
"Jadi bagaimana pak?!"tanya Keynan yang melihat Tirta terdiam.
"Bagaimana ini?Aku bisa menolak lamaran dari Pak Akbar tapi Tuan Muda? Arkkh..!! Seandainya aku bisa menjaga putriku dengan baik,dia tidak akan hamil di luar nikah.Dan dengan senang hati akan menerima lamaran dari calon menantu idaman seperti Nak Satria,"batin Tirta.
"Maaf, karena yang akan menjalani adalah Ara,jadi menurut saya biarkan Ara yang memutuskannya. Bagaimana Pak Akbar, Key?"ucap Bayu yang melihat kerisauan di hati Tirta hingga tidak mampu berkata-kata.Marwah pun sama,diam tidak bisa berkata apa-apa.
"Menurut saya itu solusi yang terbaik,"ucap Keynan.
"Baiklah,saya setuju,"ucap Akbar dengan berat hati karena merasa saingan putranya bukan orang sembarangan yang bisa di anggap enteng.Dari segi manapun Alvin kalah dari Satria, pria muda yang tampan, mapan, dan begitu disegani di dunia bisnis.
"Baiklah kalau kalian setuju.Bik, tolong panggil Ara agar ke sini!"pinta Bayu pada seorang pelayan.
Tok..!!Tok.!!Tok..!!
"Ceklek,"pintu kamar Dinara pun dibuka.
"Ada apa, Bik?"tanya Dinara yang muncul dari balik pintu.
"Non Ara di suruh ke ruang tamu,"jawab pelayan itu.
"Alvin belum pulang Bik?!"tanya Dinara.
"Belum Non, masih di bawah,"jawab pelayan tersebut.
"Baiklah, Ara akan turun,"ucap Dinara tidak bersemangat.
Perlahan Dinara menuruni tangga menuju ruang tamu dengan tidak bersemangat, menundukkan wajahnya menatap lantai yang dipijaknya.
Ra, kemari lah!"pinta Bayu yang melihat adiknya berjalan menunduk ke ruang tamu.
Dinara yang mendengar suara Kakaknya pun mengangkat wajahnya ,dan betapa terkejutnya Dinara saat melihat Satria yang duduk di sebelah Bayu.Spontan Dinara langsung berlari dengan senyum yang mengembang dan wajah yang begitu bahagia.
"Kakak..!!!"pekik Dinara langsung menghambur memeluk Satria hingga Satria terjengkang kebelakang membentur sandaran sofa.
Keynan dan Aisyah hanya tersenyum tipis melihat sepasang suami-isteri itu.Sedangkan Tirta, Marwah, dan Akbar sangat terkejut saat melihat Dinara bukan memeluk Bayu tapi malah memeluk Satria.Alvin yang tadinya begitu senang saat melihat Dinara tersenyum untuk pertama kalinya pun menjadi murung saat melihat Dinara menghambur memeluk Satria.
"Kakak aku rindu sekali pada Kakak,"ucap Dinara memeluk erat tubuh Satria, sedangkan Satria nampak serba salah mendapat tatapan dari semua orang.
Bayu yang menyadari situasi yang canggung itu pun langsung menarik tubuh Dinara dari Satria.
"Ra, kamu salah peluk!"ucap Bayu yang bisa di dengar semua orang.Bayu langsung memeluk Dinara.
"Jaga sikapmu,tahan diri,dan nurut apa kata kakak,jika kamu tidak mau dipisahkan dari Satria.Diam jika tidak di tanya,kamu mengerti?!"bisik Bayu ditelinga Dinara sambil memeluk Dinara dan Dinara pun mengangguk tanda mengerti.
"Duduklah bersama mama,"ucap Bayu melepaskan pelukannya.
"Iya, Kak,"ucap Dinara lalu duduk di dekat Marwah.
"Kamu ini ceroboh sekali,"gerutu Marwah yang bisa di dengar semua orang di ruangan itu.
"Maaf, Ara sangat rindu pada Kakak,"sahut Dinara menunduk.
"Maaf,atas kecerobohan adik saya,"ucap Bayu mencairkan suasana.
"Jadi bagaimana jika kita menanyakan pada orang yang bersangkutan secara langsung?"tanya Keynan pada semua orang.
"Baiklah,biar saya yang menanyakannya,"sahut Tirta yang mencoba menenangkan diri.
"Ehem,.. Ara Pak Akbar melamar kamu untuk putranya,dan Tuan Muda Keynan pun melamar kamu untuk Nak Satria.Apakah kamu mau menerima lamaran salah satu di antara mereka?"tanya Tirta menatap Dinara.
Dinara memandang wajah papanya yang seolah ingin mengatakan sesuatu, kemudian menatap Marwah yang tatapannya sama seperti Tirta.
Dinara kembali mengalihkan pandangannya ke arah Satria yang tersenyum penuh kerinduan lalu menatap Bayu yang menganggukkan kepalanya seolah memberi isyarat agar Dinara memberi jawaban.
