Mencintai Tanpa Melihat

Mencintai Tanpa Melihat
Episode 68 Rencana Perjodohan


__ADS_3

Pukul enam pagi Dinara kembali ke kamarnya tanpa diketahui siapapun.Dinara kembali tidur melanjutkan mimpinya karena semalam dia dan Satria bisa dikatakan hampir tidak tidur karena asyik memadu kasih.


Tok..tok...tok...."Ra... bangun sayang!"ucap Marwah dari luar kamar.


"Sudah, biarkan saja ma.Ara pasti kecapekan.Nanti kalau lapar juga cari makan sendiri,"ucap Tirta.


"Ya sudah,kita sarapan duluan ya pa?"tanya Marwah.


"Iya,ayo!!"ajak Tirta.


"Pa,ma, kalian dari mana?"tanya Bayu yang baru keluar dari kamarnya bersama Kirana.


"Eh, kalian sudah bangun?Tadi mama dari bangunin adek kamu tapi tidak bangun juga,"jawab Marwah.


"Ya sudah biarkan saja ma.Dia itu kalau libur kan biasa tidur sampai siang,"ucap Bayu.


"Iya ya.Mungkin juga kecapekan karena kemarin harus bantuin mama,trus kata papa juga dia malam banget baru ke kamarnya,"ucap Marwah.


"Ya sudah,ayo sarapan.Kasihan Kirana , pasti dia sudah lapar.Ibu hamil biasanya cepat lapar,"ucap Tirta.


"Ah iya,mama sampai lupa.Ayo sayang!ajak Marwah pada Kirana.


"Iya,ma,"sahut Kirana.


Di restoran hotel.


"Bay,gimana apa sudah ada kabar dari orang-orang mu ?"tanya Tirta setelah mereka selesai sarapan.


"Belum pa,"sahut Bayu.


"Yang sabar ya sayang, berdoa saja adikmu selamat,"ucap Marwah mengelus punggung Kirana.


"Maksud mama?"tanya Kirana menatap Marwah.Tirta, Marwah dan Bayu pun langsung saling pandang.


"Ki, sebenarnya kemarin ayah dan bunda cuma bisa hadir sebentar di acara resepsi kita bukan karena Bunda tidak enak badan, tapi karena bunda sangat cemas dengan keadaan adikmu,"ujar Bayu.


"Maksud Mas?"tanya Kirana.


"Ayah dan bunda pergi ke kota C karena pesawat yang ditumpangi adikmu meledak di laut yang tidak jauh dari kota itu,"jelas Bayu.


"Apa?Jadi semalam wajah bunda pucat bukan karena sakit?Dan ayah nampak khawatir bukan karena bunda sakit?"tanya Kirana tak percaya.


"Iya,setengah jam setelah acara resepsi kita dimulai,bunda mendengar beberapa orang mengatakan ada pesawat yang meledak di laut tak jauh dari kota C,"


"Dan setelah di cek bunda, teryata pesawat itu adalah pesawat yang ditumpangi oleh adikmu.Karena itu bunda dan ayah tidak lama berada di acara resepsi pernikahan kita,"jelas Bayu.


"Kenapa Mas tidak mengatakan hal ini padaku?"tanya Kirana dengan mata yang berkaca-kaca dan Bayu pun langsung memeluk Kirana.


"Ayah dan bunda yang memintanya karena tidak mau kamu bersedih di hari bahagia kita.Aku juga baru tahu dari papa saat acara semalam sudah selesai Ki"ucap Bayu.


Flash back on


Setengah jam setelah acara di mulai.


"Eh,kamu dengar nggak?Ada pesawat yang jatuh dan meledak di laut yang tak jauh dari kota C.Pesawat itu terbang dari kota S,"ucap seorang pelayan.


"Deg,"jantung Susi dan Rinto seakan berhenti mendengar kata-kata pelayanan tersebut.


"Benarkah?Apa ada korban yang selamat?"tanya temannya.


"Masih belum diketahui,"jawab pelayan itu.


Susi langsung membuka handphonenya melihat naik pesawat apa putranya dari chat mereka sore tadi kemudian melihat berita terkini melalui handphonenya.


Dan seketika wajahnya pucat dan tubuhnya lemas saat mengetahui pesawat yang meledak tersebut adalah pesawat yang ditumpangi oleh putranya.Rinto langsung memeluk tubuh Susi agar tidak jatuh.


"Yah, Bunda mau ke sana untuk memastikan keadaan putra kita yah,"ucap Susi dengan mata yang berkaca-kaca.


"Tenangkan hati Bunda,kita pamit pada keluarga Pak Tirta.Dan pamit pada Kirana tapi jangan katakan yang sebenarnya Bun.Katakan saja bunda nggak enak badan agar Kirana tidak terlalu khawatir,"ucap Rinto.


