Menantu Cantik Putri Konglomerat

Menantu Cantik Putri Konglomerat
BAB 38


__ADS_3

Kaki Tiyas rasanya berat sekali untuk melangkah menuju kamar sang mertua yang berada satu lantai dengan kamarnya. Dengan malas wanita itu berjalan gontai dan merasa dirinya tidak sampai-sampai ke tempat tujuan. 


"Ada Mama?" tanya Tiyas saat melihat Maria keluar dari kamar ibu mertuanya. 


Maria, wanita paruh baya itu membungkuk hormat dengan senyum lembutnya. 


"Ada, Nona. Tapi Nyonya tidak bernafsu makan karena berita Tuan Muda." 


Tiyas menghela napas panjang. Rasanya ia ingin membalik badan dan segera pergi ke dalam kamarnya. Namun wanita itu tidak ingin sikap kurang ajarnya akan menjadi bumerang di kemudian hari. 


"Boleh saya masuk?" tanya Tiyas dengan alisnya terangkat. Berharap sang ibu mertua sedang istirahat dan tidak ingin diganggu. 


Tapi harapan hanya tinggal harapan. Maria malah mengangguk dengan masih mempertahankan senyum lembutnya. 


"Kebetulan, kedatangan Nona memang ditunggu sedari tadi." 


Dengan senyum canggung, Tiyas mengangguk paham. Kemudian segers masuk setelah pintu kamar dibuka oleh Maria. 


"Apa gak ganggu? Kayaknya saya dateng bareng Mas Bagas aja." 


Kening Maria mengkerut, wanita paruh baya itu nampak bimbang. Belum sempat dirinya menjawab, sebuah teriakan dari dalam terdengar. 


"Siapa disana, Maria?!" teriak Indah yang bersandar di kepala ranjang dengan tatapannya fokus pada layar ponselnya. Beberapa kali terkikik pelan saat sesuatu yang lucu muncul disana. 


"Nona Tiyas, Nyonya. Katanya mau menjenguk," sahut Maria dengan sedikit meninggikan suaranya. 


"Suruh masuk kesini!" teriak Indah yang langsung saja merubah posisinya menjadi terlentang dengan selimut menutup sampai dadanya.


"Mari, Nona," ajak Maria dengan mempersilahkan Tiyas masuk ke dalam kamar. 


Sesaat Tiyas memejamkan matanya sembari meringis pelan. 


"Terima kasih, Maria," sahutnya dengan senyum masamnya. 


Oh, sungguh rasanya memasuki kamar Ibu mertuanya lebih menegangkan dan menyeramkan dibanding diruang kerja Chandra. 


Tiyas melangkah sembari mengamati bagaimana kondisi Ibu mertuanya yang memang terlihat drop. 


"Bagaimana kabar, Mama?" tanyanya sembari duduk di tepi ranjang. 


Indah diam-diam melirik sinis, bagaimana Tiyas duduk di ranjangnya tanpa mengucap permisi. 


"Gak baik. Darah tinggi saya kumat gara-gara kalian!" 

__ADS_1


"Saya minta maaf, Ma. Emosi mas Bagas gak bisa dibendung dan jadi berita dimana-mana," ungkap Tiyas dengan perasaan yang benar-benar merasa bersalah. Karena menurutnya hal ini juga ada sangkut paut dengannya. 


Wanita paruh baya yang masih tampak cantik itu mendengus kesal. 


"Kamu tau gak resiko yang disebabkan karena kecerobohan kalian?! Kamu pikir nyari uang gampang apa? Saham Wiguna udah kehilangan ratusan juta karena berita ini. Emang bisa kamu balikinnya?! Bahkan jika kamu jadi babu di rumah ini sampe mati, gak akan bisa balikin duit yang udah hilang!" 


Mata Tiyas sontak terpejam mendengar bentakan demi bentakan yang diluncurkan oleh mulut pedas Indah. Walau dalam hatinya mengumpat kesal dan dengan egonya yang besar bisa saya Tiyas mengatakan bahwa bisa memberikan ratusan juta uang yang hilang. Tapi tentu itu tidak mungkin. 


"Maaf, Ma. Saya pasti akan tebus kesalahan ini. Kakek Chandra juga udah janji buat bungkam semua media," jawab Tiyas dengan pelan. Sedikit banyak wanita itu sudah pasang badan, karena inilah kesempatan Indah untuk memanfaatkan kelemahannya. 


Indah tersenyum miring. Posisinya kini berubah kembali menjadi bersandar pada kepala ranjang dengan kedua tangannya yang bersedekap depan dada. 


"Kamu emang benar-benar licik ya! Memanfaatkan kebaikan papa untuk menangani semua perbuatan yang kalian buat." 


Oh, Tuhan. Rasanya kepala Tiyas akan meledak. Wanita itu sudah tidak sanggup meladeni ocehan dari Ibu mertuanya. Bola matanya bahkan hampir saja memutar karena tuduhan demi tuduhan yang dilayangkan kepadanya.


Tiyas harus cari cara untuk setidaknya menenangkan hati Ibu mertuanya. 


"Ma, jangan marah-marah loh. Nanti cepat tua!" seru Tiyas bermaksud candaan. 


Namun Indah malah menganggapnya sebagai hinaan.


"Yang ada kamu cepat tua. Saya ini seminggu sekali perawatan wajah ratusan juta, enak aja dibilang tua!" 


"Jadi, Mama mau saya ngapain?" 


