
Di sebuah ruangan, terlihat seorang pria yang penampilannya sudah acak-acakan.
"Sumpah! Kapan kelarnya nih pekerjaan? Rasanya kepalaku hampir pecah baca dokumen yang seperti sandi morse!" gerutu Angkasa.
Kemudian, Angkasa melirik jam tangan mewah yang terpasang di tangan kirinya. Bola matanya terbuka lebar saat melihat jarum jam sudah berada di pukul lima sore.
Angkasa bangun dadi tempat duduknya, dan berjalan keluar dari ruangan. Namun, langkahnya di hentikan oleh asisten Lim.
"Anda mau kemana Tuan? Apakah pekerjaan anda sudah selesai?"
"Saya mau pergi! Otakku sudah hampir pecah membaca dokumen-dokumen itu. Apa kamu mau aku masuk rumah sakit gara-gara pendarahan otak?" ancam Angkasa.
"Tapi maaf Tuan, pekerjaan itu tidak akan bisa membuat anda mengalami pendarahan otak," elak asisten Lim.
"Maksudmu apa? Kamu mau bilang kalau saya berbohong, ha? Lagipula ini sudah waktunya jam pulang kantor, kan? Kamu mau nyuruh saya lembur, gitu!"
Angkasa terus mencari alasan agar dia bisa pulang dan menemui Jingga. Dia ingin mengantarnya pulang. Tapi, Asisten Lim masih bersikeras akan memperbolehkan Angkasa pulang jika pekerjaannya telah selesai karena itu adalah perintah dari Tuan Hendra.
Sudah cukup Angkasa tadi membuatnya kena tegur Tuan Hendra karena tidak bisa tegas dengannya. Jadi, mulai sekarang asisten Lim tidak akan takut kepada Angkasa karena dia sudah mendapatkan perintah untuk membantu mendisiplinkan Angkasa.
Asisten Lim menyuruh para bodyguard untuk membawa Angkasa masuk lagi kedalam ruangannya. Sedangkan asisten Lim, mengecek sudah sampai mana hasil pekerjaan Angkasa seharian ini.
Ketika melihat hasil pekerjaan Angkasa, Asisten Lim mengerutkan keningnya, dan geleng-geleng kepala.
Apakah ini seriusan hasil pekerjaan Tuan muda Hanyaja corp? Bukankah Tuan Hendra sangat pintar dalam dunia bisnis, begitu juga dengan putri sulungnya yang tak kalah hebatnya. Tapi, kenapa pewarisnya justru seperti ini? Jika di teruskan seperti ini, bisa-bisa perusahaan ini akan hancur! Benar-benar di luar dugaan. Gumam asisten Lim.
"Bagaimana? Aku sudah boleh pulang, kan?"
"Tuan muda, apakah anda yakin ini adalah yang anda kerjakan seharian ini?" Asisten Lim mencoba untuk memastikan kembali. Dia berharap kalau apa yang dilihatnya saat ini adalah palsu atau mimpi, tapi___
"Ya, tentu saja! Siapa lagi yang kerjakan, di dalam ruangan ini kan hanya ada aku," pungkas Angkasa dengan penuh keyakinan.
Tiba-tiba harapan asisten Lim seketika hancur karena tertampar oleh kenyataan.
Apakah Tuan muda Hanyaja begitu bodoh! Dia ini bukan seperti seorang pewaris, melainkan bom atom yang bisa meledak kapan saja. Dan ketika bom itu meledak, bisnis keluarga yang tak akan habis tujuh turunan pun bisa hancur juga.
"Baiklah Tuan, anda boleh pergi." Asisten Lim sengaja membiarkan Angkasa pergi lebih dulu. Toh meskipun dia ada di sini juga tidak akan bisa menyelesaikan pekerjaan ini.
Angkasa menaikkan sudut bibirnya, dia merasa puas karena sudah berhasil lolos dari kungkungan orang - orang ini.
" Kalau begitu, bay ...," Angkasa melambaikan tangan pergi dengan penuh kemenangan.
__ADS_1
Sedangkan asisten Lim memijat pelipisnya yang berdenyut karena harus memperbaiki pekerjaan ini semua.
...🌹🌹🌹...
Di tempat lain, Jingga mulai merenggangkan otot - otot lengan dan lehernya. Akhirnya pekerjaannya selesai juga. Jingga ingin segera pulang dan merendam di bathub untuk merilekskan tubuhnya.
Di karenakan hari ini, Jingga tidak membawa mobil sendiri. Jadi, dia memesan taksi online untuk pulang ke rumah. Tak lama kemudian taksi online pesanannya pun datang.
"Nona Jingga?" tanya sang supir.
"Iya Saya, anda taksi online yang saya pesan?"tanya Jingga memastikannya agar tak salah.
