
"Semangat dong, bro!" seru Jonathan sembari menyenggol lengan sahabatnya, namun Bagas bergeming dengan wajah datarnya.
"Gas, capek nih. Gendong, dong!" kini giliran seruan Stefanny yang datang ke telinganya.
Pria tampan itu menghela napasnya kesal. Segera ia mengambil langkah cukup besar dan meninggalkan Stefanny, membuat wanita itu kepayahan mengejarnya.
Seharusnya Bagas saat ini berada di kantornya dan menikmati makanan yang dipesannya melalui online. Tapi karena bujukan Jonathan dan rengekan Stefanny yang ternyata tidak lelah untuk menempelnya membuat Bagas dengan sangat terpaksa mengikuti keinginan dua orang tersebut.
"Kalau gak kuat jalan, sewa sepeda," balas Bagas cuek. Pria itu tak akan merasa kasihan pada Stefanny. Buktinya sekarang wanita itu berlari, mengejarnya dan menggandeng tangannya. "Lepas!"
Stefanny menggeleng kuat. Ini adalah kesempatan yang bagus, ia tidak akan menyia-nyiakan semua usahanya sejauh ini.
"Gak. Aku capek loh, Gas. Kalau kamu gak mau gendong, gak apa-apa. Tapi aku minta gandeng ya."
Bagas berdecak kesal. Ia segera melepas pegangan Stefanny dari tangannya.
"Kalau kamu masih bertingkah begini, mending saya pulang."
"Jangan!" pekik tertahan Stefanny. Wanita itu menggeleng kuat, akhirnya mau tak mau ia menuruti perintah pria yang dicintainya. "Temani aku pemotretan dulu ya, sebentar kok!"
Bagas tak menjawab. Langkahnya juga tidak diperlambat. Suasana hatinya sedang tidak bagus. Mulai dari Tiyas yang tidak bisa dihubungi sampai terjebak di tempat Pantai Ancol.
Karena pikirannya yang sedang melayang sembari menikmati semilir angin yang membuat hawa panas tadi sedikit sejuk. Pria itu tidak sadar bahwa Stefanny kembali mendekap lengannya dan kali ini cukup erat sembari memanggil nama seseorang yang sejak tadi memenuhi pikirannya.
"Tiyas!"
Mungkin karena terlalu terkejut bertemu dengan situasi tidak terduga ini. Bagas hanya diam saat Stefanny menariknya untuk lebih dekat dengan istrinya. Di sana Tiyas juga ikut terdiam.
Baru saja Bagas akan mendekati sang istri, tiba-tiba saja ada seorang pria memeluk Tiyas dengan begitu erat. Bahkan Bagas mendengar dengan jelas bagaimana pria itu mengungkapkan kerinduannya yang mendalam pada sang istri.
Stefanny yang melihat adegan mengejutkan di depannya dengan senyum liciknya. Ternyata Tiyas tidak sepolos yang ia bayangkan. Wanita itu juga memiliki kekasih dibelakang Bagas. Dan Stefanny sedikit banyak tahu siapa kekasih Tiyas itu.
"Jovan?"
Pria itu merasa terpanggil. Ia segera melepaskan pelukannya pada Tiyas dan berbalik. Seutas senyum tipis ia berikan pada partner kerja dan juga teman satu profesinya di bidang modelling.
"Oh, hai Steff. Udah sampe?" tanyanya dengan berbasa-basi.
__ADS_1
Stefanny mengangguk riang. Ia kemudian semakin mengeratkan pelukannya pada lengan berotot milik Bagas.
"Iya nih, bareng sama pacar."
Jovan mengangguk singkat. Ia mengangkat tangannya dan menyodorkannya pada Bagas.
"Jovan."
Bagas hanya menatap tangan itu dengan pandangan datarnya. Tidak ada sudi Bagas menyambut baik seorang pria yang sudah dengan lancang memeluk istrinya.
"Ngapain kamu disini?" tanya Bagas langsung pada Tiyas.
Tiyas yang sejak tadi terdiam hanya bisa menghela napasnya pelan. Malas rasanya harus berdebat di antara orang-orang ini. Wanita itu bisa melihat bagaimana Stefanny yang dengan bangganya memperkenalkan sang suami menjadi kekasihnya.
"Ayo, Beb."
Beby yang sejak tadi sudah mati kutu karena panik langsung saja mengekori Tiyas, sahabatnya itu sudah berjalan lebih dulu dengan langkah cepat.
Karena merasa diabaikan, Bagas segera menyentak tangan Stefanny dan berjalan cepat mengejar langkah Tiyas.
"Tiyas!" teriaknya saat tangan sang istri akhirnya bisa ia gapai.
"Persetan!" umpat Bagas dengan kesal. Ia bahkan tak sadar bahwa pegangan pada lengan istrinya kini berubah menjadi cengkraman erat. "Kenapa pria itu bisa peluk kamu seenaknya? Dan kamu diam aja?"
Tiyas meringis kesakitan, ia berusaha untuk melepaskan cengkraman Bagas namun tidak bisa.
