
Seminggu telah berlalu semenjak permintaan Anita pada Suaminya,tetapi tampaknya tidak terlihat ada jawaban dari suaminya.
Dan selama seminggu ini suaminya tetap hangat seperti biasa hanya saja untuk jadwal kepulangan Hardi ada yang berubah tidak pukul lima lagi tetapi pukul delapan malam,dengan alasan semakin banyak pekerjaan.
Anita hanya mengiyakan tidak ingin membahas,yang nantinya akan menimbulkan perselisihan,Anita paling tidak suka bertengkar ataupun berdebat,lebih baik dia menghindar.
Hanya saya Anita agak merasa aneh dengan sahabatnya Lina,hampir setiap hari menghubunginya selalu menanyakan kabar dan menanyakan keadaaannya.Lina lebih perhatian akhir akhir ini.
Suara kendaraan memasuki halaman rumahnya,Anita berlari menyongsong kedatangan Hardi,Anita kaget melihat penampilan suaminya yang berantakan seperti orang habis berantem.
"Lho...ada apa bang,kenapa berantakan gini." tanya Anita bingung seraya meraih tangan Hardi dan menciumnya sekaligus mengambil tas kerja Hardi.
"Tak apa.kita ngomong di dalam,aku mandi dulu ya.."sahut Hardi sambil berjalan meninggalkan Anita.
Tingkah polah Hardi membuat Anita sedikit bingung,karena tidak seperti biasanya..
Dan semenjak pulang malam Hardi juga tidak pernah makan malam di rumah, dan dalam beberapa bulan ini juga Hardi tidak pernah mengajaknya jalan,kalau dulu hampir setiap hari Minggu mereka jalan, sekarang tidak pernah lagi.
Tapi Anita memahami ,mungkin karena kesibukan Hardi jadi waktu luang sudah tidak ada ,Anita juga pernah menuntut.Ya,..Anita type wanita yang menerima apa adanya.
Setelah Hardi membersihkan diri dengan dibantu Anita,keduanya duduk di ruang keluarga.
"Anita,mengenai permintaan kamu seminggu yang lalu ,Abang sudah bicara dengan ibu."
"Apakah ibu membolehkan!"
"Besok ibu akan ke sini '
"o...." Anita mengangguk.
"Kalau Abang mau nda punya anak?"
"Abang mau sayang,tapi Abang tidak tahu harus bagaimana."Hardi memeluk erat Anita.
"Abang sayang kamu."
"Aku juga sayang Abang." Anita membalas pelukan suaminya.
Ada perasaan aneh dalam pikirannya,tetapi dia tidak tahu.
"Ya sudah lah bang,kita istirahat aja,Abang lelah kan ,seharian kerja."
Hardi hanya mengangguk dan berdiri membimbing istrinya menuju kamar.
Malam ini hanya ada keheningan diantara keduanya,Anita maupun Hardi tenggelam dalam pikiran mereka masing masing hingga kantuk datang menghampiri keduanya.
Rutinitas tiap pagi dilakukan Anita dengan hati berbunga bunga, karena nanti siang ibu mertuanya akan datang,dia juga akan menyiapkan makan kesukaan ibu mertuanya.
"Bang,ibu jam berapa ke sini?" Tanya Anita setelah mereka sarapan pagi
"Jam satu siang,nanti Abang yang jemput ibu.'jawab Hardi
"Iya bang,lama sudah tidak ketemu ibu."sahut Anita tersenyum hangat pada suaminya.
"Abang berangkat dulu sayang."Hardi memeluk Anita dengan erat seolah takut kehilangan.
__ADS_1
"Ya bang, hati hati."
Anita memandang kepergian suaminya dengan penuh senyum.
Waktu berlalu dengan cepat,tak terasa jam dinding sudah menunjukkan jam satu siang.Anita gelisah menunggu kedatangan ibu mertuanya semuanya sudah disiapkan.
Suara kendaraan memasuki halaman.seperti biasa Anita selalu berlari menyambut kedatangan suaminya dengan penuh senyum dibibirnya.
Tapi Anita merasakan suatu keanehan,suaminya kelihatan sangat tegang dan tertekan.
"Bang.' Anita menyapa Hardi,tapi Hardi hanya diam membisu tanpa ekspresi.
"Abang kenapa.?"tanya Anita cemas.
