Mengejar Cinta Dokter Galak

Mengejar Cinta Dokter Galak
Bab 24


__ADS_3

Srakk ... Bruak...


Semua barang berjatuhan ke lantai akibat amarah Lim yang sudah meluap. Dia benar-benar tak habis pikir, hanya melawan anak kemarin sore saja gagal terus.


"Sepertinya kamu benar-benar tidak bisa di anggap remeh Angkasa! Kita lihat saja, siapa yang akan menang dalam pertarungan ini!" seringai tipis menghiasi bibir Lim.


Ketamakan akan jabatan dan harta, membuat Lim menjadi gelap mata. Apapun yang dia inginkan harus tercapai, dia tak ingin kalah dari Angkasa. Berbagai cara akan dia lakukan agar bisa menguasai seluruh aset keluarga Hanjaya. Karena baginya dialah yang jauh lebih pantas mendapatkan semua itu.


“ Kau, sini!” panggil Lim pada salah satu anak buahnya.


" Ada apa Tuan?" tanya sang anak buah.


“ Rekam video saat Hendra di siksa, lalu kirimkan ke Angkasa! " titah Lim pada anak buahnya.


" Baik Tuan. " pria itu segera mengajak temannya untuk pergi ke ruangan dimana Hendra di sekap.


Aku ingin melihat bagaimana reaksimu A ketika melihat papamu aku siksa habis-habisan. Apakah kamu akan peduli atau tidak!" Gumam Lim dengan senyuman liciknya.


Hati Lim sudah benar-benar tertutup kabut kejahatan, seakan tak ada lagi rasa belas kasihan atau rasa terimakasih. Seperti kacang lupa kulitnya, dia sama sekali tidak ingat bagaimana baiknya Hendra padanya dulu.


...☘️☘️☘️...


Di saat-saat genting seperti ini, tiba-tiba perut Jingga berbunyi, menandakan bahwa dia kelaparan. Angkasa yang mendengarnya mencoba menahan tawa,


sedangkan Jingga menahan malu sekaligus merutuki perutnya yang tak tau situasi dan kondisi.


“ Kamu lapar?” tanya Angkasa yang hanya diangguki oleh. Jingga.


“ Kalau gitu kita turun ke bawah, lihat apa yang bisa kita makan. “ Angkasa mengulurkan tangannya untuk menggandeng tangan Jingga, namun di abaikan.


“ Aku bisa jalan sendiri!” tukas Jingga yang segera turun dari tempat tidur.


Angkasa hanya mengangguk, lalu berjalan keluar dari kamar terlebih


dahulu dan di ikuti oleh Jingga di belakangnya. Untungnya, tadi Angkasa sudah menyuruh asisten rumah tangganya untuk mengisi kulkas dengan berbagai bahan makanan agar dia bisa memasak apa saja selama tinggal di vila ini. Bahkan, Angkasa juga sudah menyiapkan pakaian untuknya dan Jingga. Kebetulan dia masih ingat semua ukuran pakaian Jingga.


Di lihatnya ada nasi di rice cooker. “ Kamu mau makan nasi goreng atau spaghetti? “ tawar Angkasa. Dua menu makanan itu adalah menu yang cepat di sajikan karena dia melihat Jingga sudah kelaparan. Kasihan jika harus menunggu memasak makanan yang prosesnya lama.

__ADS_1


“  Dua-duanya juga boleh. Soalnya aku lapar sekali,” cicit Jingga malu-malu kucing. Jujur Dia memang sangat lapar sekali sehingga harus memakan porsi Doble dari biasanya.


“ Boleh, tapi kasih aku semangat dulu biar bisa memasak dua hidangan dengan kondisi badanku yang masih sakit semua,” goda Angkasa dengan


menatap wajah Jingga penuh harap.


“Nggak usah aneh-aneh deh! Kalau nggak mau masakin juga gapapa, aku bisa masak sendiri.” Jingga turun dari tempat duduknya.


Sedangkan Angkasa berdiri bersandar pada meja bar seraya memperhatikan apa yang akan dia lakukan. Jingga mungkin pandai dalam ilmu bela diri, menggunakan pistol, dan dalam pekerjaannya. Tapi, satu yang dia tidak bisa adalah memasak, dan untungnya Angkasa pandai dalam hal itu. Setidaknya jika mereka menikah, tidak kelaparan karena ada yang bisa memasak.


Jingga membuka pintu kulkas guna mencari bahan apa yang bisa dia masak. Namun, semuanya adalah bahan mentah


tak ada makanan instan. Jingga hanya bisa menghembuskan nafas Panjang, dan


menggaruk tengkuknya yang tiba-tiba terasa gatal. Dia benar-benar malu sekali, sudah bersikap sok sokan bisa masak, pada akhirnya___ Zonk.


