
Santi berjalan menuju sebuah warung makan untuk mengisi perutnya yang keroncongan.
"Kamu mau apa?"ketus seorang wanita paruh baya,pemilik warung makan yang didatangi Santi.
Pemilik warung itu memperhatikan penampilan Santi dari ujung rambut hingga ujung kaki.Melihat pakaian Santi yang berantakan,wajah kusam terdapat bekas cakaran, rambut acak-acakan dan tanpa memakai alas kaki.
"Ya mau beli makanan lah,masa mau beli baju!"ketus Santi.
Orang-orang yang ada di warung itu pun menatap Santi dengan pandangan tidak suka, meremehkan dan merendahkan.
"Memangnya kamu punya uang untuk membeli makanan di warung saya?"tanya pemilik warung masih dengan nada ketus.
"Memangnya berapa sih harga satu porsi makanan yang di jual di sini?"tanya Santi meremehkan,"Punya warung kecil aja sombong banget.Kalau nggak terpaksa karena perutku sudah lapar,malas banget aku beli makanan di warung seperti ini,"gumam Santi menatap sinis.
"Tiga puluh lima ribu satu porsi dengan lauk lengkap,"sahut pemilik warung.
"Ini,aku pesan satu porsi dengan lauk lengkap,"ucap Santi sinis sambil memberikan uang berwarna merah bergambar tokoh proklamator.
"Baik,saya buatkan.Tapi kamu tidak boleh makan di sini,"ucap pemilik warung itu.
"Kenapa tidak boleh?Di sana masih ada beberapa kursi kosong kan?"tanya Santi dengan wajah sinis menunjuk masih ada beberapa bangku kosong.
"Kalau mau saya buatkan tapi saya bungkus,jangan makan di sini.Kalau kamu makan di sini bisa kabur para pelanggan saya karena tidak nafsu makan melihat wajah dan penampilan kamu,"jelas pemilik warung.
"Oke..oke.. cepat buatkan,"ucap Santi mengalah karena dia sudah benar-benar kelaparan.
Setelah membeli makanan beserta air mineralnya, Santi langsung mencari tempat untuk menyantap makanan yang di belinya.
"Siall.!!Awas saja kamu Keynan!! Gara-gara kamu aku jadi gembel seperti ini.Dihina orang dan makan di pinggir jalan.Uangku sudah habis untuk membayar para berandalan dan pengacara yang tidak berguna itu,"gerutu Santi.
Setengah jam kemudian Santi pergi mencari toko yang menjual tali dan juga lakban.
"Aku harus mencari mobil untuk alat transportasi,"batin Santi.
Santi kembali mencari celah untuk mencuri.Setelah beberapa jam akhirnya Santi menemukan target untuk diambil mobilnya.
"Bugh.!!!" Santi berhasil memukul kepala seorang perempuan yang baru saja menutup pintu mobilnya.
"Aku harus segera membawanya masuk,"gumam Santi berusaha memasukkan perempuan yang di pukul nya masuk ke dalam mobil.
Setelah berhasil memasukkan perempuan itu ke dalam bagasi mobil,Santi langsung mengikat tangan dan kaki perempuan itu lalu menutup mulut perempuan itu dengan lakban yang sudah disiapkannya.
Santi kemudian mengendarai mobil itu menuju rumah Keynan.Setelah satu jam berkendara Santi akhirnya tiba di rumah Keynan tepat pukul satu siang..Santi memarkirkan mobilnya agak jauh dari pintu gerbang rumah Keynan agar tidak di curigai.
"Itu...itu.. Aisyah,"gumam Santi saat melihat sebuah mobil keluar dari pintu gerbang rumah Keynan.
"Pucuk dicinta ulam pun tiba.Kali ini kamu tidak akan lolos Aisyah,"gumam Santi tersenyum miring.
Santi melihat Aisyah dalam mobil yang kacanya di buka separuh, baru saja keluar dari gerbang pintu rumah Keynan. Santi pun segera mengikuti mobil itu dari jarak yang aman.
***
Di sekolah Dinara.
Setelah kepergian Lina, Aldo segera menelpon seseorang.Setelah itu Aldo mencari keberadaan Dinara.