__ADS_1
"Ara akan menerima lamaran dari Tuan Muda,"ucap Dinara dengan tegas,menatap Bayu yang tersenyum dan mengangguk kecil saat mendengar jawaban Dinara.
Akbar dan Alvin pun merasa kecewa saat mendengar jawaban Dinara. Tirta dan Marwah nampak terkejut mendengar jawaban Dinara Sedangkan ekspresi Bayu, Keynan, Satria dan Aisyah tentu saja biasa saja , karena mereka sudah tahu pasti jawaban dari Dinara.
"Baiklah jika itu pilihan Nak Dinara,kami menghargainya.Dan karena hari sudah bertambah larut,kami mohon diri.Terimakasih atas makan malamnya,"ucap Akbar berpamitan.
"Maaf Pak Akbar, jika putri saya tidak memilih putra anda,"ucap Tirta tidak enak hati.
"Tidak apa-apa Pak Tirta.Kalau begitu kami permisi,"ucap Akbar lalu pergi bersama Alvin.
"Tuan Muda, sebenarnya ada yang harus saya sampaikan tentang Dinara,"ucap Tirta nampak tidak nyaman.
"Pak Tirta, karena Aisyah sedang mengandung dan butuh istirahat maka saya minta Bayu dan Satria yang akan menjelaskan semuanya pada Pak Tirta.Saya mohon jangan marahi mereka bertiga dan terima dengan lapang dada apa yang sudah terjadi.Saya permisi,"ucap Keynan kemudian beranjak pergi bersama Aisyah, diantar Tirta dan Marwah.
Tirta dan Marwah yang masih kebingungan dengan situasi saat ini di tambah dengan kata-kata Keynan barusan membuat Tirta dan Marwah semakin bingung.
"Pak, tolong keluarkan koper Satria.Sepertinya mulai malam ini Satria akan tinggal di sini,"ucap Keynan tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, yang membuat Tirta dan Marwah semakin bingung dengan kata-kata Keynan.
Setelah mobil yang ditumpangi Keynan dan Aisyah pergi, Tirta dan Marwah pun kembali ke dalam.
"Pa,ma,ada yang ingin Bayu jelaskan mengenai Ara dan Satria,"ucap Bayu.
"Ada apa sebenarnya?! tanya Tirta.
"Begini Pak, sebelumnya saya minta maaf pada bapak.Sebenarnya saya sudah menikahi Dinara,"ucap Satria tegas.
"Apa?!"pekik Tirta dan Marwah bersamaan.
"Bayu minta maaf pa,ma,karena Bayu yang telah menikahkan mereka,"ucap Bayu menatap kedua orang tuanya.Sedangkan Dinara hanya diam menunduk.
"Tolong jelaskan pada papa!"ucap Tirta mencoba tenang.
Di satu sisi Tirta kecewa karena tidak tahu bahwa putrinya sudah menikah terlebih yang menikahkan adalah putranya sendiri.Di satu sisi lagi merasa bahagia karena putrinya menikah dengan menantu idamannya.
"Saya akan menjelaskannya,"ucap Satria.
Tirta memijit pelipisnya mendengar penjelasan dari Satria.Kemudian menghela nafas dalam-dalam.
"Ya sudah, semua sudah terjadi,mau bagaimana lagi.Ara, ajak suamimu untuk makan malam.Nak Satria pasti belum sempat makan.Ma, suruh pelayan membawa koper Nak Satria ke kamar Ara.Nak Satria,kamu bisa tinggal di sini karena Nak Satria adalah menantu kami.Setelah makan istirahatlah di kamar Ara,"ucap Tirta.
"Terimakasih Pak,"ucap Satria.
"Panggil saja papa, seperti Bayu dan Ara,"kata Tirta.
"Ach iya,pa,"ucap Satria agak canggung.
"Bay, ikut papa ke ruang kerja.Ada yang ingin papa bicarakan,"ucap Tirta.
"Iya,pa,"sahut Bayu beranjak dari duduknya mengikuti Tirta menuju ruang kerjanya.
"Nak Satria,ayo makan dulu,"ucap Marwah.
"Iya ma,"sahut Satria.
Dinara pun menarik tangan Satria menuju ruang makan.
"Huhh.. syukurlah papa tidak marah.Aku pikir papa akan marah seperti tadi pagi dan menghajar Kak Satria.Tapi kenapa papa tidak marah ya?Apa karena ucapan Tuan Muda tadi ya? Sepertinya papa sangat segan sama Tuan Muda,"
"Ach..masa bodoh lah! Yang penting sekarang aku bisa bersama Kak Satria tanpa harus sembunyi-sembunyi.Malah udah boleh bobok bareng lagi,"batin Dinara yang sekarang sangat bahagia.
Di ruang kerja Tirta.
"Bay, bukannya Ara selalu di kawal bodyguard ya? Kenapa bisa sampai di culik?"tanya Tirta penasaran.
__ADS_1
"Malam itu bodyguard yang mengawal Dinara kecelakaan pa, bahkan sempat kritis selama dua hari.Karena itulah Ara sempat lepas dari pengawasan kami,"ucap Bayu jujur.