Senyum licik itu tergambar di wajah Indah beberapa saat, sebelum akhirnya kembali dengan wajah jengkelnya. 


"Coba kamu masak yang enak, saya dari pagi gak nafsu makan. Sebelum itu saya mau teh hangat." 


Oke, ceritanya Tiyas akan diperbudak mulai sekarang. Wanita itu hanya bisa pasrah sembari beranjak dari duduknya dengan senyum masamnya. 


"Yaudah, saya turun dan masak buat Mama ya. Untuk teh hangat nya, nanti saya suruh Maria bawa kesini," cetus Tiyas dengan senyum manisnya yang terlalu lebar. 


Indah yang melihat senyuman itu hanya bisa bergidik ngeri. Matanya menatap sang menantu dengan gugup ditutupi oleh tatapan sangarnya. 


"Gak! Saya mau kamu yang antar dan masak semuanya." 


Kalem, sabar, dan tetap tersenyum. Kepalan tangan dibelakang tubuhnya begitu erat, namun Tiyas tetap menganggukkan kepalanya. Menyanggupi permintaan sang mertua yang tampaknya akan menjadi melelahkan.


"Kalau gitu selain teh hangat. Mama mau dimasakin apa?" tanya Tiyas yang berusaha untuk sesopan mungkin. Ia juga harus menanyakan hal ini, meminimalisir Indah untuk mengerjainya. 


Indah bergumam panjang dan tampak berpikir. Telunjuknya mengetuk-ngetuk dagunya cukup lama. 

__ADS_1


"Terserah deh! Yang penting enak! Toh kamu juga gak ngerti cara bikin makanan kesukaan saya, spaghetti bolognese." 


Tiyas berusaha untuk tersenyum dengan sabar. Tentu saja memasak makanan itu sangat mudah. Walau ia anak tunggal satu-satunya, mask bukanlah salah satu kelemahannya. Tapi Tiyas berusaha untuk merendah dengan terkekeh canggung. 


"Saya belum pernah makan itu, Ma." 


Wanita paruh baya itu berdengus kesal. Sudah ia duga jawaban Tiyas akan seperti itu. Indah melambaikan tangannya dengan tidak sabar dengan kening berkerut. 


"Udah deh sana! Buat makanan apa kek!" 


Tiyas mengangguk patuh. Berusaha untuk tidak menambah obrolan yang membuatnya mungkin akan meledakkan emosinya disini. 


"Oh, ya satu lagi. Tehnya jangan manis-manis, nanti saya diabetes!" perintah Indah sembari kembali fokus pada ponselnya. 


Sedangkan Tiyas hanya bisa mengangguk pelan dan segera mengambil langkah cepat keluar dari sana. Wanita itu baru bisa menghirup napas lega setelah jauh dari ruang kamar tersebut. 


"Ternyata gini rasanya punya mertua model begitu!" gerutunya sembari mengingat pesan teman-teman sekolahnya yang sudah lebih dulu menikah pada waktu itu. 


Bahunya kini lemas, sembari berpegangan pada pagar tangga. Menatap anak tangga yang cukup banyak membuat Tiyas kembali menghela napasnya panjang. Tubuhnya membungkuk seraya memukul-mukul betisnya yang terasa pegal. 


"Kenapa kamu?" 


Tubuh Tiyas berjengit terkejut. Kepalanya menoleh pada sumber suara dimana kini ada sang suami yang menatapnya dengan cemas. 


"Oh, cuma pegal aja," jawab Tiyas dengan ringisan pelan. "Mas mau kemana?" 


"Cari kamu," sahut Bagas dengan santainya. "Saya mau tau keadaan kamu gimana, udah ketemu mama?" 


Bagas tahu watak ibunya seperti apa, terlebih Indah begitu sangat tidak menyukai Tiyas. Maka wajar jika pria tampan itu khawatir dengan keadaan istrinya yang mungkin saja menerima kata-kata pedas dan kasar dari ibunya. 


Tiyas mengangguk pelan. Tidak mungkin dirinya membongkar perlakuan ibu mertua kepadanya. 


"Sudah Mas. Ini aku mau bikin makanan buat mama." 


"Kamu lagi gak sedang diperintah kan?" tanya Bagas dengan tatapannya yang penuh kecurigaan. 


Inginnya Tiyas berteriak bahwa sedang diperbudak ibu mertuanya sendiri, walaupun itu juga karena dirinya yang inisiatif untuk menyenangkan hati mertuanya. Sayangnya Indah mengambil kesempatan itu dengan baik. 


"Gak kok, Mas. Ini aku sendiri inisiatif masak karena dengar mama gak nafsu makan. Aku jadi ngerasa bersalah," sesal Tiyas yang tak sepenuhnya bohong. Setidaknya harus ada seseorang yang berada dipihaknya. Dimana mereka pasti ingin sekali menyingkirkannya. 


Bagas menghela napasnya pelan, tatapan matanya sendu. Sepertinya ada rasa menyesal harus berakhir memberikan bogem mentah pada Jovan. Istrinya pasti tertekan dengan segudang rasa bersalah. 


"Sorry ya, saya janji akan bisa mengontrol emosi kedepannya," ucap Bagas yang mengangkat tangannya dengan ragu-ragu, namun berhasil mendarat tepat diatas kepala Tiyas. "Saya pasti akan melindungi kamu, Tiyas." 

__ADS_1


__ADS_2