor rendah dan selalu tidak pada waktu yang pas. 


"Udah bisa saya pergi?" tanyanya dengan senyum yang dipaksa. 


Bagas terkekeh kecil. Ia segera melepaskan tarikan pada tangan Tiyas. 


"Oke, good luck ya!" harapnya sembari kembali pergi ke dalam ruang kerja Chandra. 


Wanita muda itu hanya bisa menggelengkan kepalanya. Umur Bagas padahal sudah masuk kepala tiga, tetapi kelakuannya di beberapa kesempatan malah seperti anak kecil. 


Melanjutkan langkahnya untuk turun ke lantai satu, kini Tiyas sudah berada di dapur yang dalam keadaan kosong. Tidak ada satupun pegawai disana. 


"Oke, dimana tehnya?" tanyanya pada dirinya sendiri. Tiyas berjalan kesana kemari sembari tangannya tidak berhenti bergerak untuk membuka dan memeriksa laci disana. 

__ADS_1


"Cari apa, Nona?" 


Suara yang begitu pelan dan nyaris berbisik membuat Tiyas terperanjat kaget. Wanita itu sontak menoleh pada sumber suara, kemudian langsung menghela napas lega setelah melihat siapa yang memergokinya di dapur. 


"Kamu ngagetin saya aja, Maria," keluh Tiyas sembari memegangi dadanya, dimana kini jantungnya berdetak dengan lebih kencang. 


Maria panik, ia langsung membungkuk tanpa henti sembari meminta maaf. 


"Maaf, Nona. Saya cuma penasaran kenapa anda datang ke dapur. Harusnya jika perlu sesuatu panggil saja aja. Nanti saya kena marah Tuan Bagas." 


Tiyas mendengus kesal. Melihat bagaimana raut wajah ketakutan Maria membuat Tiyas menerka bahwa dirumah pun Bagas tidak bisa mengelola emosinya dengan baik. 


"Tenang aja," ucap Tiyas sembari menghentikan acara minta maaf yang dilakukan oleh Maria tanpa jeda. "Gak perlu berlebihan begitu. Lagian mas Bagas udah tahu kalau saya mau masak buat mama." 


Kepala Maria sontak terangkat, raut wajahnya terkejut bukan main.


"Nyonya mau makan? Oh, biar saya saja yang siapkan, Nona. Anda bisa menunggu." 


Tiyas menggeleng dengan tegas dan sedikit panik karena Maria seakan ingin mengambil alih dapur saat ini juga. 


"No, no!" pekiknya sembari menghalangi jalan. "Mama maunya masakan buatan saya. Toh, saya bukannya putri mahkota. Saya sudah terbiasa menghandle di dapur." 


"Tapi di dalam keluarga Wiguna, wanita-wanita selain pekerja yang menyentuh dapur ialah orang rendahan. Saya gak mau Nona dipandang seperti itu," ungkap Maria dengan nada menyesal. 


Tiyas menepuk bahu Maria, yang langsung ditarik mundur oleh si empunya. Wanita itu hanya bisa mematung dengan tangannya yang terambang di udara. Dengan cepat ia menarik tangan tersebut untuk mengurangi kecanggungan diantara mereka. 


"Saya juga bukan siapa-siapa, Maria," timpal Tiyas dengan tersenyum lembut. "Kamu gak perlu merasa sungkan. Kalau kamu juga menghindar, saya gak punya seseorang di dekat saya kalau berada di mansion sebesar ini."


Mendengar penjelasan Tiyas membuat Maria kemudian merasa bersalah.


"Maaf, Nona." 


Tiyas mendengus geli sekaligus gemas. 


"Udah minta maafnya. Mending kamu tunjukkan dimana tempat teh. Mama mau minuman dulu yang diantar." 


Maria dengan sigap mengambil serbuk teh yang merupakan kesukaan Indah. 


"Ini Nona. Biasanya Nyonya Besar maunya teh hangat dengan gula dua sendok teh." 


