
"Ach,shiittt!!"umpat Satria, tidak jadi mencium Dinara.
"Halo,"sahut Satria dengan malas menjawab telepon.
"Tuan, Tuan ada dimana?!"tanya sekretaris Satria.
"Saya hari ini tidak kekantor,batalkan semua jadwal saya hari ini,"kata Satria tegas.
"Baik Tuan,"ucap sang sekretaris,dan panggilan pun dimatikan.
"Huh sudah jam sepuluh,aku akan tidur dulu.Semalaman aku tidak tidur gara-gara bocah cilik ini.Jika aku lanjutkan yang tadi,aku takut kebablasan,"gumam Satria melirik Dinara sekilas lalu merebahkan tubuhnya disamping Dinara dan tak lama kemudian Satria pun terlelap.
Pukul empat sore Dinara nampak mengerjakan matanya.
"Emhh,jam berapa ini?!Perutku lapar sekali," batin Dinara.Saat membuka mata Dinara melihat Satria yang terlelap di depannya,"Ya Tuhaannn, ganteng sekali sich suamiku ini.Rasanya aku belum percaya kalau dia sudah menjadi suamiku,"batin Dinara memandangi wajah tampan suaminya.
"Aku ingin memeluk tubuhnya yang....ahh ya ampun aku tidak mengira jika dia mempunyai dada yang bidang dan perut yang sixpack,"batin Dinara saat mengingat betapa seksinya tubuh suaminya saat mereka di hotel semalam.
Perlahan Dinara mendekatkan tubuhnya pada tubuh Satria kemudian dengan perlahan menempelkan kepalanya di dada Satria lalu memeluk tubuh Satria menghirup aroma tubuh suaminya dengan senyum yang terukir di wajahnya, melupakan perutnya yang keroncongan.
"Emm,kenapa rasanya ada yang menimpa tubuhku,"batin Satria kemudian perlahan membuka matanya,"Dinara?!Ah bocah ini kenapa malah tidur di atas dadaku sich?"!
,"Karena keagresifan dia inilah aku mencoba menjauh darinya,aku takut khilaf kalau ada didekatnya.Dan lihatlah ini,dia sudah berani tidur di atas dadaku dan melukku.Astaga, sudah jam lima sore,pantesan cacing di perutku udah pada demo,"batin Satria.
"Din, Din, bangun Din,"panggil Satria berusaha membangunkan Dinara.
"Em,aku masih ngantuk kak,"sahut Dinara malah mengeratkan pelukannya.
"Sudah sore Din,apa kamu tidak lapar?!Ayo bangun,kita bersihkan diri dulu lalu makan,"ucap Satria perlahan duduk kemudian turun dari ranjang sehingga mau tidak mau Dinara melepaskan pelukannya.
"Kamu mandilah disini,kakak akan keluar sebentar.Kamu mau makan apa?!"tanya Satria.
"Terserah kakak,"ucap Dinara malas karena masih mengantuk.
Dinara berendam di bathtub untuk merilekskan tubuhnya.Tak terasa sudah hampir satu jam dia berendam hingga Satria memanggilnya.
"Tok..tok...tok..."
"Din,baju ganti kamu kakak gantung di handel pintu,"ucap Satria kemudian mengambil baju ganti di lemari dan mandi di kamar mandi di luar kamar.
"Iya kak,"sahut Dinara masih betah di dalam kamar mandi.
"Ceklek,"pintu kamar mandi itu terbuka sedikit lalu kepala Dinara menyembul dan mengambil paper bag di handel pintu.
"Bagus juga baju yang dibelikan kak Satria,eh dari mana dia tahu ukuran baju dan dalaman ku ?!"gumam Dinara.
Satria membelikan dress sebetis yang terlihat anggun.Kemudian Dinara pun keluar dari kamar mandi bersamaan dengan Satria yang masuk kedalam kamar.
"Cantik sekali,"batin Satria saat melihat Dinara memakai gaun yang dibelikannya.
"Ayo makan dulu,"ajak Satria mencoba bersikap biasa.
"Iya kak,"sahut Dinara lalu mengikuti Satria menuju meja makan.
Setelah makan Satria membawa Dinara keruang tamu.
