
"Jadi yang nelpon kamu dengan nama kontak Beby itu dia?" tanya Bagas dengan tatapan matanya beralih pada Beby yang duduk di sebelah Tiyas.
Setelah kedatangan Tiyas dan Beby. Inah, istri kedua pak Agus mempersilahkan keduanya untuk masuk dan duduk di sana.
"Mau minum apa?" tanya Inah dengan senyum lebarnya, dengan polis menawarkan minuman pada Beby dan juga Tiyas.
"Saya gak usah, Bi. Bisa ambil sendiri," jawab Tiyas dengan memainkan matanya. Memberi kode untuk Inah masuk ke dalam saja. "Lo ambil sendiri aja," titahnya yang sedikit mencengkram tangan sahabatnya untuk segera beranjak dari sana.
Kini tinggallah Tiyas dan Bagas disana, keduanya saling duduk berhadapan. Tatapan lembut pria itu dibalas tajam oleh Tiyas.
"Saya gak mau basa-basi, Mas. Langsung aja, apa maksud kedatangan Mas kesini?" tanya Tiyas sembari menyamankan posisi duduknya. Punggungnya dibiarkan bersandar pada kursi.
"Kenapa nomor saya diblokir?" Alih-alih menjawab pertanyaan, pria itu malah balik bertanya.
Tiyas berdecak kesal, matanya memutar malas. Pria ini benar-benar ingin menguji kesabarannya yang setipis tisu.
"Karena saya sudah gak mau ada hubungan apa-apa sama Mas Bagas."
Kini giliran Bagas yang menghela napas panjang. Tidak disangka jika wanita ini benar-benar murka. Bahkan tanpa pikir panjang membatalkan perjodohan mereka hingga memblokir kontaknya.
"Saya minta maaf," bisik Bagas begitu pelan, ia menatap Tiyas yang masih bergeming di sana. "Saya salah karena sudah berkata kasar dan menghina kamu, itu semua berawal dari nama kontak Beby dengan emoticon love disana. Ditambah kejadian kemarin."
"Itu sahabat saya," sahut Tiyas dengan cepat.
Bagas mengangguk paham.
"Saya tahu baru saja. Makanya sepertinya saya salah paham."
Tiyas kini kembali terdiam dengan bibirnya yang terkatup rapat. Bagas yang menyadari itu berusaha untuk mempertebal mukanya. Seumur hidupnya, ini adalah kali pertama pria itu mengemis dan meminta maaf pada orang lain.
"Akal sehat saya lagi gak berjalan waktu itu. Saya juga sudah mendengar semuanya dari kakek dan saya percaya kalau pria kemarin bukan pacar kamu," sambung Bagas dengan tatapan memelasnya.
Wanita itu mengalihkan tatapannya, malas rasanya melihat wajah Bagas yang biasa datar kini memelas bak anak kucing kelaparan.
__ADS_1
"Saya sudah bilang itu kemarin, tapi Mas masih memukul saya pake kata-kata hinaan yang gak sepantasnya keluar dari anggota keluarga terhormat."
Bagas mengangguk pelan, ia setuju dengan apa yang dikatakan Tiyas. Sudah sepantasnya ia meminta maaf dan mendapatkan pengampunan dari Tiyas karena sikapnya yang tidak mencerminkan orang terhormat.
"Sekali lagi saya minta maaf, walau saya tahu kamu susah memaafkan saya," ucap Bagas dengan perasaannya yang benar-benar menyesal. Ia menarik napasnya cukup dalam sebelum kembali melanjutkan perkataannya. "Tapi saya mohon sama kamu buat tarik ucapan kamu tentang pembatalan perjodohan kita."
Tiyas yang semula mulai tenang karena sudah mendapatkan apa yang ia inginkan yaitu permintaan maaf dari Bagas, kini kembali amarahnya sedikit demi sedikit mulai bergumul dalam dadanya.
Punggungnya kini tertegak, alisnya menukik tajam. Seakan tak percaya dengan apa yang ia dengar.
"Maaf Mas, bisa diulangi? Kayaknya saya salah dengar."
Bagas menggeleng pelan. Bibirnya ia lipat kedalam sebelum akhirnya ia hembuskan dengan napas yang panjang.
"Kamu gak salah dengar. Saya mau kita melanjutkan pernikahan yang kurang dari dua minggu ini."
Tiyas tertawa lirih, tersenyum miring menatap Bagas.
"Egois kamu. Setelah apa yang Mas lakuin sama harga diriku, bisa-bisanya dengan santai Mas meminta hal seperti itu."
"Tunggu, dengar dulu!"
"Mau dengar apa lagi?!" bentak Tiyas dengan teriakannya yang besar.
