
"Ma,malam ini Pak Akbar akan datang untuk melamar Dinara.Bagaimana hubungan Dinara dan Alvin,ma?"tanya Tirta.
"Dinara,cuma sekali dijemput Alvin dari sekolah,pa.Dan hanya bertemu beberapa kali di rumah ini, karena Dinara tidak pernah mau di ajak pergi.Dinara sangat cuek pada Alvin seperti pada semua pria lainnya,"jawab Marwah.
"Papa dengar Dinara tidak punya teman laki-laki disekolah,"kata Tirta.
"Ya bagaimana dia punya teman laki-laki kalau sama laki-laki aja jutek kayak gitu pa.Apalagi setelah kita pulang dari Singapura dia dikawal bodyguard terus,"sahut Marwah.
"Itu karena Dinara suka pergi malam ma, jadi papa khawatir.Oh ya, mana Dinara,ma?"tanya Tirta.
"Itu,"tunjuk Marwah dengan dagunya saat melihat Dinara menuruni tangga.
"Kamu kenapa Ra?Kok pucat sekali?"tanya Tirta yang melihat wajah Dinara yang pucat.
"Nggak apa-apa,pa.Cuma nggak enak badan saja,"ucap Dinara.
"Iya Ra, beberapa hari ini kamu tampak tidak sehat.Kita ke dokter ya?!"ajak Marwah.
"Nggak ma,aku mau istirahat di rumah saja,"tolak Dinara.
"Kamu harus ke dokter biar sehat, nanti malam Alvin dan papanya akan kesini,"ujar Tirta.
"Dia mau kesini lagi?Ma,pa, Ara sudah bilang, Ara nggak suka sama Alvin. Ara sudah mencintai orang lain,"ucap Dinara.
"Udah jangan menghayal lagi! Pokoknya kamu harus ke dokter!"sergah Marwah yang menganggap Dinara selalu membual soal pria yang selalu Dinara banding-bandingkan dengan Alvin.
"Yang bikin Ara sakit itu Alvin ma,"ucap Dinara.
"Kenapa kamu menyalahkan Alvin.Memang kamu di apakan sama Alvin?"tanya Tirta.
"Ara selalu mual jika mencium aroma parfum Alvin pa.Ara benar-benar tidak sanggup dekat-dekat dengan Alvin,"ucap Dinara memelas.
Semenjak boneka,sprei dan sarung bantal di cuci semua hingga tidak ada lagi aroma parfum Satria, Dinara jadi mual dan muntah setiap pagi.
"Masa iya kamu mual gara-gara mencium bau parfum Alvin?"sahut Marwah.
"Beneran ma,Ara nggak bohong,"sanggah Dinara.
"Nyah,ini saya dapat buah durian pesanan Nyonya.Apa mau di buka sekarang Nyah?"tanya seorang pelayan membawa empat buah durian membuat perdebatan Dinara dan Marwah terhenti.
"Nanti siang aja Bik,"jawab Marwah.
"Bik, tolong bawa jauh-jauh buah durian itu,"ucap Dinara menutup hidung.Perut Dinara kembali mual saat mencium bau durian yang dipegang pelayanan yang berdiri tepat disampingnya.
"Kenapa Non, biasanya non Ara paling suka dengan buah durian.Ini Non,coba cium, baunya harum sekali,"ucap pelayan itu malah mendekatkan buah durian itu ke Dinara.
Secepat kilat Dinara langsung berlari ke wastafel dan memuntahkan isi perutnya yang sebenarnya belum terisi apapun.Hingga yang keluar hanyalah cairan yang berwarna kuning.
"Ara.!!"pekik Marwah langsung menyusul Dinara.
Dinara yang sudah beberapa hari semakin kehilangan nafsu makan ditambah pagi ini yang sudah muntah dua kali akhirnya tumbang.
"Ara..!! Pa , Ara pingsan!!"pekik Marwah yang mencoba menahan tubuh Dinara agar tidak terjatuh.
"Panggil dokter ma!"perintah Tirta yang langsung menggendong Dinara ke kamar.
__ADS_1
"Iya,pa,"sahut Marwah.
Sambil menunggu dokter datang, Marwah mencoba menyadarkan Dinara menggunakan minyak angin.
"Syukurlah akhirnya kamu sadar,"ucap Marwah ketika melihat Dinara sudah membuka matanya.
"Silahkan masu Dok!"ucap Tirta mempersilahkan Dokter yang baru sampai.
