Menantu Cantik Putri Konglomerat

Menantu Cantik Putri Konglomerat
BAB 11


__ADS_3

Tiyas menatap waspada pada Bagas yang masih menantikan menjawab pertanyaannya. 


"Kenapa tiba-tiba Mas Bagas tanya nama lengkap saya?" tanya Tiyas berusaha untuk tenang dan tidak terlihat panik. Sepertinya pria itu ingin mencari tahu latar belakang kehidupannya. Tentu tidak akan Tiyas biarkan hal itu terjadi. 


Bagas mengedikkan bahunya. 


"Pengen tau aja. Kita kan sebentar lagi akan jadi sepasang suami istri, saya cuma mau tau aja siapa nama lengkap kamu."


Tiyas mengangguk pelan.


"Kalau gitu tunggu kita sah aja, Mas." 


"Loh kenapa?" tanya Bagas dengan alis terangkat. Penasaran ia dengan tanggapan Tiyas. "Mau sekarang ataupun nanti, bukannya sama aja?" 


"Sama, tapi saya gak nyaman. Nama lengkap saya jelek, Mas," kilah Tiyas dengan senyum kecutnya. Bersandiwara seperti ini memang benar-benar melelahkan untuknya. "Nanti kalau dikasih tau, Mas Bagas malah kabur di hari pernikahan kita." 


Bagas berdecak, senyuman miring menghiasi wajah tampannya. Punggungnya ia sandarkan pada kursi dengan kedua tangannya bersedekap di depan dada.


"Saya gak akan bisa menolak ataupun lari dari perjodohan ini. Mau sampai keujung dunia pun saya bersembunyi, kakek pasti bisa menemukan saya." 


Pembicaraan ini mulai serius. Tangan Tiyas yang semula berada di paha, kini bergerak menuju meja dan saling menggenggam.


"Kenapa? Sekejam itukah kakek Chandra?" tanyanya yang memang tidak terlalu tahu bagaimana watak pria tua itu sebenarnya. Tiyas hanya tahu bahwa Chandra merupakan sosok berwibawa dan bersahaja. 


"Gak juga," jawab Bagas dengan senyum getirnya. "Kakek lebih baik daripada keluarga saya. Begitu juga adik laki-laki saya." 


"Oh!" Tiyas membelalakkan matanya, ia terkejut. "Mas Bagas punya adik yang lain? Kenapa saya gak lihat di acara perjamuan kita kemarin?"


Bagas mengangguk. Mengingat bagaimana sayangnya Bagas dengan adik bungsunya itu membuatnya tersenyum kecil.


"Adik saya lebih memilih hidup mandiri. Sekarang sudah semester akhir, mungkin tahun depan lulus." 


Sebuah informasi baru untuk Tiyas. Sepertinya Bungsu Wiguna ini tipikal anak pembangkang yang ingin hidup mandiri, padahal bisa saja ia duduk diam dan menikmati fasilitas yang ada di mansion. 


"Terus apa yang buat Mas Bagas terima saya? Saya bukan orang bodoh yang gak tahu makna dari sikap mama dan adik Mas kemarin," ungkap Tiyas secara terang-terangan. 

__ADS_1


Sepertinya kondisinya mulai berbalik. Niat hati Bagas ingin tahu nama lengkap Tiyas, malah sekarang wanita itu mulai penasaran tentang kehidupannya. 


Ditodong pertanyaan seperti itu membuat Bagas sesaat mati kutu. Tapi bukankah memang lebih baik diawali dengan kejujuran? Agar kedepannya Tiyas juga tidak terlalu banyak berharap padanya. 


"Karena kamu bisa saya manfaatkan," jawab Bagas dengan jujur dan lantang. Tidak ada sedikit keraguan dari setiap kata yang keluar dari mulut pria itu. 


Alis Tiyas terangkat. Sedikit tidak puas dengan jawaban singkat Bagas. 


"Maksudnya?" tanya Tiyas dengan tidak sabaran. 


Namun kemudian Bagas menggeleng, tidak berniat untuk membeberkan alasannya. 


"Gak usah terlalu kepo." 


Tiyas berdecih, matanya memutar kesal. Gagal ia untuk mengulik hidup Bagas, padahal akan menjadi modal bagus untuk Tiyas bisa menghadapi keluarga Wiguna. 


"Jadi sekarang gantian kamu yang jawab. Siapa nama lengkap kamu?" 


***


"Kamu langsung saya antar pulang aja ya. Soalnya saya ada rapat dadakan jam 7 malam ini," ujar Bagas membuka suara. Pria itu melirik Tiyas yang nampaknya tengah kelelahan. 


