
Dinara keluar dari kamar mandi hanya dengan menggunakan handuk yang menutupi tubuhnya dari dada sampai paha.Dengan santai Dinara mengambil baju dan dalaman yang sudah tersusun rapi di lemari dan meletakkannya di atas ranjang.
Dinara kemudian melilitkan handuknya di pinggang lalu meraih bra untuk dipakainya namun belum sempat bra itu dikaitkan ditubuhnya, Dinara langsung menoleh kearah pintu saat tiba-tiba terdengar suara....
"Ceklek,"dan pintu pun terbuka lebar.
"Astaga!!"pekik Satria,mata Satria melotot tubuhnya kaku untuk sesaat melihat tubuh Dinara.
"Ahkkh,"pekik Dinara yang melihat Satria diambang pintu dengan mata melotot kearahnya.
"Brakk," saat tersadar dari shock, secepat kilat Satria langsung menutup pintu.
Satria berdiri didepan pintu dengan nafas yang memburu dan jantung yang berdetak hebat, tubuhnya lemas serasa tak bertulang.Tubuh Satria merosot kelantai bersandar di balik pintu kamarnya.
"Ya Tuhan...ini ujian, cobaan atau godaan?!"Jika seperti ini,aku bisa khilaf.Oh tidak,mata suci ku sudah ternoda.Seumur hidup baru kali ini aku melihat....oh ya ampun!!gumam Satria mengusap wajahnya dengan kasar.Setelah sedikit tenang, Satria pergi ke dapur dan meminum air meneral.
Sedangkan Dinara langsung lari menuju kamar mandi "Ya Tuhan...malunya aku!!Kak Satria melihat tubuh bagian atasku.Astaga...bodohnya aku,"gumam Dinara memukuli kepalanya sendiri,"Terus gimana nich?!Masa iya, aku harus diam disini nggak pakai baju?.Tapi kayaknya Kak Satria udah menutup pintu dech,"gumam Dinara.
Perlahan Dinara mengintip ke luar kamar mandi,merasa aman Dinara langsung keluar dan secepat kilat meraih pakaiannya yang ada diatas ranjang lalu membawanya kekamar mandi dan segera memakainya.
"Hufh, bagaimana ini?!Apa aku harus keluar kamar?! Kalau aku tidak keluar kamar nanti Kak Satria tidak berani masuk kamar.Tapi kalau aku keluar kamar,aku kan malu!!"
"Eh tunggu,aku kan istrinya Kak Satria, kenapa aku harus malu saat Kak Satria melihat tubuhku.Mau diapa-apain juga nggak dosa.Ya udah aku keluar saja , Kak Satria kan baru pulang, pasti dia mau membersihkan diri,"gumam Dinara.
"Kak, kakak nggak mau membersihkan diri?!"tanya Dinara yang melihat Satria sedang minum di ruang makan.
"Uhuk...uhuk... uhuk..."Satria yang sedang minum pun langsung tersedak saat mendengar Dinara menyapanya.
"Hati-hati dong Kak,minumnya,"ucap Dinara menepuk-nepuk punggung Satria pelan.
"Ah iya, Kakak mau mandi dulu,"ucap Satria langsung bangkit dari duduknya dan segera masuk ke kamarnya.
Dinara cekikikan melihat Satria yang salah tingkah dengan wajah yang memerah,"Ya ampun, Kak Satria lucu sekali,"gumam Dinara.
"Ya Tuhan, santai sekali dia bertanya padaku seperti itu,aku kira dia tidak akan keluar kamar karena malu.Tapi apa ini ?!Dia menyapaku seolah-olah tidak terjadi apa-apa.Dasar bocah cilik!"gumam Satria tersenyum menggeleng-gelengkan kepalanya.Kemudian bergegas untuk membersihkan diri.
Satria menghampiri Dinara yang sedang berada di ruang tamu,"Sya,kamu ingin makan apa?!Biar Kakak pesankan,"ucap Satria santai walaupun masih agak canggung dengan kejadian tadi.
"Kok pesan sich Kak?!"
"Lha, terus?!"tanya Satria.
"Kita makan diluar ya?! Sekalian malam mingguan.Mau ya Kak?!Please!!"ucap Dinara menggoyang-goyangkan lengan Satria, memohon dengan suara manja dan puppy eyes yang membuat Satria gemas sekaligus tak tega menolak permintaan Dinara.
