Mencintai Tanpa Melihat

Mencintai Tanpa Melihat
Episode 78 Dua Lamaran


__ADS_3

Siang hari, Dinara terbangun dari tidurnya.Bertepatan dengan suara dering handphonenya.


"Halo, Kak,"sapa Dinara saat telepon tersambung.


"Halo,Sya.Ada apa kamu menghubungi kakak?"tanya Satria.


"Kak,papa marah besar.Papa ingin Kakak menemuinya paling lambat nanti malam,"kata Dinara.


"Kenapa?Apa yang terjadi?"tanya Satria penasaran.Keynan yang berada satu ruangan dengan Satria pun mengernyitkan keningnya saat melihat raut wajah Satria yang nampak khawatir.


"Papa marah padaku, karena.... karena..."


"Karena apa Sya? Katakanlah!!"sahut Satria tidak sabar.


"Karena papa tahu kalau a..aku..aku sedang mengandung Kak,"ucap Dinara gugup takut Satria marah.


Saat ini Dinara sangat bahagia karena sedang mengandung anak dari Satria,pria yang sangat dicintainya.Tapi Dinara tidak tahu apa Satria juga akan bahagia jika mengetahui bahwa dirinya mengandung.


Selama ini tidak pernah ada pembahasan soal anak antara dia dan Satria.Karena itulah Dinara agak takut menyampaikan berita tentang kehamilannya pada Satria.Walaupun selama menikah dengan Satria,tidak pernah sekalipun Satria marah pada Dinara.


"Apa?Kamu sedang mengandung?!"tanya Satria memastikan bahwa apa yang didengarnya itu tidak salah.Sedangkan Keynan tersenyum tipis saat mendengarnya.


"I...Iya kak.Apa..apa Kakak marah padaku,"jawab Dinara semakin gugup karena Satria terdengar terkejut.


"Kenapa Kakak harus marah? Kakak malah bahagia mendengarnya,"ucap Satria dengan wajah berbinar-binar.


"Benarkah?Kakak senang jika aku mengandung?"tanya Dinara menjadi antusias.


"Tentu saja Kakak senang, berarti usaha Kakak tiap malam membuahkan hasil,. Memangnya kamu tidak senang mengandung anak Kakak?"tanya Satria.


"Tentu saja aku senang.Aku bahagia bisa mengandung anak Kakak, karena Kakak adalah orang yang aku cintai,"sahut Dinara.


"Baiklah kakak akan usahakan agar bisa pulang secepatnya.Kamu hati-hati ya?Dan tidak perlu mengkhawatirkan apapun. Kakak tutup dulu teleponnya,"ucap Satria.


"Iya,"ucap Dinara kemudian memutuskan sambungan telepon dengan wajah yang berbinar.


"Aku sudah tidak sabar bertemu dengan Kak Satria.Aku sudah sangat merindukannya,"gumam Dinara.


"Ada apa sat?"tanya Keynan setelah Satria selesai menelpon Dinara.


"Dinara mengandung,"ucap Satria.


"Wahh.. selamat ya!!"ucap Keynan tulus, memeluk sahabat yang sudah seperti saudara baginya karena dari kecil mereka tumbuh bersama.


"Tapi Om Tirta marah besar saat mengetahui Dinara sedang mengandung. Om Tirta menyuruhku ke sana paling lambat nanti malam,"ucap Satria lesu.


"Kalau begitu kita selesaikan pekerjaan kita ini lalu nanti sore kita pulang,"ucap Keynan menunjuk pada setumpuk berkas.


"Tapi bukankah besok masih ada pertemuan?Dan kamu juga belum sempat mengajak Aisyah jalan- jalan,"ucap satria.


"Biarkan orang-orang yang di sini yang mengurusnya.Aku juga bisa mengajak Aisyah jalan-jalan di lain waktu.Masalahmu jauh lebih penting,"ucap Keynan.


"Terimakasih Key!"ucap Satria bahagia dan hanya dijawab dengan senyuman oleh Keynan.


Malam harinya, setelah pesawat landing.


"Sat,Ini sudah setengah delapan.Kita sholat isya di masjid sekitar bandara ini saja,"ucap Keynan.


"Oke,"sahut Satria.


"Ayo Ay,"ajak Keynan merangkul pinggang wanita bercadar itu.


