
Tiyas mengedarkan pandangannya ke seluruh toko di mal terbesar Jakarta yang saat ini mereka lewati. Sedangkan Bagas berjalan mendahuluinya tanpa menoleh sedikitpun, tak ada sepatah kata yang pria itu keluarkan sejak sampai ditempat tujuan.
"Udah lama banget gue gak ke mal," gumam Tiyas dengan mood yang sedikit membaik. Setidaknya perasaan dongkol karena penghinaan Bagas padanya bisa sedikit terlupakan.
"Lagi apa kamu?" Tiba-tiba saja Bagas menghentikan langkahnya, menoleh ia pada calon istrinya itu.
"Makan," jawab Tiyas dengan asal. Sedetik kemudian sadar bahwa yang tengah bertanya adalah Bagas, wanita itu memaki dirinya sendiri dalam hati. Ia tertawa hambar. "Lagi liat-liat aja Mas."
Bagas berdehem pelan. Jika dipikir malu juga rasanya bertanya hal yang sudah diketahuinya hanya dengan melihat. Tetapi pria itu juga bingung dengan tingkah lakunya sekarang. Untuk apa repot-repot memulai obrolan?
"Bisa cepat gak jalannya? Toko langganan mama saya ada di ujung sana," ucap Bagas dengan lantang, walau setelahnya ia menyesali nada berbicaranya itu.
Tiyas mendelik kesal sesaat, namun wajahnya kini berganti dengan lebih ramah. Suasana hatinya yang baru saja damai dan tentram, kini kembali mengeluarkan percik-percik amarah.
"Oh maaf, Mas. Kirain nanya tadi mau bilang apa, cuma disuruh cepat-cepat ya," sindir Tiyas dengan wajah tidak bersalahnya. Kemudian berjalan lebih dulu meninggalkan Bagas disana.
Pria tampan itu menghela napasnya pelan. Entah kenapa sindiran Tiyas membuatnya tidak nyaman. Tetapi Bagas juga tidak tahu mengapa nada bicaranya tidak bisa sedikit lebih ramah kepada wanita itu.
Dengan tanpa berbincang atau sekedar menoleh. Tiyas masih saja jalan dengan langkah yang terhitung cepat, namun tentu saja Bagas yang memiliki kaki panjang begitu mudah untuk mengejar wanita itu.
Tanpa Bagas sadari, toko baju langganan sang mama telah dilewati oleh Tiyas. Dengan langkah yang panjang dan cepat, pria itu tanpa berpikir lama segera menarik ujung penutup kepala hoodie Tiyas.
Tiyas yang memang tidak dipanggil atau dikasih aba-aba sama sekali lantas terkejut. Ia merasa lehernya tercekik beberapa detik sebelum akhirnya tahu bahwa tersangkanya adalah calon suaminya sendiri. Betapa teganya.
Bagas meringis menatap Tiyas yang tengah terbatuk sembari memegangi lehernya. Pria tampan itu melempar pandangannya ke segala arah, kemudian kembali melirik Tiyas yang kini mendelik tajam padanya.
"Mas, kayaknya saya mundur aja deh jadi calon istri Wiguna. Gak masalah saya gak jodoh sama orang kaya daripada saya mati cuma-cuma begini," sungut Tiyas dengan seribu umpatan yang siap ia lemparkan pada Bagas.
"Sorry," bisik Bagas dengan tatapannya yang masih saja berlarian.
Tiyas berdecih, ingin rasanya memberikan sedikit tendangan pada tulang kering Bagas. Tapi untungnya Tiyas masih waras untuk tidak bersikap kurang ajar pada suaminya.
"Sorry doang gak bikin leher saja baik-baik aja," balas Tiyas yang kemudian masuk kedalam toko dengan kaki yang dihentakkan. Menimbulkan suara gema yang cukup nyaring sehingga membuat orang-orang disana memperhatikan mereka.
Bagas sekali lagi menghela napasnya. Pura-pura cuek ia, kemudian masuk dan menyusul Tiyas yang tampaknya masih kesal.
"Kamu pilih aja apa yang kamu suka," usul Bagas saat dirinya berada dibelakang Tiyas.
__ADS_1
Wanita itu melirik dari ekor matanya sebentar, kemudian kembali fokus pada dress cantik berwarna hitam di depannya. Ia kemudian melirik harganya di sana, lumayan murah. Kisaran 4-5 juta, worth it, pikirnya.
"Yang ini aja, Mas," kata Tiyas dengan wajah tak berdosanya. Kemudian wanita itu kembali berjalan dan melihat-lihat baju yang lain.
Bagas masih terdiam di sana, ia juga ikut melirik harga sebuah dress yang menjadi pilihan Tiyas. Menghela napas pria itu, sepertinya calon istrinya benar-benar marah padanya. Hingga membalaskan dendam dengan membeli dress yang cukup pendek dengan harga yang tinggi.
Karena sulung Wiguna itu pikir Tiyas adalah orang yang sederhana, kalau dilihat dari penampilannya sekarang. Maka Bagas memang mengasumsikan wanita itu tengah berniat membalaskan dendam dengan menghabiskan uangnya.
"Mau yang ini?" tanya Bagas yang kini sudah berada disamping Tiyas, setelah meminta pramuniaga membungkus dress hitam tadi.
Tiyas menggeleng.
"Saya gak suka modelnya, terlalu terbuka."