"Terimakasih,"ucap dokter perempuan itu,"Apa keluhannya?"tanya dokter itu.
"Mual, muntah,dan pusing Dok,"jawab Dinara.
Dokter itu pun langsung memeriksa Dinara, kemudian bertanya,"Kapan terakhir kali haid?"tanya dokter itu yang membuat Tirta dan Marwah saling pandang, seolah saling bertanya kenapa dokter menanyakan hal itu.
"Sekitar sebulan yang lalu Dok,"jawab Dinara.
"Apa bulan ini sudah datang bulan?"tanya sang dokter.
Dinara diam sejenak, terlihat sedang berpikir,"Sudah telat sekitar delapan hari Dok,"sahut Dinara.
Deg, Tirta dan Marwah kembali saling menatap dengan wajah tegang.
"Ikut saya ke kamar mandi untuk memeriksa lebih lanjut, mari!"ucap dokter mengajak Dinara ke kamar mandi.
"Pa, Ara selama ini selalu di jaga bodyguard kan?Dan dia juga tidak pernah kemana-mana selama ini.Cuma seminggu yang lalu dia keluar ke mall dan itupun di kawal bodyguard. Ara hanya masuk angin kan pa?"tanya Marwah tegang.
"Kita tunggu saja apa kata dokter ma,"ucap Tirta merangkul Marwah.
Beberapa menit kemudian Dinara dan dokter itu pun keluar dari kamar mandi,dan membantu Dinara berbaring.
"Nona Dinara mual ,muntah, pusing dan tekanan darahnya rendah, itu semua karena Non Dinara sedang mengandung,"ucap dokter.
"Apa?!"pekik Tirta dan Marwah.
Marwah langsung terduduk di tepi ranjang Dinara dengan wajah pucat, sedangkan Tirta mengepalkan tangannya menahan amarahnya.
"Aku sedang mengandung?"gumam Dinara mengelus perut ratanya seakan tidak percaya bahwa sekarang dia tengah mengandung janin dari pria yang sangat dicintainya.
"Saya akan menuliskan resep yang harus di tebus,"ucap dokter tersebut dengan cepat menuliskan resep karena merasa keadaan yang tidak kondusif.
Setelah dokter keluar dari kamar itu, Tirta segera mendekati Dinara.
"Suruh pria yang telah menghamili kamu itu untuk menemui papa hari ini juga.Jika dia tidak kesini hari ini juga ,papa yang akan mencarinya sendiri.Dan jika papa yang mencarinya,papa tidak bisa menjamin kalau dia akan selamat,"ucap Tirta menahan amarahnya.
"Di...dia sekarang sedang di luar negeri pa,"jawab Dinara gugup karena ketakutan melihat wajah papanya yang sangat marah.
"Papa tidak mau tau!! Papa tunggu pria itu sampai nanti malam!!"sergah Tirta dengan sekuat tenaga menahan emosi, kemudian keluar dari kamar Dinara, karena takut menyakiti Dinara.
"Ra,mama tidak menyangka kamu akan melakukan ini pada mama dan papa,"ucap Marwah dengan wajah kecewa kemudian menyusul suaminya.
Dinara langsung menghubungi Satria beberapa kali, namun tidak juga diangkat oleh Satria.
Di kamar Tirta.
Hari itu Tirta tidak pergi ke kantor.Tirta menyuruh anak buahnya untuk menyelidiki dengan siapa saja Dinara berhubungan.
__ADS_1
"Ma,apa Ara pernah bercerita sesuatu pada mama? Tentang seorang pria?!"tanya Tirta.
"Iya, sekitar seminggu ini,semenjak Ara akan kita jodohkan dia selalu bilang kalau sudah mencintai seseorang,"jawab Marwah.
"Siapa pria itu?!"tanya Tirta penasaran.
"Ara tidak mengatakan namanya pa,dia cuma bilang kalau pria itu tampan , mapan, tubuh atletis,tinggi dan tegap.Seorang pebisnis berusia dua puluh empat tahun.Itu yang sering dikatakan oleh Dinara.Tapi mama tidak percaya karena menganggap itu hanya bualan Dinara karena dia tidak mau kita jodohkan dengan Alvin,"jawab Marwah.
"Tapi papa tidak habis pikir,dia selalu di kawal jika di luar rumah,dan tidak pernah kemana-mana selama ini.Tapi kenapa dia bisa hamil tanpa kita ketahui?Apa pria itu teman sekolahnya?!Tapi menurut anak buah papa Dinara tidak dekat bahkan tidak mempunyai teman laki-laki di sekolahnya,"ujar Tirta.