Beberapa menit kemudian mereka sudah sampai di sebuah masjid di sekitar bandara. Satria, Keynan dan Aisyah pun segera melaksanakan sholat isya, menjalankan kewajiban mereka sebagai umat muslim.


"Kita langsung ke rumah mertua kamu saja Sat,"kata Keynan saat mereka sudah selesai menjalankan sholat isya.


"Tapi apa Aisyah tidak apa-apa?Dia pasti capek, apalagi saat ini Aisyah sedang mengandung,"ujar Satria tak enak hati pada Aisyah.


"Kamu tidak apa-apa kan Ay?"tanya Keynan.


"Nggak apa-apa kok Mas,"jawab Aisyah.


"Jika Mas mengantarkan kamu pulang terlebih dulu, Mas dan Satria akan kemalaman datang ke rumah Pak Tirta.Tidak sopan rasanya bertamu larut malam.Apalagi kedatangan kita untuk melamar,"ujar Keynan.


"Iya Mas, Aisyah mengerti.Lebih baik kita segera ke rumah mertua Kak Satria,"sahut Aisyah.


"Terimakasih Aisyah,"ucap Satria dan dibalas Aisyah dengan senyuman dari balik cadarnya dan sebuah anggukan kecil.


"Aku hubungi Bayu dulu agar dia juga ke rumah Pak Tirta,"ucap Keynan merogoh handphonenya dari saku jasnya.


"Halo Bay,"ucap Keynan saat Bayu sudah menerima panggilan darinya.

__ADS_1


"Halo Key,ada apa?"tanya Bayu to the point.


"Kamu ada di mana sekarang?"tanya Keynan.


"Di rumah ayah,"jawab Bayu.


"Sekarang juga kamu pergi ke rumah Papa mu.Kita bertemu di sana nanti,aku sekarang juga akan menuju ke sana,"ucap Keynan.


"Ada apa Key?tanya Bayu.


"Kamu akan tahu nanti setelah kita bertemu di sana,"ucap Keynan.


"Baiklah,"ucap Bayu dan Keynan pun mengakhiri panggilan teleponnya.


"Ayo kita berangkat sekarang,rumah Pak Tirta lumayan jauh dari bandara ini,"ajak Keynan.


"Iya.Pak, hadiah-hadiah yang dibeli oleh sekertaris saya sudah di bawa semua kan?"tanya Satria pada Pak supir.


"Sudah Tuan,"sahut pak supir.


"Hadiah apa Sat?"tanya Keynan penasaran.


"Hadiah untuk kita bawa ke rumah mertuaku,tadi siang aku menyuruh sekretaris ku untuk membeli hadiah.Anggab saja bawaan untuk lamaran.Masak mau datang ke rumah mertua nggak bawa apa-apa?!"sahut Satria.


"Bagus,peka juga kamu.Jadi aku tidak malu melamar Dinara untuk kamu, karena ada barang bawaan,"ucap Keynan tersenyum bangga pada Satria.


Kemudian mereka pun pergi dengan supir yang sudah menjemput mereka.


Di rumah Rinto.


"Mau kemana Mas?"tanya Kirana saat melihat Bayu nampak bersiap-siap untuk pergi.


"Keynan menyuruh ku untuk pulang ke rumah papa,"ucap Bayu.


"Kenapa Tuan Muda menyuruh Mas ke sana?"tanya Kirana penasaran.


"Mas juga tidak tahu.Keynan juga bilang akan ke rumah papa sekarang.Kami akan bertemu di sana.Keynan jarang mengajak bertemu jika tidak ada hal yang penting,"ujar Bayu yang sedang memakai kemeja dibantu oleh Kirana yang mengancingkan kemejanya.


"Pasti ini sangat penting ya Mas?"


"Mas rasa juga begitu.Tidak pernah Keynan mengajak bertemu di rumah papa.Mas pergi dulu,kamu tidurlah lebih dulu, jangan menunggu Mas pulang,"ujar Bayu kemudian mengecup bibir dan perut Kirana sekilas.


"Iya, hati-hati Mas,"ucap Kirana.


***


Di rumah Tirta.


"Mari Pak Akbar, Nak Alvin,kita makan malam dulu,"ucap Tirta saat Akbar dan Alvin baru sampai di rumahnya.


"Terimakasih Pak Tirta.Kami jadi tidak enak hati sudah dua kali ini numpang makan di rumah bapak,"ujar Akbar.


