
Anita dan Hardi sudah selesai menghadiri sidang cerai mereka,dan tak disangka Anita segalanya berjalan lancar,dan tampaknya Hardi juga sudah menerimanya walaupun dengan tatapan yang luka,ya. ada luka yang sangat menyakitkan yang keduanya harus terima.
Lina bersandar pada tiang bangunan sambil memperhatikan orang orang yang berlalu lalang..
Secara tak sengaja matanya menangkap sosok yang berdiri tak jauh dari dia dan Anita berada,
Lina seperti pernah mengenal sosok itu tapi sudah tidak ingat di mana.
Lina memperhatikan sosok yang pandangan matanya menatap Hardi dan Anita bergantian.
"An,apakah kau kenal gadis itu?" Lina berbisik pada Anita sambil melirik ke arah sosok yang dimaksud.
Anita segera mengikuti arah pandangan Lina.
Anita melihat sosok berpakaian hitam putih yang berdiri tak jauh dari mereka.
"Sepertinya tenaga honorer di kantor ini." ucap Anita sekenanya.
"Iya aku tahu dia tenaga honorer, maksudku ,apa kau mengenalnya? aku merasa tidak asing."
Anita memperhatikan gadis dengan seksama, tampaknya dia akan berlalu dari hadapan Anita dan Lina.
"Ica." Anita mencoba memanggil gadis itu.
Mendengar namanya disebut secara reflek Ica mencari asal panggilan.Sejenajk di terdiam,berarti dugaannya tadi benar,kalau yang menghadiri sidang perceraian tadi Anita.
"Anita kan""
"Ya aku Anita, ca."
"Aku tadi sempat ragu . apakah kamu atau orang lain yang mirip denganmu."ucap Ica sambil tersenyum.
"kenapa sampai ada di sini An.?"
"Ceritanya panjang Ca,nanti bila ada waktu aku akan ceritakan."
Ica adalah teman Anita sewaktu masih sama sama bekerja di Hotel milik orang tua Hardi,setelah Anita menikah dan mengundurkan diri,tak lama Ica juga mengundurkan diri,dan melamar kerja di PA sebagai tenaga honorer.
Sedang Anita semenjak menikah jarang berhubungan dengan teman temannya dan juga pembawaan Anita yang agak tertutup serta kaku.
"Apakah kalian punya anak?"
"Belum."
"Syukurlah An,terlalu sering aku melihat perceraian yang akhirnya mengorbankan anak anak mereka,kasian An."
"Ya benar ," Anita menganggukan kepalanya menarik napas lega .
Tidak bisa dibayangkan bila dia sudah punya anak,Anita bergidik.
"Bagaimana dengan pak Hardi? Ica memandang sosok yang tak jauh dari tempat mereka berada,tampak Hardi bersandar didinding dengan kedua tangan dimasukan ke saku celananya.
Ada debat aneh di dada Ica ketika melihat sosok yang dulu dikaguminya.
Lina yang sejak tadi memperhatikan Ica yang menatap hangat Hardi segera mencubit lengan Anita.
Cubitan Lina membuatnya melotot ke arah Lina yang sudah memberi kode padanya,
"Kenapa Ca,ada yang salah pada pa Hardi?" tanya Lina menggoda.
"o Ng...nggak."jawab Ica tergagap.
Lina tertawa," Sayang bakalan jadi duda pa Hardi Ca," ucap Lina sambil tertawa.
__ADS_1
"Hus...Lin.jangan menertawakan Dudu ,siapa tahu nanti kamu dapat duda."ucap Anita mengingatkan.
"Kalau duda keren tak apalah,aku terima."sahut Lina asal bicara.
Anita geregetan dengan kelakuan sahabat nya yang membuat merah wajah Ica.
"Aku permisi dulu ya,ada pekerjaan yang harus aku selesaikan."pamit Ica melangkah pergi dengan wajah yang tertunduk malu.
"An.kayanya temanmu ada hati pada Hardi."
""Biar aja Lin,itu hak dia ,kita ga bisa melarang."
"Kau tidak cemburu?!"
"Cemburu? Mungkin ya,mungkin tidak,kalau mereka ada jodoh kenapa tidak,aku sudah punya jalan sendiri Lin."
"Terserah apa katamu lah,jangan nyesal kalau nanti Hardi dapat gantimu"
" Aku ngga akan menyesal,Lin,jalan ini sudah aku pilih,seiring dengan berjalannya waktu,rasa itu akan hilang dengan sendirinya."ucap Anita datar .
Setelah menunggu beberapa waktu,akhirnya akta cerai keduanya keluar,resmilah Anita dengan status nya yang baru.
Anita menarik napas lega," Sungguh sangat melelahkan."gumam Anita.
"Lin kita pulang sekarang,rasanya aku ingin tidur dan bermimpi akan masa depan." ucap Anita datar.
"Ok...kita pulang sekarang An." Keduanya bersiap meninggalkan kantor Pengadilan Agama.
