
"Mas, serius?" tanya Tiyas dengan wajahnya yang pasrah.
Setelah membersihkan diri dan memakai baju yang sama. Tiyas dikejutkan dengan Bagas yang baru masuk ke kamar hotel mereka dengan keringat di tubuhnya dan sebuah kantong belanjaan besar di tangannya.
Bagas mengangguk yakin. Ia semakin mengeratkan jaket yang baru saja dibelinya di toko terdekat dari hotel.
"Saya gak suka kamu pakai baju seksi. Kamu baru aja sembuh karena angin pantai, ditambah saya gak suka kamu dilihat orang lain."
Mata Tiyas memutar malas. Kepalanya bergerak risih karena hampir tidak bisa bergerak dengan leluasa.
"Lebay deh. Lagian saya udah sembuh."
"Tetap gak boleh!" seru Bagas dengan tatapan tajamnya.
Tiyas berdecih kesal. Dengan kedua tangannya yang bersedikap di depan dada, wanita itu kembali duduk di ranjang. Kepalanya enggan menoleh pada sang suami.
Bagas yang baru kali ini menghadapi sikap kekanakan Tiyas cukup kewalahan. Pria itu hanya bisa menghela napasnya sembari berlutut dihadapan sang istri.
"Maaf, tapi saya benar-benar gak rela kamu pakai baju pendek-pendek."
Wanita itu masih diam dengan sepasang matanya yang mulai berkaca-kaca. Ia kemudian melirik Bagas yang masih menatapnya dengan wajah menyesal.
"Aneh," adunya dengan suara yang pelan. "Malu dilihat orang-orang kalau pake jaket sama celana panjang kayak gini. Mending kita pulang aja, gak usah jalan-jalan!"
"Oke," sahut Bagas sembari menghela napas pelan. Ia tak tega harus memaksa istrinya yang sudah menahan tangis. "Gak usah pake jaket. Tapi tetap gak pakai celana pendek ya."
Pria itu tersenyum lembut sembari menunggu jawaban sang istri. Memberanikan diri untuk mengelus jari lentik istrinya.
"Saya khawatir kamu sakit lagi," ungkapnya sembari berbisik.
Melihat keseriusan pada setiap perkataan suaminya membuat Tiyas mau tidak mau mengangguk setuju. Setidaknya ia masih bisa berpakaian normal, tanpa jaket tebal di hari yang terik ini. Lagipula belum tentu juga mereka akan jalan-jalan sepanjang hari di pantai. Banyak tempat wisata di sekitar sini, selain pantai.
"Kalau gitu, ayo kita pergi!" ajak Tiyas segera bangun dari duduknya. Cukup dibuat salah tingkah dengan elusan Bagas di tangannya. Belum terbiasa dengan sentuhan fisik yang diawali suaminya.
Bagas tersenyum kecut. Dengan tekad yang bulat, pria itu akan memulai sentuhan fisik dari sekarang. Itulah yang akan ia buktikan pada sang istri, bahwa perasaannya bukan main-main.
"Tempat pertama yang harus kita datangi adalah restoran di hotel ini. Sarapan dulu, biar gak masuk angin," ajak Bagas seraya menyodorkan tangannya kepada sang istri.
Bukannya Tiyas tidak paham dengan gelagat sang suami, tapi wanita itu memilih untuk berjalan melewati Bagas tanpa berniat menyambut tangan tersebut.
__ADS_1
"Ayo, Mas. Perut saya udah keroncongan," sahut Tiyas dengan menahan tawanya.
Meninggalkan Bagas yang hanya bisa menghela napas sembari menutup matanya erat.
"Sabar, baru permulaan."
Setelah Tiyas menyelesaikan sarapannya yang lumayan banyak, sedangkan Bagas hanya mengambil sedikit karena tak terbiasa makan di pagi hari. Kini waktunya mereka pergi ke tempat objek wisata dengan menyewa mobil sehari penuh.
"Sekarang kita mau kemana?" tanya Tiyas dengan nada yang antusias. Mengingat bagaimana saat dulu kecil hingga dewasa jarang sekali untuk berlibur bersama keluarga. Tentu ajakan Bagas membuatnya bahagia.
Bagas terkekeh pelan. Ia melirik sang istri yang bersenandung lirih sebelum akhirnya kembali fokus pada jalan di depannya.
"Kejutan dong, masa saya kasih tau. Gak seru."
Tiyas berdecak kesal. Melirik sinis suaminya dengan main-main, kemudian ikut fokus pada jalanan di depan.
"Pengen deh liat ikan," ucap Tiyas bermaksud untuk mengkode sang suami.
"Oh." Terlalu singkat jawaban dari Bagas. Pria itu hanya bisa mesem-mesem, karena melihat perubahan raut jengkel istrinya.
"Gak bisa diharapkan," bisik Tiyas pada dirinya sendiri. Bibirnya maju tanpa bisa dicegah, cukup kecewa dengan tanggapan Bagas. "Tau begini mending pulang aja."