"Tidak perlu sungkan seperti itu,kita kan sudah lama berteman,"ucap Tirta.


"Dan sebentar lagi akan menjadi besan,"ujar Akbar tertawa kecil dan dibalas senyuman canggung dari Tirta.


"Silahkan duduk Pak Akbar, Nak Alvin.Bik, tolong panggilkan Ara ya!"ucap Marwah.


"Iya, Nyah,"sahut pelayan.


Tak lama kemudian Dinara sudah turun dari kamarnya yang berada di lantai dua.Terlihat cantik dengan baju muslim berwarna hitam dengan model yang simpel tapi elegan.Make up tips yang terlihat natural yang sejatinya untuk menutupi wajahnya yang pucat.Membuat mereka yang ada di ruangan makan itu terpesona dengan Dinara yang cantik tapi terlihat imut.


"Assalamu'alaikum,"ucap Dinara.


"Wa'alaikumu salam,"sahut semua orang yang ada di ruangan itu.


"Tambah cantik saja dia,"batin Alvin yang sejak Dinara memasuki ruangan makan tak henti-hentinya memandang Dinara.


"Mari kita makan Pak Akbar, Nak Alvin,"ajak Tirta.


"Iya Pak,"sahut Akbar, sedangkan Alvin hanya mengangguk sambil tersenyum tipis.


Semua orang pun mulai makan dengan tenang.Dinara hanya mengambil nasi dan lauk pauk sedikit,tampak tidak berselera dengan berbagai macam lauk pauk yang tersaji di meja makan itu.


"Perutku mulai terasa mual lagi.Ini lagi si Alvin curi-curi pandang terus sama aku.Bikin aku risih saja, menyebalkan!!"batin Dinara sambil makan sedikit demi sedikit walaupun perutnya semakin terasa mual.


"Saya permisi dulu,mau ke toilet,"ucap Dinara pada semua orang setelah acara makan malam selesai.


Tanpa menunggu jawaban dari semua orang Dinara langsung berjalan cepat menuju kamarnya.Saat sudah masuk ke kamarnya Dinara langsung masuk ke kamar mandi dan memuntahkan seluruh isi perutnya.


"Ya Allah, kepalaku pusing sekali,badanku benar-benar lemas rasanya,"gumam Dinara berjalan perlahan menuju ranjang kemudian berbaring.

__ADS_1


"Gimana Pak Tirta tentang perjodohan anak-anak kita?"tanya Akbar.


"Saya sih terserah pada anak-anak,dan tidak ingin memaksakan kehendak.Jika keduanya sama-sama suka,saya akan mendukungnya,"ucap Tirta.


"Anak saya sudah mantap memilih putri anda, walaupun nampaknya putri anda belum menyukai putra saya.Namun saya yakin dengan berjalannya waktu putri anda akan menyukai putra saya"ucap Akbar panjang lebar, berharap Tirta mau berbesan dengannya.


"Maaf Tuan,di depan ada tamu,"ucap seorang pelayan pada Tirta menyela pembicaraan Akbar dan Tirta.


"Tamu?Siapa Bik?"tanya Tirta.


"Dua orang pria tampan dan seorang wanita bercadar Tuan.Kata salah satu pria itu namanya Keynan,"jawab pelayan tersebut.


"Keynan?"tanya Tirta nampak terkejut.


"Iya, Tuan,"jawab pelayan tersebut.


"Permisi dulu Pak Akbar,saya akan melihat ke depan dulu,"pamit Tirta pada Akbar.


"Oh silahkan Pak Tirta,"ucap Akbar.


"Kenapa Pak Tirta nampak terkejut mendengar nama itu?"batin Akbar.


"Apa benar itu Tuan Muda Keynan?Ada apa sampai-sampai Tuan Muda datang ke rumahku?"batin Tirta sambil menuju pintu utama.


"Tuan Muda, Nyonya Muda, Nak Satria??Mari,mari silahkan masuk!"ucap Tirta langsung mempersilahkan mereka bertiga masuk keruangan tamu dimana di sana sudah ada Pak Akbar, Marwah dan Alvin.


Sedangkan supir Keynan langsung membawa masuk berbagai hadiah yang telah mereka bawa, yang membuat Tirta menjadi bingung.


"Tuan Muda, barang-barang itu...."


"Itu hadiah dari Satria,"potong Keynan.


