Mencintai Tanpa Melihat

Mencintai Tanpa Melihat
Episode 69 Gara-gara Rindu


__ADS_3

Di kediaman Wishaka.


"Ay,kamu kenapa?"pekik Keynan yang melihat Aisyah terhuyung ketika keluar dari kamar mandi dan langsung dipeluk Keynan agar tidak jatuh.


"Tiba-tiba kepalaku pusing sekali Mas,"ucap Aisyah.


"Ayo duduk,biar Mas ambilkan air hangat,"ucap Keynan membantu Aisyah duduk kemudian mengambil air hangat dari dispenser.


"Minumlah!"ucap Keynan menyodorkan air hangat pada Aisyah.


"Terimakasih,Mas,"ucap Aisyah kemudian meminum air hangat itu.


"Kita periksa ke dokter ya? Beberapa hari ini sepertinya kamu kurang sehat,"ucap Keynan.


"Mas..."kata-kata Aisyah menggantung.


"Kenapa?Ada apa? Katakan pada Mas!"ucap Keynan.


Aisyah merogoh saku gamisnya kemudian menyodorkan sebuah benda pipih persegi panjang yang tidak terlalu besar.Keynan mengambil benda itu dan seketika tersenyum lebar saat melihat garis dua berwarna merah di benda itu.


"Kamu hamil Ay?"tanya Keynan dan dijawab dengan anggukan kepala oleh Aisyah.Keynan pun langsung memeluk Aisyah.


"Alhamdulillah.Terimakasih Ay!"ucap Keynan mengecup kepala Aisyah berulang kali."Sudah berapa hari kamu telat Ay?"tanya Keynan menatap wajah Aisyah.


"Sudah dua Minggu Mas,"jawab Aisyah.


"Besok kita ke dokter ya?!"ajak Keynan merapikan anak rambut Aisyah kemudian menyelipkan di telinga Aisyah yang tidak memakai jilbab jika berada dalam kamar.


"Iya Mas,"sahut Aisyah.


"Mas harus pergi,ada banyak berkas yang harus Mas tandatangani.Apa kamu tidak apa-apa jika Mas tinggal sendiri?" tanya Keynan.


"Tidak apa-apa Mas,"jawab Aisyah.


"Tapi Mas tidak tenang meninggalkanmu sendiri.Mas akan menyuruh Bik Minah untuk menemanimu.Mas takut kamu seperti tadi,Mas tidak ingin kamu jatuh.Dan jangan katakan pada siapapun kalau kamu sedang mengandung,Mas tidak ingin ada orang yang akan mencelakakan kamu,"ucap Keynan.


"Iya, Mas,"ucap Aisyah menurut, kemudian mengenakan jilbab dan cadarnya.


Keynan kemudian keluar dari kamarnya dan tidak lama kemudian Keynan sudah membawa Bik Minah.Bik Minah yang baru pertama kali masuk ke kamar Keynan pun merasa takjub melihat kamar Keynan.


"Bik, tolong jaga Aisyah ya? Apalagi kalau ke kamar mandi tolong ditemani ya?"pinta Keynan.


"Baik Tuan Muda,"ucap Bik Minah.


"Mas pergi dulu ya?Jangan nunggu Mas pulang, kalau mengantuk tidur saja,"ucap Keynan mengecup kening Aisyah kemudian mengusap kepala Aisyah.


"Iya Mas,"jawab Aisyah.


"Bik,sini! Duduk di sini! Kita nonton TV dari sini,"ucap Aisyah mengajak Bik Minah duduk di ranjang.


"Bibi di sini saja Non,"ucap Bik Minah.


"Kalau bibi berdiri di situ kaki bibi akan pegal tapi jika bibi duduk di sofa sana Aisyah harus berteriak untuk memanggil bibi.Jadi lebih baik bibi duduk di sebelah Aisyah,"ucap Aisyah dan setelah mempertimbangkan ucapan Aisyah akhirnya Bik Minah duduk di dekat Aisyah walaupun agak sungkan.


Di rumah Satria.


Satria sudah membawa setumpuk berkas yang harus ditandatangani oleh Keynan dengan wajah yang nampak tidak bersemangat.


"Kenapa wajahmu seperti baju yang belum dicuci seperti itu?"tanya Keynan.


"Tidak apa-apa,hanya lelah saja,"ucap Satria menghela nafas berat.

__ADS_1


Keynan mengerutkan keningnya,merasa ada yang aneh dengan sahabatnya itu.Selama Keynan memeriksa dan membubuhkan tandatangan di berkas-berkas itu, sesekali Keynan melirik Satria.Sahabatnya itu tampak tidak bersemangat dan juga gelisah.


Selama ini sebanyak dan seberat apapun pekerjaannya, Satria tidak pernah mengeluh dan tetap terlihat santai.Bahkan mulutnya tidak bisa diam,terus saja mengoceh tapi kali ini Satria benar-benar jadi pendiam.


