Menantu Cantik Putri Konglomerat

Menantu Cantik Putri Konglomerat
BAB 43


__ADS_3

Tidak ada suara bising di dalam ruangan tersebut. Hanya ada suara keyboard yang tengah diketik oleh manusia. Yang tidak lain adalah Direktur Utama (sementara) TD Agency, Beby Belvina. 


Wanita cantik itu kini tengah fokus dengan layar komputer di depannya. Juga beberapa berkas di meja yang perlu ditandatangani. 


Ditengah fokusnya dalam bekerja, pintu ruangan diketuk pelan. Dan muncullah sekretarisnya dengan wajahnya malu-malu. 


"Ada apa?" tanya Beby yang sudah menghentikan pekerjaannya sejenak. Menatap sang asisten yang melirik takut-takut kepadanya. "Kenapa sih?!" 


"Itu … ada cowok Bu di depan. Katanya mau ketemu sama Ibu, ada urusan penting," jawab sang sekretaris dengan masih tersenyum mesem-mesem. 


Alis Beby terangkat menatap aneh pada bawahannya. 


"Siapa? Saya gak ngerasa punya janji sama orang lain." 


Wanita yang lebih muda menggeleng pelan. 


"Gak tau, Bu. Katanya ada urusan penting, itu aja. Mana gak kalah ganteng sama artis kita, si Jovan itu." 


Omong-omong masalah Jovan, pria itu kini sudah kembali mulai aktif di dunia entertaint setelah kurang lebih sebulan memutuskan untuk istirahat. Dan karena tak ada lagi berita menyangkut artisnya, Beby memutuskan untuk tidak memperpanjang masalah. Walau ada surat permintaan maaf dari perusahaan Bagas, namun Beby memilih untuk menutup mulutnya. 


Dan beberapa minggu yang lalu, Beby selalu saja mendapatkan kiriman bunga, makanan, coklat entah dari siapa. Jika memang dari Arya, pria itu bahkan tak pernah mengabarinya sejak insiden kancing baju tidurnya yang terbuka. 


"Ya sudah, nanti saya keluar. Kamu suruh dia untuk duduk dan sajikan teh. Saya masih harus tanda tangan beberapa berkas penting dulu," putus Beby seraya mengisyaratkan  bawahannya untuk pergi dengan lambaian tangannya. 


Setelah berkas-berkas penting sudah ditandatangani, Beby akhirnya beranjak dari duduknya sembari meringis pelan. Duduk di kursi selama seharian membuat seluruh anggota tubuh bagian belakangnya benar-benar pegal. 


Wanita itu keluar ruangan dan menuju tempat dimana sang tamu berada. Kening Beby berkerut saat melihat tubuh belakang orang tersebut, tampak begitu tidak asing. 


"Bang Arya?" 


Pria yang sejak tadi fokus pada ponselnya kini menoleh. Memperbaiki kacamatanya sembari menatap wanita yang sudah lama tak dilihatnya. 


"Kenapa lama sekali?" 


Beby mengedikkan bahunya, kemudian berjalan memutar dan duduk seberang Arya. 

__ADS_1


"Ada apa, Bang? Tumben, kayaknya ini kali kedua kamu datang ke kantor." 


Arya sejenak terdiam, otaknya berusaha untuk merangkai kata-kata yang sudah dilatihnya sebelum datang kesini. 


"Kenapa kamu gak balas pesan saya?" 


"Pesan?" Alis Beby terangkat heran. Ia kemudian memeriksa ponselnya dan tak ada satupun pesan dari Arya sejak sebulan yang lalu. "Gak ada tuh. Kapan Abang kirim pesan ke aku?" 


"Setiap hari, hampir setiap dua jam sekali. Tapi kamu gak pernah balas," ungkap Arya dengan cepat sembari meneguk ludahnya kasar. 


Wanita itu diam sejenak, tetapi tatapannya tidak lepas dari gerak-gerik pria itu. Kemudian tiba-tiba ia terperanjat dan melihat kembali ponselnya.


"Oh, aku baru ganti ponsel, Bang."


Alis Arya menukik tajam, matanya memicing pada wanita di depannya. 


"Kenapa kamu gak kasih tau saya? Memangnya kenapa sampai harus ganti ponsel." 


Beby menghela napasnya, kemudian meniup poninya dengan kesal. 


Oh, dada Arya sakit seperti tertusuk anak panah tajam dan beracun. Kata-kata yang keluar dari mulut Beby benar-benar membuatnya membeku. 


"Oke, saya minta maaf karena sebelumnya perilaku saya terlalu cuek ke kamu. Tapi bukan berartì kamu balik cuek ke saya, setelah menerima semua pemberian saya beberapa pekan ini." 


