
"Akhirnya selesai juga!" ucap Jingga seraya merenggangkan otot-otot tubuhnya yang sudah menegang.
Jingga segera membereskan meja kerjanya, karena hari ini sudah waktunya untuk menjemput Arsy pulang. Namun, rencana itu gagal tatkala beberapa teman dokter dan perawat mengajak dia makan malam bersama. Mereka mengatakan makan malam ini sebagai bentuk penyambutan kedatangan Jingga ke rumah sakit ini.
Sebenarnya Jingga ingin menolak, tapi dia bingung harus memberikan alasan apa.
"Gimana Dokter Jingga? Mau, kan?" tanya seorang perawat berambut pendek.
" Iya Dok, hitung-hitung biar kita lebih saling mengenal lagi,"imbuh perawat lainnya.
Gimana ... ya? Kalau nolak pasti akan di kira sombong, terus nanti bisa jadi topik utama lagi dengan timeline ternyata Dokter baru itu sombong dan tak mau bersosialisasi dengan yang lain!
Ah ... Jadi bingung! Sepertinya gapapa deh, nanti bilang ke Rigel kalau aku jemput Arsy agak malem. Pasti dia juga akan tambah senang bisa bersama Arsy lebih lama lagi.
"Baiklah, tapi kalian yang pilih restorannya ya. Soalnya aku belum tahu tempat di sini!" pungkas Jingga dengan tersenyum tipis sebagai bentuk menghormati ajakan mereka.
"Baiklah, Kalau soal itu serahkan sama kita saja! Karena kita tahu di mana restoran yang makananya sangat enak-enak!" jelas seorang perawat berambut pendek.
Setelah itu, mereka pergi bersama. Ada beberapa perawat yang ikut menumpang di mobil Jingga karena mereka tak membawa kendaraan.
Saat berada di dalam mobil, mereka banyak bertanya-tanya yang membuat Jingga sedikit risih. Karena Jingga paling tidak suka jika ada orang yang terlalu kepo dengan kehidupannya.
"Oh, ya Dokter Jingga. Dengar-dengar tadi pagi anda dapat kado barang-barang mahal ya dari seorang pria?"
Jingga mengangguk, dan fokus mengemudi.
"Terus, sebenarnya pacar Anda yang mana? Yang mengirim makanan kemarin, atau yang mengirim hadiah barang mewah pagi ini?" tanya seorang perawat bernama Rara.
Jingga mengerutkan keningnya ketika mendengar ucapan wanita itu.
"Sebentar ... Apakah pengirim itu berbeda?" tanya Jingga yang memang tidak tahu kalau pengirim makanan dan hadiah adalah dua orang berbeda.
"Tentu saja berbeda! Kalau yang mengirim makanan kemarin siang, dia tinggi, tampan, pakaiannya sederhana, dan terlihat masih muda sekali. Kalau yang mengirim hadiah tadi pagi, tampan dan masih muda juga, tapi penampilannya sangat terlihat kalau dia adalah orang kaya karena selalu di ikuti oleh asisten dan beberapa bodyguart! "jelas sang perawat berambut pendek.
Jingga semakin bingung dan tidak mengerti kenapa ada dua orang pria berbeda yang mengirimkannya hadiah.
Siapa mereka? Kenapa mengirim hadiah secara diam-diam?
Seingat Jingga, dia tak memiliki kenalan orang sini. Jadi, siapa mereka? Apa maunya?
__ADS_1
Melihat Jingga yang terdiam tanpa kata, membuat mereka ikut heran dan sedikit berbisik.
" Apakah aku sudah berkata salah?"
Teman-teman lainnya hanya menjawab dengan gelengan kepala. Karena mereka juga tidak tahu apakah yang di ucapkan oleh temannya itu salah atau tidak.
"Dokter, awas!" teriak Lili saat melihat Jingga tak konsentrasi mengemudi dan hampir saja menabrak seekor kucing.
Spontan Jingga langsung menginjak rem secara mendadak, membuat mereka semua yang ada di dalam mobil terkejut dan hampir saja jantungan di buatnya. Bahkan, mereka juga sampai kejedot kursi akibat aksi Jingga yang menginjak rem secara mendadak. Untung saja, kucingnya tidak tertabrak. Andai saja tertabrak, bisa-bisa mereka akan kuwalat.
"Maaf, apa Kalian baik-baik saja?" tanya Jingga dengan wajah khawatir. Sebenarnya, tubuh Jingga juga melemas, tapi dia juga harus menghawatirkam teman yang ada di dalam mobil itu.
" Apanya yang baik-baik saja! Aku Kejedot tau, untung nggak serangan jantung!" gerutu Rara.
"Maaf," ucap Jingga sekali agi.
"Kamu bisa nyetir apa nggak sih sebenarnya?" cerca seorang perawat berambut pendek.
"Biasa saja kali! Nggak usah ngegas dan marah-marah seperti itu. Lagian, Dokter Jingga u seperti itu karena sedang berusaha untuk tidak menabrak seekor kucing! Jadi, tolong kalian mengerti juga bagaimana perasaan terkejutnya Dokter Jingga, bukan hanya emosi sendiri!" bela Lili yang tak terima mendengar mereka hanya menyalahkan Dokter Jingga, tanpa mencari tahu penyebabnya terlebih dahulu.