"Din,nama papa kamu Tirta Sagara yang berprofesi sebagai pengacara itu?!"tanya Satria yang penasaran sejak akan dilaksanakan akad nikah tadi pagi.
"Iya kak,"sahut Dinara.
"Tamatlah riwayatku kalau sampai Pak Tirta tahu aku menikahi anaknya yang masih SMA.Mana mantan mafia lagi,dan Bayu?!Argh...bocah ini benar-benar membuatku dalam masalah,"batin Satria.
"Din,kakak akan menemui orang tuamu dan menjelaskan semuanya,"kata Satria memulai pembicaraan.
"Jangan kak,jangan!!Aku mohon jangan kasih tahu papa,aku masih sekolah.Aku takut mama-papa akan marah dan aku akan dikurung di rumah, apalagi kalau sampai dikirim keluar negeri.Aku nggak mau jauh dari kakak.Lagian mereka masih diluar negeri sedang berobat,"kata Dinara.
"Kenapa kamu ngeyel ingin menikah dengan kakak jika tahu kamu masih sekolah?!Sampai mengancam akan bunuh diri jika kakak tidak mau menikahi kamu.Dan sekarang kamu takut kena marah orang tuamu?! Mangkanya kalau melakukan apa-apa itu dipikirkan dulu, jangan menuruti hawa nafsu yang ujung-ujungnya akan menciptakan masalah baru,"ujar Satria.
"Maaf kak, habisnya kakak nolak cintaku mulu,malahan akhir-akhir ini seperti menghindari ku,"keluh Dinara.
"Karena kamu masih sekolah Din, kakak nggak mau sekolah kamu jadi terganggu karena kamu pacaran,"jelas Satria.
__ADS_1
"Jadi kakak juga cinta sama aku?!"tanya Dinara antusias.
"Siapa yang bilang?!"tanya Satria membuat wajah Dinara ditekuk.
"Jadi tidak apa-apa kan kalau aku tinggal di rumah orang tuaku?"tanya Dinara menundukkan kepala.
"Tentu saja tidak apa-apa,malah aku bersyukur jika kamu tinggal bersama orang tuamu.Aku sudah lama suka sama kamu dan aku takut tidak bisa menahan diri untuk tidak menyentuhmu jika aku terus bersamamu,apalagi dengan keagresifan kamu itu,"batin Satria yang tidak mungkin dia katakan pada Dinara.
"Ya, tidak apa-apa.Ya sudah,kakak akan mengantarkan kamu pulang.Tadi kamu bolos sekolah,besok kamu sekolah kan?!"tanya Satria.
"Iya,tapi Kak, manggil akunya jangan sama kayak orang lain dong.Panggil apa gitu,aku kan istri kakak,"kata Dinara dengan nada manja membuat Satria geregetan.
"Dinara Asyana, baiklah kakak akan panggil kamu Asya.Ini pegang lah untuk membeli kebutuhan kamu, gunakan dengan bijak.Kakak adalah suamimu, jadi kakak berkewajiban untuk menafkahi mu,dan ingat jangan bersikap serta bicara dengan nada manja seperti tadi dengan orang lain,"ucap Satria memberikan kartu ATM dan kartu kredit pada Dinara.
Terimakasih Kak,"sahut Dinara mengambil kartu yang diberikan oleh Satria dengan wajah berbinar-binar.
"Dengerin kakak, orang yang ingin menculik kamu kemarin itu, satunya di panggil Di dan satunya dipanggil Do.Apa kamu kenal dengan orang yang dipanggil dengan nama seperti itu?!"tanya Satria.
Dinara nampak berpikir sejenak,"Iya kak, satunya bernama Didi dan satu lagi namanya Aldo,"jawab Dinara.
"Apa kamu ada masalah dengan keduanya,"tanya Satria.
"Mereka berdua kayaknya sahabatan kak,dan anak yang bernama Aldo itu yang akhir-akhir ini ngejar-ngejar aku dan mengungkapkan cinta ke aku tapi aku tolak.Dia itu badboy dan juga playboy kak,, tapi aku nggak nyangka dia bakalan nekat mau nyulik aku,"sahut Dinara.