"Iya yah,"sahut Susi.


"Pak Tirta,Bu Marwah,kami tidak bisa berada di sini sampai acara selesai.Kami akan segera pergi,"ucap Rinto saat sudah berada di dekat Tirta dan Marwah.

__ADS_1


"Loh, kenapa?"tanya Tirta dan Marwah penasaran.


"Pesawat yang ditumpangi putra kami mengalami kecelakaan di laut yang tidak jauh dari kota C.Jadi kami akan segera ke kota C.Kami akan berpamitan pada Bayu dan Kirana,tapi kami harap kita semua bisa merahasiakan masalah ini pada Kirana sampai acara ini selesai,"ucap Rinto.


"Baiklah, Pak Rinto jangan khawatir biar kami disini yang akan mengawal acara ini sampai selesai dan kami akan mengirimkan orang-orang kami untuk membantu mencari putra anda,"ucap Tirta.


"Terimakasih Pak Tirta.Kalau begitu kami akan berpamitan pada Bayu dan Kirana,"ucap Rinto.


"Semoga putranya segera bisa di temukan dalam keadaan selamat tanpa kurang suatu apapun ya Bu!"ucap Marwah mencoba menghibur Susi.


"Ya semoga Bu.Terimakasih atas doanya,"sahut Susi.


Rinto dan Susi pun menghampiri Bayu dan Kirana,"Ki, Bay, Bunda nggak enak badan.Sepertinya ayah dan bunda tidak bisa mengikuti acara sampai selesai.Nggak apa-apa kan Bay, Ki?"tanya Rinto.Sedangkan Susi hanya tersenyum yang nampak dipaksakan dengan wajah yang pucat.


"Ah iya.Sebaiknya ayah segera memeriksakan kesehatan bunda dan bunda harus segera istirahat,"ucap Bayu.


"Iya yah,benar kata Mas Bayu.Sebaiknya bunda segera istirahat,"ucap Kirana memegang tangan Susi merasa khawatir.


"Maafkan Bunda ya Ki, Bay! Tapi kalian tidak perlu khawatir,bunda hanya kecapekan saja kok,"ucap Susi menenangkan Kirana.


"Nggak apa-apa Bun,"ucap Bayu dan Kirana bersamaan.


"Ya sudah,kami pulang ya?!"pamit Rinto.


'Iya yah,"sahut Kirana.


"Hati-hati,yah, Bun,"ucap Bayu yang dijawab dengan anggukan kepala oleh Rinto dan Susi.


Flash back off


"Aku ingin menyusul ayah dan bunda Mas.Aku mohon izinkan aku Mas,"ucap Kirana memohon,menangis dalam pelukan Bayu.


"Bagaimana pa,ma?"tanya Bayu pada kedua orang tuanya.


"Nggak apa-apa, Bay.Jarak tempat itu dari sini juga tidak terlalu jauh kok.Iya kan ma?"tanya Tirta meminta persetujuan Marwah.


"Iya,tapi dengan syarat kamu harus makan dengan teratur dan jaga kesehatanmu.Karena didalam perutmu ada janin yang harus kamu jaga dan harus kamu beri makan,"ujar Marwah.


"Iya ma, terimakasih ma,pa,"ucap Kirana.


"Iya, hati-hati dijalan habis ini,papa dan mama akan pulang,"kata Tirta.


"Hati -hati sayang.Jaga istrimu baik-baik Bay,"ucap Marwah.


"Iya ma,"jawab Bayu dan Kirana kemudian kembali ke kamar mereka membereskan barang-barang mereka.


"Gimana Ara pa?"tanya Marwah.


"Biarkan saja,nanti kalau bangun juga pulang sendiri ma.Papa akan menyuruh dua orang bodyguard untuk berjaga disini dan juga untuk mengantarkan Ara pulang nanti,"sahut Tirta.


"Kalau begitu mama akan membereskan barang-barang kita pa,"ucap Marwah.


"Ya sudah, ayo!"sahut Tirta.


Siang harinya.


"Emm...jam berapa ini?Perutku lapar sekali,"gumam Dinara.


Derrt....derrt....derrt..... handphone Dinara berbunyi dan Dinara pun langsung mengangkatnya.


"Halo Kak,"ucap Dinara dengan suara serak khas orang bangun dari tidur.


"Kakak telpon dari tadi nggak diangkat Sya.Apa kamu baru bangun?"tanya Satria.


"Iya Kak,"jawab Dinara.


"Kamu sudah sarapan apa belum tadi pagi?"tanya Satria.


"Belum Kak,"jawab Dinara.


