Menantu Cantik Putri Konglomerat

Menantu Cantik Putri Konglomerat
BAB 19


__ADS_3

Tiyas menatap tangan Bagas yang tersodor padanya, mengajaknya untuk berjabat tangan tanda menyetujui kesepakatan. Tetapi rasanya wanita itu tetap tidak ingin melanjutkan, ia rasa keputusannya sudah benar. 


"Gak," balas Tiyas dengan singkat. "Saya gak akan mau untuk mencabut perkataan saya, Mas."


Senyum Bagas yang tadinya lebar kini perlahan luntur. Tangannya ia tarik dan terkepal erat. 


"Oke, itu hak kamu. Cuma saya gak mau kamu menerima perjodohan ini dengan hati yang sangat terpaksa. Saya tahu watak kakek, mau apapun alasannya dia akan tetap menyelenggarakan pernikahan ini."


Kini Tiyas kembali terdiam. Sesaat ia tersadar dengan siapa lawan yang dihadapinya. Walau Adhitama jauh diatas keluarga Wiguna, tetapi pria tua itu tentunya tidak akan tinggal diam. Chandra adalah satu-satunya generasi terdahulu yang masih hidup, sedangkan kakek Tiyas sudah lama tiada. 


"Meski kelihatannya tidak berdaya seperti orang tua pada umumnya, tapi kakek saya punya kuasa terhadap apa yang dia kehendaki," sambung Bagas kemudian. 


"Memangnya apa yang akan kakek perbuat kalau saya masih gak mau menjalani pernikahan ini?" tanya Tiyas dengan pelan, sepertinya wanita itu kini mulai pasrah. 


Bagas mengedikkan bahunya, ia kemudian kembali duduk di kursinya. 


"Saya gak tau pasti apa yang akan dia lakukan setelah ini. Hanya kemarin dia bilang kalau sejak kecil sampai sekarang kamu sudah dalam pantauannya. Dia tau semua gerak-gerikmu diluar rumah." 


Tubuh Tiyas menegang, ia tak percaya bahwa sosok kakek yang terlihat berwibawa, hangat dan bersahaja itu bisa menjadi sosok menyeramkan. Wanita itu tidak bisa membayangkan jika ia tak jadi menikah dengan Bagas, entah apa yang pria tua itu akan lakukan kepadanya. Tiyas juga tidak ingin kedua orang tuanya tahu, ia tidak ingin penyakit ayahnya kembali kambuh. 


Ditengah pikiran kalutnya, mata Tiyas tidak sengaja mendapati Beby dan Bi Inah tengah menguping pembicaraan mereka.


"Yang ngintip matanya bintitan!" seru Tiyas dengan dengusan kesal. 


Merasa bahwa mereka tertangkap basah, Beby dan Bi Inah panik dan hampir saja terjatuh. Karena panik dan takut dimarahi, Bi Inah tanpa sengaja mendorong Beby hingga wanita itu terlempar ke ruang tamu. 


Sahabat karib Tiyas itu terkekeh canggung sembari menyelipkan rambutnya di belakang telinganya. 


Tiyas hanya bisa memberikan tatapan datar dan embusan pelan. Sudah tidak tahu lagi caranya menghadapi tingkah Beby. 


"Lo ambilin air, kapas sama antibiotik deh di dalem," titah Tiyas dengan menggerakkan kepalanya. 


Beby menunjuk dirinya sendiri dengan tatapan tidak percaya. Bisa-bisanya dia disuruh menuruti perintah Tiyas. 

__ADS_1


"Dimana? Gue gak tau!" 


"Ya dicari dong, cantik!" serunya dengan sedikit gemas. "Tanya Bi Inah, gue gak tau dimana tempatnya" 


Bagas yang melihat pertikaian di hadapannya hanya bisa menggaruk pelipisnya bingung.


"Lagian buat apa sih? Kenapa gak kamu cari sendiri aja, Tiyas? Kan ini rumah kamu." 


Beby mengangguk dengan semangat. Sangat setuju dengan pernyataan Bagas. 


"Tuh dengerin! Ini kan rumah lo, cari sendiri sana!" 


Gemas. Ingin rasanya Tiyas mengacak-acak wajah Beby yang tengah meledeknya habis-habisan. Jika saja tidak ada Bagas, sahabatnya itu sudah pasti meminta ampun. 


Sepeninggalan Tiyas yang mencari antibiotik, Beby kini duduk di seberang Bagas dengan senyum manisnya. 


"Kenapa?" tanya Bagas yang sedikit agak merinding dengan tatapan Beby. 


"Mas, tenang aja. Tiyas lagi gak dekat sama siapa-siapa kok! Dia gak bohong kalo emang pergi bareng teman, kan temannya aku." 


Bagas menatap Beby sekilas kemudian ia mengangguk. Kini ia hanya terfokus dengan jam tangan di pergelangan tangannya. Kemudian ia kembali melirik Beby yang fokus memainkan ponsel merek ternama. Gaya dan penampilan teman Tiyas bukan seperti orang biasa, pikirnya. 