Lili membela karena dia tahu bagaimana raut wajah Jingga yang terlihat pucat pasi.
"Apakah anda perlu istirahat sebentar, Dok?" tawar Lili.
Sesampainya di restoran, semuanya langsung memesan makanan karena cacing-cacing di dalam perut minta segera di isi. Awalnya mereka mengatakan makan malam ini sebagai bentuk penyambutan, namun tetap seperti biasa yang membayar makanan adalah orang baru sebagai bentuk pajak kerja.
Hal ini sudah bagaikan lagu lama untuk mendapatkan makanan gratis dari pegawai baru. Jingga sudah hafal betul sikap orang yang seperti ini. Jika pegawai baru menolak pasti akan jadi bahan pembicaraan dari senior.
...🌷🌷🌷...
Di tempat yang sama, terlihat seorang pria tengah menikmati makan malam bersama sahabat sekaligus partner kerjanya.
" Bagaimana misimu? Apakah sudah berhasil?"
" Em lumayan! Lagipula permainan baru saja di mulai!" jawab A.
" Aku benar-benar salut padamu A, akting dan penyamaranmu benar-benar totalitas sekali. Kenapa kamu nggak Ikut ajang pencarian bakat seorang aktor saja?" goda Haris sahabat sekaligus partner kerja dalam menjalankan misinya.
" Andai saja bisa! Pasti sudah gue lakukan! "
__ADS_1
" Dasar narsis! Di puji sedikit saja sudah melayang!".
Haris hanya bisa geleng-geleng kepala mempunyai sahabat yang narsis sekali seperti Angkasa. Tapi, Haris memang cukup kagum dengan sahabatnya itu.karena dia bukanlah seorang aktor, tapi aktingnya yang berpura-pura bodoh terlihat natural, tidak seperti bukan di buat-buat.
" Tapi, A Aku takut kalau sampai dia berbuat lebih jauh lagi."
"Maksudmu?"
" Dia adalah orang yang gila akan kekuasaan. Orang yang seperti itu, pasti sudah gelap mata dan hatinya. Dia bisa melakukan apa saja demi keberhasilan rencananya!" ungkap Haris.
" Gue tahu, maka dari itu kita harus main pintar agar dia tidak tahu kalau kita yang melakukannya sampai dia masuk penjara! "
Haris mengangguk, namun dia tetap saja khawatir. Takut akan terjadi sesuatu yang berbahaya.
Selesai berdiskusi, A pamit pulang karena dia ingin istirahat. Sejak semalam, dia sudah kurang tidur demi mengatur sebuah rencana untuk menangkap tikus tua yang ingin mengambil harta keluarganya.
...🌷🌷🌷...
Setelah acara makan malam selesai, Jingga pergi ke kasir untuk membayar makanan. Seusai membayar, tiba-tiba kepalanya terasa pusing, dan pandangannya juga mulai buram.
"Aduh, kepalaku kenapa pusing dan berat begini ya?" langkah Jingga terlihat terhuyung-huyung seraya memegang kepalanya. Dan. ... Beberapa saat kemudian, Jingga sudah tak sadarkan diri lagi.
Melihat ada wanita yang hampir jatuh di depannya, membuat Angkasa berlari menangkapnya.
" Nona anda___"Angkasa terkejut ketika melihat siapa wanita itu.
" Dokter Jingga?! " Angkasa mencoba membangunkan Jingga dengan menepuk pelan pipinya, tapi Jingga tetap tak sadarkan diri.
Tanpa butuh waktu lama, Angkasa segera menggendong Jingga san membawanya menuju mobil. Angkasa mencoba mendudukkan Jingga di kursi kemudi dengan hati-hati.
Saat Angkasa masuk kedalam mobil, Jingga sudah meracau mengatakan bahwa tubuhnya terasa panas. Angkasa menyalakan Ac mobilnya agar Jingga tak kepanasan, namun Jingga tetap meracau mengatakan panas dan ingin membuka bajunya.
"Astaga! Kamu kenapa bisa seperti ini? Apakah kamu mabuk? Tapi, di restoran tadi tidak menjual alkohol! Apa jangan-jangan__ " ujar Angkasa yang melihat Jingga tak segan-segan melonggarkan kancing bajunya.
Melihat ada pria duduk di sampingnya, membuat Jingga ingin memeluknya. Dalam penglihatannya yang buram, pria itu terlihat seperti aktor Lee min ho idolanya.
Jingga ingin memeluk dan menciumnya, untung saja tubuhnya tak bisa bergerak karena Angkasa telah memasangkan sabuk pengaman. Andai saja tidak, entahlah apa yang akan terjadi.
"Oppa. ... Kenapa aku di ikat? Padahal aku ingin peluk dan cium, " racau Jingga dengan nada manja serta memanyunkan bibirnya ingin mencium Angkasa.
__ADS_1
...****************...
Jangan lupa like, komen, vote dan hadiahnya ya...