
Sejak dari tadi, Elia dan Arsy hanya bisa geleng-geleng kepala dan terus menatap ke arah Simon yang sangat lahap memakan rujak mangga muda.
" Daddy, apakah itu tidak asam?" Akhirnya Arsy mulai membuka suara.
" Tidak, ini sangat enak, Arsy mau?" tawar Simon dengan memberikan sepotong mangga muda.
Arsy menggeleng. " Acy tidak suka buah asam!" pungkas Arsy yang memang sama sekali tidak menyukai buah-buahan dengan rasa asam. Dia lebih cenderung suka sesuatu yang berasa manis.
Elia juga ikut ngilu sendiri saat melihat suaminya sudah menghabiskan satu piring penuh potongan mangga muda.
" Dad, sepertinya kamu harus berhenti kalau tidak, perutmu akan sakit!" nasehat Elia.
" Aku masih ingin memakannya sayang," rengek Simon yang masih terus mengunyah tanpa henti. Dia seakan tidak rwla berhenti memakan rujak mangga muda itu.
" Iya, tapi 'kan bisa besok lagi. Kasihan lambungmu," saran Elia yang takut jika suaminya nanti akan mengeluh sakit perut akibat terlalu banyak makan mangga muda dan sambal rujak. Padahal, dua hari ini Simon sudah sering mual dan muntah-muntah. Tapi, masih kekeh ingin memakan rujak mangga muda.
" Kalau besok, mungkin sudah tidak pingin lagi." Simon terus saja membantah, membuat Elia memilih untuk diam saja. Karena percuma melarang orang yang keras kepala.
Tiba-tiba, ponsel Elia berdering membuat dia segera mengangkatnya.
" Halo, Ji. Ada apa?" tanya Elia pada seseorang yang berada di ujung telepon.
" Halo, El. My little princess mana?" tanya Jingga yang menanyakan di mana keberadaan Arsy.
__ADS_1
Elia segera mengarahkan kamera ponselnya ke arah di mana Arsy berada. Jingga memang sedang melakukan panggilan vidio.
" Halo sayang," sapa Jingga.
" Halo juga, MaNgga," jawab Arsy.
" Arsy, MaNgga sedang berada di toko mainan. Apakah ada yang Arsy inginkan?" Kini Jingga sudah mengarahkan kamera ponselnya ke tempat di mana begitu banyak sekali mainan.
Bola mata Arsy seketika membulat sempurna ketika melihat begitu banyaknya mainan. Saat jalan-jalan bersama Angkasa, tanpa sengaja mereka melewati toko mainan. Melihat hal itu, sontak membuat Jingga berhenti dan segera menelpon putrinya.
Meskipun bukan ibu kandung, tapi setiap melihat mainan dan baju anak perempuan yang gemas, membuat Jingga teringat pada putrinya. Bahkan, bukan hanya Jingga saja, tapi Angkasa juga mengatakan pada Arsy bahwa dia boleh memilih apa saja yang ia inginkan. Mendengar hal itu, sontak membuat Arsy semakin antusias dan bahagia.
Elia sempat menegur agar tidak terlalu memanjakan Arsy, namun pasangan pengantin baru itu tidak menghiraukannya. Mereka berpikir bahwa ini tidak di lakukan setiap hari sehingga tidak masalah.
Selesai membelikan beberapa mainan untuk Arsy, kini giliran Jingga menanyakan pad Elia apakah ada sesuatu yang dia beli. Mumpung dia sedang honeymoon di paris, namun Elia menolak karena dia memang sedang tidak menginginkan sesuatu dari negara itu.
Elia tidak menjawab dengan kata-kata, dia langsung mengarahkan kamara ponselnya ke arah di mana Simon berada.
" Hei, mon mon ... Sedang makan apa kamu? Kenapa lahap sekali?" tanya Jingga penasaran.
" Halo, pengantin baru ... Oh, aku sedang memakan rujak mangga muda!" sahut Simon.
"Apa? Mangga muda? Bukankah kata Elia kamu sedang sakit perut?" tanya Jingga yang sedikit terkejut. Pasalnya, Elia bercerita bahwa dua hari ini Simon sering muntah-muntah ketika mencium aroma yang harum dan menyengat.
__ADS_1
Dahi Jingga berkerut, dia seakan menyadari bahwa tingkah Simon ini tidak asing baginya yang seorang Dokter kandungan.
"El, apakah kamu hamil?" tanya Jingga untuk memastikan.
"Hamil?" ulang Elia dan diangguki oleh Jingga.
Elia menggeleng. " Sepertinya tidak, memangnya kenapa?" tanya Elia.
" Apa kamu yakin? Datang bulanmu sudah telat apa belum?" kini Jingga justru terlihat seperti seorang Dokter yang mengintrogasi pasiennya guna memastikan diagnosanya.
Elia terdiam sejenak, mencoba mengingat-ingat kembali kapan terakhir dia menstruasi. Dan ... ternyata dia belum pernah datang bulan sama sekali sejak menikah dengan Simon.
"Gimana, El?" tanya Jingga yang sudah sangat penasaran. Bahkan, dia sampai berhenti di sebuah cafe agar bisa leluasa berbicara.
" Sepertinya aku belum datang bulan sama sekali sejak menikah," jawab Elia.
Jingga tersenyum. " Sepertinya dugaanku benar," pungkas Jingga dengan tersenyum bahagia dan sangat yakin.
" Tapi, aku tidak mengalami tanda-tanda kehamilan sama sekali."
" Tentu saja, karena Simon yang sudah menggantikannya. "
" Ha? " Elia terkejut saat mendengar ucapan sahabatnya itu.
__ADS_1
...****************...
Maaf ya guys, kalau upnya lambat karena sistem review NT sedang bermasalah sejak semalam. Jadi, mohon bersabar.