
"Oke.!!Oke.!!Mama kasih tahu,yang akan datang malam ini adalah calon mertua dan calon suami mu,"ucap Marwah tersenyum lebar.
"Apa.!!?"pekik Dinara terkejut.
"Tidak usah berteriak seperti itu Ra!"ucap Marwah sambil menutup kedua telinganya dengan telapak tangan.
"Mama dan papa benar-benar mau menjodohkan aku?"tanya Dinara.
"Iya,"jawab Marwah.
"Ara tidak mau ma.Ini bukan lagi jamannya Siti Nurbaya.Masa mama dan papa main menjodohkan aku begitu saja!"ucap Dinara tidak terima.
"Iya,mama tahu ini memang bukan jamannya Siti Nurbaya, mangkanya mama dan papa tidak akan menjodohkan kamu dengan Datuk Meringgih,"ucap Marwah enteng.
"Ma... Ara tidak sedang bercanda,"pekik Ara manja.
"Mama juga tidak sedang bercanda.Mama dan papa tidak akan menjodohkan kamu dengan pria jelek dan tua.Papa dan mama akan menjodohkan kamu dengan pria tampan dan mapan yang berprofesi sebagai dokter,"ucap Marwah membanggakan calon menantu pilihannya.
"Ara tidak tertarik menjadi istri dokter.Ara sudah punya jodoh seorang pebisnis muda dan tampan,"sahut Dinara kembali menyunggingkan senyum.
"Ihh...anak ini masih saja berhayal, keluar dari mimpimu itu.Jodoh pilihan mama ini Dokter spesialis lho Ra,"ucap Marwah.
"Apalagi Dokter spesialis, pasti umurnya sudah dua puluh lima ke atas,"sahut Dinara.
"Baru dua puluh tujuh tahun Ra,"sahut Marwah.
"Nah tuh,dua puluh tujuh tahun,beda sembilan tahun sama Ara.Ara nggak mau! Yang akan mendampingi Ara itu hanya pria berusia dua puluh empat tahun.Tubuh tinggi,tegap, berotot, atletis,perut kotak-kotak kayak roti sobek, orangnya tampan,mapan dan penyayang.Sempurna..!!!!! "ucap Dinara mendeskripsikan semua hal tentang Satria dengan wajah berbunga-bunga dan menekankan kata sempurna.
"Pletakk,"
"Auwh.!! Sakit ma..!!"pekik Dinara saat kepalanya di jitak oleh Marwah.
"Mana ada pria semacam itu?!"sergah Marwah.
"Ada ma!! Pria seperti itu lah jodoh Ara dan sebentar lagi Ara akan di bawa pergi oleh pria seperti itu,"ucap Dinara penuh percaya diri.
"Ini nich!! Kalau kebanyakan baca novel,ya jadi halu begini,"ucap Marwah.
"Ara nggak halu!Ara pastikan pria seperti itu akan datang melamar Ara ke papa sama Mama.Jika pria itu tidak datang, Ara tidak akan makan empat puluh hari empat puluh malam,"ucap Dinara.
"Kamu keburu mati sebelum pria seperti itu datang kalau puasa empat puluh hari empat puluh malam,"ucap Marwah mencibir putrinya.
"Dia pasti datang ma,"ucap Dinara.
"Sudah ayo mandi.!! Pusing mama mendengar ocehan kamu,"ucap Marwah yang gemas dengan putrinya itu pun langsung menarik tangan Dinara.
Malam harinya.
"Pak Akbar, Alvin,mari masuk! Kita langsung ke meja makan saja ya?!"ucap Tirta menyambut tamunya lalu memandu mereka ke ruang makan.
"Eh, Pak Akbar,nak Alvin, silahkan duduk!Akan saya panggilkan Ara dulu,"ucap Marwah lalu beranjak ke kamar Dinara.
"Ra,ayo turun!Tamu istimewanya sudah datang!"seru Marwah.
"Ara makan di kamar saja ma.Ara sedang tidak enak badan,"ucap Dinara yang sedang berbaring memeluk boneka besarnya.
"Nggak boleh gitu Ra, mereka kemari kan karena ingin bertemu dengan kamu,"ucap Marwah.
"Tapi Ara nggak mau ketemu mereka ma.Ara nggak mau di jodohkan,.Ara sudah punya jodoh,"ucap Dinara masih memeluk bonekanya memunggungi Marwah.
"Kalau kamu tidak turun,papa akan marah padamu Ra.Pokoknya mama tunggu di bawah.Dan ingat, pakai baju yang bagus, jangan bikin papa dan mama malu,"ucap Marwah meninggalkan kamar Dinara.
Akhirnya dengan malas-malasan Dinara pun turun ke lantai satu menuju meja makan.
