
"Bay,Gendong...!!"pinta Kirana sebegitu mereka sampai di rumah Kirana.Kirana mengulurkan kedua tangannya kepada Bayu.
"Tadi kan kamu bisa jalan?!"ucap Bayu pelan sambil melirik kearah kedua mertuanya yang baru turun dari mobil.
"Elo nggak mau gendong gue?!"tanya Kirana.
"Ki, kok kamu ngomongnya gitu sich sama suami kamu?! Nggak sopan ngomong sama suami kok elu-gue, manggil nama lagi.Ngomong yang sopan sama suamimu,dan panggil dengan sebutan "Mas"..."tegur Susi.
"Iya ,Bun,"jawab Kirana sambil tersenyum menampilkan deretan gigi putihnya.
"Ya sudah,ayo masuk Bay,"ucap Rinto.
"Iya,yah,"sahut Bayu sopan.
"Cepetan gendong!!"ucap Kirana pada Bayu pelan tapi penuh tekanan.
"Huh...sabar.....sabar...."gumam Bayu sambil mengendong Kirana.
"Apa kamu biang?!"tanya Kirana yang mendengar gumaman Bayu, sambil mencubit dada Bayu kuat-kuat.
"Auwch!! Kenapa lo cubit gue?!"tanya Bayu pada Kirana.Sebenarnya Bayu tidak merasa sakit dengan cubitan itu, karena dadanya yang berotot,tapi Bayu merasa kaget, karena belum pernah berinteraksi sedekat ini dengan seorang wanita.Bayu terlalu sibuk dengan pekerjaan dan juga belum ada gadis yang menarik hatinya.
"Udah cepetan!!Bawa aku kelantai dua,kamar sebelah kiri,"ucap Kirana.
"Tuhaann......beri hamba-Mu ini kesabaran yang berlipat-lipat.belum jadi suaminya saja aku sudah ditindas, sekarang setelah jadi suaminya, jika aku tidak pandai-pandai membawa diri,bisa tamat riwayatku,"gumam Bayu dalam hati.
"Bawa aku ke kamar mandi,"seru Kirana setelah mereka memasuki kamar.
"Hemm,"sahut Bayu membawa Kirana kekamar mandi.
"Sudah pergi sana,aku mau mandi,"ucap Kirana pada Bayu ketika sudah sampai di kamar mandi.
"Sabar...sabar..."gumam Bayu dalam hati meninggalkan kamar mandi.
Dilantai bawah...
Ting....tung...Ting ...tung..,.
"Ya, mau bertemu dengan siapa?!"tanya pelayanan yang membukakan pintu.
"Saya disuruh Tuan Muda Bayu untuk mengantarkan kopernya,"jawab pria bertubuh kekar itu.
"Tuan Muda Bayu?!Anda salah alamat Tuan, disini tidak ada yang namanya Bayu,"ucap Bik Narsih.
"Tuan Muda baru saja kesini,"ucap laki-laki itu.
"Siapa, Bik?!"tanya Susi yang tadi mendengar suara bel, kemudian mendekati pelayanan tersebut.
"Maaf Nyonya,saya kesini disuruh Tuan Muda Bayu untuk mengantarkan kopernya,"ucap lelaki itu pada Susi.
"Oh iya,"jawab Susi.
"Kalau begitu saya permisi nyonya,"ucap lelaki itu setelah menyerahkan koper yang dibawanya.
"Iya, terimakasih,"ucap Susi yang di angguki pria kekar tersebut.
"Bik, bawa koper ini ke kamar Kirana ya?! Bayu itu suaminya Kirana,"ucap Susi pada pelayanan yang bernama Bik Narsih itu.
"Iya, Nyah,"ucap Bik Narsih yang dalam hati bertanya-tanya sejak kapan Kirana menikah.
Tok.......tok.....tok.....
"Ceklek,"
Pintu kamar Kirana terbuka,dan munculah seorang pemuda yang gagah dan tampan.Bik Narsih yang berusia tiga puluh lima tahun itu tidak bisa berkedip memandang wajah tampan didepannya.
"Ada apa Bik?!"tanya Bayu yang menduga bahwa perempuan didepannya ini adalah seorang pelayan.
"E....a...anu, saya mengantarkan koper ini, "ucap Bik Narsih gugup.
Bayu melirik koper yang dibawa pelayan tersebut lalu mengambilnya. "Terimakasih,"ucap Bayu lalu menutup pintu kamar.
__ADS_1
"Ya ampun...ganteng sekali suami Non Kirana,"batin Bik Narsih.