"Mama juga tidak tahu,pa,"sahut Marwah.
"Ayo kita periksa kamar Dinara!"ajak Tirta bergegas ke kamar Dinara di ikuti oleh Marwah.
Tirta dan Marwah kembali masuk ke kamar Dinara.Sedangkan Dinara nampak terlelap karena kelelahan akibat muntah -muntah.Setelah makan bubur beberapa suap dan minum obat, Dinara pun tertidur.
"Pa,ini baju muslimah Dinara banyak banget dan semuanya dari butik yang berbeda.Harga baju di butik-butik ini mahal semua pa.Mama kan tidak memberikan uang yang banyak hingga dia bisa membeli baju yang mahal dan sebanyak ini?!"ujar Marwah.
Tirta dan Marwah begitu terkejut saat memeriksa lemari Dinara.Baju-baju mahal dan sepatu mahal tertata rapi dalam lemari itu.Perhiasan berlian yang tersusun dalam beberapa kotak.Dan kartu kredit serta kartu ATM yang ada di dompet Dinara.
Sedangkan Marwah hanya tahu sepatu milik Dinara yang ada di rak dekat pintu.Selama ini Marwah tidak pernah membuka lemari Dinara.
"Siapa pria itu,dia nampaknya orang kaya ma?!"ujar Tirta.
"Iya,pa.Dan nampaknya juga sangat menyayangi Dinara sehingga begitu banyak membelikan barang-barang mewah untuk Dinara,"sahut Marwah.
"Mana handphone Dinara ma?"tanya Tirta.
"Itu pa,di nakas,"jawab Marwah setelah melihat sekitar.
Tirta memeriksa handphone yang tidak terkunci itu.Melihat kontak, panggilan masuk, panggilan keluar, WhatsApp, galeri, sosial media dan semua yang ada di handphone itu diperiksa Tirta,tapi tidak menemukan petunjuk apapun.
Dinara memang tidak pernah menggunakan handphone yang diberikan oleh orang tuanya untuk sesuatu yang berhubungan dengan Satria.
Dinara menggunakan handphone yang diberikan Satria untuk menghubungi Satria baik via WhatsApp panggilan suara, panggilan Vidio atau pun foto -foto kebersamaannya dengan Satria.Semua tersimpan di handphone yang diberikan Satria yang tidak pernah diketahui oleh Tirta dan Marwah.
"Papa benar-benar tidak menemukan petunjuk apapun di kamar ini.Di handphone ini pun tidak ada yang mencurigakan.Bahkan kartu kredit dan kartu ATM itu atas nama Dinara,"gumam Tirta.
"Tadi Dinara bilang pria itu masih ada di luar negeri pa,"ucap Marwah sambil melirik Dinara yang masih terlelap.
"Sepertinya pria ini bukan orang sembarangan.Bahkan anak buah papa tidak menemukan informasi apapun tentang pria ini.Hanya ada informasi Ara pernah diantar jemput oleh seorang
pria yang tidak pernah membuka helmnya.Dan menurut informasi itu adalah motor Bayu,"ujar Tirta.
Satria memang membeli motor yang sama dengan Bayu.Bahkan mengganti plat motor dengan plat yang sama dengan milik Bayu agar para bodyguard yang mengawasi Dinara dari jauh mengira bahwa dirinya adalah Bayu. Karena itulah Satria bebas mengantar jemput, dan membawa Dinara tanpa dicurigai para bodyguard Dinara yang mengawasi Dinara dari jauh.
"Pa, Pak Akbar kan sudah menghubungi kita bahwa malam ini akan melamar Dinara.Apa yang akan kita katakan pada Pak Akbar? Tidak mungkin kan kita menerima lamaran Pak Akbar? Lalu apa alasan kita menolaknya? Sedangkan kita sudah menyetujuinya sebelumnya,"cerocos Marwah.
"Tidak mungkin kita mengatakan Dinara sudah dihamili orang lain.Satu-satunya cara hanya menyuruh Dinara untuk mengatakan bahwa Dinara tidak mencintai Alvin,"sahut Tirta.
πTak perlu mengatakan pada dunia seberapa besar cintamu padaku, cukup kita dan Tuhan yang tahu ,menjaga cinta kita hingga di ujung waktu.π
..."Author"...
To be continued
__ADS_1
.