"Terus? Apa aku juga harus balik bertanya dengan pertanyaan yang sama, Mas? Kayaknya itu gak perlu, toh hubungan kita memang gak spesial. Aku menghargai privasi kamu buat dekat sama wanita manapun dan harusnya kamu juga sebaliknya."
Bagas menatap istrinya tidak percaya. Pria itu berdecak kesal, lagi-lagi amarah kini menguasai dirinya.
"Kata siapa hubungan kita gak spesial? Kamu pikir saya menerima perjodohan ini secara cuma-cuma? Apa kamu gak menghargai perasaan saya? Sudah berapa kali saya bilang kalau saya itu suka sama kamu!"
"Gak usah kenceng-kenceng, Mas. Selain teman kita dan Stefanny, gak ada yang tahu hubungan kita yang sebenarnya. Termasuk Jovan," tegur Tiyas dengan alisnya yang menukik. Tidak suka ia dengan sikap amarah Bagas yang mudah meledak-ledak. "Dan saya gak mau dia tahu."
Pria itu terkekeh getir.
"Oh, jadi kamu lebih mikir perasaan dia daripada saya?"
__ADS_1
Sepertinya kesalahpahaman ini semakin berbuntut panjang dan tak berujung. Tiyas mengatakan itu karena tentu Jovan tahu tentang latar belakangnya yang asli, wanita itu tentu tak ingin penyamarannya sia-sia. Tetapi tentu pemikiran Bagas tidak sama dengannya.
"Bukan gitu, Mas," bantah Tiyas sembari menghela napasnya lelah. "Kita bahas ini dirumah. Untuk sekarang mari saling gak mengenal satu sama lain."
Bagas merenggangkan cengkramannya. Membiarkan istrinya berbalik pergi dan hanya bisa menatap punggung Tiya yang menjauh.
"Sialan!" umpatnya keras setelah Jovan ikut mengekori Beby dan Tiyas disana. Pria itu menendang kerikil dengan kuat dengan geraman kesal.
Jonathan yang sejak awal terdiam kini melangkah ragu menghampiri sahabatnya. Sedikit banyak ia merasa bersalah, karena rasa kasihan pada Stefanny berujung pertikaian diantara sepasang suami istri itu.
"Gas," panggil Jonathan dengan pelan.
"Gue bakal pulang kalau Tiyas pulang," ucap Bagas dengan suara beratnya. Ia kemudian mendelik pada Stefanny yang tampak tenang disana. "Tunjukan tempat pemotretan lo."
Terkejut tentu. Selama ini marahnya Bagas, tidak pernah ada sapaan lo-gue diantara mereka. Pria itu bisa mengontrol emosinya ketika berbicara. Stefanny yang paham bahwa amarah Bagas kali ini tidak biasa, membuat wanita itu segera berjalan menuju tempat pemotretannya.
Dan disinilah Bagas tengah memperhatikan punggung Tiyas yang fokus pada adegan-adegan pemotretan di depannya bersama dengan Beby disampingnya. Cukup mengejutkan bahwa pekerjaan teman istrinya ternyata tidak main-main. Bagas heran bagaimana bisa Beby memilih Tiyas yang bukan orang berada menjadi temannya.
"Bro, gue minta maaf."
Bagas melirik sahabatnya yang sejak tadi terus mengatakan hal yang sama.
"Gue maafin kalau lo urus tuh cewek. Selesai ini gue bakal bawa istri gue pulang."
Jonathan mengangguk dengan semangat.
"Oke, gue gak akan buat lo kecewa lagi kali ini."
Pria tampan itu hanya mengangguk seadanya. Tatapannya tak lepas sedikit pun, begitu takut seakan-akan jika dia berkedip Tiyas akan menghilang dari pandangannya.
Cuaca yang tadi panas kini sudah mulai sedikit sejuk. Dan angin pantainya semakin deras hingga menusuk tulang. Bagas memperhatikan istrinya kembali dan baru sadar bagaimana penampilan Tiyas hari ini.
Otaknya kembali mendidih mengingat penampilan istrinya yang seperti ini tadi dipeluk oleh Jovan. Juga karena anginnya yang kencang membuat Tiyas kini kewalahan mendekap dirinya sendiri.
Dengan otak pintarnya, Bagas berinisiatif untuk melepas jasnya. Kemudian berjalan pelan menghampiri istrinya yang sejak tadi tidak terganggu dan tetap fokus. Diam-diam pria itu tersenyum getir. Sebegitu pentingnya Jovan di hidupnya.
"Jangan dilepas. Walaupun gak bikin hangat, tapi seenggaknya kamu gak terlalu kedinginan," bisik Bagas kala ia berhasil menyampirkan jas di pundak sang istri. Kemudian berbalik pergi ke tempatnya semula.
__ADS_1
Tiyas yang sebenarnya sejak awal hanya melamun menatap pantai di depannya, sembari memeluk dirinya karena angin yang menusuk kulitnya hingga ke tulang. Dan langsung terperanjat kaget karena perhatian sang suami.
Wanita itu melirik jas besar yang kini membungkus tubuhnya, kemudian menoleh kebelakang dimana Bagas kini tengah menatap dirinya tanpa senyum sedkitpun.