"Kamu sudah selidiki siapa dua orang yang ingin menculik Ara itu?"tanya Tirta.
"Mereka teman satu sekolahnya Ara,pa.Ayahnya seorang pengusaha.Bayu tidak mengambil tindakan karena setelah kejadian itu mereka tidak melakukan apa-apa.Dan Bayu juga belum mengetahui motifnya apa.Tapi Bayu masih terus mengawasi mereka,"jelas Bayu.
"Tapi papa rasa ada yang Satria sembunyikan dari ceritanya tadi.Tidak mungkin para polisi itu memaksa Satria menikahi Ara.Apa kamu mengetahui sesuatu?"tanya Tirta menyelidik.
Bayu menghembuskan nafas berat kemudian menatap mata papanya.
"Ara mengambil pistol seorang polisi dan menodongkan pistol itu di kepalanya.Mengancam akan bunuh diri jika Satria tidak mau menikahinya.Sebentar, Bayu tunjukkan rekaman cctv nya,"ucap Bayu meraih laptop di meja kerja Tirta.
Beberapa saat Bayu memainkan jarinya di keyboard laptop itu kemudian menunjukkan sebuah rekaman cctv.Tirta memijit pelipisnya setelah melihat rekaman cctv itu, kemudian menghela nafas panjang.
"Jadi Satria terpaksa menikahi Ara?"tanya Tirta.
"Tidak juga,pa.Satria juga sangat mencintai Ara.Semua barang-barang mewah yang dimiliki Ara itu adalah pemberian dari Satria bukan dari Bayu,"jawab Bayu.
"Syukurlah kalau begitu.Tapi Bay, selama ini Ara selalu di jaga ketat oleh bodyguard.Bagaimana Ara bisa mengandung?"tanya Tirta pelan.
"Apa?!Ara mengandung?"tanya Bayu tidak percaya.
"Iya,papa dan mama baru tahu tadi pagi.Karena itulah papa menyuruh pria yang menghamilinya datang malam ini.Dan papa tidak menyangka kalau pria itu adalah Satria,"ujar Tirta.
"Jadi karena itu Keynan dan Satria datang lebih cepat untuk melamar Ara?Bukan karena kedatangan Pak Akbar untuk melamar Ara?"tanya Bayu.
"Papa rasa begitu,"jawab Tirta.
"Apa papa sudah memeriksa cctv di rumah ini?Bukan tidak mungkin kan Satria menyusup ke rumah ini untuk bertemu dengan Ara?"tanya Bayu.
"Sudah,tapi papa tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan,"jawab Tirta.
"Apa papa tidak suka jika Satria menjadi menantu papa?"tanya Bayu.
"Sangat suka, Satria adalah menantu idaman papa,"jawab Tirta.
"Kalau begitu tidak perlu kita cari tahu dimana mereka melakukannya,"ucap Bayu menghembuskan nafas berat.
"Papa dari dulu ingin mempunyai menantu seperti Satria.Cuma karena adikmu tidak memiliki kelebihan apapun,jadi papa tidak berani bermimpi untuk memiliki menantu seperti Satria,"jelas Tirta.
"Ha..ha..ha...papa tidak tahu saja, kelebihan Ara itu satu dan tidak bisa di tolak Satria,"ucap Bayu merasa geli jika melihat keagresifan adiknya.
"Memang apa kelebihan Ara?"tanya Tirta penasaran.
"Agresif.!!Ara akan sangat agresif jika sudah berada di samping Satria.Tapi begitu cuek dan dingin pada pria lain.Karena keagresifan Ara itulah Bayu menyetujui dan menikahkan mereka.Bayu takut Satria tidak bisa menahan diri karena keagresifan Ara.Maaf, Bayu lancang mengambil keputusan tanpa sepengetahuan papa,"ucap Bayu menyesal.
"Tidak apa-apa.Papa seperti mendapat durian runtuh mendapatkan menantu idaman sepeti Satria,"ucap Tirta sambil tersenyum.
"Tapi kenapa papa menginginkan Satria yang menjadi menantu papa bukan Keynan?Dia juga menantu idaman loh pa,"tanya Bayu menyelidik.
"Menginginkan Satria jadi menantu papa saja rasanya sudah ketinggian apalagi jika Tuan Muda, Bay.Lagian Tuan Muda kan sudah beristri,"sahut Tirta.
"Iya juga ya,pa.Sudah malam pa, Bayu pulang dulu ya pa?!"pamit Bayu.
"Tidak menginap?!"tanya Tirta.
"Nggak pa, takut Kirana bangun dan mencari Bayu,"jawab Bayu.
"Ya sudah, hati-hati!!"pesan Tirta.
"Iya,pa,"sahut Bayu.
🌟"Terkadang Tuhan mengabulkan harapan yang terasa mustahil untuk kita capai dan mewujudkan mimpi yang terasa terlalu tinggi untuk kita gapai."🌟
__ADS_1
..."Author"...
To be continued