
"Tuan Tirta,saya rasa putra saya akan menyukai putri anda,"ucap Akbar setelah Dinara pergi.
"Putri saya masih sekolah, nanti saja kita bicarakan ini.Jika memang anak-anak saling menyukai saya akan mendukung.Tapi jika mereka tidak setuju,saya tidak akan memaksa,"ujar Tirta.
"Anak-anak biasanya pada awalnya saja tidak suka, nanti kalau sudah menikah dan tinggal bersama pasti akan saling jatuh cinta.Saya sangat berharap kita bisa menjadi besan,"ujar Akbar.
"Kita pertemukan saja mereka lebih dulu,baru nanti kita bicarakan bagaimana kelanjutannya,"ujar Tirta.
"Baiklah, setelah putri anda lulus sekolah kita akan membicarakannya lagi,"ucap Akbar.
Sementara itu Satria menunggu Dinara didekat lift terlihat sibuk dengan handphone nya.Tak lama Dinara pun datang dan Satria pun masuk kedalam lift disusul Dinara.
"Kak,"panggil Dinara langsung memeluk Satria saat pintu lift sudah tertutup.
"Jangan seperti ini Sya, Kakak takut ada orang yang masuk nanti,"ucap Satria melepaskan pelukan Dinara.Kemudian Satria langsung menekan tombol ke lantai sembilan belas.
"Kakak tidak rindu padaku?" tanya Dinara dengan wajah sendu menatap Satria yang dari tadi nampak asyik dengan handphonenya, seolah tidak memperdulikan dirinya.
"Bersikaplah biasa,disini banyak bodyguard papamu yang berjaga,"ucap Satria,masih mengotak-atik handphonenya untuk meretas cctv agar tidak ada yang tahu jika Dinara pergi bersamanya.
Dinara pun akhirnya diam sampai mereka tiba dilantai sembilan belas, mengikuti Satria memasuki sebuah kamar hotel dengan wajah yang cemberut kemudian duduk di sebuah sofa.
Satria tadi pergi sebentar dari pesta resepsi pernikahan Bayu untuk memesan kamar hotel agar bisa melepas rindu dengan Dinara kemudian kembali lagi untuk menjemput Dinara.
Dengan menggunakan jasa seorang pelayan karena sudah puluhan kali Satria menelpon dan mengirim pesan tapi tidak ada jawaban dari Dinara.
Satria tahu kalau keluarga Dinara menginap di lantai dua puluh dari Dinara.Jadi Satria memesan kamar yang ada di lantai sembilan belas.Hanya cara seperti itu yang bisa dilakukan Satria agar bisa berduaan melepas rindu dengan Dinara.
"Kenapa wajahmu cemberut seperti itu hemm?"tanya Satria menghampiri Dinara setelah mengunci pintu kamar mereka.
"Ada apa Kakak membawaku kemari?"tanya Dinara ketus.
"Tentu saja karena Kakak merindukanmu,"ucap Satria lalu memeluk Dinara namun langsung dilepaskan Dinara,"Kenapa?Kamu tidak rindu pada Kakak?"tanya Satria.
"Kakak yang tidak rindu padaku,bahkan aku peluk pun tidak mau,"ucap Dinara bersungut-sungut.
"Kakak bukannya tidak mau kamu peluk, Kakak takut para bodyguard papamu ada yang melihat kita,"ucap Satria lembut.
"Bohong!! Mana ada yang lihat kalau didalam lift.Kakak tidak merindukan aku, Kakak terlalu sibuk dengan para wanita cantik yang mengelilingi Kakak,"ucap Dinara mulai menangis, merasa kesal saat mengingat di resepsi pernikahan Bayu tadi Satria selalu dikelilingi oleh banyak wanita cantik yang nampak mencari perhatian pada Satria.
Belum lagi saat Dinara tahu kalau dirinya akan dijodohkan dengan seorang dokter dan terakhir saat Satria menolak untuk dipeluknya,membuat mood Dinara benar-benar hancur.
