
Anita terbangun,waktu sudah menunjukan jam 5 pagi,Anita bersiap siap membersihkan tubuhnya menuju kamar mandi.
Entah mengapa perasaannya sangat ringan seolah kejadian kemarin tidak mempengaruhi dirinya.
Anita memandang wajahnya di cermin."Hari ini aku tuntaskan semua,aku harus bangkit,aku akan jadi diriku sendiri."
Setelah mandi dan berpakaian Anita keluar kamar menuju dapur,tampak olehnya ibu mertuanya sedang memasak,Anita bermaksud kembali ke kamar,tapi kehadirannya sudah diketahui Rahma.
"Anita,bantu aku menyiapkan sarapan untuk Hardi dan LiLian."
panggil Rahma.
Anita terdiam memperhatikan Rahma.
"Maaf aku tidak bisa,dan aku bukan pembantu!" Anita berbalik menuju kamar tidak memperdulikan pandangan marah Rahma.
"Dasar tidak tahu diri,perempuan murahan." umpat Rahma.
Anita mendengar umpatan Rahma,tapi dia sudah tidak peduli, perasaannya sudah tawar,dan tidak ingin berdebat.
Anita mengirim pesan lewat WA pada Lina.
Anita : "Lin.kamu jadikan jemput aku.?"
Lina: " Jadilah,apa mau sekarang?"
Anita:" Jam Delapan aja ya."
Lina:"Ok...tunggu ya"
Anita:"Makasih Lin.'
Anita masih berdiam diri dikamar,dia tahu kalau suaminya ,Rahma dan Lilin sedang sarapan dan tidak memperdulikannya,tapi Anita tak ambil pusing,dua hanya menunggu kedatangan Lina.
Tak beberapa lama terdengar ketukan di pintu kamarnya.
"Anita,sayang buka pintunya." terdengar Hardi memanggilnya
Anita memang sengaja mengunci pintu kamarnya karena tidak ingin diganggu ketiga orang tersebut.
Dengan malas Anita beranjak dari ranjang menuju pintu dan membukanya.
"Kamu tidak sarapan sayang?"tanya Hardi lembut menatap wajah Anita yang tampak tidak ada ekspresi.
"Masih kenyang."sahut Anita ketus dan duduk diranjang.
"Masih kenyang?bukankah tadi malam juga kamu belum makan,bagaimana bisa kenyang!"
Anita menatap Hardi dingin,perasaannya sudah Hampa,"Aku sudah kenyang karena perbuatan kalian ."sahut Anita dalam hati.
Anita hanya mengangkat kedua bahunya acuh tak acuh.
"Sayang,maafkan Abang,sangat sulit buat Abang untuk menghindar dari situasi ini."
"Abang salah,Abang tidak jujur pada kamu,"
"Sudahlah bang,aku tidak ingin memperpanjang masalah ini,biarkan berjalan sesuai dengan keinginan ibu."
"Maukah Anita memaafkan Abang."pinta Hardi memohon.
"Aku sudah memaafkan Abang,sudahlah jangan diungkit lagi."Anita menggelengkan kepalanya seolah ingin menghapus kejadian kejadian yang menimpaku dirinya
"Terimakasih sayang, kau memang yang terbaik." Hardi bermaksud memeluk Anita tetapi kedua tangannya ditolak Anita.
"Kembalilah ke kak LiLian,aku tidak ingin membuat dia bersedih yang nantinya akan mempengaruhi anakmu."ucap Anita datar.
"Tidak,aku sudah bilang ingin menemuinya tadi padanya dan LiLian tidak keberatan."
Anita tetap menggelengkan kepalanya
"Keluarlah,aku ingin istirahat."usir Anita
"Tapi sayang"
"Kumohon.keluarlah."
Hardi berdiri,walaupun sebenarnya dia ingin menceritakan semuanya,tetapi nampaknya Anita tidak ingin mendengarkannya.
__ADS_1
"Baiklah ,Abang keluar dulu.tapi nanti Abang ke sini lah ya "
Anita tidak menolak ataupun mengiyakan,Anita hanya diam.
Tepat jam delapan suara ketukan pintu terdengar,Anita sudah tahu siapa yang datang,Lina akan menjemputnya.
Rahma membuka pintu
"Anita ada Bu?'"