"Saya mau tanya, gak masalah kalau gak mau jawab," ucap Bagas membuat atensi Beby kini beralih padanya. "Saya tahu kalau Tiyas pasti sudah cerita tentang masalah kami kemarin. Yang mau saya tanyakan, apa kamu tahu siapa pria itu?" 


Beby melirik ke dalam rumah dimana belum ada tanda-tanda Tiyas akan muncul. Wanita itu kemudian menegakkan posisinya, sedikit condong ke arah Bagas. 


"Namanya Bang Arya. Dia itu satu fakultas sama saya dan Tiyas pas di kampus. Dari dulu suka sama Tiyas sampe sekarang juga masih. Orangnya perhatian, pinter masak juga. Tiyas suka dikirim hasil masakan Bang Arya dan enak banget!" tutur Beby dengan senyum miringnya. 


Memanfaatkan ketidaktahuan Bagas tentang Arya, membuat kesempatan Beby tentu lebih besar. Bisa dilihat kalau Bagas memang tengah punya rasa kepada sahabatnya, sudah pasti setelah mendengar cerita Beby kemungkinan besar pria itu akan menjauhkan Tiyas dari Arya. 


Walau Tiyas memang mengaku tidak punya perasaan terhadap Arya. Tetapi sebagai pria dewasa, Arya terus saja mengejar-ngejar Tiyas dengan cara halus. Dan itu membuat Beby tidak memiliki kesempatan untuk mencari perhatian dari Arya. 


Sedangkan di sisi lain, Bagas tentunya semakin tidak nyaman dengan sikap Arya yang ditujukan kepada Tiyas. 

__ADS_1


Namun belum sempat Bagas kembali bertanya pada Beby, Tiyas sudah lebih dulu keluar dengan membawa antibiotik. Dan tubuhnya sedikit terlonjak karena tiba-tiba wanita itu duduk di sampingnya dan pundak mereka sempat bersentuhan. 


"Ngapain?!" tanya Bagas dengan sedikit memekik. Tubuhnya sedikit ia tarik kebelakang dengan raut wajah yang panik. 


Tiyas mengerutkan keningnya, heran dengan tingkah Bagas.  Ia kemudian mengangkat benda yang tadi ia bawa. 


"Mau ngobatin pipi kamu lah, Mas. Oh, atau kamu mau ngobatin sendiri? Lebih bagus, saya ambil kaca dulu." 


Bagas menarik tangan Tiyas ketika wanita itu akan beranjak pergi. Pria itu kemudian mencondongkan sisi wajahnya pada calon istrinya itu. 


"Gak perlu, kamu saja yang obatin sekarang."


Mulut Tiyas berkomat-kamit, mencibir bagaimana Bagas terlihat memerintahnya. Ia kemudian dengan telaten membersihkan luka dengan air hangat, kemudian mengoleskan antibiotik secara pelan dan teratur. Kemudian sedikit tiupan pelan yang membuat Bagas sesaat merinding. 


"Sudah?" tanya Bagas dengan terbata saat tidak merasakan pergerakan dari Tiyas. 


Wanita itu bergumam dan membiarkan perlengkapan yang ia bawa tergeletak di meja begitu saja. Tiyas kemudian segera beranjak dari sana, namun panggilan dari Bagas membuat langkahnya terhenti. 


"Terima kasih ya, kalau begitu saya pamit pulang," tutur Bagas dengan tarikan di ujung bibirnya. "Jaga diri kamu baik-baik, sampai jumpa di hari pernikahan kita nanti ya," sambungnya seraya tersenyum tipis. 


Mata Tiyas membelalak kaget. Ia langsung berbalik badan dan menghadap Bagas yang sudah berdiri dari duduknya, bersiap akan pergi. 


"Loh, saya belum berikan jawaban apa-apa Mas! Mana bisa begitu?" 


Bagas mengedikkan bahunya. Pria itu tampaknya tidak peduli dengan protes yang Tiyas keluarkan. 


"Walaupun kamu belum jawab, saya sudah yakin bahwa jawaban kamu sama dengan apa yang saya pikirkan." Perlahan langkah kaki pria itu menghampiri Tiyas yang tak berkutik karena terlalu kaget. "Saya gak akan biarin kamu jadi milik pria lain." 


Tiyas menarik kakinya mundur saat Bagas membisikkan kata-kata itu di telinganya. 


Sialnya, tubuh pria tampan itu yang menjulang menguntungkannya. Tiyas hanya bisa mematung dengan matanya yang terbelalak saat Bagas tanpa aba-aba memberikan kecupan singkat pada pipinya. 


"Saya akan menunggu hari itu tiba, dimana bukan lagi pipimu. Tapi bibirmu yang akan saya kecup," bisik Bagas tepat di depan wajah Tiyas yang masih belum bisa mencerna apa yang telah terjadi. "So cute."

__ADS_1


__ADS_2