"Kalau begitu turunkan saya di dekat kantor TD Entertainment, Mas. Ada temanku yang kerja disana, baru pulang dan mau ngajakin makan-makan. Tadinya saya mau nolak, tapi karena Mas juga ada urusan. Kayaknya sekalian aja," jelas Tiyas dengan panjang lebar walau nadanya terdengar tidak bersemangat. 


Bagas mengangguk mengerti. Ia kembali fokus menyetir, hingga beberapa belas menit kemudian mobilnya perlahan menepi dan akhirnya berhenti tepat seperti apa yang Tiyas pesan. 


"Udah sampe," katanya namun tak kunjung mendapat jawaban. Penasaran, Bagas melirik dari ekor matanya dan ternyata Tiyas tertidur. "Pules banget," gumamnya ketika tak mendapati wanita itu terganggu sedikitpun. 


"Hei," panggil Bagas sembari mencolek tangan Tiyas. Namun wanita itu masih bergeming. "Tiyas," panggilnya sekali lagi dengan tepukan di bahu. 


Menit berganti menit dan Tiyas masih belum juga terbangun. Di satu sisi Bagas merasa tidak tega untuk membangunkan wanita itu. Tapi disisi lain, waktu sudah menunjukkan pukul setengah tujuh, ia tak ingin terlambat dalam rapat penting ini. 


Tepat ketika tangannya terangkat untuk kembali membangunkan Tiyas, terdengar suara ponsel yang bergetar. Bagas segera memperbaiki posisinya dan mengecek kondisi ponselnya. Nihil, tidak ada yang menelepon. Akhirnya dengan sedikit lancang, Bagas merogoh tas Tiyas dan menemukan ponsel tersebut tengah bergetar karena ada telepon masuk.


"Beby? Dia punya pacar?" tanya Bagas entah kepada siapa. Keningnya semakin berkerut karena nama kontak tersebut dikasih tanda hati disana. 

__ADS_1


Baru saja Bagas berniat untuk mengangkat panggilan tersebut, namu  ponsel di tangannya sudah dirampas oleh pemiliknya. 


"Oh, kamu sudah bangun? Maaf lancang, dari tadi bergetar terus ponselmu," ucap Bagas sedikit tergagap. Persis seperti maling yang tertangkap basah. 


Tiyas juga ikut tergagap, ia segera mematikan panggilan tersebut dan buru-buru memperbaiki posisi duduknya. 


"Maaf Mas, kenapa gak bangunin saya ya?" 


"Sudah, tapi kayaknya kamu kecapean. Nyenyak banget," jawab Bagas dengan jujur. Pikiran pria itu masih saja berkelana tentang nama kontak di ponsel calon istrinya. 


Wanita itu hanya menanggapinya dengan anggukan paham. Tiyas melirik Bagas dengan ragu, sebelum senyum canggung ia berikan. 


"Makasih ya Mas atas baju, sepatu, tas dan makannya tadi. Kalau begitu saya langsung turun, selamat malam Mas Bagas." 


"Tunggu!" seru Bagas dengan sedikit tergesa. Niat hati ingin menarik tangan Tiyas, namun lagi-lagi pria membuat kesalahan. Bukannya tangan yang ia capai, malah tali tas milik Tiyas. 


"Mas!" Tiyas berseru dengan kesal. Tak peduli jika teriakannya dianggap tidak sopan. Kesabarannya sudah hilang, terlebih bercampur dengan takut saat Bagas memegang ponselnya. 


"Sorry," sesal Bagas yang langsung melepaskan tarikannya. Pria itu segera mengangkat kedua tangannya tanda menyesal. "Sumpah, saya niatnya nahan tangan kamu. Gak ada saya niatan lancang kayak tadi." 


Tiyas menghembuskan napasnya kesal. Wanita itu mendelik tajam, menunggu Bagas sepertinya ada yang ingin dibahas.


"Apa?!" sentaknya dengan nada tidak santai. 


Bagas terdiam. Lupa ia ingin mengatakan apa, akhirnya pria itu hanya bisa menggeleng pelan. 


"Lupa. Kalau sudah ingat nanti saya hubungi kamu." 


"Hm." Hanya itu tanggapan Tiyas sebelum akhirnya benar-benar turun dan keluar dari mobil. Menutup pintu mobil agak kencang, kemudian berlalu dari sana dengan cepat. 


Kini hanya tinggal Bagas sendirian yang tengah menyandarkan jidatnya pada setir kemudi. Merutuki betapa idiotnya ia hari ini. Bagaimana bisa seorang Bagas melakukan hal memalukan berulang kali?! 


Bagas berdecak kesal, kemudian tiba-tiba saja ia teringat apa yang ingin ditanyakan kepada Tiyas.


"Jadi kenapa dia menerima perjodohan ini kalau ternyata sudah punya pacar? Apa dia benar-benar memanfaatkan kekayaan keluargaku? Apa yang kamu rencanakan sebenarnya Tiyas?'

__ADS_1


__ADS_2