Mencintai Tanpa Melihat

Mencintai Tanpa Melihat
Episode 63 Barang-barang Mewah


__ADS_3

Di kediaman Tirta.


"Pa,ma,Ara pergi dulu ya?"pamit Dinara.


"Mau ke mana kamu Ra?"tanya Tirta.


"Mau ke kafe pa,"jawab Dinara.


"Kamu ngapain sih Ra tiap sore kalau nggak ke rumah teman ke kafe?Malam baru pulang,"gerutu Tirta, karena sejak seminggu kepulangannya dan istrinya, Dinara setiap sore selalu pergi dan pulang malam.


"Kan Ara bosan pa, setiap hari hanya dirumah dan di sekolah.Dirumah cuma ada papa dan mama.Nggak ada yang asyik di ajak ngobrol,"keluh Dinara.


"Nggak baik anak gadis ada di luar rumah, apalagi malam-malam,"kata Marwah.


"Ara bosan di rumah terus ma,"ucap Dinara dengan wajah cemberut.


"Oke,kamu boleh pergi,tapi harus bersama bodyguard,"ucap Tirta.


Dinara awalnya bahagia saat mendengar diijinkan pergi,namun kebahagiaanya langsung hilang saat mendengar harus di kawal bodyguard.


"Yah, nggak asik dong pa!!"keluh Dinara,"Bagaimana aku bisa ketemu Kak Satria jika aku dikawal bodyguard?"batin Dinara.


"Jika tidak mau, jangan keluar,"ucap Tirta tegas.


Dengan wajah murung, Dinara kembali ke kamarnya.Tak lama setelah Dinara kembali ke dalam kamarnya handphone nya pun berdering.Saat mendengar suara dering yang berbeda Dinara pun langsung tahu siapa yang menelponnya dan segera mengangkatnya.


"Halo Kak,"ucap Dinara.


"Halo Sya, sudah sampai mana?"tanya Satria.


"Aku nggak bisa keluar Kak, kalaupun keluar harus dikawal,"ucap Dinara lesu.


"Apa papamu tahu kalau kamu ketemu Kakak?"tanya Satria.


"Aku tidak tahu Kak,"ucap Dinara.


"Jika seperti ini, akan sulit bagi kita untuk bertemu,"ucap Satria ikut lesu.


Aku kangen sama Kakak,"ucap Dinara manja.


"Kakak juga kangen sama kamu,"balas Satria.


"Terus bagaimana caranya agar bisa ketemu Kak?"tanya Dinara dengan suara lesu.


"Kakak juga bingung,"jawab Satria.


"Tok..tok..tok..."suara pintu kamar Dinara diketuk.


"Kak, sudah dulu ya,ada yang mengetuk pintu kamar ku,"ucap Dinara berbisik.


"Iya,"sahut Satria dan sambungan telepon pun diputus.


"Ceklek,"Dinara membuka pintu kamarnya.


"Mama,"ucap Dinara saat melihat mamanya di ambang pintu.


"Boleh mama masuk?tanya Marwah.


"Iya,ma,"sahut Dinara.


Marwah menatap seluruh bagian dari kamar Dinara,"Boneka Teddy bear kamu baru Ra? Besar sekali? Kok bonekanya bau parfum cowok Ra?"tanya Marwah yang mengambil boneka itu dan mencium aroma parfum cowok di boneka tersebut.


"Iya,ma.Itu aroma parfum Kakak,"jawab Dinara,"Parfum Kak Satria,"gumam Dinara dalam hati.


Dinara sengaja menyemprotkan parfum milik Satria pada boneka yang diberikan Satria padanya.Agar saat memeluk boneka itu berasa memeluk Satria.


"Lampu tidur ini juga baru?"tanya Marwah lagi saat melihat lampu tidur berbentuk hati yang serangkaian dengan jam weker yang berbentuk hati pula.


