
"Mas!" panggil Tiyas saat merasa bahwa sang suami terdiam seperti tengah melamun.
Bagas yang mendengar panggilan Tiyas langsung tersadar. Semua hal yang ada dipikirannya kini buyar.
"Oh, sorry."
Tiyas menghela napasnya kecewa. Wanita itu memalingkan wajahnya dan bersiap untuk merebahkan dirinya di ranjang.
"Jangan tidur dulu, kita harus bersihkan tanganmu," pinta Bagas sembari mendekat ke arah sang istri.
Wanita itu menepis tangan Bagas yang berniat untuk menahan tubuhnya agar tidak terbaring.
"Mas bisa keluar aja gak? Saya pengen sendiri."
Bagas menatap sang istri dengan dalam dan juga menyesal.
"Tapi lukamu belum diobati."
"Nanti sembuh sendiri," timpal Tiyas yang langsung menidurkan dirinya, posisinya miring ke kiri membelakangi sang suami. "Mending Mas Bagas keluar aja, acaranya belum selesai. Pasti keluarganya Mas nyariin."
Bagas berdecak kesal. Ia pikir Tiyas akan menuruti ucapannya, namun wanita itu sepertinya mulai keras kepala.
"Kamu kenapa sih harus ngambek? Ini lagi ulang tahun saya loh. Boro-boro kamu mau inget ulang tahun saya dan ngasih kado."
Tiyas memejamkan matanya kesal. Malas untuk memperpanjang obrolan, ia ingin setidaknya mengistirahatkan otak dan tubuhnya.
"Tiyas!" panggil Bagas dengan sedikit nada tinggi. Pria itu khawatir dengan darah yang setengah mengering dari tangan sang istri dan sekarang sudah menetes mengotori sprei.
"Apa?!" balas Tiyas teriak dengan mata yang memerah. Posisi wanita itu sekarang kini sudah berdiri menghadap sang suami. "Gak usah teriak-teriak Mas!"
"Kamu duluan yang diemin saya!" balas Bagas dengan teriak bahkan lebih besar. "Gak usah bertingkah kayak anak kecil deh! Saya kan tadi sudah bilang maaf!"
__ADS_1
Kedua tangan Tiyas kini terkepal erat. Bahkan tangan kirinya yang sudah terluka malah semakin parah. Darah menetes ke lantai. Kedua mata wanita itu berlinang, bibirnya bergetar.
"Maaf untuk apa?" tanya Tiyas setengah berbisik. "Hm? Untuk yang mana Mas minta maaf? Mas, aku cuma minta tanggapan doang kok! Apa susahnya bilang iya?! Kenapa harus diam?!"
Bagas menghela napas kasar. Matanya terpejam sambil mengurut pelan pelipisnya. Satu tangannya kini berada di pinggang.
"Saya gak bisa langsung bilang iya, saya gak tau kejadiannya kayak gimana. Stefanny juga terluka, kalian sama-sama terluka. Saya juga gak sepenuhnya percaya sama apa yang Stefanny bilang, karena gak tau detail kejadiannya seperti apa."
Tiyas terperangah, benar-benar tidak percaya dengan pikiran Bagas. Bagaimana bisa di situasi seperti ini Bagas tidak percaya dengan perkataannya.
"Sejak kapan kamu percaya sama Stefanny? Jadi kamu gak percaya kalau bukan saya yang melukai Stefanny?"
"Saya gak bilang begitu," balas Bagas sembari berdecak kesal. Ia kemudian menatap kebawah dimana darah menetes ke lantai dengan volume lebih banyak dibandingkan yang tadi. "Ayo kita obati," sambungnya berusaha untuk memegang tangan sang istri.
"Saya bisa sendiri, Mas," tolak Tiyas dengan suaranya yang parau. Wanita itu menengadahkan kepalanya sembari menghirup napas dalam dan dikeluarkannya segera.
Bagas hanya bisa terdiam setelah penolakan Tiyas. Pria itu menatap sang istri yang berjalan dan menuju lemari pakaiannya. Mengambil sesuatu dibalik blazer yang biasanya dipakai saat mengajar.
Bagas menerima kotak yang ternyata berisi dasi berwarna merah maroon dengan ukiran mahal dan elegan dari merek ternama. Pria itu menatap hadiah dari sang istri dengan raut sendu.
"Tiyas," panggil Bagas dengan sedikit tertahan. Ingin melanjutkan perkataannya namun terdiam saat melihat guratan sedih pada wajah sang istri.