" Iya nona. "
Setelah itu, Jingga langsung masuk ke dalam mobil tersebut.
" Sesuai aplikasi nona. "
" Iya."
Kemudian, Jingga duduk bersandar dan menutup matanya. Hari ini cukup melelahkan baginya. Meskipun masih Dokter baru di rumah sakit ini, tapi pasiennya cukup banyak karena di papan formulir Dokter, Jingga memiliki pengalaman dan prestasi yang cukup bagus. Sehingga para pasien baru, mencoba memilih berkonsultasi dengannya.
Dikarenakan tidak tahu di mana ruangan Jingga, Angkasa dan Haikal sama-sama bertanya pada resepsionis.
"Mau tanya ruangan Dokter Jingga di mana, ya?" tanya Haikal dan Angkasa serentak.
Mengetahui mereka mencari orang yang sama, membuat Haikal dan Angkasa saling tatap.
"Maaf, Dokter Jingga sudah pulang."
"Pulang?" ulang Angkasa dan Haikal bersama lagi.
Melihat mereka kompak lagi, membuat Haikal menatap Angkasa dengan intens. Begitupun dengan Angkasa yang melihat Haikal dari atas sampai bawah.
Siapa pria muda ini? Kenapa dia mencari Dokter cantikku? Tidak mungkin kan kalau dia adalah pacar Dokter cantik itu? Batin Angkasa.
Siapa pria ini? Kenapa mencari kak Jingga? Tidak mungkin dia pasien kak Jingga? Apa jangan-jangan saingan cinta? Batin Haikal.
"Iya, baru saja pulang,"jawab sang perawat.
Karena tak kenal dan ada urusan juga, Haikal memutuskan untuk pergi saja. Mungkin Jingga juga pulang ke rumah Elia. Jadi, dia bisa menemuinya di sana.
__ADS_1
Melihat Haikal pergi begitu saja, membuat Angkasa menghentikannya. Angkasa adalah tipe orang yang tak suka penasaran dan menebak-nebak. Jadi, dia ingin memastikan siapa pria itu.
"Hei, tunggu!" panggil Angkasa seraya berlari menghampiri Haikal.
Menyadari bahwa ada yang memanggilnya, membuat Haikal menghentikan langkahnya.
"Ada apa?" tanya Haikal saat Angkasa sudah berada di depannya.
"Gue cuma mau tanya, apakah Lo pacarnya Dokter Jingga?" tanya Angkasa langsung pada intinya.
"Buat apa kamu bertanya seperti itu? Lagi pula kita tidak saling kenal. Jadi, saya tidak wajib menjawab pertanyaan kamu!" Haikal berlalu pergi. Namun, tangannya sudah di cekal oleh Angkasa.
Haikal mengerutkan keningnya ketika pria asing itu mencekal tangannya. Spontan Haikal langsung melepaskannya.
" Kalau di tanya orang jangan suka main nyelonong pergi! "gerutu Angkasa yang tidak suka jika pertanyaannya di abaikan.
" Maaf, saya tidak suka menjawab pertanyaan dari orang asing, apalagi tentang privasi!"ungkap Haikal.
" Ya, kan tinggal jawab iya atau tidak. Apa susahnya!"
Haikal menyeringai ketika melihat pria asing di depannya ini begitu kepo dan keras kepala. Tapi, dia.males meladeninya jadi Haikal memilih pergi.
Melihat pria itu pergi lagi membuat Angkasa merasa sangat kesal.
" Kurang ajar! Bisa-bisanya ada orang seperti itu! Woi, tunggu!" teriak Angkasa. Namun, Haikal tak memperdulikannya. Dia justru mempercepat langkahnya menuju parkiran dimana mobilnya berada.
Haikal memang tipe orang yang tidak suka di kepoin oleh orang asing. Jadi, dia.memilih pergi daripada emosi.
Sesampainya di sana, Haikal segera memasuki mobil. Angkasa yang tak kenal putus asa, mengikuti Haikal sampai menggedor-gedor jendela mobilnya demi ingin tahu siapa Haikal.
Sedangkan Haikal hanya bisa menghembuskan nafas kesal dan geleng-geleng kepala saat melihat pria asing itu terus mengejarnya.
"Hei, bukain pintunya! Jawab dulu pertanyaan ku. Kamu siapanya Dokter Jingga?" teriak Angkasa dengan terus menggedor kaca jendela mobil Haikal.
Haikal segera menginjak pedal gas, dan melajukan mobilnya pergi meninggalkan Angkasa.
" Kurang ajar! Berani-beraninya dia mengabaikan seorang Angkasa Hanjaya! Lihat saja nanti kalau ketemu lagi, habis Lu! "
...****************...
Jangan lupa like, komen, vote dan hadiahnya ya...
__ADS_1