
Akhirnya, hari yang di tunggu-tunggu telah tiba. Di mana Angkasa dan Jingga akan menjadi raja dan ratu sehari. Di karenakan tidak menyukai gaun besar seperti seorang princess, membuat Jingga lebih memilih memakai gaun yang simpel dan nyaman.
Angkasa selalu saja terpana akan kecantikan istrinya yang menurutnya paripurna. Hanya memakai mahkota kecil, make up natural, serta gaun yang simpel saja sudah membuatnya cantik bak seorang bidadari. Melihat Jingga yang secantik ini, membuat Angkasa menjadi tidak rela dia di lihat oleh pria lain.
"Kamu sangat cantik sekali sayang," puji Angkasa dengan wajah berbinar.
" Terimakasih, kamu juga sangat tampan." Jingga kembali memuji ketampanan Angkasa yang memakai tuxedo.
" Bisa tidak, kita masuk ke kamar saja. Tidak perlu menemui para tamu undangan," goda Angkasa.
Dahi Jingga berkerut saat mendengar ucapan suaminya.
Bukankah dia yang meminta di adakan resepsi? Lalu kenapa sekarang jadi tidak mau menemui tamu undangan? Apakah ada acara resepsi tanpa pengantin? Gumam Jingga dalam hati.
" Kenapa kamu jadi berubah pikiran?" tanya Jingga.
Angkasa memeluk Jingga dari belakang, dan meletakkan dagunya di pundak Jingga. " Karena aku sedikit tidak ikhlas, memperlihatkan kecantikanmu pada pria-pria di luar sana."
Jingga tersenyum, dan membelai lembut pipi Angkasa.
" Kenapa kamu jadi semakin over posesif seperti ini, huh?"
__ADS_1
" Ya, karena kamu___"
" Apa kalian sudah siap?" tanya Kak Sa yang tiba-tiba datang sehingga membuat ucapan Angkasa terpotong begitu saja.
"Kenapa Kakak suka sekali datang tiba-tiba!" gerutu Angkasa yang masih terdengar oleh Kak Sa.
" Kenapa? Apa kakak mengganggu momen romantis kalian?"
" Tidak, Kak. "
" Tentu saja!"
Angkasa dan Jingga menjawab secara bersamaan, namun tak kompak.
Safwana hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah kedua adiknya ini.
Di luar ruangan, terlihat para tamu undangan sudah datang semua. Acara resepsi di adakan secara outdoor dengan pemandangan pantai yang begitu indah. Tamu undangan yang datang hanya kerabat, teman dekat, dan beberapa kolega dari Kak Sa.
Apakah Papa Hendra datang? Tidak, dia tak mau datang ke acara resepsi Angkasa dan Jingga. Dia masih terus kekeh untuk tidak merestui pernikahan mereka.
Semua mata tertuju ke arah sepasang pengantin yang baru saja datang.
" Wah, MaNgga cantik sekali ...," puji Arsy saat melihat Jingga keluar dan melambaikan tangan ke arahnya.
" Iya, cantik, " sahut Runi dan Elia bersama.
__ADS_1
Sedangkan Reno fokus menggendong putranya. Beberapa hari yang lalu, bayi Runi dan Reno sudah di perbolehkan pulang ke rumah sehingga dia bisa membawa bayinya ke acara resepsi Jingga.
Beberapa rangkaian acara telah berlalu begitu saja. Kini saatnya, mereka menyapa para tamu undangan.
Jingga langsung menghampiri Elia, Runi, Reno, Simon dan Arsy.
" Halo putra MaNgga," sapa Jingga pada bayi Runi.
Melihat Jingga yang merasa gemas, Reno segera memberikan bayinya agar Jingga bisa menggendongnya. Dengan senang hati, Jingga menggendong putra Runi.
" Adiknya gemoy ya, MaNgga, " ujar Arsy yang tak kalah antusiasnya.
" Iya, gemoy kayak Arsy," ucap Jingga sambil mencubit gemas pipi bakpao Arsy.
" A, sepertinya kode keras tuh," ujar Reno sembari menyenggol lengan Angkasa.
Angkasa tersenyum canggung sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
" Iya, A. Kalian sudah gencar untuk produksi, kan?" timpal Runi tanpa malu.
Produksi? Boro-boro produksi, belah duren aja belum! Gumam Angkasa dalam hati dengan wajah memerah menahan malu. Andai mereka tahu apa yang terjadi, pasti dia akan jadi bahan becanda.
" Pastinya sudah, lah! Paling juga nggak berhenti___" sahut Simon yang seketika mendapat cubitan dari sang istri.
" Sudah! Sudah! Kalian nih ya, acara resepsi saja belum selesai, udah ngomongin produksi. Emangnya pabrik apa?" lerai Elia yang mencoba menghentikan pembicaraan sahabat dan suaminya itu.
__ADS_1
Elia tahu bahwa Jingga sedang menstruasi saat menikah. Jadi, dia bisa memastikan bahwa Jingga dan Angkasa belum melakukan malam pertama, mengingat pernikahan mereka baru seminggu hari ini.
...****************...