Baru beberapa langkah mereka berjalan Ica memanggil mereka,
"Maaf tadi meninggalkan kalian,sungguh tidak sopan." Ica berkata sambil terengah-engah karena berlari mengejar Anita dan Lina.
"Tidak apa Ca, kami tahu kamu juga sibuk,kalau ninggalkan pekerjaan nanti kamu bakal kena marah." ucap Lina sambil tersenyum,mengingat Ica yang salah tingkah karena digodanya tadi.
"Huh...nenek lampir itu rupanya datang ."ucap Lina penuh emosi,
Anita hanya diam tanpa komentar.
Kedua perempuan itu berjalan ke arah mereka,kemungkinan untuk menghindar sudah tidak ada lagi.
Lina bersiap sudah mengeluarkan makian bila Rahma menyerang Anita."Kutunggu kau Mak lampir." ucap Lina
'"Ngga perlu dilayani orang seperti itu."bisik Anita pada Lina
"Tergantung." sahut Lina asal.
Anita malas mendebat Lina .
"Hei...Mana Hardi apakah kalian sudah bercerai?!" tanya Rahma sambil mendorong Anita.
Anita diam tidak menanggapi,tetapi malah memperhatikan Lilian yang hanya tersenyum sinis.
"Dasar ular betina." gumamnya dalam hati.
"Apa maksud Nene menanyakan ke kami,cari sendiri sana." sahut Lina ketus.
"sembarangan bilang aku Nene. kamu tidak pernah sekolah ya,kalau bicara dijaga."
"Lho kan sebentar lagi jadi nene,apa itu didalam perut menantumu bukan cucumu atau anak ular."sahut Lina pedas.
Mendengar jawaban Lina yang asal bicara membuat Rahma naik pitam.
"Apa katamu.anak ular?Jelaslah anak manusia anak Hardi,hati hati kalau bicara."
__ADS_1
" O...anak manusia.kukira anak ular."sahut Lina dengan memasang wajah yang sengaja seperti orang bodoh.
"Ibu...." panggil Lilian dengan tampang memelas.
"Masa anakku dibilang anak ular."rengek Lilian dengan manja..
" Sudah diam.jangan dihiraukan omongan belatung itu."bujuk Rahma pada Lilian
"Apa..kau bilang belatung,apa ngga salah Nene lampir, yang suka pelihara ulat bulu ,ih gatel." sahut Lina bergidik
"Kau dasar kurang ajar." Rahma menunjuk nunjuk Lina.
Lina nyengir..." Dia yang mulai dia yang sewot sendiri." Lina mencibir.
Anita dan Ica hanya menonton perseteruan keduanya.
Untunglah tidak lama karena Hardi menghampiri mereka.
"Ada apa bu.kenapa datang ke sini."
"Ibu hanya memastikan kalau kamu sudah bercerai dengan perempuan murahan ini." Rahma menunjuk ke Anita.
"Kenapa ibu selalu ikut campur urusanku."
"Karena aku ibumu."
Hardi menggelengkan kepalanya dan memandang Anita berharap Anita memaafkan ucapan ibunya.
" Sudah Bu kita pulang sekarang."
" Tapi kau sudah cerai kan!"
"Sudah.'sahut Hardi singkat.
Lilian tampak tersenyum dan segera memeluk Hardi.tetapi mendapat penolakan dari Hardi.
"Bawa ibu pulang,aku akan menyusul."kata Hardi dengan nada dingin.
Lilian dan Rahma berjalan meninggalkan mereka.
"Maaf atas kejadian ini."ucap Hardi.
"Tidak apa,." sahut Anita dan Lina bersamaan.
"Aku pulang dulu."Hardi menyalami Lina dan Anita.dan pandangan terhenti pada Ica yang berdiri sejak tadi.
"Har,ini Ica,bekas pegawaimu dulu, kawan Anita juga." ucap Lina mengenalkan Ica pada Hardi..
"Kayaknya aku sudah lupa,maaf ya." ucap Hardi sambil menyalami Ica.
" Ngga apa pa."ucapan Ica tersenyum memperlihatkan lesung pipi nya yang tampak manis dilihat Hardi.
Kemudian Hardi berbalik meninggalkan mereka,Ica menatap kepergian Hardi dengan wajah sendu.Tadi dia sudah merasa bahagia karena status Hardi yang baru bercerai dengan Anita,tapi siapa sangka bertemu dengan istri Hardi yang sedang hamil.
"Bila kamu suka ,perjuangkan,jangan pikirkan perempuan ular tadi,sebentar lagi akan disingkirkan."Kata Lina pada Ica.
"Apa maksudnya?"
"Namanya Lilian,wanita ular,dan sebentar lagi Nene lampir itu akan tahu rupa asli menantu kesayangannya,jadi jangan sia siakan kesempatan itu,Ica.'
Ica memandang Lina kemudian memandang Anita.
"Ikuti apa kata Lina,Ca."ucap Anita datar.'
__ADS_1