
Pagi ini cuaca mendung matahari sepertinya bersembunyi enggan keluar dari peraduannya,
Hari ini Anita berencana kembali ke rumah ibu, karena segala hal yang menyangkut hubungannya dengan Hardi,mantan suaminya sudah selesai,jadi tidak perlu lagi Anita menghindar ataupun bersembunyi, statusnya pun sudah jelas.
Waktu sudah menunjukkan pukul delapan pagi,tidak ada tanda tanda Lina datang ke boutique.
"Kemana Lina ,tumben belum kelihatan batang hidungnya." gumam Anita.
Hingga jam Sepuluh Lina belum juga datang ,Anita bertanya pada karyawan Lina,mereka bilang tidak tahu ,dan handphone-nya juga tidak aktif,hingga membuat Anita khawatir.
Pukul sebelas barulah Lina menampakkan batang hidungnya.
"Dari mana Lin? Sampai sampai tidak bisa dihubungi?" Tanya Anita penasaran.
"Dari sekolah Digo."
"Sekolah Digo,ada urusan apa ke sana,apa kamu melaporkan kejadian beberapa hari yang lalu di rumah makan. itu kah Lin?"
"Aduh An.kemana pikiranmu,masa urusan sepele seperti itu aku laporkan.ngga lah ya."
"Terus ada urusan apa?"
"Aku mengambilkan raport Digo."
"Apa....mengambil raport,aku yang salah dengar apa kupingku yang. bermasalah!?" Anita menatap Lina yang dengan mata melotot.
"Iya benar,matamu jangan melotot kaya gitu nanti loncat keluar ngga ada gantinya." sahut Lina dengan mulut manyun.
"Aku merasa aneh saja Lin,tidak ada angin ,tidak ada hujan ,kok tiba tiba kamu mengambikan raport Digo,lagian orang tuanya kan ada."
"An.kalau orang tuanya ada aku ngga bakalan ngambil raport Digo,orang tuanya ke luar kota ada keluarga dari mamanya Digo hajatan."
"Kan ada siapa itu Malik,Omnya Digo,atau tantenya ."
"Digo sendirian di rumah, semuanya ada urusan masing masing,kasihan juga tuh anak."
"Tadi pagi Digo telpon minta tolong mengambilkan raportnya."
"O...pantas Digo agak liar,mungkin kurang perhatian dari keluarganya kali." sahut Anita.
"Bisa jadi An,tadi juga sempat bilang sama aku,kalau nanti siang dia minta ijin main ke sini,"
"Hah...apa ga salah Lin,masa anak laki mainnya di boutique."
"Hus,..Digo cuma cari teman ngobrol aja,bosan katanya main sama temannya."
Anita berpikir Digo ada maksud tersembunyi mendekati Lina,"Apa anak itu menyukai Lina ya,padahal sudah pernah dihampar Lina,kok nggak kapok."gumam Anita dalam hati.
"Semoga dia tidak bosan di sini Lin."
"O iya,aku rencana balik ke rumah ibu,karena urusanku sudah selesai jadi tidak ada masalah lagi sekarang."
__ADS_1
"Aku ditinggal sendiri dong An."
"Kita masih satu kota An.kaya orang mau ditinggal pergi jauh aja,." Anita tersenyum kecut.
"Iya. sayang.cuma aku sudah terbiasa ada yang nemani."
"Hati hati Lin kalau ngomong, kalau ada yang dengar nanti ada yang salah paham dikra kita ada hubungan yang tidak normal."sahut Anita datar.
Mendengar perkataan Anita ,Lina tertawa terbahak bahak.
"Kamu bisa aja ,An.aku perempuan normal,masih suka makhluk yang disebut laki laki."
"Yang bilang kamu ngga normal itu siapa,Lin,??"Anita melotot.
Ngga ada sih." sahut Lina sambil meringis.
Anita diam tidak lagi berbicara,.
Lina juga mulai melakukan aktivitasnya yang beberapa saat yang tertunda,demikian juga dengan Anita.
Waktu berlalu begitu cepat,tidak terasa sudah siang, keadaan boutique siang ini agak banyak pengunjung, yang sebagian besar juga langganan setia Lina
Lina ,termasuk seseorang yang berhasil dalam merintis usaha, dan semuanya dimulai dari nol,tanpa mendapat bantuan fasilitas dari orang tuanya yang jelas jelas mampu untuk memberikan apapun untuk anak satu satunya iru.,tetapi Lina tidak mau.
Lina merintis usahanya sejak mulai kuliah, jadi sudah cukup lama.