Hardi tetap diam membisu.tak berapa lama ibu mertuanya turun dari mobil ,Anita menyambut mertuanya dan meraih tangan menciumnya,tapi Anita hanya mendapatkan respon yang dingin dari ibu mertuanya,secara tak sengaja matanya menangkap sosok yang mengikuti ibu mertuanya turun dari mobil.
Seorang perempuan. Anita mengenalinya dia adalah LiLian kakak kelas Anita dulu.
"Anita.kau sudah tahu LiLian kan?" tanya ibu mertuanya agak ketus.
"Iya...kenal Bu."sahut Anita melihat LiLian yang menggenggam erat tangan ibu mertuanya.
"Karena sudah kenal itu lebih bagus lagi."sahut ibu mertuanya.
Anita memperhatikan LiLian yang berdiri disamping ibu mertuanya.Dan memperhatikan penampilan LiLian yang berbeda.,ya.tampak jelas LiLian sedang berbadan dua,kalau menurut perkiraan Anita mungkin antara tujuh atau delapan bulan.
Anita masih belum menangkap situasi sekeliling yang tampak tegang,terlebih keadaan suaminya yang tampak pucat.
"Ibu masuk dulu,kak LiLian juga." ajak Anita sambil mengangguk.
Anita mulai merasakan ada hawa yang kurang nyaman,dia melihat ke arah suaminya yang masih diam terpaku.
Hardi mengangguk melangkah lunglai mengikuti ibunya yang terlebih dahulu memasuki rumah.
Anita melihat ibu mertuanya sudah duduk di ruang tamu.
"Ibu. makan dulu. ya.sudah saya siapkan makan siang."pinta Anita lembut pada ibu mertuanya.
Rahmawati,ibu mertua Anita menatap tajam pada Anita.
"Ibu belum lapar,nanti aja,duduklah ibu mau ngomong sama kamu Anita."
Anita hanya mengangguk dan menuruti permintaan Rahma mertuanya.,tapi matanya tertuju pada tangan ibu mertuanya yang sejak tadi tidak pernah lepas dari tangan LiLian.
"Beberapa hari yang lalu Hardi ada menyampaikan keinginan kamu untuk melepas alat kontrasepsi kan?" pandangan matanya tajam menatap Anita yang duduk di depannya.
"O. Iya Bu,apakah ibu setuju?"tanya Anita penuh harap.
"Ibu tidak setuju Anita!"
"Kenapa Bu?" tanya Anita dengan nada kecewa.
"Lebih baik ibu terbuka sekarang,karena Hardi tidak punya keberanian untuk mengatakannya."Rahma menatap tajam Hardi yang berdiri sejak tadi.
Anita melihat suaminya yang sejak tadi hanya diam membisu.
__ADS_1
"Ada apa ini Bu,tolong jelaskan.?!"
"Baiklah Anita,Ibu keberatan kalau kau mengandung,karena suamimu akan kerepotan,tidak mungkin dia membantu mengurus dua bayi sekaligus."ucap Rahma sambil menghela napas.
"Dua bayi,maksud ibu apa,saya tidak mengerti."tanya Anita bingung.
"Ya...kalau kau lepas kontrasepsi,satu saat kau hamil dan melahirkan dalam waktu dekat ini,bagai mana Hardi bisa membagi waktu,karena sebentar lagi LiLian juga akan melahirkan,usia kandungannya sudah jalan delapan bulan."
"Tapi apa hubungannya dengan saya Bu.?"
"Karena LiLian mengandung anak suamimu, Hardi."ucap Rahma santai tanpa merasakan beban sedikitpun.
Anita terkejut mendengar pengakuan ibu mertuanya,bagaikan Sambaran petir disiang hari,tiba tiba tubuhnya kaku,jantungnya seakan berhenti berdetak,aliran darahnya bagai terhenti,wajahnya menjadi memerah menahan gejolak amarah dalam dadanya.
"Inikah perasaanku selama ini tidak nyaman,mereka membohongiku, mertua ku,suamiku,kebodohanku yang tidak peka,rupanya dibalik kebaikan dan senyum manis mertuaku tersimpan niat busuk ,seharusnya aku sadar kalau mertuaku sejak dulu tidak menyukaiku,dua tahun rupanya tidak cukup untuk mengambil hati mertua ku,sejak dulu aku sudah tahu kalau perempuan disamping ibu mertuaku yang diinginkan mertuaku jadi menantunya."gumam Anita dalam hati.
