
Setelah apa yang dilakukan Anita kepadanya membuat Rohan tidak bisa tidur.
Rohan berusaha untuk tidak melakukan apapun pada Anita,walaupun dorongan untuk menyentuh Anita sangat kuat.
Rohan merasa senang,paling tidak Anita tidaklah terlalu kaku.
Anita membuka matanya, dia melihat jam di dinding menunjukan pukul lima, Anita bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya dan sholat subuh seperti biasa,dan melakukan aktivitas di dapur seperti biasa.
Setelah selesai di dapur Anita kembali ke kamar untuk mempersiapkan keperluan Rohan lagi.
Anita melihat ranjang yang telah kosong,tampaknya Rohan sedang mandi,Anita merapikan tempat tidur dan merapikan kamar.
Hari ini Rohan memintanya ikut menemaninya ke kantor,dan tadi mertuanya juga sudah mengatakan,rupanya Rohan sudah berbicara pada mamanya.
Anita melihat Rohan keluar dari kamar mandi seperti biasa dengan hanya mengenakan handuk yang melilit di pinggangnya.
Selama ini Anita tidak terlalu memperhatikan pemandangan seperti itu,tapi entah kenapa pagi ini dia jadi memperhatikan Rohan.
Anita menggelengkan kepalanya berusaha membuang pikiran kotor yang bersarang di otaknya.
" Ada apa denganku." gumam Anita dalam hati.
Rohan tampak seperti biasa,seperti hari hari sebelumnya hanya saja dia agak sedikit memperhatikan Anita yang seperti orang bingung.
" An..... ada apa?"; tanya Rohan.. sambil menatap Anita dengan lembut.
Anita menggelengkan kepalanya.
" Tidak apa."
Rohan melanjutkan memakai bajunya .Rohan tersenyum kecil melihat Anita yang salah tingkah.
" Sarapan sudah siap,,apakah kamu yakin memintaku untuk menemanimu ke kantor?" tanya Anita memecah kesunyian diantara mereka.
" Ya.. temani aku.,"
Anita diam menatap Rohan ,kemudian menganggukkan kepalanya.
" Baiklah." kata Anita pelan .
Sarapan rutin seperti biasa, hanya kali ini tidak ada Rico diantara mereka. Anita bisa agak santai karena tidak mengejar waktu untuk mengantar Rico ke sekolah.
****
Rohan dan Anita sudah memasuki halaman kantor milik Rohan.
Keluar dari mobil Rohan menggandeng tangan Anita, beberapa karyawan tersenyum menyapa mereka,.
Rohan membalas tegur sapa mereka dengan ramah, dalam sebulan terakhir ini suasana kantor Rohan berubah lebih hangat dan agak santai,karena Rohan bersikap ramah pada karyawannya,biasanya Rohan sangat kaku ,hingga membuat mereka menjadi tegang.
Mereka memasuki ruangan kantor Rohan.
Anita memperhatikan Rohan yang tanpak serius memeriksa beberapa berkas yang ada di mejanya.
Beberapa kali Anita mendengar Rohan menarik napas panjang.
Anita membuatkan kopi untuk Rohan dan meletakkannya di meja.
" Rohan."
Rohan melihat Anita," Terimakasih
An..'
Anita hanya diam melihat Rohan dan berjalan berbalik menuju sofa.
__ADS_1
Rohan memperhatikan Anita sejenak sebelum matanya kembali pada berkas yang menumpuk di mejanya,
Sebenarnya Rohan ingin mengajak Anita jalan jalan hari ini,tapi karena. ada beberapa berkas yang harus diperiksanya dan di tandatangani,rencananya jadi tertunda,tapi paling tidak Anita mau diajak ke kantor bersamanya.
Hampir tiga jam Rohan tidak beranjak dari tempat duduknya, hingga akhirnya Anita mendengar hembusan napas kuat yang menandakan kelegaan pemiliknya.
Anita melihat Rohan memijit dahinya sambil bersandar di kursinya.
Ada rasa puas terpancar di wajahnya,
Rohan bangkit dari duduknya menuju ke sofa dimana Anita berada.
"Sudah selesai.?" tanya Anita melihat Rohan berdiri di sampingnya.
Rohan menganggukkan kepalanya dan duduk disamping Anita dengan menyandarkan kepalanya pada sofa.
Rohan memejamkan matanya.
" Kenapa?' tanya Anita.
" Tidak apa,mungkin kecapean,sedikit sakit ." kata Rohan sambil memijit dahinya.
Anita yang melihat Rohan seperti menahan sakit' mengulurkan tangannya menyentuh dahi Rohan,suhu badan Rohan memang agak tinggi dari biasanya.
" Sepertinya dia kurang sehat." gumam Anita dalam hati.
" Kemarilah aku pijit sebentar.' kata Anita .
Rohan membuka matanya dan melihat Anita.
Anita membenarkan duduknya dan meraih Rohan untuk meletakan kepalanya pada paha Anita.
Rohan hanya diam menurut, karena rasa sakit dikepalainya membuatnya ingin istirahat.
