Mencintai Tanpa Melihat

Mencintai Tanpa Melihat
Episode 74 Lingerie


__ADS_3

Di dapur kediaman Tirta.


Marwah sedang meminum air mineral,"Bik, itu apa?"tunjuk Marwah pada sebuah kotak berwarna coklat yang ada di meja makan.


"Oh, itu paket untuk Non Ara Nyah,bibi lupa memberikannya pada Non Ara," jawab seorang pelayan paruh baya .


"Ya sudah biar saya saja yang memberikannya pada Ara, sekalian saya juga mau kekamar,"ucap Marwah.


"Iya Nyah,"sahut pelayan tersebut.


Tok .Tok...Tok..."Ra,buka pintunya!Ra..!!"panggil Marwah saat sudah didepan pintu kamar Dinara.


"Kak,ada mama,"pekik Dinara tertahan langsung melepaskan pelukan Satria.


Dengan buru-buru sepasang suami-istri yang baru selesai bercinta itu langsung memunguti pakaian masing-masing kemudian memakainya.


"Ra..apa kamu sudah tidur?"tanya Marwah dari balik pintu sambil mengetuk pintu itu.


"Iya ma sebentar,"sahut Dinara.


"Kak, cepat sembunyi!!"perintah Dinara.


"Sembunyi dimana , Sya?"tanya Satria kebingungan karena panik.


"Aduh di mana ya?Ah di kolong ranjang saja Kak! Cepat Kak!"perintah Dinara dan Satria pun langsung masuk ke kolong ranjang.Sedangkan Dinara segera membuka pintu kamarnya setelah Satria bersembunyi di bawah kolong tempat tidur.


"Ceklek,"Dinara membuka pintu kamarnya.


"Lama sekali sich Ra?Kenapa rambut dan bajumu berantakan begitu? Terus, kenapa kamu berkeringat seperti itu?Apa AC di kamar kamu rusak?"tanya Marwah yang memperhatikan penampilan putrinya kemudian langsung masuk ke dalam kamar.


"Astaghfirullah..!!Kamu dari ngapain sich Ra?Baju berantakan, rambut acak-acakan, keringat udah kayak dari mandi dan ini? Kenapa ranjang kamu berantakan seperti ini?"cerocos Marwah yang sangat heran dengan penampilan putrinya dan juga kamar putrinya yang berantakan.


"Itu...."Dinara hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal, bingung harus menjawab apa.


"Itu apa?Kamu dari ngapain?"tanya wanita berhijab itu penuh selidik.


"Itu ma, Ara dari olahraga.Iya dari olahraga,"jawab Dinara asal.


"Iya , olahraga ranjang,"batin Satria yang bersembunyi di bawah ranjang menahan tawa.


"Olahraga di atas ranjang?! Olahraga macam apa,"tanya Marwah heran.


Sedangkan Satria memegangi mulutnya karena menahan tawa.


"Olahraga untuk mengecilkan perut ma,biar perut Ara nggak buncit,"dusta Dinara bingung mencari alasan.


"Kebalik Sya,bukan olahraga untuk mengecilkan perut,tapi untuk membuncit kan perut,"batin Satria tertawa geli mendengar kata-kata Dinara.


"Ah sudahlah,kamu ini benar-benar aneh, mama benar-benar tidak mengerti denganmu.Ini ,ada paket buat kamu,"ucap Marwah menyodorkan kotak berwarna coklat pada Dinara.


"Paket? Paket apa ma?"tanya Dinara bingung.


"Bukannya kamu yang memesannya?Ini alamatnya,alamat rumah kita dan atas nama kamu,"ujar Marwah.


"Ah paket itu datang juga akhirnya,"batin Satria.


"Apa ini dari Kak Satria?"batin Dinara.


"Ah iya, Ara lupa ini memang punya Ara ma,"sahut Dinara pura-pura lupa.