"Kalau mau bicara nanti saja, Mas. Saya mau sendiri, benar-benar sendiri," sela Tiyas dengan cepat. Wanita itu bahkan mengarahkan sang suami untuk segera keluar. "Saya mohon maaf, tapi sampai besok pagi jangan ganggu saya. Terserah Mas mau tidur dimana."
Karena merasa bersalah, Bagas hanya bisa menuruti perkataan sang istri. Keluar ia dengan langkah gontai dan berbalik untuk kembali melihat Tiyas, namun pintu sudah lebih dulu ditutup dan dikunci.
Pria itu menatap hadiah sang istri dan memegangnya dengan erat. Memaki dirinya sendiri karena sudah membuat istrinya bersedih. Harusnya Bagas tidak membentak istrinya, amarahnya seharusnya tidak meledak disana.
Niat Bagas hanya berusaha untuk netral. Karena baik Stefanny dan Tiyas sama-sama terluka. Bukan berarti Bagas tidak percaya dengan pengakuan Tiyas, tetapi pria itu tidak ingin ada pihak yang dirugikan disini. Meski Bagas tidak menyukai Stefanny, bukan berarti ia ikut mendukung Tiyas jika memang ini kesalahan sang istri.
Sedangkan di dalam kamar, Tiyas hanya bisa merenung dengan air mata yang tak hentinya menetes membasahi pipinya. Entah kenapa tanggapan Bagas yang tidak memihak padanya membuat Tiyas merasa sendiri. Padahal beberapa menit sebelumnya, wanita itu bisa menangis lega karena ada Bagas yang setia melindungi dan menjaganya.
__ADS_1
"Apa susahnya bilang iya. Gak mungkin gue tega buat nyakitin Stefanny," gumam Tiyas dengan sesegukan. Wanita itu menatap malang telapak tangannya dengan beberapa tancapan beling yang ada disana.
"Baru aja mau yakin sama perasaannya, tapi udah dibikin mundur," gumam Tiyas kepada dirinya sendiri. Senyumnya terlukis begitu getir sembari merebahkan dirinya di ranjang.
Tak ada niatan untuk membersihkan lukanya. Biarlah, Tiyas tidak ingin kesepian. Setidaknya rasa sakit ini bisa menemani kesedihan hatinya.
***
Keesokan harinya sejak acara ulang tahun Bagas yang berakhir dengan kekacauan serta kedatangan Chandra sebagai pertanda bahwa berakhirnya acara.
Kini keadaan meja makan di mansion utama Wiguna terasa sepi. Walau semuanya berkumpul, seperti Restu, Indah, Bella, dan Bagas serta Chandra, tidak ada dari mereka yang bersuara. Terlebih dengan aura gelap yang terpancar dari wajah Chandra.
"Mana Tiyas?" tanya Chandra sembari asik memakan sarapannya.
Tetapi tidak ada jawaban, bahkan Bagas yang biasanya selalu membawa sang istri untuk makan bersama tidak ada pergerakan.
"Gas?" panggil Chandra dengan alisnya yang terangkat.
Bagas melirik sang Kakek dengan ragu, kemudian beranjak pergi tanpa sepatah katapun. Makanan diatas mejanya pun masih utuh dan tak tersentuh.
"Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa sejak kemarin saya gak lihat Tiyas? Kemana dia?" tanya Chandra kepada ketiga orang disana.
Ketiganya hanya saling melirik dan tetap terdiam karena bingung harus memberi tahu sang Kakek dari mana. Kalau tahu bahwa Tiyas terluka, pria tua itu pasti akan memasukkan Stefanny kedalam daftar hitamnya. Tentu karena Chandra percaya bahwa Tiyas tidak mungkin mencelakai Stefanny.
Kini di lantai dua, Bagas terdiam di depan kamarnya dengan pandangan tidak bisa dideskripsikan. Belum sempat ka mengetuk, pintu tersebut sudah terbuka dari dalam.
"Kamu mau kemana?" tanya Bagaa yang melihat sang istri sudah rapi dengan tas punggung di belakangnya.
Tiyas menatap datar sang suami dengan guratan kecewa di wajahnya. Mungkin sikapnya hari ini akan membuat Bagas setidaknya mengerti apa kesalahan yang sudah diperbuat.
"Saya mau pulang kerumah orang tua saya untuk beberapa hari, Mas. Jangan cegah saya, ini untuk kebaikan kita bersama."
__ADS_1