Mencintai Tanpa Melihat

Mencintai Tanpa Melihat
Episode 47 Aparat Gabungan


__ADS_3

Satria baru saja memarkirkan motornya, diparkiran kafe favoritnya.


"Eh, itu sepertinya Dinara.Apa yang terjadi padanya?!Dan siapa pemuda yang mengendong dia?!"batin Satria yang tidak sengaja melihat Dinara digendong oleh seorang pemuda.


Karena penasaran Satria pun mengikuti pemuda itu diam-diam.


Di, cepat buka pintu mobilnya,"ucap pemuda itu pada temannya saat sudah dekat dengan mobilnya.


"Eh, kenapa tuh cewek Do,"tanya pemuda yang ada dalam mobil.


"Udah, cepetan buka,"balas pemuda yang mengendong Dinara.


"Mau kamu bawa kemana Dinara?!"tanya Satria pada pemuda itu.Satria curiga dengan gerak-gerik dua pemuda yang memakai masker itu.


"Siapa Lo?!"tanya Aldo balik.


"Serahin Dinara ke gue,"kata Satria berusaha mengambil alih Dinara dari gendongan Aldo.


"Eh ,enak aja emang Lo siapa,"sergah Aldo mempertahankan Dinara.


"Gue kakaknya, kalau Lo macem-macem sama Dinara,gue habisin Lo!!"bentak Satria langsung merebut Dinara dari Aldo.


"Cabut,"kata Aldo pada Didi dan mereka pun segera pergi dari tempat itu.


"Ah,sial!! Gagal dech rencana gue.Padahal dikit lagi berhasil,"gerutu Aldo di dalam mobil yang dikendarainya.


"Tadi itu Lo apain si Dinara sampai dia pingsan begitu?!"tanya Didi pada Aldo.


"Gue kasih obat tidur,"jawab Aldo.


"What?!Kenapa Lo kasih obat tidur?!"tanya Didi.


"Mau gue tiduri.Gue kesel sama tuh cewek yang berani nolak gue,"sahut Aldo.


"What?!Lo gila Do?!"tanya Didi tidak percaya.


"Iya,gue sudah gila.Seumur hidup gue,baru cewek itu yang berani'menolak gue,"jelas Aldo membuat Didi geleng-geleng kepala.


Di depan kafe.


"Din,Din, bangun Din!"seru Satria,"Bagaimana ini?!Dia pingsan lagi,gue bawa ke rumah sakit aja dech,"gumam Satria mendudukkan Dinara di atas motornya sambil berdiri memeluknya lalu merogoh handphone nya untuk memesan taksi online.Tapi belum sempat Satria memesan taksi online handphone nya berbunyi.


"Halo,ada apa Pak Riswan?"sahut Satria menempelkan handphone nya di telinga.


"Halo Tuan, bisakah kita bertemu sekarang Tuan?!"tanya Riswan.


Satria melirik Dinara yang ada dalam pelukannya sekilas,"Memangnya ada apa, Pak? Bukankah kita akan bertemu besok di kantor?!"tanya Satria.


"Iya Tuan,tapi jika Tuan berkenan saya akan menyerahkan berkas-berkas yang Tuan minta itu sekarang karena saya harus segera kembali ke kota B.Putra saya baru saja mengalami kecelakaan dan sekarang sedang dioperasi,saya sangat mengkhawatirkan nya Tuan,"jawab Riswan.


"Oh, begitu.Baiklah, sekarang Bapak ada di mana?!"tanya Satria.


"Di hotel xx, Tuan,"jawab Riswan.


"Rumah sakit kan melewati hotel itu.Ya sudah,aku check in aja dulu untuk Dinara setelah itu baru membawanya ke rumah sakit,"batin Satria.


"Oke, tunggu saja saya di restoran hotel itu, Pak,"sahut Satria.


"Baik, Tuan,"sahut Riswan.


Setelah mengakhiri panggilan dengan Riswan, Satria langsung memesan taksi online menuju hotel tempat Pak Riswan.


Didalam kafe.


"Huh, tubuh gue lemas banget.Kenapa gue jadi mules kayak gini ya?Gue tuh kayak minum obat pencuci perut.Sudah lama gue di toilet ini.Pasti Dinara bakalan ngamuk sama gue,"batin Lina kemudian keluar dari toilet dengan tubuh lemas.


"Lho, Dinara mana sih?!Kok nggak ada?!gumam Lina setelah kembali ke meja tempat dia dan Dinara duduk tadi.

__ADS_1


"Permisi kak,lihat cewek yang duduk dengan saya tadi nggak?!"tanya Lina pada seorang pelayan.


"Cewek yang rambutnya panjang sepinggang?!"tanya pelayanan itu.


"Iya kak,"sahut Lina.


"Dia tadi pingsan,lalu di bawa seorang pria yang memakai masker, katanya mau di bawa ke rumah sakit,"jawab pelayan tersebut.


"Hah, pingsan?!Dibawa pria yang memakai masker?!"tanya Lina kaget.


