MENGEJAR CINTA ANITA

MENGEJAR CINTA ANITA
Lebih Semangat


__ADS_3

"Akhirnya hari hari melelahkan sudah kulalui,terimakasih Lin,selalu membantuku dari awal." ucap Anita lega, sambil bersandar kursi mobil Lina yang selalu mengantarnya.


"Aku sudah banyak dibantu kamu Lin,entah kapan aku bisa membalasnya."


"Jangan terlalu dibesar-besarkan ,kita saudara,suka dan dukanya kita tanggung bersama, suatu saat juga aku pasti butuh bantuanmu An."


"An,kamu benar benar tidak menyesal melepaskan Hardi?"


"Tidak,Lin."


"Walaupun kau sudah tahu kejadian yang sebenarnya."


"Ya, Lin.Walaupun aku sudah tahu semuanya."


"Tapi kau dan Hardi kan sama sama terluka karena keputusanmu."


"Ya, memang kami terluka,tapi aku merasa yakin dengan keputusanku,mulai hari ini aku akan dengarkan hati nurani ku,sebenarnya nuraniku sejak dulu membimbingku tapi selalu ku sangkal karena nafsuku, akhirnya aku susah sendiri."


"Ini jadi pelajaran buatku Lin."


Lina diam mendengar penuturan Anita.


"Tapi kau kelihatan kalah,dan seperti tidak ada niat untuk mempertahankan rumah tanggamu."


"Lin. bila kau sudah bisa meraba sesuatu itu jika diperjuangkan akan sia sia,apakah kau terus memperjuangkannya?"


Lina menggelengkan kepala nya."Apa kau yakin berakhir dengan sia sia."


"Lin,sebenarnya yang aku hadapi itu bukan hanya mertuaku,tapi dua kakak Hardi,juga paman dan bibi Hardi."


"Apa,padahal kelihatannya mereka baik padamu."


"Tidak Lin.mereka menatapku penuh kebencian,mereka menuduhkan menginginkan harta mereka dengan menikahi Hardi ,padahal terpikir untuk itu saja,tidak ada,yang ada dalam pikiranku hidup bersama dengan orang yang kita cintai hingga ajal menjemput."


"Gila,sampai sajauh itu mereka berpikir."Lina menggelengkan kepalanya.


"Malam sebelum aku mengambil keputusan aku mengulasnya semua,setiap kejadian yang aku alami, harus hingga titik puncaknya kuambil keputusan ini."


"Terus apa yang mendorong kamu mengambil keputusan. ini An."


"Lin.kami berdua memang saling cinta,tapi kita tidak hidup hanya berdua,ada orang orang yang selalu berinteraksi dengan kita,dan itu pasti akan mempengaruhi kita,kecuali hanya kami berdua tinggal di bumi ini,itu pun mustahil,Adam dan Hawa yang sudah nyaman tinggallah di sorga juga dapat masalah,iya kan Lin?"


"Benar juga An."


"Kurasa kau bisa mencernanya Lin."


"Ya An Bisa jadi ada seseorang yang lebih baik dari Hardi sedang menunggumu An." ucap Anita sambil tertawa


Lina menjalankan mobilnya meninggalkan halaman parkir kantor Pengadilan Agama.


"An.tampakanya cacing di perutku sudah main drum band.kita cari rumah makan dulu ya."


"Iya Lin."


Mereka berdua menuju rumah makan yang cukup banyak pelanggannya karena makanan di sana sangatlah enak dan harganya pun terjangkau.


Lina memarkirkan mobilnya dihalaman parkit rumah makan yang mereka tuju.

__ADS_1


Baru beberapa langkah mereka berjalan setelah keluar dari mobil,suitan nakal terdengar Lina dan Anita


Lina berbalik,tampak tiga anak pelajar yang masih mengenakan seragam abu abu .


Anita menarik tangan Lina untuk mengajaknya pergi,"Sudah Lin.jangan diladeni,masih sekolah." bisik Anita.


Lina mendengus mengikuti Anita.


"Duh ..galak amat Tante baju merah ya." ucap salah satu dari anak SMA


dibelakang mereka,diikuti tawa terbahak bahak temannya yang lain.


Kemarahan Lina sudah pada ubun ubun


"Aku harus kasih pelajaran ni anak."ucapnya seraya berbalik dan langsung melayangkan pukulan dan tendangan pada anak berbicara tadi.


Anak itu tidak bisa melawan karena yang dihadapinya seorang pemegang sabuk hitam taekwondo.


Kedua anak yang lain tidak cukup berani melawan Lina.