"Itu,dia.Aku harus mengawasinya,kali ini dia tidak boleh lolos.dia harus menjadi milikku.Selama ini aku sudah sangat bersabar untuk mendapatkan dia dengan cara halus.Tapi dia tetap menolakku dengan segala kesombongannya dan sikap acuh sok jual mahalnya itu,"gumam Aldo menatap Dinara dari jauh.
__ADS_1
Aldo semakin ingin memiliki Dinara karena sikap Dinara yang sama sekali tidak menunjukkan ketertarikan padanya.Padahal banyak siswi yang antri ingin menjadi pacar Aldo bahkan berusaha dengan segala cara untuk mendapatkan perhatian Aldo.
Tapi seorang Dinara menolaknya beberapa kali.Dan yang membuat hati Aldo semakin panas adalah Dinara yang selalu berboncengan mesra dengan seorang pria yang Dinara akui sebagai suaminya.
Dari jauh Aldo dapat melihat Dinara yang sibuk selfie dengan sesama siswi.Dinara nampak cantik dengan jilbab segi empat berwarna putih yang dipakainya.Wajahnya yang putih nampak semakin cantik saat Dinara tersenyum dan tertawa bersama teman-temannya.
Setelah setengah jam mengawasi Dinara, handphone Aldo berdering.Aldo pun menerima panggilan itu setelah mengetahui siapa yang menelponnya.
"Halo,"ucap Aldo menerima panggilan di handphonenya.
"Halo,kami sudah berada di dekat alamat sekolah yang kamu berikan,"sahut seseorang di ujung telepon.
"Oke, tunggu dulu di sana sampai aku memberikan perintah,"sahut Aldo kemudian menutup telponnya.
"Tunggu sebentar lagi,kamu akan menangis,mengemis dan memohon-mohon padaku agar aku menerimamu,, tapi aku akan mencampakkan kamu,"gumam Aldo tersenyum licik menatap Dinara dari jauh.
***
Di sebuah rumah sakit jiwa tempat Santi di rawat.Bangunan yang terbakar dini hari itu masih mengepulkan asap walaupun api sudah padam.Lebih dari setengahnya bangunan itu terbakar.
"Gimana Bay, apa kalian menemukan Santi?"tanya Keynan.
"Belum Key,bahkan kami tidak hanya mencari di area rumah sakit ini saja, tapi juga di daerah sekitar rumah sakit ini.Banyak pasien rumah sakit ini yang keluar dari area rumah sakit ini.Aku telah mengerahkan anak buah kita, bahkan mereka sudah banyak menemukan pasien rumah sakit ini, tapi belum menemukan Santi,"jelas Bayu.
""Berapa banyak korban dalam kebakaran ini?'tanya Keynan.
"Kami belum tahu pasti.Tapi sudah ada sekitar seratus tiga puluh empat jenazah,,lima ratusan terluka dan sisanya belum ditemukan termasuk yang kabur,"jelas Bayu.
"Tetap bantu mereka mencari para korban dan juga menangkap yang kabur sambil mencari Santi,"pinta Keynan.
"Iya,key,"jawab Bayu.
"Itulah yang membuat aku risau Key,"jawab Bayu.
"Kenapa?"tanya Keynan mengernyitkan keningnya.
"Menurut saksi mata dan penyelidikan polisi,api berasal dari kamar Santi.Sepertinya dia membakar seprei dan menghubungkannya dengan saklar lampu di kamarnya.Aku semakin yakin bahwa Santi benar-benar tidak gila.Dia sengaja melakukan semua ini untuk melarikan diri,"jelas Bayu.
"Jika itu memang dia, berarti sangat berbahaya jika dia sampai berkeliaran di luar sana.Dia mengorbankan begitu banyak orang untuk mencapai tujuannya.Dia benar-benar perempuan yang ambisius,"ujar Keynan.
"Iya, Key.Perempuan itu benar-benar berbahaya.Tapi dia sudah tidak punya apa-apa lagi untuk berbuat kejahatan Key,"sahut Bayu.
"Iya,tapi kita harus tetap waspada,"ucap Keynan.
***
Di sekolah Dinara.
"Halo, Kak,"sahut Dinara menerima panggilan telepon dari Satria.