"Dan semua sendal dan sepatu itu? Baru ya Ra?"ucap Marwah saat tidak sengaja melihat lemari sendal dan sepatu milik Dinara lalu melihat satu persatu sendal dan sepatu di lemari itu ,"Ya ampun, ini mahal semua Ra,"ucap Marwah lagi.


"Iya,ma,"jawab Dinara.


"Kamu punya uang dari mana? Kok, kamu bisa beli barang-barang ini.Semua ini barang mahal,kamu dapat uang dari mana Ra?"tanya Marwah curiga.

__ADS_1


Awalnya niat Marwah ke kamar Dinara adalah untuk menanyakan mengapa Dinara suka sekali keluar sore dan pulang malam.


Tapi begitu melihat barang-barang yang ada di kamar Dinara, Marwah jadi lupa akan niat awalnya. Marwah terkejut melihat beruang besar beraroma parfum cowok,lampu tidur yang unik,dan deretan sendal dan sepatu mahal.


"I ...ini semua dibelikan oleh Kakak ma,"jawab Ara gugup.Walupun apa yang dia katakan tidak sepenuhnya berbohong karena yang dia maksud Kakak adalah Satria.


"Masya Allah Ara. Jangan seperti itu Ra,kakakmu kan sudah menikah, jadi jangan minta uang terus sama kakakmu,"ucap Marwah.


"Enggak kok ma.Kakak sendiri kok yang memberikannya padaku,"ucap Dinara jujur.


"Kemari lah!"perintah Marwah yang sudah duduk di tepi ranjang.Marwah kembali ingat dengan tujuannya datang ke kamar Dinara.


Dinara pun menurut dan duduk di sebelah mamanya.Marwah memegang tangan Dinara dan terkejut saat melihat cincin berlian yang melingkar di jari manis tangan kiri Dinara.Dan sebuah gelang jam yang nampak tidak kalah mahalnya di tangan kanan Dinara.


"Ra,cincin berlian ini, dari mana kamu mendapatkannya?Dan gelang jam ini?"tanya Marwah menatap Dinara penuh selidik.


"Ah,ini...."kata-kata Dinara ter jeda, bingung harus beralasan apa lagi.


Tok...tok...tok....


"Nyonya, dibawah ada Tuan Muda dan istrinya,"ucap seorang pelayan yang sedang berdiri di balik pintu kamar Dinara.


"Iya Bik,"sahut Marwah dari dalam kamar Dinara.


Wajah Marwah menjadi cerah saat mengetahui ada putra dan menantunya di bawah.Marwah pun segera mengajak Dinara untuk turun.


"Syukurlah Kakak kesini,kalau tidak bagaimana aku menjawab pertanyaan mama?Aku lupa melepaskan cincin nikah dan gelang jam pemberian Kak Satria.Selamat... Selamat..."batin Dinara mengelus dadanya, bernafas lega mengikuti mamanya ke ruang tamu.


"Sayang,mama senang sekali kamu mau kesini,"ucap Marwah menghampiri Kirana kemudian memeluknya.


"Hey,kenapa wajahmu kusut sekali? Sudah kayak baju nggak di cuci saja,"ucap Bayu mengacak-acak rambut adiknya.


"Kakak!Jangan mengacak-acak rambutku!"seru Dinara dengan wajah cemberut, menepis tangan kakaknya kemudian merapikan rambutnya.


Semua orang tersenyum melihat kelakuan kakak adik itu.


"Hey, kakak ipar!"sapa Dinara menghampiri Kirana lalu memeluknya.Wajahnya yang tadinya cemberut sudah hilang entah kemana, berganti dengan wajah ceria.


"Tentu saja, Ara gitu loh,"ucap Ara percaya diri.


"Ih, narsis!"ledek Bayu.


"Emang kenyataan kok!"balas Dinara.


"Sudah,ayo duduk!"seru Marwah melerai pertikaian kakak adik itu.