Bayu membuka lemari milik Kirana lalu memasukkan pakaiannya ketempat yang masih kosong.
"Ceklek,"suara pintu kamar mandi terbuka.
"Ambilkan aku baju,"seru Kirana yang menyembulkan kepalanya dari kamar mandi.
"Hufh...mulai lagi ni tukang perintah dan pemaksa.Sabar.....sabar.....sabar...."batin Bayu
"Cepetan,malah bengong lagi.Bikin emosi aja ni laki,"sentak Kirana.
"Iya,...iya ... sebentar,"ucap Bayu kemudian bergegas mengambil pakaian untuk Kirana.
Beberapa saat kemudian kirana pun keluar dari kamar mandi.
"Gendong,"ucap Kirana berdiri didepan pintu kamar mandi.
"Kaki kamu kan sudah mendingan, kenapa minta gendong lagi sich?!"ucap Bayu lama-lama kesal disuruh-suruh sama Kirana.
"Aku cuma minta digendong bukan minta mobil sport!! Segitu frustasi itu muka.Lagian dimintain tolong sama istri aja kayak begitu,"gerutu Kirana.
"Istri?!Gue terpaksa nikahin elo, kalau gue punya bukti gue nggak ngapa-ngapain elo,ogah gue nikahin elo,"ucap Bayu yang jengkel karena merasa selalu ditindas dan dijadikan pesuruh oleh Kirana.
"Emang gue suka apa jadi istri Lo?!Gue juga ogah jadi istri Lo.Ini semua juga gara-gara elo!! Kalau elo nggak ngurut kaki gue di mobil gue nggak bakalan dipaksa menikah sama elo,"Jawab Kirana tidak mau kalah.
"Ya Tuhaannn........sabar...sabar....."gerutu Bayu, memalingkan dan mengusap wajahnya kasar.
"Ngeekk....,bugh..."suara kursi yang bergeser dan sesuatu yang jatuh.
"Auwch!!!"pekik Kirana.
Bayu spontan menoleh dan melihat Kirana sudah duduk di lantai meringis memegang kakinya.
"Hufh.......Ya Tuhaannn...."gumam Bayu menghampiri Kirana kemudian mengangkat tubuh Kirana.
"Lepaskan...... turunkan aku,"ucap Kirana meronta-ronta dalam gendongan Bayu.
"Diam!!"bentak Bayu membawa Kirana ke ranjang.
Entah kenapa Bayu tiba-tiba malah memeluk tubuh Kirana,membiarkan gadis itu menangis di dadanya, walaupun Kirana terus meronta-ronta.
"Maaf,"ucap Bayu merasa bersalah, karena dia tidak mau menggendong Kirana,gadis itu jadi terjatuh.
Setelah tangis Kirana mereda Bayu merenggangkan pelukannya, kemudian mengusap air mata gadis yang sudah menjadi istrinyaitu.Bayu jadi teringat dengan adik perempuannya.
"Maaf,"ucap Bayu lagi kemudian melihat kaki Kirana yang masih bengkak,"Apa ada minyak angin?!"tanya Bayu kemudian.
"Di laci itu,"ucap Kirana menunjuk laci nakas.
"Aku akan pelan-pelan mengurutnya,biar cepat sembuh,"ucap Bayu lalu mengoleskan minyak angin ke kaki Kirana sambil mengurutnya perlahan-lahan.
Di lantai bawah..
"Bik, tolong panggilkan Kirana dan suaminya untuk makan malam bersama,"ucap Susi sambil menghidangkan lauk-pauk di meja.
"Baik, Nyah,"sahut Bik Narsih,lalu bergegas naik kelantai dua.Saat tangannya akan mengetuk pintu tiba-tiba terdengar suara dari dalam....
"Auwch... sakit, pelan-pelan,"Kirana.
"Iya,iya,ini udah pelan," jawab Bayu.
"Auwch pelan-pelan,"ucap Kirana mulai menangis.
"Pelan Bay... sakit,"Kirana.
"Bentar lagi Ki,"Bayu.
"Udah Bay...ini sakit banget,"Kirana.
"Nanggung Ki,bentar lagi,"ucap Bayu.
__ADS_1
Mendengar suara-suara itu akhirnya Bik Narsih menggeleng-gelengkan kepalanya,kemudian bergegas kembali ke ruang makan,tidak jadi mengetuk pintu kamar Kirana.
Saat Bik Narsih sampai di meja makan Rinto dan Susi sudah duduk di depan meja makan.
"Sudah dibilangin, Bik?"tanya Susi yang melihat Bik Narsih sudah kembali, tapi sendirian.