Karena kesibukan Lina,membuat orang tuanya khawatir,hingga di usia dua puluh lima tahun ini, Lina belum pernah dekat secara intim dengan lelaki, kalau hanya teman lelaki biasa Lina banyak kenal.Tapi tidak ada satupun yang bisa memikat Lina.
"Assalamualaikum,Tante." sapa Digo yang langsung masuk ke ruangan Lina.
"wa Alaikum salam,Digo.Tante pikir ngga jadi datang."
"Tadi habis nemani teman dulu ke perpustakaan umum, sudah selesai baru ke sini."
"O .ya Digo,lusa pesanan kamu sudah selesai,bisa diambil ."
" Ya ,Tante."
"Digo ngga ada rencana nih,libur semester?"
"Ngga ada,Tan, dan juga ngga ada pikiran ke sana.biasanya kalau libur semester ataupun libur panjang saya main game aja di rumah,paling nongkrong di cafe sama teman teman."
"Kok bisa,apa kamu ngga suka jalan jalan."
"Suka ,cuma kalau sendiri kan jadi malas,ngga ada teman ngobrol."
"Ajak teman kamu,kan banyak teman kamu."
"Mereka ngga suka kalau saya ajak."
"Kenapa?"
__ADS_1
"Saya suka makan ke daerah daerah terpencil ,atau hutan hutan apa saja yang masih berkaitan dengan alam yang belum banyak dikunjungi manusia,sedang teman teman saya ngga ada yang suka,mereka lebih suka keramaian ,Tan."
Lina terkejut mendengar penuturan Digo. yang lain dari lain.Untuk ukiran anak muda seumur Digo sangat identik dengan keramaian , hura Hura,dan ini anak yang berada diruang nya lebih suka kesunyian,pantas saja ngga ada yang mau menemaninya.
Kasihan juga Digo,karena belum bertemu dengan teman yang cocok dengan hobby uniknya itu.
Hobby Lina juga. tidak jauh beda dengan Digo,hanya saja Lina lebih menyukai sungai,atau apa saja yang berhubungan dengan air.
"Tante juga suka dengan alam,hanya saja Tante lebih suka segala yang berhubungan dengan air,entah itu sungai ,danau ,rawa, atau air terjun,Tante suka ,Digo." sahut Lina sambil tersenyum.
Mendengar pernyataan Lina membuat Digo bersemangat,"Benarkah Tante?'
"Iya Digo,Tante suka.'
"Kapan kapan kalau Tante ngga sibuk kita jalan jalan ya.'pinta Digo seperti anak kecil yang minta belikan mainan.
"ya,kapan kapan. Tante Anita juga suka dengan alam,dulu sewaktu Tante masih kuliah kalau pas saa
tnya libur kami pasti bertualang, kadang sampai ngga pulang satu Minggu,puas rasanya ,Digo."
Mendengar penuturan Lina membuat mata Digo bersinar
"Kapan bisa ya Tante,Digo sangat ingin jalan,pengennya sih sekarang."ucapan Digo sambil tertawa.
"Kalau sekarang Tante belum bisa,karena banyaknya pekerjaan Tante yang belum selesai.,kenapa ngga coba jalan dengan Om Kamu saja atau Tante mu Digo?"
"Kalau Tante sibuk bantu kerjaan papa ,dan juga Tante kurang suka,beda dengan Om Malik.
Kalau om Malik sama dengan saya Tan,tapi karena kesibukan sudah ngga ada waktu buat saya,jangankan buat saya buat dirinya sendiri saja ngga ada waktu."
"Kok bisa begitu?'
"Ngga tahu Tan, om Malik dari pagi sampai malam kerja terus,ngga ada istirahatnya.pulamg malam,besok kerja lagi, seperti ngga pernah capek."
"Mungkin om Malik ngejar target ."
"Target apaan Tante,usaha milik sendiri ngga ada yang ngatur,kalau libur bisa saja kan,dia yang pegang kuasa." sahut Digo sedikit kesal.
"Mungkin ada yang diinginkan tapi belum tercapai oleh om Malik."
"Ngga tau Tante,tapi menurut saya semuanya sudah dimiliki om Malik,tapi saya pernah dengar dari mama om Malik sering kecewa,hanya saja saya ngga tahu apa yang membuat om Malik kecewa." Digo mengangkat kedua bahunya.
"Lho,Digo,kenapa kita ngomong ngelantur ya,malah.ngomongkan orang lain.." sahut Lina tertawa.
"Iya juga ya tan.'
"Digo kita makan siang di luar ya,sekalian Tante mau ngantar Tante Anita kerumahnya."
"Ya Tante," Digo mengangguk.
"Tunggu sebentar lagi ya."
__ADS_1
Lina tadi sudah bilang dia yang akan mengantar Anita.jadi Anita tidak perlu pesan tadi.