"Ayo buka,mama ingin tahu apa isinya,"ujar Marwah melihat kotak yang kini sudah dipegang oleh Dinara.


"I..iya ma,"jawab Dinara.


"Arkkh tidak,jangan dibuka Sya!"batin Satria lalu menepuk tumit Dinara beberapa kali dari kolong ranjang.


"Ini kenapa Kak Satria menepuk-nepuk kakiku,"batin Dinara.

__ADS_1


"Ayo buka Ra!"perintah Marwah.


"Iya,ma,"jawab Dinara lalu membuka kotak itu.


"Sya, kamu mau mencari alasan apa jika mamamu bertanya tentang isi kotak itu,"batin Satria.


"Apa itu?"tanya Marwah saat kotak sudah terbuka.


Dinara yang juga penasaran dengan apa yang ada dalam kotak itupun mengambil dan merentangkan kain dari dalam kotak itu.


"Hadeh,bisa berabe ini urusannya,"batin Satria.


"Astaghfirullah hal Adzim..!!!Ara,apa yang kamu beli ini? Kenapa kamu membeli baju seperti ini?"tanya Marwah saat melihat baju yang direntangkan Dinara.


"Baju?Ini baju ...."ucap Dinara yang terkejut saat mamanya mengatakan bahwa kain tipis yang dipegangnya adalah baju.


"Hadehh..!! Bener-bener berabe ini urusannya,"batin Satria.


"Ini baju?Baju apaan yang modelnya begini?Ini lebih mirip gorden vitrase yang biasanya berwarna putih dan nerawang itu,"batin Dinara mengamati kain tipis yang dipegangnya.


๐˜๐˜ช๐˜ต๐˜ณ๐˜ข๐˜ด๐˜ฆ ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ต๐˜ช๐˜ณ๐˜ข๐˜ช ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ญ๐˜ถ๐˜ด ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ฎ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜จ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฌ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ค๐˜ข๐˜ฏ๐˜ต๐˜ช๐˜ฌ ๐˜ซ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข. ๐˜š๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ณ๐˜ข ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ, ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ต ๐˜’๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ด ๐˜‰๐˜ฆ๐˜ด๐˜ข๐˜ณ ๐˜‰๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜ด๐˜ข ๐˜๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ช๐˜ข, ๐˜ท๐˜ช๐˜ต๐˜ณ๐˜ข๐˜ด๐˜ฆ ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฑ๐˜ช๐˜ด, ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ด ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ, ๐˜ฅ๐˜ช๐˜จ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ข๐˜จ๐˜ข๐˜ช ๐˜จ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ. ๐˜๐˜ช๐˜ต๐˜ณ๐˜ข๐˜ด๐˜ฆ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฑ๐˜ช๐˜ด.


"Iya ,buat apa kamu beli baju lingerie?Ini ada tiga malah.Uang dari mana kamu bisa beli lingerie? Dilihat dari bahannya,ini pasti mahal,"ucap Marwah.


"Baju kayak gorden vitrase gini di bilang mahal? Emang berapa harga baju ini?Apa sich maksud Kak Satria ngasih baju kayak gini buat aku?"batin Dinara yang masih terus melihat ketiga lingerie itu bergantian.


"Ara,mama tanya buat apa kamu beli baju kayak gini? Memang ada teman sekolahmu yang menikah?"tanya Marwah lagi.


"Ach iya ma.Ada teman Ara yang menikah,"jawab Dinara asal.


"Jadi lingerie ini untuk kado pernikahan teman kamu?"tanya Marwah.


"Iya ma,"jawab Dinara."Yang benar saja ,masa ngasih kado kayak begini?"batin Dinara.


"Memang sedekat apa kamu dan temanmu itu sampai-sampai kamu rela menghabiskan uang berjuta-juta hanya untuk memberinya hadiah?"selidik Marwah.


"Pertolongan apa yang dia berikan pada kamu hingga kamu rela memberi hadiah semahal ini?"tanya Marwah.