"Tapi model yang kamu pilih juga terlalu pendek," sahut Bagas dengan keningnya yang mengerut.
"Katanya boleh pilih yang saya suka," tukas Tiyas dengan senyumnya yang terkesan mengejek.
Bagas lagi-lagi hanya bisa menghela napas panjang.
"Oke, terserah kamu."
"Sudah, itu saja, Mas. Saya gak enak, baju disini mahal-mahal."
Kini berganti Bagas yang menggeleng dengan tegas. Ia kemudian melirik pramuniaga yang berada di belakangnya.
"Ambil semua baju yang menurut kamu pas sama calon istri saya," titahnya. "Kamu coba sana, sebagai permintaan maaf saya tadi. Semua bajunya buat kamu."
"Gak perlu, Mas. Saya…"
Tiyas belum menyelesaikan perkataannya ketika Bagas dengan entengnya meletakkannya tangannya di pinggang dan mendorong wanita itu ke kamar pas.
"Cobain, saya mau lihat." perintahnya dengan wajah yang datar. Membuat Tiyas berdecak pelan, ingin sekali wanita itu menolak. Tetapi pramuniaga tadi sudah membawa banyak baju untuknya dan terpaksa wanita itu segera masuk kedalam kamar pas yang sudah disediakan.
Sudah lebih dari dua puluh menit, Bagas terduduk di sofa dan terus menantikan Tiyas yang berulang kali mengganti baju. Karena menurutnya selera Tiyas akan menjadi selera orang kampung, maka Bagas dengan kerelaan hatinya membantu memilihkan baju yang cocok.
"Mas, gimana sama yang ini?" tanya Tiyas yang sudah keluar dari kamar pas dengan wajah datar yang dominan lelah. Sebagai perempuan, Tiyas bukanlah wanita yang suka memilih baju dengan waktu lama. Suasana ini mengingatkan Tiyas ketika berbelanja dengan Beby, sahabatnya yang memang hobi untuk berlama-lama di mal.
__ADS_1
Bagas memperhatikan dengan seksama dress putih selutut yang membungkus tubuh Tiyas dengan sempurna. Tetapi seperti kurang bagus untuknya.
"Ganti."
"Lagi?!" pekik Tiyas dengan tak percaya. Padahal menurutnya dress putih ini sudah cukup bagus dan elegan.
Bagas tidak menjawab. Ia hanya menggerakkan tangannya, mengisyaratkan Tiyas untuk segera berganti pakaian. Dengan perasaan dongkol, Tiyas segera melakukan perintah Bagas dan berharap ini adalah yang terakhir.
Di tengah acara menunggu Tiyas berganti pakaian. Ponsel Bagas bergetar, di sana ada Jonathan yang tengah menghubunginya.
"Hm," gumam Bagas setelah panggilan itu tersambung.
"Lagi jalan ya, bro?" tanya Jonathan dengan kekehan gelinya.
Bagas berdecak kesal, bola matanya memutar malas.
"Mau apa lo? Kalau gak penting gue matiin."
"Buset, sensi banget bos. Kesal ya gue ganggu acara ngedate lo," tawa Jonathan yang menggelegar kembali terdengar dan Bagas hampir saja mengumpat. "Gue cuma mau ngasih tau aja, kalau lo lupa. Jam 7 malam ini, perwakilan dari perusahaan Adhitama mau rapat sebentar sama lo."
"Harus banget hari ini? Gak bisa apa gue istirahat sehari aja? Lagi mumet gue," keluh Bagas dengan tangannya yang mengerut pelipisnya.
"Duh, gue tau lo lagi pengen berduaan bareng calon istri lo. Tapi Adhitama ini perusahaan gede, bro. Gue saranin, diterima aja. Ini bisa jadi batu loncatan buat perusahaan kita biar lebih maju lagi," saran Jonathan dengan nada yang terdengar serius.
Bagas terdiam sebentar. Bukannya tidak tahu sepengaruh apa perusahaan Adhitama itu terutama untuk berlangsungnya kejayaan perusahaannya.
"Oke, lo atur aja deh."
Bertepatan dengan panggilan terputus. Gorden kamar pas itu perlahan terbuka. Bak sebuah film, bagaimana gerakan itu nampak lambat ketika Tiyas berjalan di balik gorden tersebut. Dengan sebuah dress hitam diatas lutut yang memeluk tubuh ramping itu, ditambah sebuah rompi kecil yang menambah kesan anggun.
Jika dengan pakaian seperti ini. Terlihat bahwa Tiyas memiliki tubuh yang proporsional, yang dimana banyak diidam-idamkan oleh para wanita. Kakinya yang putih nan mulus itu terlihat begitu jenjang.
Bagas sempat terdiam beberapa detik, hingga kesadarannya kembali setelah seorang pramuniaga menepuk bahunya.
"Oh, ini bagus. Yang ini saja untuk sekarang," kata Bagas dengan sedikit terbata. Pria itu segera berdiri dari duduknya, kemudian melangkah meninggalkan Tiyas di sana.
"Ayo kita cari sepatu dan tas buat kamu," sambungnya tanpa menoleh lagi. Berjalan terus dengan langkah cepat.
__ADS_1
Meninggalkan Tiyas yang kebingungan juga kesal karena tingkah Bagas. Kedua tangannya sudah mengepal hingga jarinya memutih.
"Oh, astaga. Stok kesabaran gue sudah mulai menipis."