"Assalamu'alaikum,"ucap Dinara, membuat semua orang di meja makan itu menoleh.
__ADS_1
"Wa'alaikumu salam,"sahut mereka.
"Wahhh tambah cantik saja putri pak Tirta,"ucap Akbar yang semakin kagum dengan Dinara yang memakai hijab.
Tirta dan Marwah pun hanya tersenyum menanggapi ucapan Akbar.
"Cantik dan imut,papa memang pintar mencarikan jodoh,"batin Alvin yang langsung suka saat melihat Dinara dari fotonya.Dan semakin suka saat melihat aslinya.
"Mari kita makan!"ajak Tirta.
Akhirnya mereka pun makan malam dengan tenang.Hanya terdengar suara sendok dan garpu yang berbenturan dengan piring hingga makan malam selesai.
"Ara,bawa Alvin keliling rumah,biar saling kenal,"ucap Marwah setelah makan malam selesai.
"Mari,"ucap Dinara yang tidak enak jika menolak permintaan mamanya di depan tamu.Sedangkan para orang tua berbincang di ruang tamu.
"Kita duduk di sana saja,"ajak Dinara menunjuk sebuah bangku panjang di taman.
"Kamu semakin cantik jika memakai hijab,"ucap Alvin setelah mereka duduk.
"Masih banyak gadis di luar sana yang lebih cantik dari saya,"sahut Dinara tanpa memandang wajah Alvin.
"Tapi aku sukanya sama kamu,"kata Alvin yang menggeser duduknya mendekati Dinara.
"Bagaimana anda langsung suka pada saya,jika kita baru bertemu hari ini,"sahut Dinara menggeser duduknya menjauh dari Alvin.
"Kenapa perutku jadi mual ya mencium parfumnya,"batin Dinara yang lama-lama menjadi mual karena mencium parfum Alvin.
"Sejak pertama kali mamamu menunjukkan foto kamu,aku langsung suka padamu.Apalagi saat bertemu langsung hari ini,aku semakin suka melihatmu memakai hijab,"ucap Alvin kembali menggeser duduknya mendekati Dinara.
"Tapi maaf, saya tidak menyukai Anda,"kata Dinara yang sudah tidak bisa lagi menggeser duduknya karena sudah mentok di ujung kursi yang mempunyai pembatas di ujungnya.
"Jangan berbahasa formal seperti itu, biar tidak seperti orang asing,. Lagian kita kan baru bertemu, nanti lama-lama kamu juga akan suka padaku,"ucap Alvin yang tidak nyaman karena Dinara menggunakan bahasa formal.
"Maaf,tapi saya sudah menyukai orang lain.Dan tolong duduknya agak geser,kita bukan mahram,"sahut Dinara.
"Aku yakin kamu akan mencintai aku dan akan melupakan orang yang kamu sukai,"ucap Alvin percaya diri.
Bukan tanpa alasan Alvin begitu percaya diri berkata seperti itu.Alvin sudah mendengar dari papanya jika Dinara tidak pernah berpacaran dengan siapapun karena selalu di jaga oleh bodyguard.
Jadi Alvin berpikir bahwa Dinara berbohong tentang sudah menyukai orang lain.Kalaupun ada yang Dinara sukai pasti teman satu sekolahnya dan itu pasti tidak akan direstui oleh orang tua Dinara.
"Saya tidak bisa mencintai anda.Saya sangat mencintai dia, lebih baik saya mati jika harus berpisah dengan dia.Maaf,saya permisi,"ucap Dinara langsung berjalan cepat meninggalkan Alvin dan lama kelamaan berlari menuju kamarnya.
"Tunggu.!!"teriak Alvin menyusul Dinara.
"Ada apa Al?"tanya Akbar yang melihat Dinara berlari di kejar Alvin,membuat Alvin menghentikan langkahnya.
"Ma,coba lihat Ara.!"perintah Tirta.
"Iya pa,"sahut Marwah lalu beranjak ke kamar Dinara.
"Duduklah disini Nak!"ucap Tirta lembut.
"Iya Om,"sahut Alvin.
"Ada apa Al?Kamu apakan putri Pak Tirta?"tanya Akbar yang merasa tidak enak melihat Alvin berlari mengejar Dinara.
"Alvin nggak tau pa,kami ngobrol biasa tapi tiba-tiba Dinara pergi,"jawab Alvin.
"Apa dia marah padaku? Tapi aku rasa kata-kata ku tidak keterlaluan,"batin Alvin.
Di kamar Dinara.
"Uwek.. uwek.... uwek..."Dinara memuntahkan isi perutnya sampai tak tersisa.