"Belum, Nyah,"ucap Bik Narsih sambil menunduk.
"Loh.?!kok belum dibilangin sich Bik?!"tanya Susi.
"Anu, Nyah.Itu...anu....duh gimana ya bilangnya?!"kata Bik Narsih tampak kebingungan, menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Apa sich Bik?! ngomong yang jelas dong!!"ucap Susi yang penasaran.
"Anu...em....pas saya mau mengetuk pintu kamar Nona saya dengar suara.... suara........"
"Suara apa sich Bik?! potong Susi tidak sabar.
"Suara... kayak nya Nona lagi ...lagi kikuk-kikuk sama suaminya, Nyah,"ucap Bik Narsih menunduk dengan wajah memerah.
"Uhuk... uhuk... uhuk....."Rinto yang sedang minum pun langsung tersedak mendengar kata-kata Bik Narsih.
"Pelan-pelan,yah,"ucap Susi sambil mengelus punggung suaminya.
"Ya sudah,kita makan duluan saja,"kata Rinto wajahnya juga memerah mendengar kata-kata Bik Narsih.
Di kota lain...
"Huek ..huek..... huek..."
"Wajah Aisyah nampak pucat, hampir setiap pagi Aisyah mual dan muntah, susah makan, hingga berat badannya turun drastis.
Sebelum pergi,Keynan berjanji akan pulang dalam waktu empat hari, tapi ini sudah empat Minggu dan Keynan belum juga pulang.Keynan bahkan sudah jarang menelpon Aisyah, walaupun menelpon juga cuma sebentar hanya bertanya kabar selanjutnya tidak ada obrolan lain.
Aisyah membasuh wajahnya, kemudian bersiap-siap untuk pergi bekerja.
Sore harinya..
Aisyah keluar dari tempatnya bekerja seperti biasa, yaitu jam lima sore.Dengan langkah gontai Aisyah menyeret kakinya melangkah meninggalkan tempat kerjanya.
Sebenarnya Aisyah malas pulang ke rumah karena setiap berada di rumah dia akan merasakan kesepian tanpa ada seorang pun dirumah.Dan saat ada di rumah dia akan semakin teringat dan merindukan Keynan, belum lagi cibiran tetangga julid yang suka menggosipkan dirinya yang sudah satu bulan ditinggalkan suaminya.
"Jangan-jangan suaminya nggak balik,"
"Suaminya kan terpaksa menikah dengannya,"
"Setelah bisa melihat suaminya pergi, mungkin wajah Aisyah jelek jadi setelah melihat wajah Aisyah suaminya kabur,"
"Suaminya sepertinya orang kota,mana mau nikah sama gadis kampung yang nggak berpendidikan,"
"Orang kota emang gitu suka gonta-ganti pasangan.Di desa ngakunya nggak punya istri,singgel,eh... ternyata di kota udah punya buntut,"
"Lah... sekarang statusnya apa tuh?! gadis bukan,janda juga bukan.Kasihan sekali digantung dia,"
Dan masih banyak lagi sleningan ibu-ibu julid tukang gosip membicarakan dirinya didepan mata dan kepalanya sendiri.
Aisyah mencoba menepis,dan tidak menghiraukan kata-kata ibu-ibu julid itu, walaupun sebenarnya dalam hati juga bertanya-tanya, apakah benar suaminya sudah mempunyai istri sebelum menikah dengan dirinya?!
Tak seberapa lama akhirnya Aisyah mendapatkan angkot.Karena asyik melamun, angkot yang ditumpangi Aisyah teryata sudah melewati tempat Aisyah biasa turun.
"Kiri, Pak,"ucap Aisyah meminta supir angkot berhenti.
"Huh, terpaksa aku harus jalan kaki agak jauh.Kok,sepi banget sich disini,"batin Aisyah yang mobilnya terlewat sampai di jalan yang kanan kirinya kebun.
Angkot di daerah Aisyah itu jarang yang lewat kalau sudah sore seperti itu.Dan jalan itupun sepi jika sudah malam.
Tiba-tiba ada sebuah mobil berhenti disamping Aisyah.Dua orang bertubuh kekar keluar dari mobil tersebut dan tiba-tiba menyeretnya Aisyah masuk kedalam mobil.
"Lepaskan....lepas...."teriak Aisyah.
🌟"Jangan suka mengurusi dan mengomentari kehidupan orang lain, karena hidupmu sendiri belum tentu lebih baik dan dan belum tentu benar."🌟
__ADS_1
..."Author"...
To be continued....