𝗠𝗮𝘁𝗮 𝗽𝘂𝗽𝗽𝘆 𝗮𝘁𝗮𝘂 𝗽𝘂𝗽𝗽𝘆-𝗲𝘆𝗲𝘀 𝗮𝗱𝗮𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗮𝘁𝗮 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝘀𝗮𝘆𝘂. 𝗧𝗮𝘁𝗮𝗽𝗮𝗻𝗻𝘆𝗮 𝘁𝗲𝗿𝘀𝗶𝗿𝗮𝘁 𝗯𝘂𝗮𝘁 𝗺𝗶𝗻𝘁𝗮 𝗱𝗶𝘀𝗮𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗯𝗮𝗻𝗴𝗲𝘁, 𝗺𝗲𝗻𝗲𝗻𝗮𝗻𝗴𝗸𝗮𝗻 𝗱𝗮𝗻 𝗯𝗶𝗸𝗶𝗻 𝗵𝗮𝘁𝗶 𝗮𝗱𝗲𝗺. 𝗡𝗴𝗴𝗮𝗸 𝗷𝗮𝘂𝗵 𝗯𝗲𝗱𝗮 𝗷𝘂𝗴𝗮 𝗮𝗿𝘁𝗶𝗻𝘆𝗮 𝘀𝗮𝗺𝗮 𝗱𝗲𝗳𝗶𝗻𝗶𝘀𝗶 𝗽𝘂𝗽𝗽𝘆-𝗳𝗮𝗰𝗲.
"Oke,mau kemana?!"tanya Satria.
"Muter-muter dulu Kak, sambil nyari tempat yang enak,"jawab Dinara.
"Ya sudah, tapi pulangnya jangan terlalu malam.Udah, ganti baju sana gih!!" perintah Satria.
Dengan semangat empat lima Dinara pun bergegas mengganti bajunya.
Dinara memilih baju yang sama untuk mereka berdua.Celana Levis yang sobek di bagian lutut,kaos oblong dan jaket Levis dengan warna senada.Satria pun tidak menolak memakai pakaian yang dipilihkan oleh istrinya.Setelah selesai bersiap-siap Satria dan Dinara pun pergi dengan mengendarai motor.
"Kak,ke kafe itu yuk!! Kayaknya ramai dech!!"pinta Dinara setelah agak lama mereka melaju di atas aspal.
Satria tidak menjawab, tapi berbelok menuju kafe yang ditunjukkan Dinara.
Setelah memarkirkan motor mereka pun masuk ke kafe.
"Duduk disebelah sana kayaknya asik dech Kak!!"ucap Dinara menarik lengan Satria kearah yang diinginkannya.
Tak lama mereka duduk, seorang pelayan pun menghampiri mereka,"Mau pesan apa mbak,mas?!"tanya pelayanan tersebut.
"Aku persen kelapa isi,mie item dan air mineral.Kakak persen apa?!"tanya Dinara.
"Ayam geprek, jus jeruk dan air mineral.Sya, Kakak angkat telepon dulu ya?!"kata Satria saat melihat ada panggilan masuk di handphone nya.
"Iya Kak,"sahut Dinara.
Satria melangkah keluar kafe,sedangkan Dinara memainkan handphone nya untuk membuang jenuh.
"Eh Do, bukannya itu Dinara,ya?!tanya Didi pada Aldo saat mereka baru memasuki kafe.
__ADS_1
Aldo mengikuti arah pandang dan telunjuk Didi dan benar saja,Aldo melihat Dinara di sana sedang asyik dengan ponselnya.
"Ayo kita samperin,"ucap Aldo antusias,dan Didi pun mengikutinya.
"Hey, Din!! Kalau tau Lo bakalan kesini mending bareng aja tadi,"ucap Aldo.
"Oh, kalian ada disini juga?!"tanya Dinara, memandang mereka sekilas.
"Udah pesan Din?!"tanya Aldo lagi.
"Udah," jawab Dinara masih asyik dengan ponselnya.
"Mbak,pesan dong!!"seru Didi pada seorang pelayan.
"Eh, kalian mau duduk di sini?!"tanya Dinara.
"Iya, boleh kan?!"tanya Aldo.
"Kalian cari meja lain aja,gue disini sama laki gue,"ucap Dinara.
