
Waktu sudah menunjukan pukul dua siang,beberapa pekerja yang tadinya beristirahat tampak akan memulai aktivitas . Anita mendekati salah satu pekerja dan berbicara pada mereka.
" Maaf . bolehkah saya mengganggu waktunya sebentar." kata Anita pada salah satu pekerja.
' O..... silahkan nyonya,..." kata pekerja yang bernama Iwan.
" Bisakah bapa mengajari kami cara menoreh dipohon itu.' kata Anita menunjuk pohon karet.
Lelaki yang bernama Iwan tampak melongo.tidak percaya kalau istrinya pa Rohan ingin belajar.
Merasa tidak mendapat jawaban Anita mengulangi pertanyaannya lagi." Apa boleh pa?'
' Bisa....bisa....." sahutnya agak gugup.
Anita mengangguk dan segera memanggil Rico.
" Rico.....kemarilah....kita ikut bapa Iwan yuk." ajak Anita
" Iya ....ma....' Rico segera berlari mendekati Anita dan pa Iwan.
" Mari ...nyonya...ikut saya.' pa Iwan segera berjalan mendahului diikuti Anita dan Rico dari belakang.
Mereka mencari pohon yang terdekat .
Pa Iwan mengeluarkan alatnya dan mempraktekkan didepan Anita dan Rico.
Anita maupun Rico memperhatikan dengan seksama, bagaimana pa Iwan menggunakan alat untuk melukai kulit pohon karet hingga mengeluarkan getahnya dan ditampung dengan wadah dari tempurung kelapa.
Rico menatap kagum,,setelah dirasa cukup pa Iwan menawarkan Rico dan Anita untuk mencoba.
"Nyonya.....nak Rico....kalau ingin mencoba." kata pa Iwan menyodorkan alat yang ada ditangannya.
Rico begitu antusias,segara meraihnya.Kemudian mereka mencari pohon baru yang belum ditoreh.
Walaupun dengan beberapa kali kesalahan yang dibuat , akhirnya Rico berhasil juga Anita,ada sepuluh batang pohon yang mereka toreh.
" Rico... sepertinya sudah cukup,." kata Anita pada Rico.
Tampak keringat membasahi baju Rico.
' Iya ma.....Rico senang bisa melakukannya." kata Rico sambil tersenyum.
Anita mengembalikan pisau toreh pada pa Iwan.
" Terimakasih pa kami dapat pelajaran dari bapa." kata Anita.
" Sama sama Nyonya.'
Ketiganya kembali berjalan ke pondok.
Rico tampak berlari kesenangan menuju ke arah neneknya yang sedang duduk bersama Papanya. di
depan pondok.
" Nek......" teriak Rico.
__ADS_1
" Ada apa....kok teriak" sahut Ratih sambil tersenyum membentangkan tangannya untuk melukai Rico.
" Kenapa badan Rico berkeringat ?' tanya Ratih.
' Itu....tadi.... Rico belajar buat garis di pohon sama bapa yang disana.' kata Rico sambil terengah-engah menunjukan Anita dan pa Iwan yang sedang berjalan ke arah mereka.
Ratih memandang cucunya tidak percaya.
" Yang benar...?'
" Iya nek.....tanya sama mama,tadi juga mama juga mencoba,dan bisa seperti Rico.'
Ratih mengangguk." Ya ....nenek percaya Rico.' ucap Ratih sambil tersenyum.
" Nek...Rico cuci tangan dulu ya." Rico segera melepaskan pelukan neneknya dan berlari menuju sungai kecil.
Ratih tersenyum.
Anita dan pa Iwan sedang sampai dekat Ratih.
" Pa Iwan.... terimakasih sudah mengajari Rico, anak ini memang selalu ingin tahu.' kata Ratih pada pa Iwan.
" Sama sama nyonya." pa Iwan menganggukan kepala dan kembali menuju ke arah mereka datang tadi.
Anita duduk di kursi dekat mertuanya sambil memperhatikan Rico yang bermain air disisi sungai.
" Ma....kita pulang jam empat sore,biar tidak terlalu malam sampai di rumah." kata Rohan pada mamanya.
" Iya.....barang barang sudah dirapikan semua sama Anita,tidak ada yang ketinggalan,kita tinggal nunggu pa Joko aja lagi." sahut Ratih.
Ratih tahu.pa Joko sangat banyak jasanya dalam membantu papanya Rohan dulu.karena itulah dia menawarkan pa Joko untuk menjaga kebun karet milik suaminya dengan hasilnya di berikan kepada pa Joko semua.