"Bay,apa kamu itu memanjakan adikmu selama kami pergi?Kamu membiarkan adikmu keluyuran?"tanya Tirta.


"Tidak juga pa.Selama ini Bayu kan tinggal di rumah ayah dan bunda,jadi Ara kesepian dirumah.Karena itu Bayu mengijinkannya jalan dengan temannya, tapi masih selalu Bayu awasi kok,"ucap Bayu.


Sebenarnya Bayu juga agak merasa bersalah karena tidak amanah dalam menjaga adiknya.Jika saja Satria tidak menolong Dinara saat akan di culik orang, entah apa yang akan terjadi pada adiknya itu dan apa yang akan dilakukan papanya kepadanya karena telah lalai menjaga adiknya.


"Iya Bay,kamu itu terlalu memanjakan adikmu ini.Kenapa membelikan adikmu barang-barang mewah Bay?"tanya Marwah yang jadi teringat barang-barang mewah yang ada di kamar Dinara.


"Barang-barang mewah? Maksud mama?"tanya Tirta.


"Mampus aku kalau kak Bayu tidak bisa diajak kompromi,"batin Dinara.


"Iya,ma.Barang-barang mewah apa maksud mama,?"tanya Bayu.


"Itu,kamu membelikan sepatu-sepatu mahal, lampu tidur yang unik,boneka yang sebesar orang.Dan ini,cincin berlian dan gelang jam berkelas ini?!"ujar Marwah.


Semua orang menatap Dinara dan Bayu bergantian Dinara memandang Bayu yang sedang menatapnya dengan wajah memelas seolah meminta bantuan.


"Satria ternyata benar-benar memanjakan adikku,"batin Bayu merasa bahagia sekaligus bingung harus mencari alasan untuk menolong adik kesayangannya.


"Ah,itu.Bayu menyogok Dinara agar bisa menginap di rumah istri Bayu ma,"ucap Bayu sambil tersenyum kikuk dan menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


"Syukurlah, Kak Bayu bisa diajak kompromi,"batin Dinara.


"Ya ampun Bay, tapi tidak semahal-mahal itu juga kali Bay.Dan ini, kenapa kamu membelikan adikmu cincin yang modelnya seperti cincin kawin.Mama yakin ini harganya sangat mahal,"ujar Marwah.


"Ya bagus lah ma,biar nggak ada laki-laki yang mendekati Ara,"ucap Tirta santai.

__ADS_1


"Ya tapi tidak harus semahal ini pa,"sahut Marwah yang dapat mengira-ngira bahwa cincin yang dipakai Dinara itu pasti sangat mahal.


"Dinara maunya memang yang itu ma,katanya dia sangat menyukainya,ya sudah Bayu belikan saja,"jawab Bayu kembali beralasan.


"Sebegitu sayang Bayu pada adiknya?"batin Kirana yang bahkan belum dibelikan cincin nikah dan tak pernah di ajak Bayu jalan-jalan.


Bayu yang tak sengaja melihat wajah sendu Kirana pun jadi tidak enak hati.Karena merasa belum pernah membelikan sesuatu yang berharga untuk Kirana, bahkan cincin nikah pun tidak.


Walaupun Bayu memberikan kartu ATM dan juga kartu kredit pada Kirana.Bayu hanya sesekali membelikan baju dan memberi hadiah kecil untuk Kirana.


Marwah yang melihat keadaan jadi canggung pun berusaha mencairkan suasana, apalagi saat melihat Kirana yang menunduk.Tanpa sengaja Marwah melihat jari menantunya tidak tersemat cincin kawin.


Marwah pun menjadi menyesal membahas soal cincin.Karena Marwah tahu dari cerita Bayu bahwa mereka menikah tidak dilandasi cinta.Jadi Bayu belum pernah membelikan sesuatu yang berharga untuk Kirana selain memberikan kartu kredit dan kartu ATM untuk menafkahi Kirana.


"Eh,kita makan malam dulu yuk!"ajak Marwah.