"Dia pernah menolong Ara,saat Ara hampir di culik orang ma,"ucap Dinara.


"Apa?Kamu hampir diculik?Kok bisa?"tanya Marwah terkejut.


"Iya, waktu itu Ara dan temen cewek Ara nongkrong di kafe.Tapi tiba-tiba temen Ara kebelet, sepertinya dia diberi obat cuci perut hingga dia harus diam di toilet sekitar satu jam.Dan Ara di kasih obat tidur, terus mau di masukkan ke mobil,"


"Untung ada temen Ara yang melihat Ara yang sedang tidak sadarkan diri di bawa dua orang yang memakai masker.Jadi Ara direbut dari dua penculik itu dan dibawa ke rumah sakit,"ujar Ara yang bercerita benar tapi berbohong di bagian akhirnya.


"Benarkah? Kalau begitu mama akan ikut dengan kamu jika kamu datang ke acara pernikahannya.Mama ingin mengucapkan terimakasih secara langsung padanya.Mama juga akan memberikan kado pernikahan yang spesial untuk temanmu itu.Kapan acara pernikahannya?"tanya Marwah bersemangat.


"Masih lama ma,"jawab Dinara.


"Kalau begitu mama akan menyiapkan kadonya.Jangan lupa kasih tahu mama jika kamu mau menghadiri pesta pernikahan teman kamu itu,"ucap Marwah antusias.


"Iya, ma,"jawab Dinara.Sedangkan Satria hanya bisa diam mendengarkan perbincangan ibu dan anak itu.


"Ya sudah, istirahatlah.Mama juga akan istirahat.Jangan lupa bereskan kamarmu!"seru Marwah.


"Iya ma,"sahut Dinara lalu mengunci pintu kamarnya.


"Kak Satria, keluar!"seru Dinara menatap kolong ranjang.


"Hadeh..!!Berabe nich urusannya,"batin Satria perlahan keluar dari kolong ranjang.


"Kak,apa maksud kakak ngasih aku baju kayak gorden vitrase gini?"tanya Dinara menatap Satria tajam.


"Ha..ha..ha..gorden vitrase.Kamu ada-ada saja Sya,"ucap Satria terkekeh geli.


"Ya ini lihat saja ,sama kan kayak gorden vitrase? Jadi nama baju ini adalah baju vitrase,"ucap Dinara.

__ADS_1


"Ini bukan bukan baju vitrase sayang,ini baju jihad,"ucap Satria mengulum senyum.


๐˜’๐˜ข๐˜ต๐˜ข ๐˜ซ๐˜ช๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฅ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ด๐˜ข๐˜ญ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜ด๐˜ข ๐˜ˆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฃ, ๐˜บ๐˜ข๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ข๐˜ญ๐˜ซ๐˜ช๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฅ, ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ณ๐˜ต๐˜ช '๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ซ๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ'.


"Baju jihad?Mana ada baju jihad model begini?"kilah Dinara.


"Ya ada lah.Ini namanya baju jihad untuk membahagiakan suami,"ucap Satria tersenyum penuh arti.


"Ach.!!Mana ada yang seperti itu! Kakak jangan ngadi-ngadi dech!!"ucap Dinara.


"Ya enggak lah! Kakak nggak ngadi-ngadi.Karena jika kamu memakai baju ini, berarti kamu berjihad untuk membuat Kakak bahagia.,"ucap Satria menaik turun kan alisnya.


"Memang Kakak akan bahagia jika aku pakai baju ini?"tanya Dinara mengalungkan tangannya di leher Satria.


"Tentu saja, Kakak akan selalu bahagia bila bersamamu,"ucap Satria memeluk tubuh Dinara kemudian mengecup bibir Dinara dengan lembut.


"Kakak ingin melihat bagaimana seksinya kamu memakai lingerie ini,"bisik Satria lalu menggigit leher Dinara.