Lina melihat tas selempang miliknya dan juga tas selempang milik Dinara masih ada di meja tempat mereka duduk.


"Iya, nona.Tadi sudah hampir saya kejar, tapi tidak jadi karena saya dipanggil pelanggan,"ucap pelayanan itu.


"Aduh, gimana ini?!Kayaknya ada yang nggak beres.Dinara tiba-tiba pingsan dibawa pria bermasker dan gue tiba-tiba sakit perut.Gue harus bagaimana ini?!Oke, positif thinking aja,gue cari Dinara ke rumah sakit atau klinik terdekat aja,"gumam Lina.


"Terimakasih,kak,"ucap Lina pada pelayanan tersebut lalu Lina meninggalkan kafe itu membawa tas Dinara kemudian mencari Dinara ke rumah sakit dan klinik disekitar kafe itu. Lina sudah keluar masuk klinik dan rumah sakit tapi tidak bisa menemukan Dinara.Akhirnya Lina pulang dengan perasaan gelisah.


Di hotel xx, setelah check in Satria langsung membaringkan Dinara dalam kamar yang dipesannya kemudian menemui Riswan di restoran hotel tersebut.


"Selamat malam,Pak.Maaf harus menunggu lama,"sapa Satria pada Riswan,sambil menjabat tangan Riswan.


"Tidak apa-apa, Tuan.Saya lah yang seharusnya meminta maaf karena sudah merepotkan Tuan malam-malam begini,"ucap Riswan tak enak hati.


"Tidak apa-apa, Pak.Langsung saja agar Bapak tidak semakin kemalaman di jalan,"ucap Satria.


"Baik, Tuan,"sahut Riswan kemudian memberikan beberapa berkas yang harus diteliti dan di tanda tangani Satria dan membahas beberapa hal tentang perusahaan cabang Sanjaya company yang dipegang Riswan.


"Oke,ini berkas-berkas yang bisa Bapak bawa kembali dan yang ini akan saya bawa ke perusahaan pusat.Penjelasan Bapak sudah cukup gamblang, nanti jika ada apa-apa Bapak bisa menghubungi saya.Ini sudah jam satu malam, Bapak yakin mau pulang sekarang,"tanya Satria.


"Iya Tuan,saya sangat mengkhawatirkan putra saya,"jawab Riswan.


"Ya sudah, Bapak hati-hati di jalan,dan semoga putra anda cepat sembuh,"ucap Satria.


"Terimakasih banyak Tuan,saya permisi,"balas Riswan sambil menjabat tangan Satria kemudian pergi.


"Syukurlah aku bisa pulang malam ini, harusnya aku memberi laporan besok pagi tapi karena kebaikan Tuan Satria aku bisa memberikan laporan diluar jam kerja,dan bisa segera pulang,'


"Aku harus kembali ke kamar hotel dan membawa Dinara ke rumah sakit.Dia sudah sadar apa belum ya??Aku harus cepat kembali ke kamar itu,jika Dinara sadar,dia akan kebingungan nanti,"batin Satria lalu bergegas ke kamar tempat dia membaringkan Dinara.


"Brakk,"karena terburu-buru Satria tidak sengaja menabrak pelayanan yang sedang membawa makanan dan minuman sehingga membuat baju dan celana jeans yang dipakai Satria kotor.


"Maaf, Tuan.Maafkan saya,saya tidak sengaja Tuan,"ucap pelayan yang menabrak Satria dengan wajah pucat karena ketakutan.


"Tidak apa-apa,cuma pakaian saya saja yang kotor, yang penting berkas-berkas dan juga laptop saya tidak terkena makanan dan minuman ini,"ucap Satria karena dia juga merasa bersalah karena membalikkan badannya tiba-tiba sehingga menabrak pelayanan itu.


"Saya akan membersihkan baju, Tuan,"ucap pelayanan tersebut.


"Tidak perlu,saya bisa membersihkannya sendiri,"ucap Satria.


"Sekali lagi saya minta maaf Tuan,"ucap pelayan tersebut.


"It's oke,"ucap Satria melambaikan tangannya kemudian pergi.


"Untung dia orang baik, kalau pelanggan lain pasti sudah marah-marah dan bisa dipastikan aku akan dipecat.Semoga Tuan itu mendapatkan jodoh gadis yang baik juga.Amiinn,"batin pelayan itu.


Sesampainya di kamar hotel,"Belum sadar juga bocah itu,,dia seperti putri tidur.Aku harus segera membawanya ke rumah sakit,tapi aku harus membersihkan pakaianku dulu."gumam Satria kemudian masuk ke kamar mandi.


'Ish, bajuku tidak bisa dibersihkan dan nampaknya aku harus mandi untuk membersihkan tubuhku.Aku akan menyuruh seseorang untuk membawakan aku baju,"gumam Satria lagi kemudian menghubungi seseorang agar mengantarkan baju untuknya.


