
MaNgga ..., " seru gadis kecil yang berlari menghampirinya dengan wajah bahagia. Mendengar bahwa Jingga sudah pulang, membuat Arsy segera ingin bertemu dengannya.
Jingga yang melihat Arsy berlari ke arahnya segera merentangkan tangan guna menangkap putri kecilnya.
Hap
Jingga berhasil menangkap Arsy, lalu menggendongnya.
" MaNgga tidak teluka, kan?" tanya Arsy.
Jingga menggelengkan kepalanya, lalu mencubit gemas pipi bakpao Arsy.
" Alhamdulillah ...," Arsy mengucapkan syukur dengan mengusap wajahnya.
Angkasa yang melihat Jingga begitu dekat dengan Arsy jadi membayangkan bagaimana nanti anak mereka berdua, pasti tidak kalah menggemaskannya.
" Om ini kenapa ada di sini?" tanya Arsy dengan menunjuk ke arah Angkasa yang tengah membantu Jingga mengemasi barang-barangnya.
" Oh, MaNgga perkenalkan ya ... Om ini namanya Angkasa dan dia adalah suami MaNgga." Jingga mencoba memperkenalkan Angkasa pada Arsy.
" Cuami?" tanya Arsy yang di jawab sebuah anggukan oleh Jingga.
" Iya, Halo Arsy ...," Angkasa mengulurkan tangannya pada Arsy, namun tidak di hiraukan. Arsy justru melipat kedua tangannya di depan dada.
" Arsy ... tidak boleh bersikap seperti itu pada orang yang lebih dewasa," ujar Elia dengan tatapan tidak suka.
Arsy hanya menundukkan wajahnya, menandakan bahwa dia sedang ngambek.
Jingga yang melihat hal itu segera membujuk Arsy, namun Arsy justru membuang muka dan minta di turunkan dari gendongan. Melihat sikap Arsy yang tidak seperti biasanya, membuat Elia dan Jingga cukup terkejut.
Ada apa dengan putrinya itu?
" Arsy kenapa sayang?"
" Tulunin Acy," pinta Arsy yang sedikit memberontak, membuat Jingga terpaksa menurunkannya. Setelah itu, Arsy segera berjalan keluar dari kamar Jingga. Elia yang berdiri di depan pintu kamar, mencoba menghalangi Arsy.
__ADS_1
" Arsy kenapa? Mami minta maaf, tapi Arsy memang tidak boleh bersikap seperti itu sayang." Elia mencoba memberi penjelasan pelan-pelan. Namun, Arsy masih tetap menunduk dan diam tanpa suara.
Melihat Arsy yang sudah seperti ini, membuat Elia menghembuskan nafas panjang. Dia mencoba untuk menggendong Arsy, namun dia terus menolak.
" Arsy kenapa?" tanya Elia lagi.
Bukannya menjawab, Arsy justru berlalu pergi.
" El...," panggil Jingga.
" Sudah, biarkan aku urus Arsy, kalian lanjutkan saya berkemasnya," pungkas Elia yang segera berjalan mengikuti Arsy.
Mengetahui Maminya mengikuti, membuat Arsy berlari masuk ke dalam kamarnya. Untungnya Elia masih sempat mencegah pintu tertutup sehingga membuat Arsy tidak bisa mengunci pintu kamarnya.
Melihat hal itu, Arsy segera berjalan naik ke atas kasur, dan menutup tubuh mungilnya dengan selimut.
Lagi-lagi Elia hanya bisa menghembuskan nafas kasar saat melihat tingkah putri kecilnya itu.
" Arsy kenapa? Marah sama Mami? Mami minta maaf deh, kalau gitu. Tapi ... Arsy jangan ngambek lagi ya ...," bujuk Elia. Namun, tak mendapatkan respon dari Arsy.
" Kamu kenapa sayang?" tanya Angkasa yang menyadari kegelisahan istrinya.
