
Hari ini adalah hari dimana pesta resepsi pernikahan Bayu dan Kirana diadakan.
Sejak tadi pagi keluarga Tirta sudah berada di hotel dan menyewa kamar hotel beberapa hari sebelum acara,untuk tempat beristirahat dan bersiap-siap untuk acara resepsi pernikahan Bayu dan Kirana.
Malam ini keluarga Tirta akan menginap di kamar hotel agar bisa langsung beristirahat saat acara sudah selesai.
"Ara, sudah selesai apa belum?"tanya Marwah melangkah masuk ke kamar hotel putrinya.
"Sebentar lagi ma,"ucap Dinara.
"Masya Allah..!!!Kamu...kamu cantik sekali Ara?"ucap Marwah yang melihat putrinya mengenakan gaun berwarna merah maroon yang terlihat sangat kontras dengan kulitnya yang putih mulus.
Gaun yang tertutup dengan panjang sampai mata kaki.Dengan lengan yang panjangnya hanya sepertiga dan kerah baju yang tidak terlalu rendah.
"Ini... gaun ini?Dan ini... perhiasan berlian ini? Dari mana semua ini Ara?"tanya Marwah menyelidik, melihat Dinara mengunakan satu set berlian yang terlihat begitu indah dan elegan.
Dari anting-anting,kalung,cincin dan gelang yang nampak begitu cantik melekat di tubuh Dinara, dilengkapi dengan sepatu high heels yang berwarna senada dengan gaunnya menyempurnakan penampilan gadis cantik itu.
"Ara menyewanya dari butik ma,"jawab Dinara yang sudah mempersiapkan alasan.
"Oh ya? Benarkah?!"tanya Marwah ragu.
"Ya dari mana Ara punya uang untuk membeli semua ini ma?Dan lagi mana mau Kakak membelikan aku barang-barang semahal ini?"ucap Dinara.
"Iya,ya.Ini semua barang mahal,"ucap Marwah yang akhirnya percaya.
"Ya sudah,ayo bantu mama dulu mengarahkan para pelayan agar melakukan pekerjaan mereka dengan benar,"ucap Marwah menarik tangan Dinara.
"Tapi Ara kan ingin menikmati pesta ma,"sahut Dinara.
"Iya nanti, bantu mama dulu,"ucap Marwah.
"Yah...sudah dandan cantik bak bidadari mau ketemu suami tercinta malah harus mengatur para pelayan,"gerutu Dinara dalam hati.
Tamu undangan sudah banyak yang berdatangan, pengantin lama yang baru mengadakan resepsi pernikahan pun sudah memasuki tempat diadakannya acara.
Kirana nampak terlihat cantik dengan gaun berwarna putih tulang.Begitupun dengan Bayu yang nampak tampan dengan tuxedo yang berwarna senada dengan Kirana.
Silih berganti para tamu mengucapkan selamat pada Bayu dan Kirana.Hingga Satria pun mendapat giliran untuk mengucapkan selamat.
"Selamat Kak, semoga langgeng sampai kakek nenek,"ucap Satria dengan jas berwarna maroon memeluk Bayu.
"Terimakasih,adik ipar,"bisik Bayu membalas pelukan Satria lalu tertawa, sambil menepuk pundak Satria.
"Dimana istriku,kakak ipar?"tanya Satria berbisik pada Bayu.
"Dia masih membantu mama dibelakang,"ucap Bayu.
"Selamat ya kakak ipar,"ucap Satria pada Kirana.
"Terimakasih,"ucap Kirana sambil tersenyum.
Tak lama kemudian Keynan pun naik ke pelaminan untuk mengucapkan selamat.
"Selamat ya Bay! Semoga Samawa (Sakinah Mawadah Warohmah),"ucap Keynan memeluk Bayu.
"Makasih Key,"ucap Bayu membalas pelukan Keynan.
"Selamat ya Ki !!"ucap Keynan pada Kirana.
"Terimakasih Tuan Muda,"jawab Kirana sedikit menundukkan kepalanya.