Satria berusaha menghapus air mata Dinara tapi tangan Satria langsung ditepis oleh Dinara.Kemudian mengelus rambut Dinara tapi juga langsung di tepis Dinara, membuat Satria menghembuskan nafas berat.
"Baiklah jika kamu tidak percaya sama Kakak dan tidak ingin Kakak sentuh, sebaiknya kamu kembali ke kamarmu.Ayo Kakak antar!"ucap Satria lalu bangkit dari duduknya.
"Kakak jahat, jahat hiks....hiks..."pekik Dinara sambil menangis memukuli dada Satria.
Satria kemudian memegang kedua tangan Dinara lalu mencium bibir Dinara.Dinara sempat terkejut dengan aksi Satria dan setelah sadar langsung memalingkan wajahnya sehingga ciuman mereka terlepas.
"Kenapa?Kamu juga tidak mau Kakak cium?"tanya Satria dengan wajah yang kecewa.
"Selama ini hanya aku yang mencintai Kakak,tapi Kakak tidak mencintaiku.Selama ini selalu aku yang menelpon Kakak lebih dulu,aku yang mengungkapkan cinta lebih dulu,aku yang memeluk Kakak lebih dulu dan Kakak hanya membalasnya saja,"
"Aku yang menginginkan Kakak tapi Kakak tidak menginginkan aku,"ucap Dinara menatap wajah Satria dengan berlinang air mata.
"Kak!!!"pekik Dinara saat tiba-tiba Satria mengangkat tubuhnya,"Turunkan aku Kak!!"pekik Dinara meronta-ronta namun tidak dihiraukan oleh Satria.
"Kamu bilang aku tidak menginginkan kamu?"tanya Satria lalu membaringkan Dinara di atas ranjang dan langsung menindih tubuh Dinara, memegang kedua tangan Dinara lalu mencium bibir Dinara.
Dinara terus meronta dan menolak saat Satria menciumnya.
"Jika kamu menolak Kakak sentuh, mulai saat ini Kakak tidak akan menyentuhmu lagi,"ucap Satria yang kesal pada Dinara karena ingin melepas rindu tapi Dinara malah uring-uringan nggak jelas.
__ADS_1
Dan selalu menolak jika dia menyentuhnya.Satria kemudian melepaskan tangan Dinara dan berusaha bangkit dari tubuh Dinara yang ditindihnya.
"Tidak!! Maafkan aku,aku mencintai Kakak hiks...hiks..."ucap Dinara disela-sela tangisnya,langsung memeluk Satria hingga Satria hampir menimpa tubuh Dinara jika Satria tidak menahan dengan kedua tangannya.
"Jangan menangis lagi,"ucap Satria merenggangkan pelukan Dinara kemudian menghapus air mata Dinara.
Di ciumnya kening Dinara degan lembut, kemudian kedua pipi dan terakhir bibir Dinara beberapa saat.
"Jangan lagi mengatakan kalau cuma kamu yang mencintai Kakak.Karena Kakak juga sangat mencintaimu,"ucap Satria mengusap bibir Dinara dengan ibu jarinya, kemudian mencium Dinara dengan lembut,menyesap bibir itu kemudian menerobos masuk menautkan lidah mereka dan ciuman itupun semakin panas saat Dinara membalasnya.
Mereka melepaskan tautan mereka dengan nafas yang tersengal.Satria kembali mencium Dinara, tanpa sadar tangan Dinara mengusap leher Satria, yang membuat gair*h Satria semakin terbakar.
Ciuman Satria pun turun ke leher Dinara, menjilat dan menyesap leher Dinara, meninggalkan jejak kepemilikan di sana, hingga tanpa disadari Dinara mendes*h membuat Satria semakin terbakar.
Helai demi helai benang yang menutupi tubuh mereka satu persatu pun terlepas.Ada yang teronggok dilantai dan ada pula yang teronggok di ranjang.Satria yang sudah tidak bisa menahan keinginannya pun mulai memposisikan miliknya untuk memasuki inti tubuh Dinara.
