
Saat melihat seorang perawat keluar dari ruangan operasi, membuat Simon, Elia, dan Reno segera berlari menghampiri perawat itu.
" Sus, bagaimana kondisi istri saya?" tanya Reno panik saat melihat hanya bayinya yang keluar.
" Masih di dalam ruangan operasi, Pak."
" Lho Sus, apa yang sudah terjadi? Kenapa bayinya memakai alat bantu bernafas serta kulit bayinya membiru?" tanya Elia saat menyadari bahwa kulit bayi Runi terlihat membiru, tidak seperti bayi lahir pada umumnya.
" Ini juga masih akan di lakukan pemeriksaan terlebih dahulu." Setelah itu, sang perawat membawa bayi Runi pergi untuk melakukan pemeriksaan.
Melihat Reno yang masih terus menatap ruangan operasi, tanpa menatap kepergian bayinya, membuat Elia bingung.
" Ren, kamu nggak ikut susternya untuk mengadzani bayimu dulu? "tanya Elia.
" Nanti saja, " jawab Reno tanpa melirik ke arah Elia.
" Kamu tidak khawatir dengan bayimu? "
" Khawatir, tapi aku lebih khawatir lagi dengan kondisi istriku yang masih berada di dalam. Kalau anak, dia sudah lahir dan masih mau melakukan pemeriksaan. Kalau Runi___" tenggorokan Reno tercekat, dia sudah tak mampu mengucapkan sepatah kata apapun lagi. Reno memejamkan mata, dan terus berdoa demi keselamatan istrinya.
Melihat gestur tubuh Reno yang terlihat begitu khawatir dengan istrinya, membuat Simon mengajak Elia pergi mengikuti suster untuk mengetahui bagaimana kondisi bayinya Runi.
"Kamu kenapa mengajak aku pergi, Mon?" tanya Elia yang tidak tahu kenapa suaminya tiba-tiba membawanya pergi.
" Kita bantu untuk memantau bagaimana kondisi bayinya. Karena Reno sepertinya sangat khawatir dengan kondisi Runi yang masih di dalam ruangan operasi."
Elia mengangguk, dan menuruti ajakan Simon. Sesampainya di ruangan bayi, Elia tidak menemukan bayi atas nama Runi. Lalu, mencoba mencari ke ruangan bayi yang mengalami masalah, dan ternyata dia menemukannya. Di dalam, bayi itu masih menjalani pemeriksaan, sehingga Elia dan Simon hanya bisa melihat dari jendela transparan.
" Mon, kasihan sekali bayi kecil itu. Baru saja lahir, sudah harus___" aira mata Elia menetes membasahi pipi sembari memegang kaca jendela transparan itu, membayangkan dia bisa menyentuhnya.
Simon melingkarkan tangannya di pundak Elia, mencoba memberikan kekuatan. " Doakan saja semoga dia kuat dan bisa sehat seperti bayi lainnya."
" Kenapa tadi Reno terlihat seakan tidak peduli, ya?" ingatan di mana Reno hanya melihat sekilas bayinya, membuat Elia merasa sakit.
" Bukan tidak peduli, tapi dia lebih khawatir lagi dengan kondisi istrinya yang masih di dalam ruangan operasi. Terkadang wanita berpikir bahwa suami akan lebih mencintai anaknya. Tapi, pada kenyataannya ada beberapa suami yang jauh lebih mencintai istrinya daripada sang anak. "
" Oh ya? " tanya Elia yang sedikit tidak percaya.
Simon mengangguk.
" Kalau kamu, tipe suami yang mana? "
Simon menoleh ke arah Elia." Tentu saja suami yang mencintai istri dan juga anaknya. "
" Jika harus memilih salah satu? "
" Aku lebih memilih istriku. "
" Tapi, seorang Ibu akan memilih keselamatan anaknya, bahkan dia rela jika harus mengorbankan nyawanya sendiri."
Itulah naluri seorang Ibu, melahirkan secara normal maupun caesar sama-sama berjuang. Siapa yang masih toxic mengatakan bahwa seorang Ibu yang melahirkan secara caesar tidak menjadi Ibu sesungguhnya?
Mereka yang melahirkan normal, tidak akan tahu bagaimana perjuangan melahirkan secara caesar, begitupun sebaliknya. Jadi, jangan pernah lagi menghakimi seperti itu.
__ADS_1
" Kalau seperti itu, aku ingin dua-duanya selamat saja. Karena aku tidak bisa hidup tanpa istriku"
" Gombal!" sungut Elia dengan melipat kedua tangan di depan dada.
" Aku tidak gombal sayang, seriusan," ucap Simon dengan menautkan satu alisnya.
" Alah, sekarang bilang begitu. Tapi, kalau istri meninggal, juga bakalan nikah lagi!"
Simon mencengkram kedua pundak istrinya dan menatapnya lekat." Tidak semua pria seperti itu, karena ada pria yang jauh lebih mencintai istrinya dari pada dirinya sendiri. Bahkan, dia lebih memilih untuk pergi lebih dulu, daripada di tinggal istrinya."