"Tunggu! Pemberian?" beo Beby dengan kening mengernyit. Otaknya seperti tengah mencerna semua perkataan Arya. Dan akhirnya wanita itu menarik sebuah kesimpulan. "Jadi yang selama ini kirim buket bunga, makanan, coklat dan yang lainnya itu dari kamu?" 


Arya menghela napas lelah. Punggungnya yang tadi tegak, kini terhempas begitu saja pada sandaran sofa. Menatap Beby dengan pandangan tidak percaya. 


"Saya benar-benar gak ngerti cara kerja otak kamu," sindirnya dengan bola mata yang berputar malas. "Dasar." 


***


"Kita mau kemana sih? Perasaan gue malah muter-muter doang ini rutenya," gerutu Bagas sembari berdecak kesal. 


Tiyas yang menyadari itu juga diam-diam mengangguk setuju. Sebenarnya Jonathan ingin membawa mereka kemana. Langit sudah menunjukkan warna jingganya dan sebentar lagi matahari akan terbenam. Alih-alih mereka sampai di rumah tepat waktu, malah kini harus terjebak dengan rute yang sama. 

__ADS_1


Jonathan berdecak kesal, ia memilih untuk membesarkan volume lagu kesukaannya. 


"Gue kasih waktu buat kalian berdua saling ngobrol. Jangan diem-dieman kayak orang bisu. Gak habis pikir gue, selama dua bulan ini gimana interaksi kalian padahal udah seranjang berdua. Boro-boro mau malam pertama." 


"Mulut lo!" seru Bagas sembari memberikan pukulan pada belakang kepala Jonathan sebagai peringatan. "Urusan ranjang kita bukan urusan lo!" 


"Makanya ngobrol kek, greget banget gue," gerutu Jonathan yang malah protesnya masih menyambung. "Saling cemburu gak ada yang mau ngaku, ngomong masih pake saya-saya. Tambah dong akhirannya jadi sayang. Lo tuh bos, romantis kek. Gak ada perkembangan pernikahan lo. Wajar kalau disalip sama bocah SMA." 


Mendengar ledekan Jonathan membuat Tiyas terkekeh pelan. Dan berusaha membekap mulutnya saat mendapatkan delikan sinis dari sang suami. 


Memang Bagas selalu menebarkan omongan bahwa sudah menyukai Tiyas, menyayangi bahkan ingin melindungi. Tetapi hanya sebuah perkataan belaka. Tidak ada tindakan yang berarti dari pria itu. Baik Tiyas dan Bagas masih canggung untuk sekedar tiba-tiba bergandeng tangan atau berpelukan. Bahkan jika tidur diranjang, keduanya saling memunggungi. Begitu terasa canggung suasana di antara mereka. 


"Ntar kalau gue cium Tiyas disini yang ada lo iri!" seru Bagas balik meledek. Kemudian tanpa aba-aba, pria itu langsung membawa tubuh istrinya masuk ke dalam dekapannya. Menatap wajah Tiyas yang terkejut dengan pipi yang memerah. "Iya gak, sayang?" 


Tiyas mengerjap cepat sembari menumpukan kedua tangannya di depan dada Bagas. Kedua tulang pipinya memanas. 


"Mas, geli dengernya." 


Blam. Suasana romantis yang berusaha Bagas bangun dengan detak jantung menggila harus digagalkan karena ulah istrinya sendiri. Bahkan Jonathan kini malah tertawa dengan puas. 


Bagas tidak bisa menyembunyikan wajah kecewa. Pria itu menatap datar sang istri yang malah terkekeh bahagia. 


"Maaf, saya cuma bercanda," bisik Tiyas sembari tersenyum kecil. Mengangkat dua jarinya sembari mengedipkan sebelah matanya. "Peace." 


Bagas hanya bisa mendengus kesal. Tidak sanggup untuk bertahan dengan amarahnya kalau harus dihadapkan pada keimutan sang istri.


Dengan Bagas yang masih tidak mau melepaskan pelukannya pada pinggang Tiyas. Kini mobil mewahnya telah sampai di pekarangan mansion utama. Dengan tanpa melepas tautan tangan mereka, Bagas menuntun sang istri masuk ke dalam rumah. 


"Kok gelap? Perasaan diluar tadi terang deh," gumam Bagas yang semakin mempererat tautan tangan mereka. Takut-takut jika ada pencuri. 


"Surprise!" 


Bersamaan dengan teriakan, lampu ruang tengah itu hidup. Disana ada orang tua, beberapa anggota keluarga Wiguna yang turut hadir saat perjamuan makan malam bersama Tiyas dan ibunya. 


Juga Stefanny yang tiba-tiba langsung berlari dan memeluk Bagas. Tidak lupa mencium pipi pria yang dicintainya itu dengan senyum bahagia. 

__ADS_1


__ADS_2