
Sudah dua minggu berlalu sejak pertemuan terakhir Tiyas dan Bagas di rumah istri kedua pak Agus. Sejak saat itu keduanya tidak pernah saling bertemu, untuk fitting baju pernikahan pun mereka berbeda waktu dan tempat.
Bertukar kabar pun mereka tidak pernah, atau lebih tepatnya adalah Tiyas yang tidak pernah membalas pesan singkat dari Nagas. Sejak hadiah kecupan yang Bahas berikan di pipinya membuat Tiyas enggan untuk menanggapi pria itu secara berlebihan.
Terlebih bagaimana jantungnya berdegup kencang hanya karena pesan singkat dari Bagas. Juga wajahnya yang memerah dan perutnya tergelitik hanya karena teringat kecupan singkat tempo hari.
Setelah meyakinkan orang tuanya untuk tetap melaksanakan perjodohan. Maka disinilah Tiyas, berdiri anggun dengan gaun pernikahan berwarna putih dengan aksen mewah serta ujung bajunya yang terhampar begitu panjang.
Didampingi oleh Arya sebagai pendamping Tiyas, karena tentunya sang ayah tidak bisa menghadiri upacara pernikahan ini. Kini pengantin perempuan berjalan begitu anggun dengan sebuket bunga di tangan saat pintu di depannya terbuka lebar.
Cahaya lampu di ruangan yang terang membuat pandangan Tiyas sesaat kabur. Dan setelah penglihatannya jelas, tegang tentunya tak bisa wanita itu simpan. Walau tak banyak yang datang, tetapi mata semua orang kini tertuju padanya.
"Santai, Dek," bisik Arya sembari mengelus tangan Tiyas dengan lembut. "Tarik napas, terus buang."
Arya yang memang sudah sejak lama mengagumi Tiyas, harus berakhir dengan patah hati. Tapi pria itu mencoba untuk berlapang dada, tahu bahwa Tiyas sejak awal memang tak pernah menaruh rasa padanya. Maka di momen sakral ini, Arya berusaha untuk ikut berbahagia walaupun di dalam dada hatinya serasa remuk redam.
"Saya mewakili papi Tiyas menyerahkan dia kepada kamu. Saya harap kamu gak mengecewakan kami semua," ucap Arya setelah mereka telah sampai pada mimbar. Dimana Bagas telah menunggu dengan aura tampannya yang memancar.
Bagas mengangguk dengan wajah datarnya, cukup keberatan saat mendengar bahwa pria inilah yang menjadi pendamping calon istrinya. Tapi karena ini adalah hari penting, Bagas tidak ingin merusaknya.
"Tenang saja, saya lebih tahu cara memanjakan istri saya," balas Bagas dengan senyum miringnya.
Sedangkan Tiyas hanya bisa menghela napas pelan. Bisa-bisanya kedua pria ini masih memiliki hasrat untuk adu kekuatan.
Karena tak ingin berlarut-larut, Tiyas segera menyambut tangan Bagas dan memberikan kode pada Arya untuk segera kembali ke tempat.
Bagas tersenyum senang, ia seperti bocah umur tiga tahun yang diperbolehkan memakan permen hanya karena merasa menang terhadap Arya.
"Baiklah, rangkaian proses pernikahan akan kita mulai."
__ADS_1
Nirmala, Beby, Arya, pak Agus dan beberapa anggota keluarganya. Serta Chandra ikut berbahagia. Raut wajah berseri mereka tidak bisa ditutupi. Berbeda dengan Restu yang hanya terdiam dengan wajah datarnya. Sedangkan sang istri dan anak keduanya duduk diam dengan wajah masam.
Berlangsung cukup lama proses pernikahan mereka berlangsung khidmat dan tertib. Karena yang hadir hanya sebatas keluarga dan juga teman-teman dekat, baik keluarga Wiguna maupun Adhitama sepakat untuk menyelesaikan acara ini dengan singkat.
Hingga waktunya kedua mempelai saling berhadapan, menatap satu sama lain hingga akhirnya bibir keduanya saling bersentuhan.
Tangan Bagas kini terangkat perlahan, senyum tipisnya hadir membuat kesan tampan meningkat berkali-kali lipat. Entahlah, rasanya degupan jantungnya kini terasa begitu cepat. Semakin terasa membuncah dadanya, semakin lebar senyumnya. Namun tangannya malah semakin gemetar.
"Mas," panggil Tiyas dengan tergagap.
Setelah dua pekan tidak bertemu sapa dengan Bagas membuat kegugupan wanita itu jadi berkali-kali lipat. Bibir bawahnya ia gigit pelan, merasa malu dan salah tingkah. Ini adalah kali pertama ia begitu dekat dengan sosok pria di hidupnya kecuali orang tuanya.
