Mengejar Cinta Dokter Galak

Mengejar Cinta Dokter Galak
MCDG ~ Bab 42


__ADS_3

" Mari Nona Jingga," pria itu mempersilahkan agar Jingga ikut dengan mereka.


" Saya tidak mau! Katakan dulu siapa yang menyuruh kalian!" bentak Jingga yang jadi emosi pagi-pagi.


" Nanti anda akan tahu sendiri, saya hanya menjalankan perintah dari Tuan muda. "


Tuan muda?


Jingga dan Elia saling pandang.


Apa jangan-jangan A? Tapi___ jika itu A dia tidak akan menyuruh orang menjemput aku dengan cara seperti ini!


Jingga mencoba untuk menghubungi Angkasa, tapi dua orang bertubuh kekar sudah menarik Jingga secara Paksa, membuat Elia ikut histeris dan bingung.


" Anda jangan ikut campur, kalau tidak akan saya bunuh putri kecilmu!" ancam seorang pria bertubuh kekar lainnya yang seketika membuat Elia memeluk Arsy kuat-kuat.


Jingga ... Maafkan aku yang tidak bisa menolongmu! Batin Elia.


" Mami takut ...," lirih Arsy yang sudah menangis dalam pelukan Elia.


Orang-orang di restoran juga tidak bisa membantu, karena segerombolan pria berbaju hitam itu memperlihatkan jika mereka membawa senjata. Seakan mengatakan bahwa, siapa yang mendekat, habislah riwayat kalian!


Jingga mencoba untuk melawan, tapi kekuatan dua Pria yang membawanya, jauh lebih kuat daripada dirinya, bahkan tubuh mereka sangat besar sekali. Sepertinya Tuan muda yang menyuruh mereka sudah tahu bahwa Jingga jago bela diri sehingga membawa orang-orang yang kekuatannya di atas Jingga.


Di karenakan terus memberontak, membuat pria itu mengikat tangan dan menutup mulut Jingga agar tidak terus berteriak.


" Em ... Em ..."

__ADS_1


Sialan! Siapa sebenarnya mereka? Kalau benar ini adalah perbuatan A, akan ku hajar dia karena sudah berani menyakitiku seperti ini! Jerit Jingga dalam hati.


Setelah orang-orang itu pergi, Elia segera mencari nomor ponsel Angkasa u tuk memastikan apakah itu benar dia atau bukan yang membawa Jingga.


Elia semakin cemas saat Angkasa tak kunjung mengangkat panggilan darinya. Tapi, Elia tidak menyerah dan terus menghubungi Angkasa sampai pada akhirnya di angkat.


" Halo, A. Kamu di mana?" tanya Elia pada seseorang di ujung telepon.


" Di jalan, mau ke rumah kamu. Ada apa, El?" tanya Angkasa sembari menyetir.


" Kamu mau ke rumahku!?"


" Iya, mau jemput Jingga."


" Astagfirullah, berarti bukan kamu dong yang menyuruh pria-pria menakutkan itu!" ujar Elia yang semakin panik dan khawatir.


" Itu, barusan ada segerombolan pria berbadan besar dengan membawa senjata datang ke rumah untuk membawa pergi Jingga. A ... "


" Apa!" Angkasa tiba-tiba mengerem mendadak ketika mendengar perkataan Elia.


" Iya, A ... Tolongin Jingga. Ini gimana," ucap Elia panik.


Di belakang, banyak sekali orang yang membunyikan klakson karena Angkasa tiba-tiba mengerem mendadak.


Tanpa berpikir panjang, Angkasa segera mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dia tahu betul ini ulah siapa.


" Kurang ajar! Sampai terjadi apa-apa dengan Jingga, aku tidak akan peduli lagi siapa kamu!" gumam Angkasa dengan mencengkram stir kemudi dengan erat.

__ADS_1


Mata Angkasa sudah memerah, aura kemarahan tercetak jelas di wajah Angkasa. Saat berada di lampu merah, A segera melacak lokasi Jingga. Untungnya, Angkasa sudah memasang pelacak di ponsel Jingga sehingga dia bisa tahu dimana posisi sang kekasih berada.


...☘️☘️☘️...


Tak butuh waktu lama, mobil yang membawa Jingga sampai juga di sebuah restoran bintang lima.


" Ayo turun!" titah pria bertubuh besar itu.


Mereka segera membawa Jingga masuk ke dalam restoran yang terlihat sangat sepi, sepertinya sudah di booking.


Apa jangan-jangan A sedang membuat surprise?


Harapan Jingga seketika musnah, ketika melihat siapa pria yang duduk di meja bulat itu. Sepertinya para pria itu telah berbohong dengan mengatakan Tuan muda, karena pada kenyataannya, bukan pria muda yang duduk di kursi itu. Melainkan, Tuan terkaya di kota, atau Papa Angkasa ( Hendra Hanjaya).


Jingga merasa seperti de javu, seakan berada di drama-drama yang pernah ia tinton. Dari cara pria itu membawanya datang ke sini, sampai tatapannya pada Jingga. Sudah mengatakan bahwa dia ingin melakukan sesuatu.


" Selamat datang, Jingga," sapa Hendra.


" Langsung saja, apa yang ingin anda bicarakan pada saya?" tanya Jingga to the poin.


Hendra tersenyum saat melihat Jingga sudah paham, sebelum Hendra mengatakannya.


" Sepertinya, kamu memang benar-benar wanita yang cerdik! Kalau begitu, saya akan langsung to the poin saja," kata Hendra.


Apa dia akan melakukan tawar menawar seperti di drama-drama? Ah, kenapa pemikirannya kuno sekali! Sangat mudah di tebak! Batin Jingga.


...****************...

__ADS_1


Kira-kira sama nggak ya, dengan tebakan Jingga?


__ADS_2