""Ada...dikamar ..sejak kemarin mengurung diri dikamar,seperti anak kecil."sahut Rahma ketus
Rahma tahu Lina adalah sahabat Anita sejak kecil dan keduanya tidak bisa dipisahkan walaupun ada perbedaan status sosial ,tapi keduanya tetap kompak seiring sejalan.
Lima yang mendengar perkataan Rahma hanya bisa diam,sungguh tidak pantas perkataan seperti itu diucapkan,apalagi keluar dari mulut seseorang yang mempunyai status sosial yang dianggap tinggi.
Lina melangkah ke dalam rumah menuju kamar tamu,Lina sudah tahu Anita tidur di kamar tamu,tadi sebelum berangkat Anita menelponnya dan memberitahu keberadaannya.
Melihat Lina yang memasuki rumah tanpa permisi membuat Rahma emosi.
"Hai kamu tidak punya sopan santun pada orang tua."tegur Rahma.
Lina yang mendengar perkataan Rahma membalikkan badannya.
"Oh...maaf nyonya aku tidak melihat nyonya jadi tidak menyapa nyonya." sahut Lina dengan sinis.
"Dasar tidak punya malu,sama dengan perempuan miskin itu,tidak punya adat sama sekali."ucap Rahma sengit.
Lina mengatupkan gerahamnya menahan marah.ingin sekali dia mencakar dan mencaci maki perempuan yang berada didepannya itu,kemarahannya terasa sampai puncak ubun ubunnya.
"Tampaknya anda sangat mengagungkan status sosial seseorang nyonya."ucap Lina sinis.
"Sudah pasti itu." sahut Rahma dengan antusias.
Lina mengangkat bahunya dan berbalik menuju kamar Anita meninggalkan Rahma yang menatap marah padanya.
Tapi Lina tidak perduli,dan mengetuk pintu kamar Anita.
"Anita...ni aku.buka pintu."
Keduanya duduk diranjang.
"Bagaimana keadaan kamu ." tanya Lina agak cemas.
"Sudah agak membaik,aku bermaksud menyelesaikan masalah ini secepatnya."
"Maksudmu?"
"Aku akan keluar dari rumah ini dan tidak akan kembali lagi."
Lina terkejut mendengar perkataan Anita.
"Tapi ,bukankah kau masih mencintai Hardi suamimu?"
Anita tertawa sumbang." Rasa cintaku sudah hilang karena satu penghianatan,aku sudah menguburkannya dan aku akan menghancurkan rasa cinta yang tumbuh dalam hatiku,tidak akan kubiarkan tumbuh."ucap Anita datar.
Lina bergidik mendengar perkataan Anita."Jangan seperti itu. kita tidak mungkin hidup tanpa cinta sayang,rasa cinta itu pasti akan selalu ada,apakah kau tidak mencintai ibumu??"
"Aku mencintai dan menyayangi ibuku.juga denganmu." sahut Anita pelan."Tapi itu cinta yang berbeda" lanjut Anita.
Lina diam sesat mencerna kata kata Anita,dia sudah mengerti maksud ucapan Anita."Baiklah kalau itu sudah menjadi keputusan mu,aku tidak bisa melarang,kamu yang menjalani,aku hanya bisa membantu sebisa mungkin,karena kau sahabatku,dan aku berharap tidak terjadi sesuatu apapun lagi padamu,aku sayang kamu Anita,kau bagai saudara ,mungkin melebihi saudara bagi ku.
Anita mengangguk."Kita pergi sekarang Lin." Anita segera mengangkat tas yang sudah dia siapkan sejak tadi malam.
Keduanya keluar kamar,tak disangka mereka berhadapan dengan Hardi yang bermaksud menemui Anita.
" Ada apa ini,apa yang kau lakukan sayang.'"Hardi menatap tajam Anita dan melihat tas yang dipegang Anita.
"Aku ingin keluar"
"Keluar ,,apa maksudmu ingin keluar Anita!"
Anita diam,Lina jadi serba salah dan memandang Anita yang tampak tenang,bahkan sangat tenang.
" Aku hanya ingin menenangkan diri sejenak,ku mohon ijinkan aku keluar."
"Tidak bisa ,Anita,kamu tidak boleh keluar dari rumah ini,aku suamimu dan aku melarangnya."ucap Hardi agak keras.
__ADS_1
"Walaupun kau larang,aku akan tetap keluar!'
"Tidak bisa,kau harus menurut padaku,aku suamimu."