__ADS_1
Marwah yang baru masuk ke kamar Dinara langsung menuju kamar mandi saat mendengar Dinara muntah-muntah. Marwah memijit tengkuk Dinara dan sesekali mengelus punggung Dinara.
Dinara membuka kran, mengguyur makanan yang di muntahkannya kemudian mencuci mulutnya.Marwah pun membantu Dinara berbaring di ranjang.
"Ra,kamu kenapa?"tanya Marwah khawatir.
"Ara nggak tau ma,saat berdekatan dengan Alvin, Ara merasa tidak suka mencium bau parfumnya.Dan lama kelamaan Ara jadi pusing dan mual sampai muntah-muntah kayak tadi,"jelas Dinara.
"Ya sudah,kamu tunggu disini,biar mama buatkan teh hangat buat kamu,"ucap Marwah mengelus rambut Dinara kemudian keluar dari kamar Dinara.
"Bau parfum Kak Satria di bantal ini membuat rasa mual ku berkurang,"gumam Dinara menciumi bantal yang biasa di pakai Satria.
"Gimana ma?"tanya Tirta saat melihat Marwah.
"Sepertinya Dinara masuk angin pa.Mama mau buatkan teh hangat dulu,"jawab Marwah lalu pergi ke dapur.
"Maaf ya Nak Alvin, ternyata Dinara sedang tidak enak badan,"ucap Tirta.
"Tidak apa-apa Om,"jawab Alvin yang merasa lega karena ternyata Dinara pergi bukan karena marah padanya, tapi karena tidak enak badan.
***
Siang itu Dinara sudah pulang sekolah dan sangat terkejut saat melihat Alvin.
"Ayo aku antar pulang!"ajak Alvin.
"Din,siapa nich cowok?"bisik Lina tapi tidak dijawab oleh Dinara.
"Maaf,saya sudah ada yang menjemput,"ucap Dinara.
"Hari ini ,aku yang menjemput kamu.Kamu bisa menelpon orang tuamu jika tidak percaya,.Ayo masuk!"ucap Alvin tersenyum kemudian membuka pintu mobilnya untuk Dinara.
Dengan terpaksa Dinara masuk ke mobil Alvin setelah berpamitan pada Lina yang masih penasaran dengan pria yang menjemput Dinara.Sedangkan dari jauh Aldo dan Didi pun melihat Dinara yang di jemput seorang pria.
"Siapa lagi itu Do?Ini beda lagi dari yang kemarin,"ucap Didi.
"Gue juga nggak tau,"sahut Aldo.
Didalam mobil.
"Kita mampir untuk makan siang ya?"ucap Alvin yang sudah melajukan mobilnya.
"Tidak usah, terimakasih,"ucap Dinara tanpa menatap wajah Alvin.
"Ya ampun,perutku kembali mual mencium bau parfumnya.Kenapa akhir-akhir ini aku sering mual dan muntah di pagi hari,dan sangat sensitif dengan segala macam bau.Dan anehnya rasa mual ku bisa reda jika mencium aroma parfum Kak Satria yang melekat di bantal.Apa ini karena aku terlalu merindukan Kak Satria?"batin Dinara.
"Tapi sayangnya aku memaksa,"ucap Alvin tersenyum pada Dinara.
"Saya mohon,antar saya pulang,"ucap Dinara memandang Alvin sekilas dan Alvin pun memandang Dinara.
"Kamu,kenapa?Kok pucat banget?"tanya Alvin terkejut saat melihat wajah Dinara yang sudah bercucuran keringat dan pucat.
"Tolong antar saya pulang,"kata Dinara lagi menahan rasa mual di perutnya.
"Aku antar ke rumah sakit ya?"tawar Alvin yang khawatir.
"Tidak, tolong antar saja saya pulang,obat saya ada di rumah,"ucap Dinara.
"Baiklah,"ucap Alvin kemudian mempercepat laju mobilnya.
Sesampainya di rumah Dinara langsung keluar dari mobil Alvin dan berlari menuju kamarnya.Dinara langsung menuju kamar mandi dan memuntahkan isi perutnya.Setelah selesai memuntahkan isi perutnya Dinara langsung menuju ranjangnya.
"Lhoh..kenapa tidak ada bau Kak Satria di bantal ini?"gumam Dinara menciumi bantal satu persatu tapi tidak ada aroma parfum Satria yang tertinggal.
"Arkkh..."kenapa bibi mencuci sarung bantal dan seprei ku.Sekarang aku tidak bisa lagi mencium aroma parfum Kak Satria lagi.Boneka ini juga sudah di laundry, tidak tercium lagi parfum Kak Satria,"pekik Dinara sambil menangis.
__ADS_1
...๐Cinta itu datang dan pergi tanpa bisa di cegah atau di halangi apalagi dipaksa.๐...
To be continued