
Anita terkejut karena sinar matahari yang menerobos masuk disela sela jendela kamar yang tertutup gorden.
Anita melihat jam dinding,waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh siang.
" Astaga.....,Rohan.... bangun,Anita menggoyang dada bidang suaminya.
" Masih ngantuk An..... sini tidur lagi." Rohan meraih Anita di alam pelukannya dengan mata masih terpejam.
" Rohan.....ini sudah jam sepuluh.....sudah terlambat masuk kantor." bisik Anita ditelinga suami nya.
" Kalau terlambat lebih baik tidak usah masuk sekalian." sahut Rohan dengan santai,sambil tangannya mengelus punggung Anita yang telanjang.
" Tapi ini bukan hari libur."
Rohan tidak menyahut malah menyembunyikan wajahnya di dada Anita.
Anita tahu Rohan tidak tidur, sepertinya Rohan memang tidak ingin melakukan aktifitas seperti biasa, akhirnya Anita menyerah,membiarkan Rohan berbuat semaunya.
Saat dia bangkit ke kamar mandi juga hanya diberi waktu Lima menit agar kembali berbaring disamping Rohan.
Anita sama sekali tidak bisa berbuat apa apa,Rohan memeluknya sangat kuat, seperti takut Anita akan hilang.
Anita tidak bisa membayangkan apa yang ada dipikiran mertuanya nanti, apa yang akan dia jawab bila mertuanya bertanya.
Sebenarnya keduanya tidak tidur,keduanya saling diam sibuk dengan pikiran masing masing,memutar balik setiap kejadian yang pernah mereka alami,
Anita menatap lembut lelaki yang kini terbaring di sisinya,Anita tidak menyangka akan berhubungan lagi dengan masalah asmara dan lelaki disampingnya saat ini sudah menjadi suaminya,semua diluar prediksi Anita.
Anita pikir setelah kehancuran rumahtangganya yang pertama dia sudah bertekad untuk tidak akan berumah tangga lagi,tapi kenyataannya sangat jauh dari dugaannya.
Semuanya berubah saat bertemu Rico,dan ternyata merupakan jalan bertemu dengan Rohan.
Anita akan berusaha menjadi keutuhan dan kedamaian dalam rumahtangganya kelak.
Berbeda dengan Rohan,perasaannya tiba tiba menjadi plong,tidak ada beban sedikitpun ,beban yang selama ini mengganjal dalam dirinya seperti meluap tanpa bekas.
Bayangan Linda mantan istrinya yang selalu melintas dimatanya seperti sirna,walaupun ada tidak menjadi beban pikirannya lagi,dan yang lebih membahagiakannya lagi,dia seutuhnya telah menjadi lelaki normal kembali.
Anita sudah membuatnya sembuh dari keterpurukan dan dari penyakit yang baginya sangat memalukan.
Keinginannya saat ini adalah membahagiakan Anita dan akan selalu berada disisi Anita dalam suka maupun duka.
" Sayang.....aku lapar." bisik Rohan pada Anita
Anita menatap Rohan sambil tersenyum,dan mencubit hidung Rohan." Dari tadi diajak bangun ngga mau,sekarang baru bilang lapar?"
__ADS_1
Anita melirik jam dinding yang menunjukkan pukul dua belas siang.
" Rasanya aku tidak ingin keluar kamar ini,." kata Anita.
" Kenapa,kamu tega menyiksaku, aku kelaparan sayang.'kata Rohan sambil mencium pipi Anita
" Aku malu sama mama, apa yang mesti ku jawab bila mama menanyakan kenapa kita tidak sarapan,kenapa kita bangun siang?" kata Anita dengan wajah meringis.
" Bilang aja lagi lembur buat cucu untuk mama." sahut Rohan seenaknya.
Anita melotot sambil memukul dada suaminya,dengan wajah memerah bagai kepiting rebus.
Rohan tertawa terbahak-bahak melihat Anita yang malu karena ucapannya.
" Terus kamu mau kasih alasan apa sama mama?" tanya Rohan tersenyum.
Anita diam sambil menggelengkan kepalanya. Dia berharap saat keluar kamar tidak bertemu dengan mertuanya.
Anita bangkit dari tempat tidur menuju kamar mandi,diikuti Rohan dibelakangnya.
Keduanya kemudian membersihkan diri bersama .Anita membantu Rohan menggosok punggung Rohan demikian juga Rohan membantu menggosok punggung istrinya. Rohan memperhatikan bekas luka cakaran di bahu Anita masih ada tampaknya akan lama hilang.
Setelah dirasa cukup keduanya mengakhiri ritual mandi bersama
Anita segera merapikan keadaan kamar dan mengambil pakaian mereka yang berhamburan dilantai.
Anita keluar menuju dapur bermaksud memasak,karena dirinya sendiri sudah sangat lapar.