Anita memijit pelan pada dahi dahi dan pelipis Rohan.
yang tadi tampak tegang mulai kelihatan rilek.
Rupanya pijatan Anita membuat Rohan tertidur.
Ketukan pada pintu membuat Anita menghentikan gerakan tangannya.
" Masuk." kata Anita pelan
Pintu terbuka,tampak Lita sekretaris Rohan memasuki ruangan.
" O.... maaf Bu..." kata Lita saat melihat Rohan yang tertidur dipangkuan Anita..
" Ada apa mba Lita,.." tanya Anita.
" Saya tadi di suruh bapa ambil berkas yang sudah bapa tanda tangan untuk diserahkan pada rekan kerja bapa."
Anita mengangguk.
" Bisakah mba Lita ambil sendiri....tadi bapa sakit kepalanya,saya pijit jadi tertidur," kata Anita dengan suara agak pelan takut Rohan terbangun dari tidurnya.
" Baik Bu." Lita memeriksa berkas yang di maksud dan mengambilnya.
" Ini Bu,saya permisi keluar." kata Lita sambil memperlihatkan berkas yang di maksud.
" Sebentar mba...bisa saya minta tolong?" tanya Anita.
"Ya ...Bu.
" Tolong belikan makanan untuk makan siang ."
__ADS_1
" Baik bu.mau makan apa.?" tanya Lita sambil memperhatikan tangan
Anita yang memijit dahi Rohan.
" Masakan Padang aja.,itu uangnya tolong ambil di dompet saya. di dalam tas." Anita menunjuk tasnya yang berada di atas meja.
" Tapi Bu." Lita menatap ragu.
Dia tidak berani mengambil tas milik istri bosnya apalagi membuka dompetnya.
Anita melihat keraguan pada Lita.
" Tolong ambilkan tas saya mba." pinta Anita.
Lita langsung.beranjak dan mengambil Anita dan menyerahkannya pada Anita.
Anita mengeluarkan tiga lembar uang ratusan dan menyerahkan pada Lita,
" Belikan dua porsi saja mba Lita, juice buah jambu satu tanpa es , sisanya mba untuk mba Lita." kata .Anita pelan.
" Ya bu ... terimakasih." Lita mengangguk dan segera keluar ruangan.
\*\*\*
Lita kembali ke mejanya dan berpapasan dengan Dewi salah satu karyawan Rohan juga.
" Wi...temani beli makan siang untuk bos yuk." ajak Lita
" Hah...tumben bos minta belikan makan siang,biasa juga pergi sendiri" kata Dewi.
" Bos lagi sakit, ini ibu Anita yang minta,"
" Memang bu Anita ada didalam?"
" Iya lah,aku barusan dari sana ambil berkas.'
" Bos sakit apa?" tanya Dewi penasaran.
" Ngga tahu,kepalanya dipijit sama bu Anita, kelihatannya tertidur,Bu Anita bicaranya pelan banget takut bos bangun.' kata Lita sambil tersenyum.
" Aku jadi pengen lihat." kata Dewi penasaran.
" Hus....jangan ganggu,sekarang temani aku, ini uang yang di beri Bu Anita lebihnya banyak katanya untuk aku,kamu mau aku bagi ngga,hitung hitung dapat jatah siang." kata Lita sambil menunjuk uang tiga lembar uang ratusan.
" Mau ....mau. " Dewi langsung mengangguk.
Keduanya langsung pergi keluar mencarikan pesanan yang di minta Anita dan juga untuk mereka sendiri.
Sambil menunggu pesanan mereka di buatkan keduanya duduk santai sambil ngobrol.
" Menurut kamu bu Anita seperti apa ?" tanya Dewi pada Lita.
" Aku tidak tahu,kita juga kan jarang bertemu,dan lagi kalau Bu Anita ikut bos ,Bu Anita tidak pernah keluar dari ruangan bos,padahal berapa kali aku masuk ruangan bos kulihat Bu Anita tidak melakukan apa-apa,kecuali duduk nunggu bos bekerja sambil baca koran atau majalah." kata Lita.
" Kok Bu Anita bisa betah ya, tidak seperti ibu ibu sosialita yang sekarang lagi trend ." kata Dewi.
" Bu Anita kan ngga banyak bicara, penampilannya juga sederhana,ngga seperti istri - istri bos yang sering kita lihat.,terus kalau ngumpul mau ngomong apa." kata Lita .
" Iya juga ya. tapi, kayanya bos sayang banget sama Bu Anita, kalau jalan selalu digandeng takut hilang." kata Dewi.sambil tertawa teringat bagaimana bosnya yang selalu menggandeng istrinya.
" Iya....jadi bikin iri orang aja, pacarku aja nggak pernah seperti itu." kata Lita menggeleng.
" Aku juga kepengen kaya gitu.tapi sampai sekarang aku belum dapat." kata Dewi tertawa.
Keduanya tertawa mengingat keadaan mereka sendiri.
__ADS_1
Akhirnya pesanan mereka selesai dan mereka berdua kembali ke kantor.
\*\*\*