Mengejar Cinta Dokter Galak

Mengejar Cinta Dokter Galak
MCDG ~ Bab 86


__ADS_3

Cahaya matahari telah meninggi, di sebuah ruangan rawat inap terlihat seorang wanita cantik mulai mengerjapkan mata. Perlahan sepasang mata indah itu pun mulai terbuka, sayup-sayup ia dapat melihat seorang pria tengah berdiri membelakanginya sambil berbicara dengan seseorang di balik telepon.


Jingga mencoba bangun dari tidurnya, namun kepalanya terasa sangat pusing serta perut yang tidak nyaman sama sekali.


" Aku ada di mana?" gumam Jingga saat menyadari bahwa ia sedang tidak berada di rumah.


Ketika mendengar ada orang yang berbicara, membuat Angkasa membalikkan tubuhnya.


" Kamu sudah bangun sayang?" Angkasa segera mematikan ponselnya, dan berjalan mendekati sang istri.


" Kenapa aku bisa di sini, A?" tanya Jingga yang masih bingung kenapa dia bisa berada di rumah sakit dengan tangan yang di infus.


Angkasa tersenyum, lalu mengusap kepala Jingga.


" Kamu tadi subuh pingsan, dan suhu tubuh kamu dingin sekali. Makanya aku bawa kamu ke rumah sakit, " jelas Angkasa.


Pingsan?


Jingga mencoba mengingat kembali kejadian tadi pagi dimana ia tiba-tiba mual, muntah tanpa henti sampai tubuhnya terasa lemas dan ... sepertinya pingsan karena Jingga tak bisa mengingat apa-apa lagi.

__ADS_1


" Oh, ya? Apa masih ada yang kamu rasa tidak enak?" tanya Angkasa cemas.


Jingga mengangguk.


" Aku pusing, mual, serta perutku terasa sedikit kram," ungkap Jingga.


Meskipun dia seorang Dokter kandungan, Jingga belum pernah hamil jadi masih tidak tahu bagaimana rasanya menjadi seorang wanita yang tengah hamil. Apalagi, pernikahannya dengan Angkasa masih berjalan sebulan lebih jadi belum ada kepikiran ke sana.


" Kalau gitu, kamu sarapan dulu. Setelah itu, baru kita melakukan pemeriksaan lebih lanjut."


" Pemeriksaan lebih lanjut?" ulang Jingga yang masih merasa bingung.


Jingga tercengang tatkala mendengar Angkasa mengatakan bahwa ia tengah hamil. Jingga ikut meraba perutnya yang masih terlihat rata.


Apa benar aku sudah hamil? Jika benar, selamat datang di dalam rahim Mama, sayang... Batin Jingga.


Tanpa sadar, buliran bening jatuh menetes dari pelupuk matanya. Jingga tidak pernah mengira bahwa ia akan menjadi seorang Ibu, bahkan... dalam waktu secepat ini. Kehidupannya sejak bertemu Angkasa benar-benar terasa seperti mimpi. Kejutan, cinta, kebahagiaan seakan terus hadir dalam hidupnya yang kelam.


" Kamu kenapa menangis?" Angkasa mengusap pipi istrinya yang basah.

__ADS_1


" Apa ini nyata, A?" tanya Jingga yang masih belum percaya.


Angkasa tersenyum. " Aku berharap ini adalah nyata, makanya kamu saran lalu kita periksa ya. Biar tahu, apakah ini nyata atau bukan. "


Jingga mengangguk, dia yang awalnya merasa lemas seketika bersemangat tatkala mendengar kabar ini.


Selepas sarapan, Angkasa membawa Jingga ke ruangan Dokter kandungan. Karena mereka sudah mengatur janji lebih dulu jadi bisa segera masuk, tanpa mengantri.


Biasanya, Jingga yang akan memeriksa seorang pasien. Namun, kini dia yang justru menjadi pasien.


Dokter yang memeriksa Jingga tersenyum. " Selamat ya Dokter Jingga atas kehamilan pertamanya dan usianya sudah 5 minggu," ungkap Dokter itu.


Jingga dan Angkasa semakin mengeratkan genggaman tangan mereka. Rasa haru, bahagia semuanya menjadi satu. Jingga benar-benar bahagia dan bersyukur karena Tuhan menitipkan anugrah kepadanya begitu cepat. Namun, senyum kebahagiaan itu terhenti seketika tatkala melihat ada yang terasa ganjal.


" Dok ... Apakah ...?" Jingga menoleh ke arah Dokter kandungan yang lebih senior darinya.


" Ya, karena kamu juga seorang Dokter Obgyn jadi saya tidak perlu menjelaskannya lagi. Karena kamu pasti sudah tahu apa yang terjadi," ujar Dokter itu .


Jingga hanya bisa terdiam, sedangkan Angkasa yang tidak mengerti pun jadi ikut bingung. Ada apa sebenarnya?

__ADS_1


...****************...


__ADS_2