"Ya sudah,kamu hindari saja dia,soalnya kakak nggak punya cukup bukti buat laporin dia ke polisi,"kata Satria.
"Iya kak,"jawab Dinara.
"Oh ya, berapa nomor handphone kamu?!"tanya Satria.
"Kakak saja yang kasih nomor kakak ke aku.Soalnya sejak kejadian kemarin aku tidak tahu dimana handphone ku,"kata Dinara.
"Ya sudah,ini nomor handphone kakak dan nomor pin kartu kamu.Kalau handphone kamu hilang kamu gunakan saja kartu yang kakak kasih tadi buat beli.Ayo kakak antar pulang,"ucap Satria sambil menyodorkan secarik kertas yang bertuliskan nomor ponselnya dan nomor pin kartu kredit serta ATM.
"Iya kak,"sahut Dinara patuh.
"Oh ya,kamu berangkat sekolah naik apa?!"tanya Satria.
"Kalau begitu mulai besok biar kakak yang antar jemput kamu.Tapi kalau kakak nggak bisa jemput,kakak bakalan kasih tau kamu,"kata Satria.
"Iya kak,"jawab Dinara dengan wajah yang berbinar-binar.
"Ih, menggemaskan banget sich kamu, kalau nggak ingat kamu agresif sudah aku cium kamu.Sayangnya kamu itu seperti api,kalau aku siram bensin bisa kebakar aku,"batin Satria.
Keesokan harinya.
Dinara sudah keluar dari rumahnya bertepatan dengan Satria yang baru tiba di depan rumah itu.
"Sini, pakai helm dulu,'kata Satria lalu memasangkan helm di kepala Dinara.
Dengan senang hati Dinara naik ke motor sport Satria dan melingkarkan tangannya di perut Satria.
"Ah senangnya diantar ke sekolah sama pujaan hati,"batin Dinara.
"Ni bocah bener-bener agresif, nggak di suruh aja ni tangan udah melilit di perut. Belum lagi nich di punggung aku ada yang kenyal-kenyal nempel.Aku bener-bener harus ekxtra mengendalikan diri, kalau nggak, bisa-bisa aku terkam nich anak orang,"gumam Satria dalam hati.
Jantung Satria seperti habis maraton karena ulah Dinara yang begitu menempel di punggungnya. Bagaimana pun dia laki-laki normal yang akan terpancing jika terlalu intim dengan lawan jenis.
Setelah tiba di depan pintu gerbang sekolah,Dinara pun turun dan Satria pun melepaskan helm yang dipakai Dinara.
"Kak,"ucap Dinara menengadahkan tangannya.
Satria yang melihat Dinara menengadahkan tangan pun langsung mengambil dompetnya dan mengeluarkan uang berwarna merah dua lembar.
"Kok uang sich,kak!"seru Dinara.
"Lha,terus mau apa?!"tanya Satria.
"Salim,"kata Dinara.
"Oh,"ucap Satria lalu mengulurkan tangannya kemudian Dinara mengecupnya.
__ADS_1
"Kak, ini uangnya buat aku kan?!"tanya Dinara sambil nyengir kuda.
"Iya,eh sebentar,ini pakai ini.Jika kamu dalam keadaan darurat,kamu pencet tombol merah ini.Jam ini akan langsung terhubung dengan jam yang kakak pakai,"ucap Satria memakaikan jam tangan couple di tangan Dinara.
"Wah, bagus sekali kak, couple lagi,"ucap Dinara senang.
"Ya sudah, masuk sana,"kata Satria mengelus rambut Dinara.
"Iya,"sahut Dinara lalu masuk kedalam sekolah.
Diseberang terlihat Didi dan Aldo yang memperhatikan Dinara dan Satria.
"Siapa cowok yang bersama Dinara itu?!"gumam Aldo tapi masih terdengar oleh Didi.
"Nggak kelihatan mukanya Do, helmnya full face sich.Biasanya Dinara naik ojek,eh ini diantar cowok,mana kelihatan mesra lagi,"sahut Didi.
"Apa dia kakaknya Dinara ya?!Dia nganterin Dinara gara-gara kejadian malam itu.Kemarin Dinara kan nggak masuk sekolah,"ucap Aldo.