"Kenapa?" tanya Bagas dengan panik.
Namun Tiyas tidak menjawab. Bagaimana bisa wanita itu lupa dengan ponselnya? Biasanya benda itu selalu berada ditangannya.
"Mas, liat ponselku gak?" tanya Tiyas cepat dengan nada gusar.
"Ada di saya," balas Bagas sembari menghembuskan napas lega. "Semalem ponselmu berisik, ada yang nelpon kayaknya. Tapi pas mau saya angkat malah mati. Habis baterai."
Tiyas juga ikut menghela napas lega. Bahunya yang sejak tadi tegang kini mulai melemas. Wanita itu pikir ponselnya hilang dan jatuh di suatu tempat.
"Kenapa Mas gak bilang? Aku juga baru sadar kalau dari semalem gak pegang ponsel," keluh Tiyas sembari menengadahkan tangannya.
Paham atas maksud istrinya. Bagas langsung memberikan ponsel tersebut tanpa protes.
"Saya minta maaf. Menangani orang demam adalah hal pertama bagi saya dan lupa untuk bilang sama kamu."
"Makasih," ucap wanita itu dengan pelan. Walau sedikit membuatnya kesal, Tiyas tetap berterima kasih karena setidaknya Bagas masih peduli pada barangnya.
__ADS_1
Bagas mengangguk pelan. Ia melirik ragu pada sang istri yang hanya menatap ponsel dengan layar hitamnya.
"Jangan marah-marah, Tiyas. Kamu kalau lagi kesal bikin saya gak tenang. Padahal kalau kamu lagi senang, aura cantikmu makin bersinar."
"Duh gombal deh," sahut Tiyas dengan memalingkan wajahnya. Sedikit salah tingkah mendengar pujian dari Bagas.
Bagas hanya bisa tersenyum tipis, merasakan bagaimana gejolak di dadanya membuat perasaannya kian membaik.
Akhirnya disisa perjalanan mereka. Sepasang suami istri itu kini sudah sampai ditempat pertama.
"Oh, seaworld?!" pekik Tiyas yang terkejut karena tempat inilah yang dia idam-idamkan sejak dulu. Kepalanya menoleh pada Bagas yang berjalan di belakangnya.
Pria itu mengangkat alisnya. Dengan kedua tangannya yang berada di saku celananya. Bagas melangkah dengan mempesona, tak lupa juga menyisir rambutnya ke belakang. Dengan senyum tipis yang tampan, membuat pria itu berkali-kali lipat lebih berwibawa.
"Katanya mau liat ikan? Tempat yang bakal kita kunjungi pertama yaitu seaworld," sahut Bagas dengan senyum percaya dirinya. Sedikit banyak senang karena berhasil membuat sang istri bahagia.
Tiyas berdecih tanpa bisa menyembunyikan senyum bahagianya. Menatap berbagai jenis ikan dari bawah adalah hal yang paling ingin dia lakukan. Rasanya tenang dan juga damai.
"Makasih Mas, kalau begitu ayo kita masuk!" serunya dengan terkekeh kecil.
Bagas mengedikkan bahunya dengan percaya diri. Sembari menutup mata, dirinya menyodorkan tangan kepada sang istri. Namun karena tak kunjung mendapatkan sambutan, pria itu memicingkan matanya dan kemudian terbuka sempurna.
Menatap Tiyas yang kini sudah berjalan cukup jauh dari posisi awal. Meninggalkan bagas yang sudah menjadi pusat perhatian. Seraya membenarkan penampilannya, pria itu berdehem dan mengambil langkah cepat untuk menyusul sang istri yang tidak juga menoleh padanya.
"Tiyas!" panggil Bagas dengan langkahnya yang tergesa-gesa.
Wanita merasa namanya dipanggil kemudian menghentikan langkahnya. Ia menahan tawa setelah melihat tingkah konyol suaminya.
"Sini," ucap wanita itu dengan melambaikan tangannya. Setelah sang suami berhasil berada disampingnya dengan napas terengah, Tiyas langsung saja mengambil tangan Bagas dan menggenggamnya.
"Maunya begini kan? Karena Mas Bagas udah mau nurutin permintaanku, jadinya boleh deh pegang," sambungnya dengan senyum kecilnya.
Lelah yang Bagas rasakan kini meluap entah kemana. Pria itu tersenyum lebar.
"Makasih ya."
"Iya sama-sama. Tapi cuma 5 detik nih, waktu anda sudah habis!" seru Tiyas yang langsung dengan cepat melepas tautan tangan mereka. Membuat gerakan wajah seakan mengejek suaminya. "Ayo!"
Bagas hanya bisa menggeleng sembari tersenyum kecil melihat tingkah kekanakan Tiyas. Tapi setidaknya ledakan dalam dadanya beberapa detik yang lalu membuat tarikan ujung bibirnya kini terasa begitu tulus.
__ADS_1