Sudah beberapa kali Satria menghujamkan miliknya tapi belum juga bisa menerobos masuk.Dinara mencengkeram punggung Satria menahan sakit di bagian intinya yang semakin menjadi saat Satria semakin menambah kekuatannya untuk membobol gawang Dinara.
"Kakak..!!!"pekik Dinara langsung menangis saat milik Satria benar-benar masuk dengan sempurna di intinya,tanpa sadar sudah mencakar punggung Satria.
"Sakit Kak,hiks..hiks..."ucap Dinara sambil terisak.
"Kakak akan pelan-pelan, mau ya? Please, Kakak pengen banget,"bujuk Satria dengan wajah memelas, sudah tidak bisa menahan keinginannya lagi.
"Tapi pelan-pelan yah?"mohon Dinara.
"Iya, Kakak janji,"ucap Satria kembali mencium bibir Dinara,menyesap leher Dinara,meremas, menyesap dan menjilati dua buah benda kenyal di dada Dinara bergantian hingga membuat Dinara mengeluarkan suara yang membuatnya semakin terbakar, kembali mengerakkan pinggulnya perlahan dan semakin lama semakin cepat hingga membuat ranjang mereka bergoyang.
Dinara yang tadinya merasa sakit semakin lama semakin merasakan nikmat yang luar biasa, hingga bibirnya beberapa kali meneriakkan nama Satria.
"Kak...ahh....kak Satria...ahhh... lebih cepat Kak..ahh...."racau Dinara membuat Satria semakin mempercepat gerakannya hingga akhirnya tubuh mereka sama-sama menegang dan mendapatkan pelepasan bersamaan.
"Terimakasih,"ucap Satria kemudian mengecup kening, pipi dan bibir Dinara, lalu membaringkan tubuhnya disamping Dinara, menarik selimut untuk menutupi tubuh polos mereka, memeluk tubuh Dinara dengan perasaan yang bahagia.
"Sya...ahh.."ucap Satria saat tangan Dinara yang agresif itu malah menyentuh miliknya yang masih berdiri hingga membuatnya semakin tegang.
"Kamu yang memancingnya,jangan salahkan Kakak ,"ucap Satria lalu memulai ronde kedua mereka.
Di kamar Bayu dan Kirana.
Kamar itu tampak romantis dengan cahaya lilin dan taburan bunga berbentuk hati di atas ranjang.
"Ki, bersihkan dirimu.Aku sudah menyiapkan air untuk berendam ,"ucap Bayu setelah beberapa saat mereka masuk kedalam kamar mereka.
"Iya mas,"sahut Kirana bangkit dari sofa kemudian masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Setelah Kirana selesai membersihkan diri, Bayu pun membersihkan diri.Saat Bayu keluar dari kamar mandi, Bayu melihat Kirana memijat kakinya.Bayu pun segera menghampiri Kirana.
"Sini,biar aku yang pijit,"ucap Bayu mulai memijit kaki Kirana,"Apa bayi kita baik-baik saja?"tanya Bayu mengelus perut Kirana sebentar kemudian kembali memijit kaki Kirana.
"Dia baik-baik saja Mas, cuma aku sekarang lapar,"ucap Kirana sambil nyengir kuda.
"Kamu ingin makan apa?"tanya Bayu mengelus rambut Kirana.
"Apa saja Mas,tapi aku ingin ada buah-buahan untuk cuci mulutnya,"ucap Kirana.
"Ada lagi yang kamu inginkan?"tanya Bayu.
"Enggak Mas, itu saja,"jawab Kirana.
"Ya sudah biar Mas pesankan,"ucap Bayu.
Tak lama kemudian makanan yang dipesan Bayu pun datang.Dengan lahap Kirana menghabiskan makanannya sedang Bayu hanya makan sedikit saja.
__ADS_1
Setelah makan mereka duduk di balkon menatap langit yang bertaburan bintang.Bayu memeluk Kirana dari samping dan sesekali mengecup puncak kepala Kirana.
"Sudah malam,ayo istirahat,"ucap Bayu setelah setengah jam mereka duduk di balkon.