Setelah selesai memeriksa dan membubuhkan tanda tangan di tumpukan berkas itu, Keynan mengamati wajah Satria yang nampak kusut, Keynan menghela nafas berat dan tanpa sengaja melihat ke bawah ke arah celana Satria dan langsung tertawa terbahak-bahak.


"Kenapa kamu tertawa?"tanya Satria bingung saat tiba-tiba Keynan tertawa.


"Aku sekarang tahu kenapa mukamu kusut kayak baju belum di cuci,"ujar Keynan menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Apa yang kamu tahu?"tanya Satria penasaran.


"Kamu pengen tapi nggak bisa ngambil jatah kan?!"ucap Keynan kembali tertawa.


"Apa maksudmu?"tanya Satria memastikan apa yang dimaksud Keynan memang seperti yang dipikirkannya.


"Wah...Gercep (gerak cepat) juga kamu masih sekolah juga kamu hajar juga.Sudah jadi pedofil kamu,"ucap Keynan kembali tertawa.


"Maksud kamu apa sich Key?"tanya Satria lagi.


"Alah berlagak bego kamu itu,kamu udah bobol gawang Dinara kan? Makanya sekarang NTT (Nafsu Tidak Tersalurkan)!"skak Keynan membuat Satria membuang nafas kasar.


"Sok tahu kamu.Jangan menuduh tanpa bukti!Fitnah namanya!!"ujar Satria berkilah.


"Aku nggak fitnah,tuh buktinya,"ucap Keynan menunjuk celana pendek Satria yang nampak mengembung di bagian intinya lalu kembali tertawa terbahak-bahak.


"Ah..sial kamu!Aku kan laki-laki normal,wajar kalau punyaku bangun,"balas Satria masih berkilah menutupi celananya yang mengembung di bagian intinya dengan kaos oblong yang dipakainya karena malu membuat Keynan semakin terbahak-bahak.


"Masalahnya kalau jam segini bangun itu nggak wajar, kecuali kalau ada penyebabnya itu baru wajar.Jangan sampai nanti pekerjaan kamu jadi berantakan karena masalah itu,mending kamu kasih sama pawangnya tuh kobra kamu biar jinak,"ledek Keynan.


"Gimana mau dikasih sama pawangnya kalau ketemu sama pawangnya saja nggak bisa,kemana-mana dikawal,"balas Satria yang akhirnya mengaku karena percuma bohong pada orang yang lebih berpengalaman.


"Dari pada kamu nggak bisa tidur, nggak bisa konsentrasi kerja gara-gara kobra kamu ngamuk karena nggak bisa masuk sarang,"ucap Keynan geleng-geleng kepala karena sahabatnya jadi loading gara-gara NTT.


"Benar juga kata kamu Key,"ucap Satria lalu dengan cepat meraih laptopnya meretas cctv di rumah Tirta kemudian mengamati semua bagian rumah itu.


Setelah beberapa menit mengamati laptopnya, Satria langsung beranjak dari duduknya menuju kamarnya dan tak lama kemudian turun dengan menggunakan hoodie ,celana dan juga masker yang berwarna hitam serta kunci mobil di tangannya.


"Aku cabut dulu,"ucap Satria pada Keynan sambil berlari kecil menuju mobilnya.


Keynan yang melihat itupun geleng-geleng kepala, kemudian dia pun ikut keluar dari rumah itu karena semua pekerjaannya sudah selesai.


***


Satria memarkirkan mobilnya tak jauh dari rumah Tirta.Satria mulai memanjat pagar rumah Tirta yang lumayan tinggi.Namun itu tidak sulit bagi Satria karena sejak kecil dia dan Keynan telah dilatih ilmu beladiri dan berbagai macam keterampilan untuk melindungi diri bahkan cara menyusup dan menyamar ke berbagai tempat.


Satria sebelumnya sudah mengamati rumah Tirta dari cctv rumah Tirta yang sudah diretasnya.Satria pun dengan mudah menyelinap ke tempat-tempat yang tidak terjangkau cctv.


" Asya pernah bercerita kamarnya ada di sebelah pohon mangga, berarti yang itu kamar Asya,"gumam Satria.


Perlahan dengan mengendap-endap Satria mendekati pohon mangga itu, setelah dekat Satria melihat pohon mangga dan kamar Dinara yang ada di lantai dua.


"Sepertinya aku bisa memanjat pohon mangga ini untuk naik ke kamar Asya,"gumam Satria.


Perlahan Satria memanjat pohon mangga itu dan setelah dekat dengan kamar Dinara, Satria langsung melompat ke balkon kamar Dinara.


Satria melangkah menuju pintu balkon kemudian membuka kunci pintu itu dengan keahliannya.