"Ya ampun, kenapa belum makan sampai siang begini?"tanya Satria khawatir.


"Aku capek dan ngantuk gara-gara semalam Kak,"jawab Dinara jujur.

__ADS_1


"Apa masih sakit?"tanya Satria.


"Nggak kok,"sahut Dinara.


"Ya sudah, Kakak pesan makanan buat kamu.Kamu tunggu ya!"perintah Satria.


"Iya Kak,"sahut Dinara sambil menguap.


"Oke, Kakak tutup dulu telponnya,"ucap Satria.


"Iya,"sahut Dinara kemudian sambungan telepon pun dimatikan.


Tak lama kemudian ada pegawai hotel yang mengantarkan makanan untuk Dinara.Dinara yang sudah kelaparan pun memakannya dengan lahap.


***


Di kediaman Tirta.


"Ma, semalam papanya Alvin datang dan bertemu dengan Dinara,"kata Tirta membuka obrolan.


"Oh ya?Apa Alvin juga datang pa?"tanya Marwah antusias.


"Tidak,Pak Akbar datang sendirian,"jawab Tirta.


"Terus apa kata Pak Akbar setelah bertemu Dinara?"tanya Marwah.


"Tentu saja Pak Akbar sangat menyukai putri kita.Tapi Dinara tampak tidak suka saat mendengar tentang perjodohan ini,"ucap Tirta.


"Nanti kalau ketemu Alvin pasti juga suka pa,"sahut Marwah.


"Semoga saja ma,"ucap Tirta.


"Mama tidak menyangka pa, kalau Alvin ternyata menjadi dokter yang merawat mama,"ujar Marwah.


"Papa juga tidak menyangka ma,"sahut Tirta.


"Mama rasa, Alvin itu calon suami yang cocok untuk Dinara pa.Anaknya kalem, sopan, tampan, berpendidikan tinggi,dokter lagi,"ujar Marwah.


"Ya,asal Dinara suka,papa tidak masalah ma,"sahut Tirta tidak bersemangat.


"Kenapa papa tampak tidak bersemangat seperti itu?Apa papa masih berangan-angan mempunyai menantu seperti Nak Satria? Nak Satria itu terlalu tinggi untuk dijangkau pa,"


"Pemuda yang pintar, tampan dan juga mapan.Banyak wanita cantik, kaya dan juga berkarir yang mengelilinginya.Sedangkan anak kita hanya gadis biasa,"ujar Marwah.


"Iya,papa tahu.Papa juga sadar diri,papa tidak berani bermimpi terlalu tinggi.Tapi bagi papa hanya Nak Satria pemuda yang paling sempurna Dimata papa selain Tuan Muda,dan Bayu,"


"Papa yakin dan percaya, siapapun yang menjadi pendamping mereka bertiga akan menjadi wanita yang paling bahagia di dunia,"ujar Tirta.


"Memangnya papa berani melamarnya untuk Dinara?"tanya Marwah.


"Mana papa berani ma.Nak Satria terlalu sempurna, orangnya cerdas, berpendidikan tinggi, pintar dalam mengelola bisnis, tubuhnya atletis,tampan dan juga mapan, benar-benar calon menantu idaman.Sedangkan putri kita hanya gadis biasa,"ucap Tirta tersenyum kecut.


"Kalau begitu kita teruskan saja perjodohan dengan Alvin yang sudah kita atur satu tahun yang lalu,dia juga anak yang baik tampan dan juga mapan.Ya walau memang jauh kualitasnya dari Nak Satria,"


"Yang pasti saat mama tunjukkan foto Dinara dia langsung suka.Begitu pula orang tuanya, mereka juga sudah mengenal kita sudah lama,"ujar Marwah.


"Ya ma.Asal Dinara mau,papa setuju saja,"sahut Tirta.


"Kapan akan diadakan pertunangannya pa?"tanya Marwah.


"Jika Ara setuju,rencananya setelah Ara lulus sekolah,"jawab Tirta.


"Kalau begitu,mulai sekarang kita dekatkan saja mereka biar bisa saling mengenal,"usul Marwah.


"Bukannya Nak Alvin bekerja di Singapura ya ma?"tanya Tirta.


"Kata Nak Alvin,dia akan bekerja di rumah sakit di kota ini pa.Katanya,dia bekerja di Singapura hanya untuk mencari pengalaman saja,"ujar Marwah.


"Oh, begitu.Ya sudah bagaimana baiknya menurut mama saja,"ucap Tirta.


...🌟 Seperti koin yang memiliki dua sisi, perjodohan bisa mendatangkan kebahagiaan tapi juga bisa mendatangkan penderitaan.🌟...


..."Author"...

__ADS_1


To be continued


__ADS_2