Tiyas mengangguk paham. Wanita itu tampak piawai dalam menyeduh kopi tanpa gerakan kaku. Maria bahkan beberapa kali tertegun karena merasa takjub. Untungnya air panas tinggal tekan saja, tidak harus repot-repot untuk memasak. 

__ADS_1


"Kamu gak perlu buatin makanan ya, biar saya sendiri aja. Siapkan bahan-bahannya aja, kayaknya makanan yang simpel dan singkat cuma nasi goreng," titah Tiyas yang langsung pergi begitu saja sembari membawakan teh untuk sang mertua. 


Membawa secangkir teh hangat dengan menaiki tangga tentunya menjadi sebuah PR untuk Tiyas. Dengan napasnya yang sedikit terengah wanita itu mengetuk pintu kamar Indah dan masuk setelah mendapatkan izin. 


"Ma, ini tehnya," ucap Tiyas seraya memberikan segelas teh hangat kepada Indah. 


Sang Ibu mertua melirik penuh curiga pada teh yang dibawa oleh sang menantu. 


"Gak kamu taruh racun kan?" 


Tiyas hanya bisa tersenyum pasrah. Sudah terengah-engah dirinya membawa secangkir teh dan masih saja mendapat kecurigaan. Jadi yang bisa Tiyas lakukan hanya diam tanpa menjawab. 


Indah menatap takut-takut teh yang diterimanya dan sang menantu. Kemudian mencicipinya sembari berpikir. Kemudian matanya melotot sembari menyemburkan teh yang sudah diseruputnya. 


"Kok manis banget sih?!" pekik Indah dengan menatap tajam Tiyas. "Kamu mau bikin saya diabetes ya?!" 


"Gak kok, Ma. Kata Maria itu udah takaran yang biasanya kok," bela Tiyas yang tidak rela jika harus menjadi bahan amukan padahal bukanlah kesalahannya. 


Indah menggeleng pelan. Ia meletakkan cangkir itu dengan asal di atas nakas. 


"Saya gak peduli, lagi pula ngapain kamu tanya Maria? Kan saya suruh kamu sendiri yang buat, berarti pakenya takaran kamu dong! Gak mau tau, saya minta kamu buatkan teh sesuai pesanan saya!" 


Mata Tiyas memejam erat sesaat. Kedua telapak tangannya mengepal sembari kuku jarinya memutih. Kemudian ia berusaha untuk menarik napas dan membuangnya jauh-jauh. 


"Maaf, Ma. Saya akan ganti secepatnya." 


Tanpa berpamitan lagi, Tiyas dengan segera melesat kembali ke dapur dengan berjalan sedikit lebih cepat. 


"Loh, kok dibawa balik lagi, Non. Kenapa?" tanya Maria dengan cemas. 


Tiyas berdesis kecil. Mengisyaratkan Maria untuk tidak banyak bertanya. Dengan gesit wanita itu kembali meracik teh dengan lihai dan kini ia kembali memasukkan sedikit gula disana. 


"Tolong siapkan semua ya, Maria," titah Tiyas dengan wajahnya yang memelas. 


Maria mengangguk patuh, kasihan juga melihat Nona Muda itu diperalat oleh mertuanya sendiri. 


Dengan langkah penuh hati-hati karena teh ini benar-benar masih hangat, Tiyas akhirnya sampai kembali ke lantai atas bersama perjuangannya yang tidak mudah. 


Namun kening wanita itu mengkerut karena suara dari dalam kamar mertuanya terdengar berisik. Seperti banyak orang yang mengobrol di dalam sana. Dan benar saja, ketika Tiyas sampai di depan pintu kamar ada Bagas, Chandra dan Restu disana. 


Keempat orang itu termasuk Indah menatapnya dengan pandangan yang berbeda satu sama lain. 

__ADS_1


"Ada apa?" 


__ADS_2