Ketika Satria hampir selesai mandi tiba-tiba pintu kamar hotel yang dia tempati digedor-gedor.


"Siapa yang mengendor pintu hotel seperti itu,"batin Satria.


Satria pun segera menyelesaikan mandinya lalu menyambar handuk untuk menutupi tubuhnya tanpa mengeringkan tubuhnya terlebih dahulu karena suara pintu yang digedor semakin kuat.


Dinara yang mendengar suara berisik itupun mulai terbangun dari tidurnya.

__ADS_1


"Ceklek,"Satria membuka pintu.


"Ada apa ini Pak?"tanya Satria yang terkejut melihat ada aparat gabungan yang ada didepannya.


"Kami mendapatkan laporan ada penyelundupan narkoba di hotel ini.Jadi kami akan menggeledah kamar ini,"ucap seorang polisi, yang nampak curiga dengan keadaan Satria.


Satria yang tubuhnya hanya tertutup handuk dari pinggang sampai lutut dengan tubuh yang masih basah membuat aparat gabungan yang berjenis kelamin perempuan gagal fokus melihat pemuda tampan dengan rambut basah,tubuh atletis,dan perut sixpack itu.


"Kepalaku pusing sekali.Dimana ini?!"ucap Dinara yang baru bangun dan tidurnya, membuat semua mata tertuju padanya.


"Siapa gadis yang ada di atas ranjang itu,"tanya seorang polisi yang semakin curiga pada Satria,sedangkan yang lainnya sudah mulai menggeledah kamar itu.


"Dia adik saya, Pak,"jawab Satria berusaha tenang.


"Kamu baik-baik saja?!"tanya seorang polwan pada Dinara.


"Kepala saya pusing sekali,"ucap Dinara yang bingung dengan keadaan di sekitarnya.


"Tunjukkan kartu identitas anda dan juga adik anda,"ucap polisi itu tadi.


Satria pun menunjukkan kartu identitasnya tapi tidak dapat menunjukkan kartu identitas Dinara.


"Kenapa kepala kamu pusing?!"tanya polwan itu lagi.


"Sa..saya tidak tahu Bu, tadi saya ada di kafe tapi tiba-tiba sangat mengantuk dan kepala saya pusing terus saat terbangun sudah ada di sini,"jelas Dinara yang berkata jujur karena takut melihat banyaknya polisi ditempat itu.


"Kamu mengenal pria itu?!"tanya sang polwan menunjuk pada Satria.


Dinara yang dari tadi masih kebingungan dengan keadaan disekitarnya terkejut melihat Satria.Sama seperti para perempuan yang ada di ruangan itu, Dinara juga gagal fokus.


"Kamu mengenalnya?!"tanya polwan itu lagi.


"Di...dia kak Satria,"jawab Dinara gagap kemudian menundukkan wajahnya karena malu kepergok Satria saat dia terpana melihat tubuh Satria.


"Pak ,saya permisi dulu untuk menutupi tubuh saya,"ijin Satria pada polisi didepannya itu, karena merasa tidak nyaman tubuhnya menjadi tontonan perempuan yang ada di kamar itu.


"Silahkan,"ucap polisi itu.


Karena pakaiannya kotor akhirnya Satria memakai bathrobe untuk menutupi tubuhnya.


"Apa kalian saudara?!"tanya sang polwan.


"Bukan,"jawab Dinara jujur.


"Mampus aku!"batin Satria saat mendengar jawaban Dinara.


"Karena anda tidak dapat menunjukkan identitas gadis itu dan kalian juga bukan saudara tapi menginap di kamar yang sama,maka kalian harus ikut kami ke kantor,"ucap seorang polisi.


"Bolehkah saya menghubungi seseorang untuk membawakan saya baju,"tanya Satria.


"Silahkan, suruh untuk mengantarkan ke kantor saja yang beralamat di jalan xx,"sahut polisi tersebut.


"Terimakasih,"ucap Satria.


Dengan pasrah akhirnya Satria dan Dinara dibawa dengan mobil terbuka bersama beberapa orang pasangan tidak halal serta penyelundup dan pengguna narkoba.


"Kalian berdua tidur sekamar tanpa ikatan suami-istri,silahkan hubungi orang tua kalian masing-masing,"ucap seorang polisi pada Satria dan Dinara saat mereka sudah sampai di kantor polisi.


"Saya, yatim piatu,"ucap Satria yang membuat Dinara langsung menoleh melihat Satria.


"Kamu?!"tanya pak polisi pada Dinara.


"Orang tua saya sedang berobat keluar negeri,"sahut Dinara.


"Jadi siapa yang akan menjemput dan bertanggung jawab untuk perbuatan kalian?!"tanya polisi itu.


Satria dan Dinara sama-sama menggelengkan kepala.

__ADS_1


"Jadi tidak ada yang menjemput dan bertanggung jawab untuk kalian?!Dari pada nanti kalian berbuat zinah lagi, akan lebih baik jika kalian berdua menikah saja,"ucap polisi itu.


To be continued


__ADS_2