
"Kamu jadi ke rumah mami hari ini?" tanya Bagas sembari menatap sang istri yang tengah memakaikannya dasi. Hadiah dari Tiyas tempo hari.
Tiyas mengangguk. Ia kemudian menepuk dada sang suami dengan pelan sembari tersenyum kecil.
"Selesai!" serunya. Yang kemudian ikut bersiap, meski hanya membawa tas selempang kecil. "Mami nelpon terus, katanya kangen. Udah lama gak kesana."
Bagas mengangguk paham. Pria itu kemudian berjalan keluar bersama dengan Tiyas untuk sarapan bersama.
"Kalau saya sempat, nanti dijemput."
"Gak usah dipaksa," kata Tiyas menolak dengan halus. Tangannya kini tersampir di lekukan lengan Bagas. "Saya tahu pekerjaaan Mas menggunung. Soalnya Bos kita sekarang lebih sering dirumah. Kasian mas Jonathan."
Keduanya kini mulai menuruni tangga secara pelan dan mulai menuju meja makan.
"Gak masalah, Jonathan juga senang saya naikkan gajinya. Kayaknya kamu hamil deh, sayang. Soalnya saya gak bisa jauh-jauh sama kamu."
Tiyas berdecak sinis. Ia kemudian menyikut perut sang suami sembari melepaskan rangkulan tangannya. Duduk ia dengan berjalan memutar dan berada di seberang sang suami.
"Gak usah ngomong ngaco, Mas!" tegur Tiyas dengan kepalanya yang menggeleng pelan. Ia menolak saat Maria mulai melayani mereka. Wanita itu ingin melayani suaminya sendiri. "Dimana-mana kalau istri hamil yang susah buat jauh-jauh sama pasangannya ya tetep istri."
Wajah Bagas merengut tidak terima. Tetapi tetap memakan sarapan yang telah disiapkan sang istri.
"Gak tau deh, aneh. Aku pengennya deket sama kamu terus, gak mau jauh-jauh. Kayaknya kita perlu bulan madu deh, sayang."
"Udah, berhenti ngomongnya. Mending makan terus pergi kerja," kata Tiyas dengan santainya tak menanggapi usulan sang suami dan memakan sarapannya dengan nyaman.
Mulai pagi ini hingga seminggu kedepan, Chandra tidak akan ada di mansion utama karena berlibur bersama teman-temannya di luar kota. Jadi pagi ini perdana, Tiyas dan Bagas sarapan berdua dengan obrolan acak.
Setelah selesai sarapan, Tiyas mengantarkan kepergian sang suami untuk bekerja. Bagas mencium seluruh wajah sang istri dan diakhiri dengan kecupan panjang di bibir.
"Kamu beneran gak mau ikut nih? Sekalian bareng saya tempat mami," tawar Bagas yang enggan untuk berpisah dengan sang istri.
Mata Tiyas memutar malas. Selalu saja aja drama kalau Bagas akan pergi bekerja.
"Gak, Mas. Udah jam berapa sekarang? Mas bakal telat. Udah, nanti aku minta jemput pak Agus."
Alis Bagas terangkat, matanya menatap sang istri dengan bingung.
__ADS_1
"Maksud kamu pak Agung? Supir kita yang lain?"
"Hah?" Mata Tiyas mengerjap cepat, otaknya dengan cepat mencerna apa yang terjadi. Dan sedetik kemudian, wanita itu mengumpat dalam hati. Sudah sejak lama ia tak keceplosan dan hari ini kembali terjadi. "Iya, pak Agung maksud saya, Mas. Masih belum hafal," sambungnya dengan terkekeh hambar.
Bagas mengangguk mengerti. Ia kemudian segera masuk ke dalam mobilnya dan melambaikan tangannya.
"Saya pergi dulu ya. Kamu jangan coba-coba pake angkutan umum, ada supir dirumah nganggur buat apa?!"
Memang sebelumnya Tiyas pernah pergi mengajar naik angkutan umum dan Bagas sangat marah mendengar itu. Katanya angkutan umum rawan kejahatan, bisa-bisa Tiyas dirampok dan diculik.
"Iya, iya," jawab Tiyas sembari mengangguk kecil. Ia segera melambaikan tangannya, isyarat untuk sang suami segera pergi. Ketika mobil tersebut sudah pergi, Tiyas langsung menghampiri sosok pak Agung yang terlihat sudah berumur. "Ayo, Pak."
"Siap, Nona Muda!" seru Pak Agung yang langsung membukakan pintu mobil, setelah Tiyas sudah duduk nyaman di dalam dan mereka pun segera pergi.
Tidak butuh waktu lama bagi Tiyas untuk sampai di gang rumah palsunya. Wanita itu akhirnya meminta pria paruh baya itu untuk tidak mengantarnya sampai dalam. Persis seperti perkataannya pada sang suami dulu, bahwa disini rawan begal. Apalagi mobil mahal terparkir begitu saja di tepi jalan.
Setelah memastikan pak Agung tidak lagi terlihat, Tiyas segera menunggu dengan tidak sabar. Akhirnya setelah menunggu cukup lama, mobil yang dikendarai pak Agus datang.