Anita tidak melihat keberadaan mertuanya,tampaknya mertuanya berada dikamar,Anita bisa bernapas lega,paling tidak dia bisa tenang dalam menyiapkan makan siang.
Hampir selesai Anita memasak,tiba tiba Rohan mengejutkannya dengan memeluk pinggangnya dari belakang,dan mencium leher belakang hingga membuat Anita hampir berteriak.
" Rohan.... hentikan....nanti dilihat ma....." ucap Anita tertahan karena Rohan sudah membungkam bibir Anita dengan bibirnya.
Dan benar apa yang dikatakan Anita,dari kejauhan Ratih melihat kelakuan anaknya, sambil menggelengkan kepalanya, melihat tingkah Rohan mengganggu Anita.
Bagi Ratih melihat apa yang dilakukan Rohan pada istrinya merupakan kebahagian tersendiri,selama ini dia tersiksa melihat keadaaan Rohan anaknya yang tidak mau mencari pasangan lagi.
Ratih yang semula ingin ke dapur membatalkan niatnya saat dilihat anak dan menantunya berada di sana .
" Rohan.....kita makan dulu....aku tidak ingin jatuh pingsan karena kelaparan." kata Anita sambil berusaha melepaskan pelukan Rohan.
Rohan akhirnya melepaskan pelukannya.
" Rohan....panggil mama,aku malu...." kata Anita dengan wajah memerah.
__ADS_1
Rohan menganggukan kepala dan berjalan menuju kamar Ratih.
" Ma..... makan dulu,.sudah disiapkan Anita." kata Rohan menerobos masuk kamar mamanya karena pintunya tidak tertutup.
Ratih sedang membaca buku dan melihat Rohan yang tampaknya lebih ceria dan tidak kaku
" Apa mama ketinggalan berita baik hari ini ,Rohan?' tanya Ratih sambil tersenyum.
Rohan mengerti apa yang dimaksud mama,Rohan tertawa . " " " Mama tidak ketinggalan berita,Rohan rasa mama lebih dulu tahu." kata Rohan sambil memeluk mamanya dengan penuh kasih.
Ratih tersenyum
" Mama berharap kedepannya akan selalu baik dan lancar." kata Ratih penuh harap.
" Jaga Anita....mama rasa dia wanita yang baik,terlihat dari caranya mendidik dan menjaga Rico, hanya saja mama heran dengan Anita yang sama sekali tidak pernah tersenyum ataupun tertawa,mama tidak tahu apakah dia ada masalah yang dipendam.' kata Ratih .
Rohan menggelengkan kepalanya.
" Ma....Anita hanya tersenyum dan tertawa untuk Rohan,suaminya." kata Rohan dengan nada bangga.
" Maksudmu?" tanya Ratih memandang Rohan dengan penuh tanya.
"Anita bisa tertawa juga bisa bercanda hanya dengan Rohan ma."
kata Rohan dengan senyum lebar dibibirnya.
" Benarkah....mama pikir Anita sama sekali tidak pernah tersenyum,wajahnya selama ini tidak ada ekspresi,baik dalan keadaan marah ,sedih ataupun senang." kata Ratih sambil mengangguk - angguk.
Rupanya selama ini Anita selalu menjaga dirinya dengan baik, dirinya hanya untuk suaminya seorang saja.Anita membentengi dirinya dengan sikap yang dingin dan datar setiap bertemu dengan orang-orang,tapi berbeda saat dia dengan Rohan.
Terlihat bagaimana Rohan tampak bahagia dari pancaran Rohan terlihat jelas dia sangat menyayangi Anita,dan sepertnya takut Anita berada jauh darinya.
" Mama senang mendengarnya,Rohan,berarti Anita memikirkan dirinya hanya untukmu,dan jaga kepercayaan yang diberikan Anita,jangan sampai kejadian yang pernah Anita dulu terulang kembali,karena hanya akan meninggalkan penyesalan." kata Ratih menasehati Rohan.
" Apa maksud mama?" tanya Rohan tidak mengerti
" Mantan suaminya ingin kembali pada Anita,juga mertuanya,sampai datang ke rumah ini menemui Anita." kata Ratih teringat akan Rahma yang berusaha membujuk Anita.
" Apa ma....kapan kejadiannya.?" tanya Rohan dengan wajah memerah menahan marah.
" Sudah lama,satu atau dua bulan Anita bersama kita,dan saat itu kamu juga tidak perduli dengan kehadiran Anita,malah terkesan membencinya." kata Ratih pelan.
Rohan berusaha untuk tenang dan dia berjanji kejadian ini tidak akan terulang lagi.
" Sudahlah....jangan terlalu dipikirkan,mama rasa Anita bukan orang yang mudah dibujuk,dan dia tidak ingin mengulang apa yang sudah terjadi,jadi tinggal menjaganya dan jangan sampai membuatnya kecewa." kata Ratih sambil berdiri berjalan ke luar kamar, diikuti Rohan
__ADS_1