" Karena apa? Karena hidupnya sudah bergantung pada wanita itu, dan begitulah aku yang akan kehilangan arah jika kamu pergi dulu."
Elia terdiam, melihat tatapan Simon seakan dia berbicara tulus dari hati, bukan hanya bualan semata.
Apakah itu benar?
Begitulah seorang pria yang sudah merasa nyaman dan bergantung pada seorang wanita, dia tidak akan bisa di tinggalkan oleh wanita itu.
...☘️☘️☘️...
Setelah kurang lebih dua jam, akhirnya lampu operasi padam. Tak lama kemudian, terlihat Jingga keluar dari ruangan operasi, membuat Reno segera menghampirinya.
" Jingga ... bagaimana kondisi Runi?" tanya Reno dengan wajah paniknya.
" Kamu tenang saja, dia baik-baik saja. Tapi, sekarang masih ada di ruangan pulih sadar."
" Alhamdulillah," ucap syukur Reno saat mendengar Runi baik-baik saja. Sesak di dadanya jauh lebih terasa lega.
" Oh, ya? Elia sama Simon mana?" tanya Jingga yang tak melihat sepasang suami istri itu.
" Aku juga tidak tahu," jawab Reno.
" Oh ya, kamu sudah melihat bayimu? "
Reno mengangguk, lalu menggeleng, membuat Jingga bingung.
" Yang jelas dong, Ren. Sudah apa belum?"
" Tadi aku hanya melihat sekilas, karena masih khawatir sama Runi yang tidak ikut keluar. "
Jingga tersenyum, lalu memukul bahu Reno.
" Tentu saja belum keluar, dia kan harus melakukan penjahitan dulu. Sepertinya kamu sangat menyayangi Runi, " goda Jingga.
" Tentu saja! " pungkas Reno dengan penuh penegasan.
Jingga hanya bisa tersenyum, melihat para sahabatnya memiliki suami yang sangat mencintai mereka. Setelah itu, Jingga pamit pergi untuk melihat bagaimana kondisi bayi Runi. Karena sejak di dalam, dia terus kepikiran.
Dari kejauhan, Jingga bisa melihat bahwa sepasang suami istri tengah berdiri di depan ruangan bayi.
" Ternyata kalian di sini!"
"Astagfirullah hal adzim," ucap Elia yang kaget karena tiba-tiba ada yang datang.
__ADS_1
" Jingga, gimana runi?" tanya Elia ketika melibat Jingga yang datang.
" Operasinya berjalan dengan baik, sekarang dia sedang berada di ruangan pulih sadar sementara."
" Alhamdulillah, " ucap syukur Elia dan Simon bersamaan.
" Oh, ya Jingga. Apa yang terjadi dengan anak Runi? Kenapa tidak ada suara tangisan terdengar, kulitnya juga membiru, dan harus pakai alat bantu pernapasan?"
Jingga menghembuskan nafas panjang.
" Dari gejala yang aku lihat tadi, dia mengalami asfiksia neonatorum. "
asfiksia perinatal atau neonartum adalah kondisi di mana bayi kekurangan oksigen sebelum, selama, dan setelah proses persalinam. Tanpa asupan oksigen yang cukup, jaringan dan organ tubuh bayi akan mengalami kerusakan. Maka dari itu, bayi Runi segera di berikan alat bantu pernapasan untuk mengalirkan udara ke paru-parunya.
" Apakah itu berbahaya?"
Jingga mengangguk, karena kondisi ini memang cukup berbahaya jika tidak segera mendapatkan penanganan yang benar.
" Kita doakan saja, semoga dengan menjalani perawatan dia bisa sembuh."
"Amin," ucap Simon dan Elia bersamaan.
" Apakah Runi dan Reno sudah tau?"
Jingga menggeleng.
" Aku masih menutupinya, karena takut kondisi Runi akan drop."
Elia mengangguk, lalu menatap kembali ke arah bayi yang masih berada di dalam inkubator dengan menggunakan alat bantu pernapasan. Dia merasa kasihan sekali, dengan bayi kecil itu.
Melihat Jingga yang terus fokus dengan ponselnya, membuat Elia tersenyum.
" Pergilah jika kamu merasa khawatir. Soal Runi, masih ada kita dan juga Reno," ucap Elia.
" Huh?" tanya Jingga yang bingung.
" Sudah, nggak usah malu. Sana pergi, urus calon suami dulu biar tenang," goda Elia dengan mendorong Jingga agar pergi.
" Apaan sih, El? " elak Jingga.
" Sudah sana..., "
" Yaudah, aku pergi dulu, ya. Nanti kalau ada apa-apa kabarin aku, oke!"
Elia hanya membalas dengan kode jari berbentuk o.
...☘️☘️☘️...
Sesampainya di ruangan Angkasa, Jingga merasa bahagia saat melihat A sudah sadarkan diri. Dia segera berjalan menghampiri ranjang pasien Angkasa.
" A, kamu sudah sadar? "tanya Jingga dengan raut wajah bahagia.
Angkasa mengerutkan keningnya." Kamu siapa? "
__ADS_1
...****************...