"Kalau bener itu cowok yang kemarin moga aja dia tidak mengenali kita,ya udah masuk yuk!!"ajak Didi pada Aldo.
"Din, itu tadi kak Satria?!"tanya Lina yang tiba-tiba muncul didepan Dinara.
"Astaga!!Lo ngagetin aja sich, Lin!!"seru Dinara.
"Beneran kan itu tadi kak, Satria?!"tanya Lina lagi.
"Iya,"jawab Dinara dengan wajah sumringah.
"Elo jadian sama dia?!Dan elo menghilang dari kafe kemarin karena pergi sama dia?!"tanya Lina penasaran.
"Iya,"jawab Dinara dengan senyum lebar.
"Huh,elo walaupun ngebet sama do'i, tapi ingat teman dong!?Main tinggal aja Lo?! Gue udah negatif thinking tau nggak sich?! Tiba-tiba Lo ngilang begitu aja,mana pelayanan di kafe bilang kalau elo pingsan dan dibawa pria yang pakai masker ke rumah sakit ,trus tas elo ditinggal begitu aja,"
"Gue khawatir banget tau sama elo, sampai-sampai gue keluar masuk klinik dan rumah sakit yang dekat dengan kafe buat nyari elo,terus pulangnya nggak bisa tidur gara-gara mikirin elo,"ujar Lina sambil bersungut-sungut.
"Sorry Lin,gue emang diculik orang Lin.Untung ada kak Satria yang nyelametin gue,kalau nggak ada kak Satria,gue nggak tahu lagi gimana nasib gue,"ucap Dinara berbisik pada Lina.
"What?!Are you serious?!"tanya Lina terkejut dan dijawab anggukan kepala oleh Dinara,"Siapa yang menculik elo?!"tanya Lina memelankan suaranya.
"Kayaknya Aldo sama Didi, karena kata kak Satria,mereka saling memanggil Do dan Di,cuma nggak ada bukti kalau itu mereka,"jawab Dinara berbisik pada Lina.
"Apa alasannya sampai mereka menculik elo?!"tanya Lina.
"Beberapa hari yang lalu, Aldo nembak gue tapi gue tolak,"jawab Dinara.
"What?! Seriusan?!"tanya Lina seolah tidak percaya.
"Serius,dua rius malah.Ya mana mungkin gue mau jadi pacar playboy macam dia.Lagian gue cintanya sama kak Satria,ikhlas gue jadi pacar dunia akhiratnya,"ujar Dinara senyam-senyum nggak jelas.
"Yeee ..mentang-mentang udah jadian.Ya udah,kita ke kelas yuk!Entar gue kasih tas sama handphone elo,"ucap Lina menarik tangan Dinara ke kelas.
"Makasih ya,udah mengkhawatirkan gue dan juga nyelametin tas sama handphone gue,"ucap Dinara.
"Ye ile,sama temen sendiri nggak usah kayak gitu, tapi sekarang elo harus hati-hati,"ucap Lina serius.
"Iya. Lin,ada yang nggak bisa gue ceritain sama elo,"ucap Dinara yang tiba-tiba berhenti.
"Soal apa?!"tanya Lina ikut berhenti.
"Ini soal gue sama kak Satria.Gue bukan nggak menganggap elo sahabat, apalagi tidak percaya sama elo tapi gue belum bisa cerita sama elo sekarang.Gue udah janji sama kak Satria.Gue bakalan ngerasa nggak enak kalau elo sampai denger dari orang lain,"
"Tapi gue bener-bener belum bisa cerita sekarang dengan berbagai macam alasan.Sorry ya,Lin,"ucap Dinara tak enak hati.
"Ya udah jangan dipikirin,elo boleh cerita kalau elo udah siap,"ucap Lina.
"Beneran Lin?! Makasih ya?!Kamu memang my best friend,"ucap Dinara memeluk Lina.
🌟 Mohon maaf jika ada kesamaan nama orang, watak, karakter atau tempat, semua itu hanya kebetulan semata, karena cerita ini hanya fiksi belaka.🙏🙏🙏🙏🙏🌟
To be continued
__ADS_1