'Klek,"pintu itu akhirnya terbuka.Perlahan Satria menutup kembali pintu balkon kemudian perlahan melangkah ke dalam kamar.Satria tersenyum saat melihat lampu tidur yang menerangi kamar itu adalah lampu pemberiannya untuk Dinara.


Di atas ranjang nampak seorang wanita yang tidur memeluk boneka besar yang pernah di belikan Satria untuk Dinara.

__ADS_1


"Asya..."gumam Satria saat melihat wajah wanita yang sangat dirindukannya selama empat hari ini.


Perlahan Satria naik keatas ranjang, melepaskan pelukan Dinara pada boneka besar itu kemudian membaringkan tubuhnya di tempat boneka tadi berada.


Satria menatap lekat wajah yang sedang terlelap itu kemudian menyibak rambut yang menutupi wajah Dinara dan menyelipkannya di telinga Dinara.


Di usapnya wajah cantik itu kemudian Satria mencium bibir Dinara dengan lembut namun lama-kelamaan menjadi menuntut.


Dinara yang merasa ada yang mengulum bibirnya pun akhirnya terbangun karena terkejut dan langsung mendorong tubuh Satria.


"Ahkkkk.,.emmm..."teriakan Dinara pun langsung dibungkam oleh Satria dengan tangan.


"Jangan teriak.!Ini Kakak,"ucap Satria pada Dinara kemudian melepaskan bekapannya.


"Kakak,"ucap Dinara langsung memeluk Satria.


"Kakak sangat merindukanmu,"ucap Satria merenggangkan pelukan mereka kemudian mengecup kening Dinara.


"Bagaimana Kakak bisa ada di sini?"tanya Dinara heran.


"Kakak masuk ke sini diam-diam karena Kakak sangat merindukanmu,"jawab Satria.


"Aku juga sangat rindu pada Kakak,"ucap Dinara langsung memegang wajah Satria kemudian menciuminya setelah itu kembali memeluk Satria dengan erat.


Satria membelai rambut Dinara kemudian turun ke punggung dan turun lagi meremas dua bongkahan kenyal di bawah sana.


"Sya, Kakak pengen,"bisik Satria dengan suara berat.


Dinara merenggangkan pelukannya kemudian menatap wajah Satria.Tanpa ba bi bu lagi Satria langsung melahap bibir Dinara yang langsung mendapat balasan dari Dinara.


Tangan Satria sudah bergerilya kemana-mana begitu pula dengan Dinara yang sudah menyusupkan tangannya kedalam hoodie yang di kenakan Satria,meraba dada dan perut Satria.


Tak lama kemudian sepasang suami istri itupun berlayar menuju ke surga dunia yang memabukkan bagi pasangan yang baru saja tahu betapa nikmatnya mereguk nikmatnya bercinta.


Setelah beberapa kali bercinta dan mendapatkan pelepasan,akhirnya malam itu Satria bisa menuntaskan keinginannya yang sudah beberapa hari ini dia tahan, dan membuat pikirannya kusut.


Pukul setengah lima pagi jam weker yang di aktifkan Satria di handphonenya pun berbunyi dan mau tidak mau Satria pun bangun, walaupun sebenarnya enggan untuk melepaskan pelukannya pada Dinara, apalagi untuk meninggalkannya.


"Kakak mau kemana?"tanya Dinara yang terbangun karena Satria berusaha melepaskan pelukan Dinara dari tubuhnya.


"Kakak harus pulang Sya, Kakak harus bekerja dan kamu juga harus sekolah kan?"tanya Satria.


"Tapi aku masih kangen sama Kakak,"ucap Dinara yang tidak mau melepaskan pelukannya.


"Kalau Kakak tidak pulang sekarang, Kakak akan terkurung di rumahmu ini,"ucap Satria.


"Tapi nanti malam Kakak akan ke sini lagi kan?"tanya Dinara menatap wajah Satria.


"Kakak akan usahakan.Tapi kamu tidak usah menunggu Kakak ya? Karena walaupun Kakak kesini, pasti Kakak ke sini nya malem banget,"ucap Satria.


"Iya,"ucap Dinara langsung mengecup bibir Satria beberapa kali yang juga dibalas Satria.


Kemudian Satria turun dari ranjang dan memunguti pakaiannya lalu memakainya.


"Kakak pulang,"ucap Satria mengecup lembut kening Dinara.


"Hati-hati"ucap Dinara yang masih berbaring di atas ranjang dengan tubuh polos yang hanya di tutupi dengan selimut tebal.Menatap Satria yang menoleh dan tersenyum padanya lalu keluar dari kamar itu melalui pintu balkon.


๐ŸŒŸRindu itu seperti angin, tidak bisa di lihat tapi bisa dirasakan dingin dan hangatnya.Bahkan jika rindu bertiup kencang,dia pun bisa memporak-porandakan hatimu.๐ŸŒŸ


To be continued

__ADS_1


__ADS_2