Didi dan Aldo tergelak mendengar ucapan Dinara.
"Jadi pesan nggak mas?!"tanya pelayan yang sudah menunggu.
"Jadi,"sahut Didi lalu mengatakan pesanannya begitu pula Aldo.
"Kalian ini ngerti nggak sich!!Gue bilang cari meja lain,"ketus Dinara.
"Kita pengen lihat yang mana laki elo,"ucap Didi seolah meremehkan.
Satria yang kembali memasuki kafe pun melihat istrinya duduk dengan dua pria dengan wajah cemberut.
"Sayang,"ucap Satria saat sudah berada didekat Dinara lalu mengelus kepala istrinya itu.Sengaja Satria memanggil Dinara dengan kata sayang karena ada dua pria asing didepannya.
Seketika Didi dan Aldo pun menatap Satria yang sedang mengelus rambut Dinara itu.Pria tampan yang lebih dewasa dari mereka, tubuh tinggi, tegap dan nampak atletis dengan pakaian yang teryata senada dengan pakaian Dinara.
"Kakak kok lama banget sich?!"sahut Dinara yang tadinya senang karena dipanggil sayang oleh suaminya,tapi jadi cemberut saat mengingat suaminya terlalu lama meninggalkan dirinya.
"Maaf,"sahut Satria kemudian mengecup puncak kepala Dinara.
"Hai Kak," ucap Didi dan Aldo bersamaan,merasa canggung.Mengingat pria itulah yang menggagalkan rencana penculikan mereka waktu itu.
"Kalian teman Dinara yang tadi siang kan?!"tanya Satria.
"Iya Kak,"jawab mereka bersamaan.
"Maaf, permisi,"ucap pelayanan yang membawa makanan pesanan mereka.
Akhirnya mereka pun makan bersama dalam satu meja.Didi dan Aldo nampak terkejut melihat Dinara yang nampak manja dan cerewet saat berinteraksi dengan pria di depan mereka itu.
Setau mereka Dinara itu gadis yang cuek,datar dan tidak banyak bicara tapi kali ini mereka melihat sisi lain dari Dinara.Dinars nampak sibuk dengan pria yang dia kenalkan sebagai suaminya itu tanpa menghiraukan Didi dan Aldo.
"Kak, habis ini mau kemana?!"tanya Dinara.
"Terserah kamu,"jawab Satria.
"Ya udah,kita muter-muter aja yuk Kak?!"kata Dinara.
"Oke,"jawab Satria.
"Di,Do,kami duluan!!"ucap Dinara.
"Iya,"jawab Didi dan Aldo.
"Dinara beda ya kalau sama tuh cowok,"ucap Didi saat Dinara dan Satria sudah pergi.
"Apa benar itu pacarnya?!"
"Mungkin iya, soalnya Dinara manja banget sama dia.Kalau kakaknya wajahnya pasti kan ada mirip-miripnya, yang ini nggak mirip sama sekali,"ucap Didi.
"Tapi pas dia merebut Dinara kemarin dia ngaku sebagai kakaknya kan Di?!"tanya Aldo.
"Iya juga sich, tapi kata Dinara itu kan cowoknya,malah bilang lakinya lagi.Dari postur tubuh dan ketampanan elo emang kalah dari pria itu, Do,"sahut Didi membandingkan.
"Sialan Lo!!"hardik Aldo lalu bangkit dari duduknya.
__ADS_1
"Eh,kemana Lo?!"tanya Didi.
"Cabut!!"kata Aldo sebal karena dibilang kalah postur tubuh dan ketampanan, walaupun kenyataannya memang benar tapi Aldo merasa tersinggung.
"Yah, ngambek nih kayaknya.Tapi kan yang gue bilang emang benar,"ujar Didi mengikuti Aldo.
Malam Minggu yang tidak terlalu cerah.Satria dan Dinara masih asyik berkeliling,saat tiba-tiba angin berhembus kencang dan langit menjadi gelap.
Satria dan Dinara yang sedang melaju diatas aspal pun diguyur hujan yang turun dengan lebat tanpa sempat berteduh karena posisi mereka yang saat itu jauh dari pemukiman penduduk.Akhirnya merekapun menerobos lebatnya hujan.