Tadinya pa Joko menolak, tetapi dipaksa oleh Ratih, akhirnya di terima.
" Kelihatannya Rico sangat senang...An."
" Iya ma."
" Kalau begitu bila ada waktu Rico diajak ke sini lagi." kata Ratih sambil memandang Rohan seolah minta persetujuan.
" Iya ma....' sahut Rohan.
" Ma...... kita main ke sana." tunjuk Rico kearah mereka tadi datang.
Anita menoleh pada mertuanya dan Rohan.
Ratih menganggukkan kepalanya.
Anita kemudian berdiri dan menyusul Rico.
" Kelihatannya Rico tidak bisa lepas dari Anita." kata Ratih.
Rohan menatap kepergian Anita dan Rico.
" Rohan....lebih baik kau susul mereka." kata Ratih.
__ADS_1
" Tapi ma...."
" Sudah.... susul sana.!!!"
Rohan akhirinya berdiri berjalan menuju arah Rico dan Anita.
Dari kejauhan Rohan melihat Rico yang berlari kemudian duduk di bawah pohon karet yang rindang sambil melempar biji buah karet
Tiba tiba Rohan di kejutkan oleh teriakan Anita.
" Rico........diam...jangan bergerak." sambil Anita menunjuk ke atas pohon.
Rico yang mengikuti arah yang ditunjuk Anita menjadi terbelalak.
Anita memberi aba aba pada Rico untuk tidak bergerak.Wajahnya menjadi pucat pasi,keringat dingin bercucuran ,Rico ingin lari tapi karena mengikuti perintah Anita di tidak berani bergerak sedikit pun.
Anita berjalan mendekati Rico yang meringkuk ketakutan,. Anita sengaja bejalan memutar ke kiri.jarak antara dirinya dengan Rico kurang lebih dua puluh meter.
Anita tetap melihat ke atas pohon,tampak saja yang berukuran pergelangan bergoyang.
Anita dapat melihat mata makhluk yang.menatap tajam Rico.
Rohan yang belum menyadari bahaya yang.mengincar anaknya berteriak memanggil Rico dan Anita , suara Rohan rupanya memancing makhluk yang berada di atas pohon.
Anita terkejut ketika tiba tiba makhluk itu menggantungkan tubuhnya pada dahan kecil dan berayun ke arah Rico. Anita yang menyadari Rico yang menjadi sasaran segera berlari ke arah Rico dan menariknya ke belakang hingga Rico terjungkal..Bertepatan saat itu juga makhluk itu mencengkram Anita dari belakang.
Anita merasakan cengkraman yang sangat kuat pada bahu dan kepalanya.
Rico terkejut melihat apa yang terjadi segera berteriak.
" Pa.... nenek...Tolong mama......" teriak Rico dengan Histeris.
Teriakan Rico di dengar para pekerja yang sebagian belum kembali bekerja .
Rohan melihat Anita menjadi bulan bulanan berusaha memancing agar melepaskan Anita.,tapi tampaknya makhluk itu sangat marah,dan Anita tidak bisa melepaskan diri darinya., beberapa pekerja berlarian juga Ratih. Rico tampak gemetar memeluk neneknya sambil pandangannya tidak lepas melihat Anita yang jadi bulan bulanan.
Beberapa pekerja berusaha memeluk makhluk tersebut tetapi tidak membuat Anita terlepas dari cengkramannya ,malah terlihat makhluk itu tampak ganas.
Tiba tiba Rohan berbalik ke arah pondok.
" Rohan..... apa yang kamu lakukan." teriak Ratih yang melihat Rohan berlari meninggalkan mereka.
Rohan terus berlari , dalam hitungan menit Rohan sudah kembali dengan senjata ditangannya, dan segera membidikkan ke arah makhluk itu.
Suara letusan senjata membahana di hutan karet yang sunyi.
Tiga buah peluru bersarang di punggung makhluk besar yang menyeramkan dengan tubuh seukuran manusia dewasa.
" Kau membunuhnya.." suara Anita terpekik.
Tiba tiba Anita merasa tubuhnya dijatuhi beban yang berat, membuatnya jadi tidak bisa bergerak , pandangan matanya menjadi suram dan kemudian semuanya menjadi gelap.
Anita sudah tidak mendengar suara kepanikan, Anita sudah tidak merasakan apa apa lagi,semuanya menjadi sunyi.
\*\*\*\*
__ADS_1