
Melihat putranya yang sudah ketakutan akibat terus menerus di tatap tajam oleh ayah Bejo, membuat bu Asma hanya bisa senyum-senyum sendiri.
" Hei, Bejo bintang lima! Sudah, jangan kamu tatap begitu terus anakku! Bisa-bisa kencing di celana dia nanti," Bu Asma tergelak. Sedangkan Haikal dan Ayah Bejo menatap aneh ke arahnya.
Di dalam kondisi seperti ini, bisa-bisanya bu Asma masih bercanda dan tertawa.
" Aku, hanya sedang menilai putramu saja! Apa yang membuat Mita bisa jatuh hati padanya, " ujar Ayah bejo sembari mengusap rambut-rambut halus yang tumbuh di dagunya.
" Hei, apa maksudmu berkata seperti itu? Apakah matamu itu sudah rabun dan tidak bisa melihat dengan jelas bahwa putraku itu tampan, tinggi, pintar dan juga mapan. Jadi tentu saja mudah saja jika ingin menyukainya," ujar Bu Asma yang sangat memuji Haikal.
Begitulah seorang Ibu yang selalu tidak terima jika ada orang yang menghina atau merendahkan anaknya. Karena bagi seorang Ibu, anaknya adalah kebanggaannya.
Ayah Bejo hanya bisa menghembuskan nafas panjang jika sudah berurusan sama ibu-ibu. Tak berselang lama, terdengar suara hentakan kaki berjalan memasuki rumah.
" Bang Dika! Abang sebenarnya kenapa, sih?" teriak Mita tatkala Andika yang terus berjalan tanpa menjawab pertanyaan Mita kenapa dia terlihat seperti sedang marah. Padahal, biasanya juga tidak apa-apa jika bermain ke rumah Bram.
" Mita...," seru ayah Bejo tatkala melihat putrinya masuk ke dalam rumah langsung menyelonong begitu saja tanpa mengucapkan salam dan tahu bahwa sedang ada tamu.
__ADS_1
Ketika menoleh ke arah di mana Ayahnya berada, Mita seketika terjingkat tatkala melihat Haikal dan bu Asma ada di rumahnya.
" Astaga!" ucap Mita sembari mengelus dadanya. Ia sudah seperti sedang melihat hantu saja.
Bu Asma tersenyum, sedangkan Haikal menatap tajam ke arah Mita.
Tuhan... Apakah aku sedang bermimpi ? Batin Mita yang segera mengucek kedua matanya guna memastikan bahwa ia sedang tidak berkhayal atau bermimpi.
Mita mencoba membuka matanya kembali, dan ternyata Bu Asma dan Haikal masih ada di tempatnya yang artinya bahwa ini adalah nyata bukan mimpi atau halusinasi semata. Mita refleks memundurkan langkahnya, dia ingin kabur saja.
Bu Asma berdiri dari tempat duduknya, lalu berjalan menghampiri Mita yang masih diam membeku seperti patung.
" Ayo kita duduk sayang," ucap bu Asma lembut sembari menggandeng tangan Mita. Bu Asma memandu Mita untuk duduk agar mereka lebih nyaman ngobrolnya.
Mengetahui bahwa Mita adalah putri sahabatnya, membuat bu Asma semakin menyukai Mita. Sejak awal bertemu pun, bu Asma sudah merasa dekat dan tidak asing dengan wajah Mita. Saat itu, bu Asma hampir saja meneteskan air matanya tatkala melihat wajah Mita yang sangat mirip dengan Arumi saat masih muda. Namun, dia tak berani banyak bertanya karena takut salah orang dan justru membuat Mita tak nyaman karena di mirip-mirip kan dengan orang lain.
Tapi, sekarang ... semuanya udah jelas jika Mita memang anak dari Arumi sahabatnya.
__ADS_1
" I-ni ... Ada apa?" tanya Mita yang tiba-tiba berubah menjadi bodoh.
Bu Asma tertawa, sedangkan yang lainnya justru mengerutkan keningnya tatkala mendengar pertanyaan bodoh dari Mita.
" Apakah kamu sudah lupa, sayang ? Kemarin, Ibu kan sudah bilang mau ke rumah kamu untuk silaturahmi dengan orang tuamu," jelas Bu Asma agar Mita kembali mengingat pembicaraan kemarin.
" Ya ... Tapi, kan___" Mita tak sanggup berkata-kata apalagi. Dia benar-benar shock, terkejut, bingung dan entah harus berbuat apa.
Bukankah, aku tidak pernah mengatakan alamat rumah asliku? Tapi, kenapa mereka bisa ada di sini saat ini? Kalaupun dari Hilda itu juga tidak mungkin karena dia sedang pergi jalan-jalan bersama orang tuanya. Lalu, siapa yang memberitahu? Jika ini mimpi, tolong bantu bangunkan aku dari mimpi buruk ini! Jerit Mita dalam hati.
" Mit, kenapa wajahmu pucat seperti itu? Apa kamu sakit?" tanya Ayah Bejo.
" Huh?" Mita terlihat bingung.
...****************...
Jangan lupa like, komen, vote dan hadiahnya
__ADS_1