"Sya, langsung pulang aja ya?! Nggak ada tempat berteduh juga nih,"kata Satria dengan suara yang dikeraskan karena derasnya hujan membuat berisik.
"Iya Kak, udah kepalang basah juga,"balas Dinara.
Satu jam kemudian Satria dan Dinara sampai di rumah Satria,"Kamu mandilah di kamar,"kata Satria.
"Iya Kak,"sahut Dinara langsung masuk kedalam kamar mandi yang ada di kamar Satria.Sedangkan Satria mandi di kamar lain.
"Ceklek,"Dinara membuka kamar mandi.
"Eh, gelang jam pemberian Kak Satria tadi aku taruh dimana ya?!"gumam Dinara masuk lagi kedalam kamar mandi mencari gelang jamnya.
Tok, tok...Sya?!"seru Satria dari luar kamar.Takut kejadian tak sengaja melihat Dinara setengah polos terjadi lagi.
"Masih di kamar mandi Kak!"seru Dinara dari dalam kamar mandi.
"Kakak masuk kedalam ya?!"tanya Satria.
"Iya, Kak,"sahut Dinara yang masih mencari gelang jamnya.
Satria pun masuk kedalam kamarnya dan tidak melihat Dinara.Akhirnya Satria pun
mengambil celana boxernya dan memakainya.Setelah itu Satria pun memilih baju yang ?akan dia pakai.
Dinara yang keluar dari kamar mandi melihat Satria masih bertelanjang dada pun diam-diam mendekatinya.
"Grep," Dinara yang hanya memakai bathrobe tiba-tiba memeluk Satria dari belakang.
"Deg,"Tubuh Satria membeku,ada dua benda kenyal di punggungnya serta kulit halus yang menempel diperutnya membuat tubuh Satria meremang.
"Sya, jangan seperti ini,"ucap Satria dengan suara berat.
"Dingin Kak,"sahut Dinara semakin mengeratkan pelukannya.
"Kakak ingin memakai baju Sya,"ujar Satria berusaha mengontrol diri.
"Kakak ingat saat kita di hotel?!Aku cemburu melihat tubuh Kakak dilihat para polwan itu,"ucap Dinara yang kini tangannya malah meraba perut dan dada Satria merasakan otot-otot di tubuh suaminya.
"Sya,"panggil Satria dengan suara berat, memejamkan matanya, langsung memegang tangan Dinara agar tangan itu berhenti meraba perut dan dadanya.Perlahan Satria menjauhkan tangan Dinara dari tubuhnya.
Diluar dugaan Satria,Dinara malah berpindah tempat didepannya dan langsung memeluknya lagi.
"Sya, pakai baju dulu ya?"ucap Satria membujuk Dinara.Dinara mendongakkan kepalanya menatap wajah suaminya yang menunduk menatapnya. Dinara berjinjit lalu meraih tengkuk suaminya dan
perlahan menempelkan bibirnya di bibir Satria.
Untuk beberapa saat bibir mereka pun saling menempel, namun saat Dinara ingin menjauhkan bibirnya dari bibir Satria, tiba-tiba Satria malah menautkan bibirnya dengan bibir Dinara.
Satria yang sejak tadi menahan hasratnya pun sudah tidak bisa lagi mengendalikan diri.
Ibarat singa yang lapar,mana mungkin akan diam saja saat ada seekor kelinci yang menari didepan matanya.
Satria seolah sudah kehilangan akal merasakan sesuatu yang tidak pernah dirasakannya.Jiwa kelaki-lakian nya meronta.Setelah melepaskan tautannya,dengan sekali sentakan Satria mengangkat tubuh istrinya itu keatas ranjang kemudian mengungkungnya.
Dengan nafas memburu dibelainya wajah istrinya dan Dinara yang agresif pun tidak melewatkan kesempatan itu untuk menyentuh dada dan perut sixpack Satria hingga untuk beberapa saat Satria memejamkan mata kemudian memegang kedua tangan istrinya disamping kanan dan kiri kepala istrinya.
Satria memiringkan kepalanya kemudian melahap bibir Dinara.Semakin lama tubuh mereka semakin panas dan ciuman itupun semakin menuntut hingga...
"Brakk!!Breengsek!!Bajing*n!!!"
🌟 Lebih mudah menahan hawa dingin dari pada menahan hawa nafsu.🌟
..."Author"...
To be continued
__ADS_1