"Kakak.!! Jangan membuat tanda di tempat yang terlihat,"keluh Dinara.


"Kakak ingin sekali membuat tanda di lehermu.Kenapa kamu tidak berhijab seperti mama saja?Bukankah menutup aurat itu wajib? Lagian Kakak tidak suka jika tubuh dan rambutmu yang indah ini dilihat oleh orang lain.Karena semua ini adalah milik Kakak,"ucap Satria mengusap wajah Dinara.


"Apa kakak benar-benar ingin aku memakai hijab?"tanya Dinara menatap mata Satria.


"Iya, Kakak akan semakin mencintaimu, jika kamu mau menutup aurat mu.Dan sebegitu kamu lulus, Kakak akan datang untuk melamar mu,Agar kita bisa selalu bersama,"ucap Satria tersenyum, mengusap rambut Dinara.


"Aku tidak punya baju muslim,jadi aku akan mengumpulkannya dulu.Dan saat aku sudah siap,aku akan mengenakan hijab.Apa Kakak tidak keberatan?"tanya Dinara.


"Kakak akan menunggu, tapi jangan lama-lama ya? Kakak cemburu jika tubuhmu yang indah ini dilihat banyak orang.Kamu bisa memakai kartu yang kakak beri untuk membeli semuanya,"ucap Satria.


"Iya,"jawab Dinara.


"Kakak sangat mencintaimu.Maukah kamu memakai baju jihad itu?"tanya Satria menaik turun kan alisnya.


"Apa kakak sangat ingin aku memakainya?"tanya Dinara mengelus rahang Satria.


"Sangat teramat ingin sekali,"ucap Satria mencium telapak tangan Dinara yang mengelus rahangnya.


"Kakak ingin aku memakai warna apa?"tanya Dinara.


"Warna hitam,kamu akan semakin cantik dengan warna hitam,"sahut Satria.


"Baiklah aku akan memakainya hanya untuk suamiku tersayang,"ucap Dinara menoel dagu Satria lalu mengedipkan sebelah matanya kemudian bergegas ke kamar mandi.


Satria yang melihat tingkah istrinya itu pun hanya tersenyum sambil geleng-geleng kepala.


Tak lama kemudian, pintu kamar mandi pun terbuka Dinara keluar dengan lingerie berwarna hitam.Satria yang melihat itu pun, susah payah menelan salivanya.


"Bagaimana?Apa Kakak suka?"tanya Dinara mengelus dada Satria.


"Sangat suka,kamu memang selalu cantik,"ucap Satria merengkuh Dinara dalam pelukannya.


Dengan lembut diciumnya bibir Dinara, tangan kirinya menahan tengkuk Dinara, sedang tangan kanannya meremas dua bongkahan kenyal di bagian belakang tubuh Dinara.


Emhh...desah Dinara saat Satria mencium dan menjilati leher Dinara.Sedangkan tangan kanan Satria sudah berpindah ke dua buah benda kenyal di dada Dinara.Meremas dan mempermainkan pucuk yang berwarna coklat itu.


Satria menggendong Dinara dan merebahkan tubuh Dinara keatas ranjang.Mengelus dan menciumi tubuh yang sudah menjadi candunya.


Akhirnya helai demi helai benang yang semula melekat di tubuh mereka pun teronggok di lantai.Merekapun kembali berlayar di samudera cinta, menikmati malam itu dengan penuh gairah.Mencapai puncak bersama-sama, terlelap saling berpelukan dan saling menghangatkan .


Hingga suara jam weker pun berbunyi nyaring, membangunkan dua insan yang saling berpelukan tanpa sehelai benang.


๐ŸŒŸSaat bersama orang yang kamu cintai dan mencintaimu,kamu tidak perlu berusaha untuk bahagia, karena saat bersamanya kebahagiaan itu akan datang begitu saja.๐ŸŒŸ


..."Author"...


To be continued

__ADS_1


__ADS_2