Tiyas langsung masuk ke dalam mobil saat pak Agus membuka pintu. Dan terkejut kala Beby ternyata sudah duduk disana.
"Loh, kok lo ada disini?" tanya Tiyas dengan keningnya yang berkerut dalam.
"Kangen! Lo apa kabar sih? Gak ngabarin gue, jahat banget!"
Tiyas menghela napasnya pelan. Meringis ia karena pelukan Beby yang cukup erat.
"Kalau gue disini, berarti gue baik-baik aja."
Pelukan itu terlepas. Beby segera menghapus air matanya dengan masih sesegukan.
"Dih, gaya banget. Nangis kok gak ada air matanya!" ledek Tiyas dengan senyum miringnya.
Beby memberikan delikan sinis pada sahabatnya.
"Air mata gue udah kering nangisin lo karena kangen!"
"Alah lebay!" balas Tiyas dengan tatapan jijiknya. Kemudian ia segera membenarkan posisi duduknya. "Gue gak bisa sering-sering hubungin lo ataupun mami sama papi. Hampir setiap saat Bagas sama gue terus. Dia bahkan jarang pergi ke kantor dan milih buat kerja dirumah. Katanya gak mau jauh-jauh, jadinya gue juga gak bisa hubungin mami sementara waktu."
__ADS_1
"Tebakan gue bener berarti, udah keliatan dari dia kasih bogeman ke Jovan. Tuh cowok bener-bener jadi bucin sama lo!" seru Beby dengan tersenyum senang. Meski sebenarnya wanita itu tidak tahu apa yang tengah Tiyas alami untuk sampai dititik ini.
Tiyas memilih untuk menguburnya diam-diam. Karena masalah telah selesai, tidak ada gunanya juga untuk berbagi cerita dengan orang lain.
"Sekarang giliran gue mau nanya. Lo kenapa bisa ada disini? Dan tau kalau gue mau pulang? Apa lo selama ini gak urusin perusahaan?"
"Ye enak aja!" protes Beby tidak terima. "Lo pikir yang mengurus Jovan dirumah sakit sampe sekarang tuh anak udah melalang buana di dunia hiburan siapa, kalau bukan gue? Enak banget mulut lo kalau ngomong!"
Tiyas mengedikkan bahunya santai.
"Ya kan gue gak tau, makanya laporan. Yang gaji lo kan gue."
"Orang gila!" hardik Beby dengan delikan sinisnya, tetapi hanya ditanggapi tawa dengan Tiyas. "Gue tau lo mau datang, karena gue lagi dirumah Adhitama. Kebetulan Pak Agus mau jemput lo."
"Ngapain?" tanya Tiyas dengan alisnya yang terangkat. "Perasaan udah lama kita temenan, tapi kayaknya lo gak sampe segitunya mau bertamu kerumah gue. Kecuali kalau ada gue dirumah."
Mata Beby bergerak kesana-kemari. Tak ada jawaban disana, hanya dengungan-dengungan tipis. Pertanda bahwa ada yang wanita itu simpan.
Dan tingkah Beby semakin membuat Tiyas menjadi curiga.
"Lo gak main-main sama bokap gue kan? Gue gak mau ya punya emak tiri kayak lo!" seru Tiyas dengan matanya yang melebar.
Dengan tangannya yang ringan, Beby langsung melepaskan tamparannya pada lengan sahabatnya.
"Kalau mau curiga sama gue yang bener dikit kek! Ya kali gue pacaran sama aki-aki! Gue itu mau ambil berkas bang Arya yang ketinggalan di rumah lo."
"Oh."
Tiyas hanya menanggapi dengan singkat. Namun tatapan mata dan senyumnya benar-benar membuat Beby kesal. Setelah ini pasti Tiyas akan meledeknya habis-habisan.
"Nona, kita sudah sampai," ucap pak Agus yang langsung turun dari mobil dan membukakan pintu mobil.
Beby yang sudah tidak tahan dengan tatapan Tiyas lebih memilih untuk keluar dari pintu lainnya. Dan Tiyas tentunya langsung turun dan mengejar sahabatnya dengan tawa menggelegar hingga masuk ke dalam rumah.
"Nona Muda, jangan lari-lari!" teriak Pak Agus yang pastinya tidak dihiraukan oleh dua wanita muda itu.
Di tempat yang tersembunyi, Stefannya ternyata telah menguntit Tiyas dari kediaman Wiguna. Sepanjang jalan wanita itu terus dibuat terkejut, terlebih ketika Tiyas turun didepan sebuah gang dan kembali naik mobil pribadi mewah, hingga kemudian berhenti di kediaman ini.
__ADS_1
Model wanita itu mengambil gambar sebanyak mungkin untuk bahan penyelidikan mandirinya. Sebenarnya siapa Tiyas? Kenapa wanita itu dipanggil Nona Muda juga dirumah ini? Apa Bagas tahu kebenarannya?
Ini akan menjadi titik balik Tiyas. Dimana Stefanny akan membuat Tiyas hancur sama seperti dirinya.