"Jangan di gigit," balas Bagas ikut berbisik. Ibu jarinya perlahan bergerak pada bibir Tiyas, berusaha untuk melepaskan bibir ranum itu dari gigitan sang empunya. "Kamu cantik sekali. Kenapa pesan saya gak dibalas? Kamu tahu, saya hampir gila karena rasa kangen saya sama kamu."
Tiyas mengerutkan hidungnya.
"Gombal," ledeknya berusaha untuk menenangkan dirinya dari rasa tegang. Tetapi pipinya yang memanas seakan-akan ikut meledek dirinya.
"Saya gak bohong. Gak tahu, saya juga bingung. Baru kali ini saya menanggung rindu didalam dada sampai sesak."
Wanita itu berdecak. Rayuan Bagas terdengar klise, Tiyas rasanya bergidik geli tetapi juga tidak bisa menahan salah tingkahnya.
"Mas, cium di kening saja," pinta Tiyas dengan wajahnya yang memelas. Sungguh, wanita itu malu setengah mati kalau-kalau Bagas nekat untuk mencium bibirnya di depan keluarga.
Alis pria itu menukik, seakan tidak terima dengan usulan Tiyas. Kemudian gelengan tegas tentu diberikan Bagas pada wanita yang sudah sah menjadi istrinya di mata hukum dan agama.
"Gak mau. Kamu pikir saya ayahmu, hm? Sekarang saya ini suami kamu, jadi saya berhak atas semua anggota tubuh kamu sekarang," bisik Bagas dengan kerlingan tampannya. Pria itu sesekali ingin menjahili sang istri, setidaknya berusaha agar hubungan mereka tidak terasa asing seperti di awal.
Tiyas yang mendengar itu lantas merinding. Dengan pelan ia pukul dada Bagas, menatap tajam suaminya guna memberikan peringatan pada pria itu untuk tidak macam-macam.
__ADS_1
"Mohon maaf untuk kedua mempelai. Sepertinya waktu kita tidak banyak dan para tamu undangan sudah menunggu kalian cukup lama. Bisa kalian mulai sekarang?"
Tiyas menutup wajahnya dengan buket bunga karena malu. Ia melirik sahabatnya yang tersenyum bahagia di sana, juga sang ibu memberikan kode untuk segera menyelesaikan rangkaian terakhir pada prosesi pernikahan mereka.
Sedangkan di sisi lain Bagas juga tengah menahan malu. Ia menunduk meminta maaf kepada semua tamu yang hadir karena harus menunggu sedikit lebih lama.
"Lama! Cepetan dong cium istri lo!" teriak Jonathan dengan sorakannya yang terdengar begitu heboh.
"Ayo cepetan dong, Yas! Gue lagi nunggu lempar bunga lo nih, siapa tau gue sama Bang Arya nyusul lo!" Beby juga ikut berteriak dengan melompat-lompat kecil sembari tersenyum lebar melirik Arya.
Arya hanya bisa menutup wajahnya menahan malu karena tingkah sahabat Tiyas. Pria itu sejak dulu selalu saja terganggu dengan tingkah aneh Beby yang tak pantang menyerah mengejar cintanya.
Bagas menatap wajah sang Istri yang masih tertutup buket bunga, dengan gerakan pelan ia turunkan dan mendapati wajah memerah Istrinya. Di sana Tiyas meliriknya dengan takut-takut.
"Mas, malu," rengek Tiyas tanpa sadar. Sepertinya wanita itu akan menangis, karena rasa malunya yang memang tidak ingin jadi pusat perhatian.
Melihat Istri cantiknya yang sudah berlinang air mata membuat Bagas menjadi tidak tega. Ia kemudian menggenggam tangan Tiyas, mengarahkan buket agar menutupi wajah mereka.
"Gimana kalau begini saja?" tanya Bagas dengan alisnya yang terangkat.
Belum sempat Tiyas membalas. Bagas sudah lebih dulu mendaratkan bibirnya pada bibir sang Istri dengan dalam dan cukup lama. Tak ada pergerakan berarti dari pria itu, ia hanya ingin menikmati letupan-letupan di dadanya.
Tentu karena perbuatan Bagas, kemudian muncullah sorakan penuh kekecewaan dari orang-orang disana karena tidak bisa melihat keduanya berciuman secara langsung.
Karena sorakan semakin kencang. Bagas memutuskan untuk mengakhiri ciuman mereka, ia memberikan senyum tulusnya untuk pertama kali pada Tiyas. Dan wanita itu tidak bohong kalau senyum Suaminya begitu mempesona.
Hanya sampai situ kebahagiaan, letupan-letupan aneh di dada Tiyas. Karena setelahnya ia hanya merasa tubuhnya di paksa untuk berbalik dan sebuah tamparan jatuh tepat di pipi kirinya.
Dengan menahan sakit dan perih, dari ekor matanya Tiyas bisa melihat siapa yang sudah menjadi pelaku penamparannya.
__ADS_1
"Stefanny?"