" Ha? "tanya Jingga yang sedikit terkejut karena dia tengah melamun.
" Kalau kamu khawatir sama Arsy, temui saja. Biar aku yang lanjutkan, " ucap Angkasa dengan memberikan kode agar Jingga pergi.
" Tapi___" Jingga merasa tidak enak, masak iya dia membiarkan Angkasa yang mengemasi barang sendirian.
" Sudah ... Sana ...," Angkasa mencoba meyakinkan istrinya bahwa dia tidak apa-apa.
" Kalau gitu, aku temui Arsy dulu ya ... Tapi, soal pakaian biar aku saja yang packing," pinta Jingga karena dia malu jika Angkasa yang membereskan pakaian. Karena ada beberapa benda wanita yang....
Angkasa mengangguk, membuat Jingga merasa tenang untuk pergi. Sebelum pergi, Jingga menyempatkan mencium pipi Angkasa sebagai tanda terimakasih karena dia benar-benar mengerti dirinya.
Angkasa tersenyum sambil memegang pipi bekas ciuman Jingga.
__ADS_1
Ternyata ... Tidak buruk juga menikah dadakan. Batin Angkasa.
Sesampainya di kamar Arsy, Jingga melihat Elia masih terus mencoba membujuk gadis kecil yang tengah bersembunyi di balik selimut. Kini, Jingga mengambil alih duduk di ranjang untuk membujuk Arsy.
" My little princess ... Ada apa?" tanya Jingga yang masih belum mendapatkan respon.
" Arsy mau MaNgga belikan mainan baru? Atau jalan-jalan?"
" Nggak mau!" jawab Arsy singkat.
" Oh... Terus maunya apa, dong?"
" Arsy maunya MaNgga tetap tinggal di sini, " ucap Arsy tanpa membuka selimut.
Jingga dan Elia cukup terkejut saat mendengar jawaban dari Arsy. Padahal, dia belum mengatakan apapun pada Arsy tentang dia yang ingin pamit pindah untuk tinggal bersama Angkasa.
Ya ... Arsy ngambek karena melihat Angkasa membereskan barang-barang Jingga. Bahkan ada pakaian yang di masukkan ke dalam koper, menandakan bahwa Jingga akan pergi. Arsy memang masih kecil, tapi dia ingat betul kejadian pindahan Simon ke rumah ini. Jadi, Arsy beranggapan bahwa Jingga akan pergi karena sedang mengemasi barang.
" Jadi, Arsy ngambek karena MaNnga mau pergi?" tanya Jingga untuk memastikan.
Saat mendengar Jingga mengatakan akan pergi, membuat Arsy seketika bangun dan membuka selimutnya.
" MaNgga benelan mau pelgi?"
" Sayang... MaNgga sekarang kan sudah menikah. Jadi, tidak mungkin tetap tinggal di sini. " Jingga mencoba memberi penjelasan.
" Memangnya kenapa? Daddy sama Mami juga menikah, tapi Daddy yang pindah ke cini. Kalau begitu, Om saja yang pindah tinggal di cini! " Arsy tetap tidak mau jika Jingga pergi dari rumah. Dia hanya anak kecil yang sedang cemburu, dan tidak ingin di tinggal pergi oleh Mamanya. Meskipun bukan ibu kandung, Jingga memang sangat dekat sekali dengan Arsy.
" Arsy, kondisi Mami dan MaNgga berbeda. Nanti kalau Arsy sudah besar pasti akan mengerti. Tapi, sekarang... Mangga harus ikut pindah tinggal bersama suaminya. " Kini Elia ikut memberi penjelasan.
" Walaupun MaNgga pindah, MaNgga akan sering-sering datang ke sini kok. Kalau kangen, Arsy juga boleh main ke rumah MaNgga," timpal Jingga dengan tersenyum.
Arsy masih terdiam, seakan sedang berpikir.
" Arsy..., "
__ADS_1
...****************...