"Kenapa Nak Satria memberikan hadiah sebanyak itu untuk kami,"batin Tirta.


"Oh, Pak Tirta ada tamu rupanya.Apa kehadiran kami menganggu?"tanya Keynan membuyarkan lamunan Tirta.


"Tentu saja tidak Tuan Muda,"ucap Tirta sambil tersenyum,"Pak Akbar, Nak Alvin kenalkan, ini Tuan Muda Keynan pemilik Wishaka company,dan di sebelah kirinya itu adalah istrinya, Nyonya Muda Aisyah.Sedangkan yang di sebelah kanannya adalah Nak Satria,"ucap Tirta memperkenalkan mereka.


"Senang sekali bisa bertemu dengan pemilik Wishaka company,"ucap Akbar mengulurkan tangannya pada Keynan dan Satria dan menganggukkan kepala pada Aisyah.Alvin pun mengikuti apa yang dilakukan papanya.


"Nak Satria ini CEO perusahaan Sanjaya company kan?"tanya Akbar setelah mengamati Satria yang terasa tidak asing baginya.


"Iya,benar Pak,"sahut Satria.


"Assalamu'alaikum,"ucap Bayu yang tiba-tiba muncul.


"Wa'alaikumu salam,"sahut mereka semua.


"Eh Bay, kebetulan sekali kamu kesini,pas ada Tuan Muda,"ucap Tirta pada putranya.


Bayu pun menyalami Akbar dan Alvin lalu memberikan salam persahabatan pada Satria dan Keynan dengan mengadu kepalan tangan mereka lalu saling menepuk pundak.


Pak Akbar dan Alvin melihat keakraban diantara tiga pria muda itu dan merasa agak aneh saat Tirta memanggil Keynan dengan sebutan Tuan Muda dengan penuh rasa hormat.


"Ay,kamu tidak apa-apa?"tanya Keynan saat melihat Aisyah memijit batang hidungnya.


"Hanya sedikit pusing Mas,"jawab Aisyah.


"Apa Nyonya sakit?"tanya Marwah mendekati Aisyah.


"Sepertinya masih jed lag karena perjalanan dari luar negeri dan setelah tiba di bandara kami bertiga langsung kesini.Maklum ibu hamil memang mudah capek,"sahut Keynan tersenyum tipis.


"Kalau begitu biar dibuatkan teh hangat.Bik tolong buatkan teh hangat,"ucap Marwah duduk di samping Aisyah sambil menggosok punggung Aisyah dengan telapak tangannya.


"Iya, Nyah,"sahut seorang pelayan.


"Hal apa yang begitu penting sehingga Tuan Muda tidak langsung pulang ke rumah tapi malah ke rumah ku setelah perjalanan jauh malam-malam begini,"batin Tirta penasaran.


"Tuan Muda,apa ada hal yang sangat penting sehingga Tuan Muda jauh-jauh datang ke gubuk saya ini?"tanya Tirta lembut.


"Maaf pak Tirta,saya kesini tanpa memberi kabar terlebih dahulu.Saya kesini untuk melamar putri bapak untuk saya jadikan istri sahabat saya, Satria,"ucap Keynan.


"Benar,Pak.Saya kesini untuk melamar putri anda untuk saya jadikan pendamping hidup saya,"ucap Satria membenarkan.


Tirta langsung menatap wajah Keynan dan Satria bergantian dengan ekspresi wajah yang tidak dapat di artikan. Terkejut,senang ,kecewa dan juga bingung.


Terkejut karena tiba-tiba orang yang telah menyelamatkan keluarganya melamar putrinya untuk sahabatnya.Senang karena sahabat orang yang telah menyelamatkan keluarganya adalah menantu idamannya.Kecewa mengingat putrinya sedang mengandung anak dari pria yang tidak diketahui olehnya.Dan bingung harus menjawab apa tentang lamaran itu.


"Tapi saya yang lebih dulu melamar putri Pak Tirta untuk putra saya, bahkan kami sudah membicarakan tentang perjodohan ini satu tahun yang lalu,"ucap Akbar.


🌟"Jodoh, tidak akan datang lebih cepat walau sesaat, takkan datang terlambat apalagi terlewat, tak akan pernah tertukar apalagi ditukar, karena Tuhan akan memberi jodoh yang tepat di waktu yang tepat."🌟

__ADS_1


To be continued


__ADS_2