Beginilah nasibnya kalau tidak bisa masak, dan selalu mengandalkan orang lain. Selama ini, Jingga memang tak suka namanya memasak, karena sering kali gagal, dan hanya buang-buang bahan makanan saja. Masak telur ceplok aja


gosong, hanya bisa masak mie instan yang sekalian di rebus dengan telur.


Jadi, dia lebih memilih untuk membeli makanan di luar.


Jingga.


Angkasa merengkuh pundak Jingga dan membawanya kembali ke tempat duduk.


“ Sudah, kamu duduk cantik saja di sini! urusan masak serahkan padaku!” tukas Angkasa.


"Tapi __"


Angkasa merendahkan badannya agar setara menatap wajah Jingga. “ Tapi apa? Aku sudah tau kok kalau kamu itu tidak bisa masak. Jadi, lain kali jang sok bisa! Biarkan pangeran tampan ini. membuatkan hidangan yang enak,” ujar Angkasa.


Jingga hanya mengerucutkan bibirnya ketika mendengar Angkasa kembali narsis dengan meyebut dirinya sendiri pangeran yang tampan.


Melihat Angkasa yang begitu lihai dengan alat dan bahan makanan, membuat Jingga merasa minder.


Kenapa dia yang seorang pria saja pandai masak? Lah, aku yang cewek masak telur ceplok aja gosong! Gumam Jingga seraya terus menatap punggung Angkasa.

__ADS_1


Aroma harum masakan, membuat perut Jingga semakin memberontak minta segera di isi. Tak lama kemudian, dua hidangan sudah selesai. Nasi goreng spesial dan juga spaghetti aglio e olio.


" Selamat menikmati Dokter cantikku," ucap Angkasa seraya meletakkan kedua menu itu di atas meja.


Melihat tampilan makanan yang menggugah selera, membuat Jingga menelan ludahnya. Angkasa juga mengambilkan alat makan dan juga jus untuk mereka berdua. Jingga sudah seperti seorang putri yang hanya duduk diam untuk di layani.


" Silahkan di coba, enak apa nggak?" Angkasa mempersilahkan Jingga untuk mengambil makanannya terlebih dahulu.


Awal mula, Jingga mencoba spaghetti terlebih dahulu. Suapan pertama saja sudah membuat Jingga merem melek karena makanan itu sangat enak.


"A, ini beneran enak sekali sekelas masakan chef bintang lima,"puji Jingga.


Hanya di sogok dengan makanan enak saja sudah membuat Jingga bahagia. Sebelumnya, Jingga memang hanya memakan bubur dan sesuatu yang lunak dan hambar karena sakit. Jadi, dia belum pernah menikmati masakan Angkasa yang seperti ini.


" Apakah seenak itu?"


Jingga hanya mengangguk sambil terus memakan spaghetti itu tanpa henti.


" Pelan-pelan, lihat itu belepotan!" Angkasa mengelap sisa makanan di ujung bibir Jingga, lalu memakannya. Jingga hanya melongo melihat Angkasa tidak ada jijiknya sama sekali.


" Kenapa? Nasi gorengnya juga di coba."


Jingga menelan makanannya, lalu. Menyendok nasi goreng ke piringnya. Lagi-lagi Jingga di buat terkejut dengan rasa nasi goreng itu, bahkan masakan Elia yang menurutnya paling enak saja kalah dengan masakan Jingga.


Ada seseorang mengatakan jika ingin mendapatkan hati seorang pria harus bisa menyenangkan perutnya terlebih dahulu, tapi ini kebalikannya. Karena Angkasa yang justru menyenangkan perut Jingga dengan masakannya yang enak.


" A, kenapa kamu tidak jadi chef saja? Makananmu sangat enak, di jamin pasti ramai jika kamu membuka restoran."


"Bukankah sekarang aku sudah menjadi chef?"


"Oh, ya? Di mana?" tanya Jingga penasaran.


Angkasa tersenyum. " Di sini, menjadi chef pribadi Dokter Jingga yang cantik," gombal Angkasa.


Jantung Jingga kembali berdetak tak karuan ketika mendapatkan gombalan dari Angkasa.


" Aku tidak suka memasak untuk orang banyak. Karena aku hanya akan memasak untuk wanita yang aku cintai, dan keluarga kecilku nanti," pungkas Angkasa dengan tersenyum lebar menatap Jingga.

__ADS_1


Tuhan ... Kenapa jantungku seakan ingin copot dari tempatnya. Batin Jingga


...****************...


__ADS_2