"Kakak sudah ada di depan pintu gerbang sekolah kamu,"sahut Satria di ujung telepon.
"Oke,aku akan segera keluar,"sahut Dinara lalu memutuskan sambungan telepon.
"Lin,gue duluan ya? Laki gue udah menjemput gue,"pamit Dinara.
"Oke, gue juga udah mau pulang kok.Sentar lagi supir gue nyampe,"sahut Lina.
__ADS_1
"Ya udah gue duluan,"ucap Dinara.
"Oke,"sahut Lina.
Dinara pun segera berjalan keluar dari sekolahnya.Sedangkan Aldo terus mengawasi dari jauh.Saat melihat Dinara berjalan ke arah luar sekolah, Aldo langsung menelpon orang suruhannya yang sudah menunggu di dekat sekolah itu.
"Halo, sepertinya target sudah akan keluar, kalian siap-siap,!"perintah Aldo melalui sambungan telepon lalu mematikan sambungan telepon secara sepihak tanpa menunggu jawaban dari ujung telepon.
"Kak..!! panggil Dinara saat melihat Satria yang sedang duduk di atas motornya.
"Ayo pulang.!!"ajak Satria kemudian memakaikan helm di kepala Dinara.
"Itu mereka!!"tunjuk Aldo mengarahkan telunjuknya pada Satria dan Dinara,saat Aldo sudah berada dalam mobil orang-orang suruhannya.
"Oke,kita akan mengikuti mereka,"ucap pria yang duduk di belakang kemudi.
Setelah helm Dinara terpasang sempurna, Satria pun langsung naik ke motornya di susul Dinara yang duduk dibelakang Satria.Setelah Dinara melingkarkan tangannya di perutnya, Satria pun langsung melajukan motornya.Tanpa mereka sadari ada sebuah mobil yang mengikuti mereka.
"Kak,kita mau kemana?"tanya Dinara yang melihat mereka tidak melewati jalan yang biasa mereka lewati.
"Kita akan menginap di salah satu resort milik Keynan untuk merayakan kelulusan kamu,"sahut Satria.
"Benarkah?"tanya Dinara dengan wajah yang berbinar-binar.
"Tentu saja.Apa pernah Kakak bohong padamu?"tanya Satria.
"Tidak,"sahut Dinara tersenyum lebar sambil menyandarkan kepalanya di punggung Satria.
Saat melewati jalan yang sepi dan jauh dari pemukiman penduduk, mobil yang ditumpangi Aldo dan orang suruhannya pun mengejar motor yang di tumpangi Satria dan Dinara.
"Ciittt.."tiba-tiba mobil yang ditumpangi Aldo menghadang motor yang dikendarai Satria.Satria pun reflek mengerem mendadak sehingga membuat helm yang dikenakan Dinara membentur helm Satria.
"Ada apa kak?"tanya Dinara yang terkejut saat Satria mengerem mendadak.
"Ada yang menghadang kita,"sahut Satria.
Dinara melihat ada mobil yang menghadang motor Satria.Dari dalam mobil yang menghadang Satria keluar delapan orang yang bertubuh kekar dan beberapa di antaranya nampak mempunyai tato ditubuhnya.
"Siapa mereka kak?"tanya Dinara.
"Kakak juga tidak tahu.Kamu jangan jauh-jauh dari Kakak,"ucap Satria.
"Iya Kak,"sahut Dinara.
"Serahkan gadis itu pada kami!"perintah salah seorang dari delapan orang pria itu.
"Siapa yang menyuruh kalian?"tanya Satria dengan suara tegas mulai turun dari motornya di susul Dinara yang juga ikut turun tanpa melepaskan helm mereka.Satria dan Dinara hanya membuka kaca helm mereka saja.
"Kamu tidak perlu tahu siapa yang menyuruh kami.Serahkan gadis itu baik-baik atau kami akan menggunakan kekerasan,"
"Langkahi dulu mayat ku jika kalian menginginkannya!!"seru Satria mulai tersulut emosi.
"Hajar dia!!!"
...🌟" Jangan sampai ambisi mu untuk mendapatkan sesuatu membuat gelap mata dan hatimu hingga membuat orang yang tidak berdosa menjadi korban dari ambisimu."🌟...
..."Author "...
__ADS_1
To be continued