Beby yang semula berada di dapur tengah mengobrol dengan Inah ikut terperanjat. Wanita itu segera berlari kecil dan mengintip dari sela lorong rumah yang tertutup gorden panjang.
Pria itu membasahi bibirnya beberapa kali.
"Oke, saya minta maaf sekali lagi. Tapi semuanya terjadi diluar kendali, entah kenapa malam itu saya terasa sangat marah. Sekarang saya sadar kalau saat ini saya gak mau kita berpisah."
"Jangan ngomong seakan-akan kita sudah dalam hubungan yang serius, Mas. Saya tahu kalau Mas cuma mau memanfaatkan saya di dalam pernikahan ini. Karena model yang namanya Stefanny kan?" Tiyas terkekeh getir. Tidak menyangka bahwa ia harus menghadapi situasi rumit seperti ini.
Bukan hanya karena Tiyas tidak punya perasaan apapun pada Bagas. Tetapi juga sakit hatinya yang terlampau dalam karena penghinaan yang ia dapatkan. Tiyas tidak ingin hidup di dalam belenggu keluarga Wiguna.
__ADS_1
Bagas terdiam ia tak bisa membantah pernyataan Tiyas. Menunduk kepalanya dalam, sebelum akhirnya ia kembali tegakkan. Tatapannya kini terfokus penuh pada raut wajah cantik Tiyas yang menurutnya tidak ada yang bisa mengalahkan pesonanya.
"Saya gak bohong kalau saya benar-benar diluar kendali. Saya gak suka tatapan khawatir pria itu ke kamu. Atau bagaimana dia melindungi kamu dari tatapan orang-orang terhadap kamu. Saya gak suka," ungkap Bagas dengan tegas. Kini tatapan matanya lebih tajam.
Tiyas mengerjapkan matanya. Bingung juga sedikit panik, jawaban Bagas bukanlah sesuatu yang ingin dia dengar. Wanita itu juga tidak menyangka dengan perkataan Bagas yang seperti ini.
"Kenapa Mas gak suka? Kita gak ada hubungan spesial, baru aja kenal. Gak usah pake basa-basi kayak gini biar membuat saya luluh dan akhirnya menarik semua ucapan saya ke kakek Chandra," sahut Tiyas dengan ketus.
Bagas berdecak pelan.
"Saya gak bohong," jawabnya yang kemudian memalingkan wajahnya, hingga pipi kirinya kini menghadap ke arah Tiyas. "Saya berani menentang mama hanya untuk bisa bersanding denganmu di altar. Saya datang kesini memang dengan tangan kosong, tapi bukan berarti saya gak ada perjuangan."
Tiyas menatap dalam diam, bagaimana pipi Bagas kini terdapat goresan merah yang masih baru karena terlihat sedikit bengkak. Dan bukan hanya satu goresan memanjang disana.
"Kenapa?" tanya Tiyas dengan sedikit tercekat. Wanita itu sedikit iba dengan pria temperamental di hadapannya. "Kenapa kamu sampai menentang keluargamu? Saya bukan siapa-siapa dibandingkan Stefanny yang sudah pasti diterima dengan tangan terbuka oleh keluarga Wiguna."
Bagas kembali menegakkan tubuhnya. Tangan Tiyas yang semula ia cengkeram kini dilepas. Wajahnya berpaling dan menatap wanita itu dengan pandangan sedalam samudra.
"Saya gak tahu perkataan ini terdengar gombal atau gak. Tapi karena tingkahmu yang tiba-tiba saja membatalkan perjodohan kita, semalaman saya gak bisa tidur," ungkap Bagas dengan masih mempertahankan posisinya.
Tiyas kembali menatap mata Bagas yang begitu indah. Seakan-akan wanita itu tersedot masuk ke dalam pesona mata Bagas.
"Saya gak tau perasaan apa yang sedang saya alami. Tapi kata kakek saya sedang cemburu, itulah sebabnya saya menjadi tidak terkontrol," sambungnya sembari menarik napasnya dalam. "Kalau memang saya benar-benar cemburu karena pria itu, berarti artinya saya suka sama kamu, kan?"
"Tapi saya gak, Mas," balas Tiyas dengan jeda cukup lama.
Bagas mengedikkan bahunya. Ia kemudian kembali mencondongkan tubuhnya pada Tiyas.
"Maka tugas saya adalah membuat kamu juga suka sama saya."
"Gimana caranya?" tantang Tiyas dengan senyum meremehkan.
Pria tampan itu tersenyum tipis, namun mampu membuat Tiyas tak berkutik.
__ADS_1
"Kamu harus jadi istri saya dulu, setelah itu kamu bisa tau gimana cara saya agar bisa meluluhkan hati kamu. Deal?"