Lina berdiri menatap ketiganya


"Masih berani berbuat seperti tadi." bentak Lina.


"Ngga Tante,maaf Tante." ucap mereka serempak.


Anita dan Lina meninggalkan ketiga anak sekolah yang masih duduk di tanah.


" Galak sekali Tante Digo, bagaimana ini kalau om kamu melihat keadaanmu" melihat bibir Digo yang bengkak dan mengeluarkan darah.


"Terus bagaimana ini,sebentar lagi om akan datang,apa kita batalkan aja makan siangnya,Go."


""Jangan dibatalkan rugi kita,yang kalah taruhan kan om.,sesuai janji om traktir kita makan disini,gimana kamu fras ,nanti aku yang bilang kejadian ini pada om,tenang aja."


"Yuk kita masuk pesan makan."


"Iya,perutku sudah lapar sekali."sahut Wawan.


Ketiganya memasuki rumah makan yang sama dengan Anita dan Lina.


Anita melihat tiga pelajar yang tadi berurusan dengan Lina tampak memasuki rumah makan.ketiganya duduk tak jauh dari Anita dan Lina.


"Duh lihat anak itu,kasihan sekali ,jadi babak belur." kata Anita sambil menatap anak yang penampilannya sudah berantakan.


"Huh.masih untung cuma kupukul, coba kumutilasi ." Sahut Lina ketus.


Anita yang mendengar omongan Lina jadi melotot.


"Sudahlah.kita makan dulu."


Tak berapa lama Anita melihat sosok lelaki dengan kemeja ham hitam yang digulung hingga siku duduk bergabung dengan ketiga pelajar itu.


Anita memperhatikan mereka yang tampak berbicara dengan serius dengan mata yang ditujukan kepada Lina yang duduk membelakangi mereka.


"Lin,sepertinya tiga anak itu memanggil seseorang."


"Biar saja,aku tidak takut."

__ADS_1


Anita melihat lelaki itu berdiri dari kursi dan berjalan ke arah Meraka.


"Lin,orang itu menuju tempat kita." ucap Anita khawatir takut terjadi apa apa pada sahabatnya.


"Aku.ngga salah An.buat apa takut."


Anita menatap lelaki dengan tubuh kekar terbungkus baju hitam dan celana jeans hitam .


"Boleh bergabung."


"Silahkan tidak ada yang larang ." sahut Lina ketus.


"Kenalkan saya Malik,paman Digo,anak yang tadi anda pukul."Malik menyodorkan tangan pada Lina.


Sebenarnya Lina malas meladeninya,tapi berhubung sepertinya pemukulan yang dilakukannya berbuntut panjang terpaksa dia harus menyelesaikan.


"Lina."sahut Lina sambil mengulurkan tangannya.


Kemudian Malik beralih ke Anita.


"Malik."


"Anita,"


"Maaf bila mengganggu kenyamanan anda berdua."


Lina acuh tak acuh,asik dengan makanannya seolah tidak terganggu dengan kehadiran Malik.


"Saya minta maaf atas kelakuan ponakan saya."


Lina yang mendengar mendengar terkejut,apa dia salah dengar,padahal semenjak Anita memberitahukan kedatangan Malik dia sudah siap siap kalau Malik tidak terima atas perlakuan Lina pada ponakannya.


Sama halnya dengan Anita yang melongo.


"Digo memang agak urakan kadang usil, maklum karena tidak ada yang merawatnya sejak kecil"


Anita .mendengarkan penuturan Malik, dan tampaknya kata kata itu ditujukan pada Lina.


Anita memperhatikan Malik yang menatap Lina dari samping.


" Dan tadi Digo sudah mengakui kesalahannya,dan dia minta maaf.'ucap Malik terus memandang Lina.


"Baguslah kalau anak itu sadar,mulutnya itu perlu dijaga,kalau seperti itu terus bakalan kena batunya nanti." ucap Lina ketus.


"Ya ,tadi sudah saya nasehati.terimakasih sudah memberi pelajaran pada Digo, kalau tidak begitu dia tidak bakalan kapok."


Lina melongo mendengarnya,menatap Malik dengan penuh tanda tanya.


Dan yang lebih membuat Lina semakin melongo karena wajah tampan disampingnya tersenyum manis.


"Gila ,kenapa Anita tidak bilang kalau ada dewa Yunani duduk di sampingku."ucapnya dalam hati.


"Sudah saya lupakan." Sahut Lina dengan nada lembut.


Anita heran mendengar nada suara Lina yang berubah lembut.


"Terimakasih."ucap Malik bernapas lega.

__ADS_1


__ADS_2