Menantu Cantik Putri Konglomerat

Menantu Cantik Putri Konglomerat
BAB 31


__ADS_3

Cahaya matahari masuk melalui sela-sela gorden yang berterbangan membuat tidur nyenyak Tiyas kini mulai terganggu. Wanita itu melenguh pelan sembari matanya menyipit. 


Kantuknya hilang tatkala tangannya yang membentang ke samping menyentuh tubuh seseorang. Matanya langsung terbuka, kesadarannya sepenuhnya kembali. Kepalanya menoleh pada sang suami yang tertidur dengan bersandar di kepala ranjang. 


Sesaat Tiyas terpesona dari posisinya. Tak habis pikir, bagaimana bisa seseorang masih terlihat tampan dilihat dari bawah. Membuang semua fantasi di otaknya, wanita itu segera beranjak dari ranjang dengan pelan. Berusaha untuk tidak membuat sang suami terbangun. 


"Mau kemana?" 


Pergerakan Tiyas dengan satu kakinya sudah menapak di lantai dan satunya lagi masih berada di atas ranjang terhenti. Wanita itu menoleh pada Bagas yang sudah membuka matanya dengan masib menahan kantuk. 


"Mau mandi, Mas. Mending Mas tidur lagi aja, masih pagi banget," saran Tiyas yang kini sepenuhnya sudah turun dari ranjang. 


Bagas menggeleng pelan sambil menguap lebar. Dengan gontai, pria itu ikut turun dari ranjang. 


"Sudah mendingan?" tanyanya sembari menempelkan punggung tangannya pada kening sang istri. "Lumayan." 


Tiyas mengangguk setuju. 


"Cuma butuh istirahat kok. Dokternya emang jadi dateng semalam?"


"Dateng, lumayan malam. Kamu tidur pulas banget pas diperiksa. Syukurlah kalau sudah sembuh," sahut Bagas dengan helaan napas lega. 


"Makasih juga udah berusaha buat ngerawat aku walau gak terlalu baik," timpal Tiyas dengan senyum miringnya. Wanita itu berusaha menahan tawa karena tingkah Bagas yang memang mencerminkan anak orang terpandang. 


Bagas berdehem, matanya melirik asal dengan berkacak pinggang. 


"Katanya mau mandi," celetuknya yang kemudian mengedikkan dagunya. "Duluan aja, nanti gantian. Atau mau barengan?" 


Mata Tiyas melotot dengan tidak santainya. Telunjuknya terangkat mengacung tepat pada dada suaminya. 


"Jangan gila, Mas!" 


Kening Bagas mengrekrut tipis. Kenapa sejak kemarin orang-orang gemar sekali menuduhnya gila? 

__ADS_1


"Loh, kenapa? Kita kan sudah sah. Gak ada yang salah atau gila dong!" timpal Bagas dengan tidak terima. 


Tiyas berdecak kesal. Ia menarik dirinya mundur. 


"Pokoknya gak!" pekiknya dengan sedikit ketakutan. Tanpa menunggu aba-aba wanita itu segera masuk ke dalam toilet dan menguncinya. "Jangan macam-macam ya, Mas!" 


Bagas mendengus geli. Tidak percaya bahwa hanya dengan perkataan seperti itu istrinya mati ketakutan. Padahal dalam hatinya pun tidak ada secuil keberanian. Tapi setidaknya hari ini Bagas harus berhasil menggenggam tangan istrinya. 


"Jangan lama. Saya mau ajak kamu jalan-jalan, gak enak kalau berangkatnya udah siang," pesan Bagas di depan pintu kamar mandi. Setelah mendengar suara Tiyas yang mengiyakan, pria itu segera keluar dari hotel untuk pergi ke tempat gym. Ia akan berolahraga pagi sebentar. 


***


Di mansion utama, kini Stefanny datang saat keluarga Wiguna sedang sarapan. Kedatangannya disambut antusias oleh semuanya kecuali Chandra, pria tua itu langsung pergi tatkala Indah mengundang Stefanny untuk makan di satu meja yang sama. 


"Tumben pagi-pagi kesini, lagi gak ada schedule?" tanya Indah ketika mereka akhirnya pindah mengobrol di taman belakang mansion. Dimana halaman belakang itu penuh dengan berbagai macam jenis bunga yang tumbuh subur dan cantik. 


Stefanny menyeruput teh yang sudah disajikan oleh sang tuan rumah. 


"Loh, kenapa?" tanya Indah yang begitu penasaran. Wanita paruhbaya itu kini memusatkan atensinya pada model cantik kesayangannya itu. 


Yang lebih muda tersenyum kecut. 


"Partner model saya lagi dirumah sakit. Harusnya kami masih ambil beberapa take ditempat terpisah. Tapi ada kejadian gak terduga kemarin di lokasi, alhasil dia sekarang lagi dirawat."