"Iya,"sahut Kirana.
Kirana dan Bayu pun membaringkan tubuh mereka setelah menyingkirkan semua kelopak bunga mawar yang bertaburan di atas ranjang.
Bayu memeluk Kirana yang berbaring berbantalkan lengan Bayu.
"Ki..."panggil Bayu.
"Emm..."sahut Kirana memejamkan matanya.
"Apa kamu lelah?"tanya Bayu.
Kirana mendongakkan kepalanya menatap wajah Bayu,"Jangan minta sekarang ya Mas,aku lelah sekali,"ucap Kirana yang mengerti maksud Bayu yang ingin meminta jatah darinya.
"Ya sudah, tidurlah!"ucap Bayu mengecup singkat bibir Kirana.
"Terimakasih,"ucap Kirana mengecup pipi Bayu kemudian mencari posisi nyaman di dalam pelukan Bayu untuk mengarungi mimpi.
Bayu hanya menghela nafas, memaklumi istrinya yang pasti capek karena acara tadi apalagi keadaan Kirana yang sedang mengandung.Bayu pun akhirnya menutup mata menyusul Kirana ke alam mimpi.
Pagi harinya Satria terbangun karena jam weker di handphone nya berbunyi nyaring.Satria sengaja mengaktifkan jam weker agar mereka tidak bangun kesiangan karena semalam mereka mengulangi percintaan panas mereka beberapa kali.
"Sya, bangun Sya!Kamu harus kembali ke kamarmu,"ucap Satria membangunkan Dinara.
"Aku masih ngantuk Kak,"ucap Dinara malah mengeratkan pelukannya pada Satria.
"Kamu mau papamu tahu kalau kamu menginap dengan Kakak?"tanya Satria membuat Dinara bangun dengan terpaksa.
"Auwh...!!"pekik Dinara saat berusaha bangun tapi bagian inti tubuhnya terasa sakit,"Kak, sakit!"keluh Dinara pada Satria.
"Mana yang sakit?Sini biar Kakak lihat,"ucap Satria tersenyum jahil.
"Kak,ini sakit beneran, jangan bercanda!"seru Dinara dengan wajah cemberut.
"Iya...iya.. maaf,ayo Kakak gendong,"ucap Satria kemudian menggendong Dinara.
Dinara tampak cemberut saat keluar dari kamar mandi dengan menggunakan bathrobe.
"Kenapa wajahmu ditekuk seperti itu?"tanya Satria.
"Kakak kenapa membuat banyak tanda di tubuhku,"tanya Dinara sebal mengingat betapa banyak tanda yang ditinggalkan Satria di tubuhnya saat bercermin di kamar mandi tadi.Dan yang membuat Dinara jengkel adalah tanda di lehernya.
"Kakak nggak sengaja.Jangan marah, lihat ini!"ucap Satria menunjukkan leher dada dan juga perutnya yang bertaburan tanda merah karena ulah Dinara.
"Ha??!"pekik Dinara saat melihat tubuh Satria, kemudian menunduk malu tak bisa lagi berkata-kata.
"Ini, pakailah baju ini,"ucap Satria menyerahkan paper bag pada Dinara.Kemudian berlalu pergi ke kamar mandi.
"Dari mana Kak Satria pagi-pagi begini sudah dapat baju,"gumam Dinara.
Beberapa menit kemudian Satria keluar dari kamar mandi dengan kaos oblong, celana dan jaket Levis.
"Kenapa semalam tidak mengangkat panggilan Kakak?"tanya Satria.
"Handphone ku ketinggian di kamar Kak,"jawab Dinara jujur karena kemarin Dinara langsung ditarik oleh Marwah keluar dari kamar hotelnya tanpa sempat membawa handphonenya.
"Ya sudah, kamu keluar duluan, Kakak belakangan agar tidak ketahuan,"ucap Satria kemudian mengecup bibir Dinara.
"Iya,"sahut Dinara kemudian kembali ke kamarnya.
__ADS_1
To be continued