Mendengar perkataan Hardi sebenarnya Lina ingin tertawa."Sungguh tidak tahu malu ."gumamnya dalam hati
Anita tidak perduli dan dia melangkahkan kakinya meninggalkan Hardi diiringi Lina.
Hardi yang menyadari hal tersebut segera meraih tangan Anita dan menariknya dengan keras.
"Apakah kamu ingin jadi istri durhaka yang tidak mau mendengar omongan suami!" bentak Hardi.
Anita menatap tajam suaminya.terlihat ada api kemarahan dikedua matanya.
Mendengar suara keras Hardi,Rahma dan LiLian yang tadi berada dikamar segera datang mendekat.
"Ada apa ini,kok ribut sekali?" tanya Rahma sambil menatap Anita dan sahabatnya.
Anita hanya diam juga Lina.
"Anita ingin keluar dari rumah ini bu."ucap Hardi
"O....mungkin Anita sudah sadar diri ,biarkan dia pergi." sahut Rahma tak acuh.
Lina yang mendengar ucapan Rahma tersulut emosi dan bermaksud menyerang Rahma, tetapi ditahan Anita
"Sudahlah Lin.Jangan kau kotori tanganmu dengan menyentuhnya."
Mendengar Anita berkata seperti itu membuat emosi Rahma meledak.
"Apa kau bilang,dasar perempuan murahan,aku tahu kau menikahi Hardi hanya untuk mengeruk hartanya , kau tak lebih sampah dimataku Anita,sungguh menjijikkan."
Anita tersenyum sinis "Kalau otak sudah dimasukan pikiran kotor,selamanya akan kotor."
Lina memandang sahabatnya.bagai mana mungkin Anita bisa mengucapkan perkataan seperti itu, sungguh membuatnya bergidik.
Dan perkataan itu semakin membuat Rahma emosi,"Lihat Hardi.sungguh berani istrimu pada ibu.,apakah pantas berkata seperti itu pada ibu."
Hardi menatap Anita yang seperti tidak terpengaruh sama sekali.
"Apa maksud perkataanmu ,Anita!"
Anita diam tidak menjawab.
"Jawab Anita," bentak Hardi mulai emosi.
Tapi Anita tetap diam.Lina bingung dengan situasi yang dihadapiny dan tidak Anita tampak tenang.
"Anita,jawab pertanyaan kak Hardi." suara LiLian juga ikut memojokkan Anita.
"Kau tidak perlu ikut campur,dan jangan coba mengaturku." sahut Anita menatap tajam LiLian.
Tak ada lagi rasa hormat Anita pada tiga orang yang berada di depannya.
"Kak , kenapa Anita berkata begitu,aku tidak mengatakan hal yang salah kan.,"ucap LiLian sambil bergelayut manja pada Hardi.
"Anita kamu belum menjawab pertanyaannya?!" Hardi menatap Anita dengan tajam
"Aku tidak bisa tinggal serumah dengan orang yang menjilat ludahnya sendiri."Anita menatap tajam LiLian.Hardi merasakan pandangan mata Anita pada LiLian.
"Dan aku tidak bisa hidup berdekatan dengan orang licik." Anita mengarahkan pandangannya pada Rahma.
"Dan aku tidak bisa tinggal bersama dengan orang yang mempermainkan perasaan orang lain." Anita menatap Hardi. Anita melangkah mundur tetapi Hardi menarik tangannya.
"Tidak Anita,jangan pergi,Abang cinta Anita." Hardi berusaha membuka Anita tetapi Anita menolaknya .
" Anita,bila kau melangkahkan kaki mu keluar dari rumah ini,kau sudah melawanku, apakah kau ingin jadi istri yang durhaka?!"
Mendengar perkataan Hardi,Anita membalikan badannya berjalan mendekati Hardi.
"Biarlah aku jadi istri durhaka,mungkin lebih baik bagiku." ucap Anita .
"Dan aku harap kau jangan jadi istri yang durhaka bagi Hardi,cukup aku saja." pandangan Anita beralih pada Lilian.
Perkataan Anita membuat Hardi emosi,dan secara tidak sadar memukul wajah Anita.Anita terkejut begitu juga Lina,namun secepat kilat kesadarannya kembali.
"Terimakasih.aku sudah tahu jawabannya."ucap Anita berlalu dari tempat itu dengan wajah datar,Lina mengikutinya dari belakang.
__ADS_1