Indah mengangguk pelan. Cukup penasaran dengan kejadian tak terduga tersebut. 


"Emang ada apa sama dia? Katanya kalian ambil take di pantai ya? Apa dia keseret ombak?" 


"Gak lah, Tante!" seru Stefanny dengan kekehan gelinya. Mana mungkin seorang Jovan tidak bisa berenang, lagipula mereka mengambil gambar cukup jauh dari ombak di pantai. "Dia habis dihajar sama orang." 


"Sampai masuk rumah sakit?!" tanya Indah seraya memekik untuk memastikan. 


Stefanny mengangguk. Ia menatap wanita paruh baya itu cukup lama. 

__ADS_1


"Bagas, anak Tante pelakunya." 


"Jangan mengada-ngada kamu! Gimana bisa Bagas bertindak brutal begitu? Dia gak punya teman model," bentak Indah dengan matanya yang melebar. 


Seumur-umur Indah belum pernah mendengar sang anak berkelahi bahkan sejak kecil. Bagas selalu dituntut untuk bisa mengelola emosinya yang memang meledak-ledak. Anaknya itu juga kurang pandai bergaul, tetapi juga masa bodo dengan orang lain. Mustahil rasanya mendengar sang anak jadi pelaku pemukulan teman model Stefanny. 


Stefanny tersenyum miring. Melihat tanggapan dari wanita paruh baya itu membuat sang model mempunyai cara licik untuk Tiyas pergi jauh dari hidup Bagas. 


"Ini semua karena Tiyas, Tante," ungkap Stefanny dengan wajah sedih yang dibuat-buatnya. "Awalnya aku emang maksa Bagas untuk datang ke lokasi pemotretan. Eh, gak taunya ada Tiyas lagi dipeluk sama cowok. Cowok ini partner modelku, kayaknya mereka ada hubungan. Soalnya cowok ini perhatian banget sama Tiyas. Dan itu yang buat Bagas cemburu sampai-sampai bertindak kayak gitu." 


Indah terdiam mendengar penjelasan Stefanny. Ia tak habis pikir dengan tingkah laku Tiyas yang begitu rendahan sama seperti status sosialnya. Menantunya sudah dua kali dekat dengan pria selain anaknya. Dan membuat Bagas untuk kali keduanya juga harus melampiaskan amarahnya. 


"Aku ngerasa Tiyas bakal jadi bibit masalah dalam kehidupan Bagas, Tan. Aku takut berita ini tersebar dan akan berdampak ke perusahaan," sambung Stefanny dengan pandangan serius. 


Indah memegang kepalanya yang pening. Wanita itu beberapa kali menghela napasnya. 


"Ini gak bisa dibiarin. Semakin lama tuh anak semakin semena-mena. Memangnya siapa dia bisa menaklukan papa dan Bagas?!" 


Stefanny mengangguk, seakan memberikan dukungannya pada sang ibu dari pria yang dicintainya. 


"Tenang aja, Stef. Tante bakal kasih peringatan ke Bagas," sambung Indah berusaha menenangkan wanita yang sejak dulu ingin menjadi pendamping hidup anaknya. 


"Gak bakal mempan, Tan," timpal Stefanny dengan helaan napasnya. "Orang kalau lagi jatuh cinta bakal buta. Bagas pasti gak bakal terima masukan dari Tante." 


Indah mencerna baik-baik perkataan Stefanny yang lama-lama membuatnya setuju. 


"Terus apa yang harus kita lakukan?" tanya Indah semakin mendekat kepada Stefanny. Walau para pegawainya selalu patuh padanya, tak bisa dipungkiri jika wanita paruh baya itu juga takut kalau pembicaraan mereka terdengar di telinga Chandra dan akan menjadi masalah besar.


"Buat aja Tiyas gak nyaman di rumah, Tante. Kalau urusan Bagas, serahkan sama aku aja," jawab Stefanny dengan sedikit berbisik. "Aku akan cari jalan apapun agar Bagas gak punya waktu untuk Tiyas. Tante juga harus memperkeruh suasana biar gak ada rasa saling percaya antara mereka." 


Indah mengangguk-angguk paham. Setuju ia dengan rencana yang dibuat oleh Stefanny. Sejak awal wanita itu memang tak menyetujui anaknya menikah dengan Tiyas, tapi tak ada yang bisa ia lakukan. Sekarang adalah waktu yang tepat untuk menyingkirkan menantunya, selagi umur pernikahan mereka masih singkat dan cinta mereka belum terlanjur membesar. 


"Tante janji, kalau kamu akan jadi satu-satunya istri Bagas nanti. Bukan Tiyas atau wanita manapun." 

__ADS_1


__ADS_2