"Selamat Kak Bayu,"ucap Aisyah yang berada di samping Keynan.
"Terimakasih Nyonya Aisyah,"ucap Bayu sedikit menundukkan kepalanya.
"Selamat ya Kak Kirana,semoga dikaruniai keturunan yang saleh dan solehah,"ucap Aisyah.
"Terimakasih, Nyonya,.Silahkan dinikmati hidangannya,"ucap Kirana tersenyum sopan.
"Terimakasih,"ucap Aisyah.
"Mas, kenapa istri Tuan Muda memanggil kita kakak?"tanya Kirana setelah Keynan dan Aisyah turun dari pelaminan.
"Usia Nyonya baru sembilan belas tahun, Ki,"jawab Bayu.
"Apa dia cantik?"gumam Kirana.
"Sangat,"ucap Bayu yang mendengar gumaman Kirana.
__ADS_1
"Dari mana Mas tahu?"tanya Kirana menatap tajam Bayu.
Glek
"Aduh, kenapa mulut ini keceplosan sich!Bisa berabe nich urusannya,"batin Bayu.
"Dari foto KTP nya.Nyoya memang sangat cocok dengan Tuan Muda.Kalau aku cocoknya cuma sama kamu,"ucap Bayu mencoba menggoda Kirana dengan mencolek dagu Kirana dan mengedipkan sebelah matanya , tersenyum menggoda.
"Ganjen!!"ucap Kirana memalingkan wajahnya, tersipu malu karena tingkah Bayu.
"Selamat... selamat..."batin Bayu. karena Kirana tidak marah.
Di bawah panggung pelaminan.
"Sat,cari siapa?"tanya Keynan pada Satria yang seperti mencari seseorang.
"Nyari istriku Key,"sahut Satria menoleh sekilas pada Keynan.
"Ha..ha..ha... pengen ketemu istri seperti mau ketemu selingkuhan saja,"ucap Keynan tertawa meledek Satria.
"Tidak usah meledek,kamu lebih dulu mengalami ini dari pada aku,"ketus Satria.
"Paling bisa kamu membalikkan kata-kata,"ucap Keynan.
"Selamat malam Tuan Satria, Tuan Keynan!"sapa seorang pria paruh baya yang menggandeng seorang wanita cantik disampingnya.
"Selamat malam,"ucap Keynan dan Satria bersamaan.
"Perkenalkan, saya Hendrik pengusaha minuman instan dari PT Sumber Segar.Dan ini putri saya sekaligus sekretaris saya,Nelam," ujar Hendrik kemudian menyalami Keynan dan Satria.
"Nelam,"ucap Nelam mengulurkan tangannya pada Satria dan Satria pun menyambutnya namun dengan cepat menarik tangannya saat tangan mereka baru saja menempel.Membuat Nelam agak kecewa.
"Nelam,"ucap Nelam mengulurkan tangannya pada Keynan.Tapi ini lebih parah, karena Keynan hanya menyatukan kedua telapak tangannya di dada sambil menganggukkan kepalanya sedikit tanpa menjabat uluran tangan Nelam lalu merangkul Aisyah.
"Kenapa sich,dua pria ini? Seperti enggan berkenalan denganku, bahkan melihat ku saja tidak mau,"batin Nelam.
"Oh ya, Tuan Satria, saya ingin sekali bekerja sama dengan Sanjaya company, bolehkah saya mengajukan proposal untuk bekerja sama?!"tanya Hendrik.
"Silahkan saja anda ajukan,"ucap Satria sopan.
Oh ya, saya ingin sekali mengundang anda makan malam, apakah anda punya waktu?"tanya Hendrik lagi.
"Tuan Satria,apa kabar?"sapa seorang wanita cantik dengan bodynya yang aduhai.
"Baik,"ucap Satria datar.
"Tuan Satria, senang sekali bertemu anda disini,"sapa seorang wanita lagi dan Satria hanya menundukkan kepalanya sedikit untuk membalas sapaan wanita itu.