Anita berusaha merendam gejolak amarah dalam dadanya.Dia harus bisa mengendalikan diri,jangan terlihat lemah.Anita menggosok gosokan kedua tangannya pada pahanya sambil memandang suaminya yang tampak tidak berkutik sama sekali.
"Baiklah,kalau memang itu keputusan ibu,tidak menjadi masalah buatku."sahut Anita datar dan tenang.
Hardi terkejut mendengar jawaban Anita demikian juga Rahma dan LiLian,Perkiraan mereka dari awal berangkat akan menghadapi amukan Anita yang tidak terima dan akan mendengar umpatan umpatan kasar dari mulut Anita,tapi kenyataanya jauh dari sangkaan Rahma,Hardi maupun LiLian.
Namun sikap tenang Anita membuat mertuanya murka,dia sebenarnya ingin Anita marah dan mengamuk dengan begitu akan mudah menyingkirkannya.
"Seperti nya masalah sudah jelas,ibu lebih baik kita makan siang,karena sudah sejak tadi aku siapkan."ucap Anita sambil berdiri dan berjalan menuju ruang makan.
Suasana makan siang terasa kaku,tak ada seorang pun yang berbicara.Setelah Anita membereskan meja makan Rahma memanggilnya
"Anita mulai hari ini LiLian tinggal di rumah ini,karena usia kandungan yang sudah masuk bulan ke delapan,sebentar lagi melahirkan,harus ada yang merawatnya,terutama suaminya." ucap Rahma tanpa perasaan pada Anita.
Anita yang mendengar perkataan mertuanya sebenarnya ingin marah,tapi dia ingat kemarahan hanya akan menimbulkan masalah dan akan membuatnya dipandang rendah.
Anita memandang LiLian yang tampak bergelut manja pada Hardi, pemandangan itu sungguh menyakitkan matanya,seandainya lantai tempatnya berpijak terbelah dua ingin masuk dalam perut bumi dan tidak akan mengalami kesakitan ini.
"Terserah kata ibu,kalau memang itu yang terbaik buat ibu.."sahut Anita datar.
"Dan satu lagi Anita,mulai sekarang LiLian tidur dikamar kalian,ibu harap kau pindah di kamar tamu,karena Hardi harus selalu menjaganya."
Anita mengepalkan tangannya menahan kemarahan,perkataan mertuanya menghilangkan rasa sungkan dan hormat pada mertuanya.
"Bagaimana ada orang yang memiliki tabiat seperti ini,sama sekali tidak punya perasaan,aku harus kuat dan aku harus menyelesaikan masalah ini secepatnya." gumam Anita.
"Baiklah bu,aku akan memindahkan barang barangku ke kamar tamu.' sahut Anita berlalu menuju kamar.
Sebenarnya Anita sudah tidak kuat lagi,sejak tadi air matanya sudah mau keluar,tapi karena sudah terlatih dari kecil menahan penderitaan,Anita masih bisa menahannya.
Anita membereskan barang barangnya secara tak sengaja tangannya menyentuh dua buku kecil berwarna hijau dan coklat,buku nikahnya dengan Hardi.
Anita menatap nanar kedua buku tersebut,beberapa saat dia terpaku,kemudian memasukkannya dalam tas kecil bersama dengan berkas lain juga ijazahnya.
Anita memindahkan barangnya seorang diri,Hardi suaminya hanya diam tak bergerak,Anita tahu kalau ibu mertuanya melarang suaminya untuk membantunya dengan alasan LiLian lebih penting.
"Anita,." panggil Hardi yang melihat Anita mondar mandir membawa barangnya dengan pandangan miris.
"Tidak usah merisaukanku ,bang,jaga anakmu,aku masih sehat tidak perlu dikasihani ataupun dibantu."sahut Anita datar sambil berlalu dari hadapan Hardi dan LiLian.
__ADS_1
Hardi terdiam,berbeda dengan LiLian yang tampak senang.Hardi menahan kemarahan dalam dadanya,kekesalan karena tidak bisa membela Anita di depan ibunya.Tak terasa ada butiran bening yang mengembang di kedua sudut matanya.
"Maafkan abang sayang,Abang sudah menyakitimu." gumam Hardi dalam hati.