"Ah iya, Ara sudah lapar nich!"ucap Dinara semangat merasa ada jalan untuk meloloskan diri dari interogasi mamanya.


Setelah makan malam mereka mengobrol sebentar di ruang keluarga, membahas soal rencana resepsi pernikahan Bayu dan Kirana kemudian masuk ke kamar masing-masing.


"ini kamarku dan sekarang menjadi kamar kita,masuklah!"ucap Bayu pada Kirana.


Kirana memperhatikan kamar Bayu yang lebih besar dari kamarnya.


"Apa kamu mau membersihkan diri dulu?Baju gantimu ada di lemari itu,"ucap Bayu sambil menunjuk ke sebuah lemari.


Bayu sengaja membelikan pakaian yang lumayan lengkap untuk Kirana,agar saat Kirana menginap dirumahnya tidak perlu membawa baju.Bayu melakukan itu karena mencontoh Satria yang langsung membelikan banyak baju untuk Dinara saat mereka baru menikah.


Padahal Dinara tidak pernah menginap dirumah Satria sebelum ia menikahkan mereka.Baru setelah Bayu menikahkan mereka, Dinara berani menginap di rumah Satria.


"Kita akan menginap di sini?"tanya Kirana.


"Iya,apa kamu tidak suka?"tanya Bayu.


"Bukan begitu,hanya saja aku tidak bilang sama ayah dan bunda kalau kita akan menginap,"sahut Kirana.


"Aku sudah pamit sama ayah dan bunda tadi.Jadi kamu tidak perlu khawatir,"ucap Bayu.


"Syukurlah,"ucap Kirana.


"Gantilah pakaianmu,"ucap Bayu lagi.


"Iya,"sahut Kirana lalu berjalan menuju lemari pakaian yang ditunjukkan oleh Bayu tadi.


Kirana merasa takjub sekaligus bahagia saat melihat pakaian yang lumayan lengkap di lemari itu.


"Ini semua untuk ku?"tanya Kirana.


"Tentu saja,aku menyiapkan semua ini untukmu.Hanya keluargaku, pelayanan,dan kamu yang pernah masuk ke kamar ini,"ucap Bayu.


"Terimakasih,"ucap Kirana merasa senang mendengar kata-kata Bayu yang berarti dia adalah perempuan pertama yang diajak Bayu masuk ke dalam kamarnya.


"Iya,"jawab Bayu sambil tersenyum.


Setelah Kirana membersihkan diri dan berganti pakaian, Bayu pun melakukan hal yang sama.


"Ki,aku ingin bicara,"ucap Bayu menghampiri Kirana yang duduk di tepi ranjang lalu duduk di samping Kirana.


"Bicara soal apa?"tanya Kirana yang melihat wajah Bayu nampak serius.


"Tapi kamu harus berjanji akan merahasiakan apa yang akan aku katakan ini.Pokoknya hanya kita berdua saja yang boleh tahu rahasia ini.Apa kamu bersedia untuk merahasiakan apa yang akan aku katakan ini?"tanya Bayu.


Kirana mengernyitkan keningnya, penasaran rahasia apa yang sampai -sampai tidak boleh ada yang tahu selain mereka berdua.


"Baiklah,aku janji akan merahasiakan apa yang akan kamu katakan nanti,"jawab Kirana karena jadi begitu penasaran dengan apa yang akan dikatakan Karena itu Kirana memutuskan untuk menyetujui permintaan Bayu untuk merahasiakan apa yang nanti di katakan oleh Bayu.


🌟 Bukan tentang seberapa mahal sesuatu yang diberikan kepada kita, tapi tentang siapa yang memberikannya pada kita.Karena semurah dan sekecil apapun sesuatu yang diberikan kepada kita,akan sangat berharga jika yang memberikan adalah orang yang kita cinta.🌟


..."Author'...


To be continued


.

__ADS_1


__ADS_2