"Seharusnya kamu yang mereka dekati dan kejar-kejar,bukan aku,"bisik Satria pada Keynan.Sedangkan Keynan hanya terkekeh mendengar keluhan dari Satria.
Semenjak Satria memasuki tempat resepsi itu hampir semua pengusaha yang hadir dalam acara itu menyapa dan tidak sedikit pula yang sengaja mendekati Satria baik pria maupun wanita untuk bisa bekerja sama dengan Sanjaya company.
Bahkan tidak sedikit pula yang berusaha untuk menjadikan Satria bagian dari keluarga mereka.Ada yang ingin menjadikan menantu bagi pengusaha yang mempunyai putri,ada pula yang ingin menjadikan pasangan hidup bagi para wanita karir yang sedang mencari jodoh.
Satria yang mempunyai jabatan sebagai CEO di Sanjaya company dengan wajah tampan dan tubuh atletis membuat banyak wanita yang ingin menjadikan Satria pasangan hidup.
Sedangkan Keynan yang merupakan pemilik Sanjaya company tidak terlalu banyak didekati para pengusaha dan juga para wanita karena mereka hanya tau Keynan adalah pemilik Wishaka company.
Apalagi Keynan tidak melepaskan tangannya dari pinggang Aisyah dan tidak mau menjabat tangan perempuan yang menyapanya, membuat para wanita lebih suka mengejar Satria yang tidak membawa pasangan.
Setelah selesai membantu Marwah, akhirnya Dinara memasuki tempat diadakannya acara resepsi.Mata Dinara menelisik mencari keberadaan Satria yang sudah tiga hari ini dirindukannya.
Dengan wajah yang berbinar Dinara berjalan mendekati Satria yang nampak sibuk berbicara dengan beberapa orang dan wanita.
Penampilan Kirana yang begitu anggun dan cantik pun menjadi sorotan para tamu yang hadir.Banyak para pria yang menyapa dan juga berkenalan dengan Dinara, bahkan ada yang mengajak makan malam untuk esok hari.
"Eh lihat gadis yang memakai baju warna merah maroon itu, cantik sekali.Siapa dia?"tanya seorang pengusaha muda pada temannya.
"Iya, cantik sekali dia.Tapi aku juga tidak mengenalnya,"ucap pemuda satunya.
Satria yang mendengar bisik-bisik para tamu undangan yang membicarakan kecantikan seorang gadis memakai baju berwarna merah maroon pun langsung melihat kemana arah pandangan para tamu itu.
Satria tampak terpana melihat Dinara yang terlihat cantik dan anggun dengan semua barang yang dia berikan.Sekaligus merasa geram karena begitu banyak pria yang mengerubuti nya.
Dengan tangan terkepal perlahan Satria berjalan mendekati Dinara, Keynan yang melihatnya pun tersenyum tipis.
Sesaat Satria menatap Tirta yang mendekati putrinya, Satria pun mengurungkan niatnya untuk mendekati Dinara, walaupun merasa tidak suka karena begitu banyak pria yang nampak mendekati Dinara.
Sedangkan Satria sendiri, kemanapun dia melangkah selalu saja dikerumuni para wanita.Satria dan Dinara hanya bisa saling menatap dari jauh hingga malam semakin larut.
__ADS_1
"Apa kabar Tuan Tirta?"sapa seorang pria paruh baya pada Tirta.
"Alhamdulillah baik Tuan, Akbar,"sahut Tirta.
"Dimana Nyonya Marwah?"tanya Akbar lagi.
Anda kan tahu bagaimana kondisi istri saya, tidak boleh terlalu lelah,jadi sudah istirahat terlebih dahulu,*jawab Tirta.
"Oh, begitu ya.Ini putri anda?"tanya Akbar.
"Oh iya,perkenalkan ,ini Dinara,"ucap Tirta pada Akbar.
"Wahh.. putri anda benar-benar cantik.Anda masih ingat dengan putra saya Alvin?"tanya Akbar.
"Tentu saja,dia adalah dokter yang hebat.Alvin yang merawat istri saya selama berobat di Singapura.Saya tidak menyangka dia bekerja di sana,"ujar Tirta.
"Bagaimana jika kita menjodohkan anak-anak kita? Tampaknya mereka serasi,"ujar Akbar.
"Deg"Dinara terkejut mendengar kata-kata Akbar.
"Maaf,saya masih sekolah dan ingin kuliah.Saya ingin menggapai cita-cita saya,"sela Dinara nampak tidak suka.
Sejak tadi mod Dinara memang tidak bagus karena melihat Satria yang selalu dikelilingi wanita.Dinara tidak bisa mendekati Satria karena Tirta selalu menjaganya.Dan ini,dia akan dijodohkan?Hati Dinara benar-benar kesal menghadapi semua ini.
"Anak Om pasti rela menunggu wanita secantik dirimu Nak.Kamu tidak akan menyesal menikah dengan anak Om.Dia tampan dan juga cerdas,"ucap Akbar.
"Maaf, saya tidak nyaman jika membicarakan soal perjodohan,"ucap Dinara tampak tidak suka.
"Ara, yang sopan pada orang yang lebih tua,"ucap Tirta pelan tapi penuh penekanan.
Di sisi lain.
"Permisi,saya ada urusan lain,"ucap Satria yang sudah jenuh dengan para perempuan yang mengelilinginya dan sudah tidak sabar bertemu Dinara.
Satria pun meninggalkan tempat resepsi, namun tidak berapa lama kembali dan menghampiri seorang pelayan.
"Permisi, boleh saya minta tolong,"ucap Satria pada seorang pelayan wanita.
"Apa yang bisa saya bantu Tuan?"tanya pelayan tersebut.
"Tolong berikan kertas ini pada gadis yang memakai baju berwarna merah maroon di sana dan jangan sampai diketahui oleh orang lain,"ucap Satria menunjuk ke arah Dinara kemudian memberikan lima lembar uang berwarna merah pada pelayan tersebut.
"Baik Tuan, serahkan saja pada saya,"ucap pelayan tersebut antusias dan langsung berjalan menghampiri Dinara.
Dengan harap-harap cemas Satria menunggu pelayan tersebut.
"Permisi Nona apa benar ini pesanan anda?"tanya pelayan tadi pada Dinara sambil mengulurkan sebuah kertas pada Dinara.
Dinara mengernyitkan keningnya, kemudian meraih kertas yang di ulurkan pelayan itu, kemudian membuka kertas kecil itu.
"Sya, Kakak tunggu di lift lantai ini,"
Itulah yang tertulis di kertas kecil yang dibawa pelayan tersebut dan senyum Dinara pun langsung mengembang.
"Iya benar ini pesanan saya.Makasih ya mbak!"ucap Dinara.
"Sama-sama Nona, permisi,"ucap pelayan tersebut lalu pergi setelah Dinara mengangguk.
"Pesanan apa Ra?"tanya Tirta penasaran.
"Cemilan,pa,"jawab Dinara asal,"Kalau begitu Ara balik ke kamar ya pa?"Ara capek pengen istirahat.
"Sebentar lagi Ra,"ujar Tirta.
"Ara sudah capek banget pa, boleh ya?"ucap Dinara dengan wajah memelas.
"Baiklah,"ucap Tirta karena tidak tega pada putrinya.
"Terimakasih pa,kalau begitu Ara ke kamar ya? Permisi pak Akbar,"ucap Dinara.
"Oh ya,silahkan Nak,"ucap Akbar.
Dinara pun segera pergi ketempat yang ditulis Satria.Sedangkan Satria yang melihat pelayan yang disuruhnya tadi tersenyum sambil mengangguk pun langsung pergi menuju lift dilantai itu dengan hati yang bahagia.
๐Hanya bisa menatap dari jauh tanpa bisa menyentuh,mana mungkin rindu bisa berkurang, apalagi menghilang?!๐
..."Author"...
To be continued
__ADS_1