Mengejar Cinta Dokter Galak

Mengejar Cinta Dokter Galak
Bab 18


__ADS_3

Bug


Sebuah bogeman melayang ke wajah Angkasa sampai membuatnya tersungkur jatuh ke tanah, serta darah segar mengalir dari sudut bibir Angkasa karena pukulan yang di berikan Haikal cukup keras. Semua orang yang ada di sana terkejut saat melihat Haikal tiba-tiba memukul Angkasa.


Haikal menarik kerah baju Angkasa dengan tatapan tajam seakan ingin membunuh Angkasa sekarang juga. Simon dan Reno mencoba  merelai mereka, sedangkan Angkasa mengusap sudut bibirnya yang terasa perih karena sobek. Sebenarnya Angkasa juga ingin melawan dan memukul pria itu kembali, namun dia tak mau terlihat emosian di depan Jingga. Dia ingin melihat, apakah Jingga khawatir atau tida jika dia terluka.


“ Kamu kenapa sih, Kal? Tenang, kalau ada masalah di selesaikan baik-baik. Jangan main pukul begitu saja,” ujar Simon.


“ Gimana gue tenang, melihat pria brengsek itu


menyembunyikan Jingga selama dua hari!” ketus Haikal dengan nada sedikit meninggi. Kini, Haikal sudah tak memanggil Jingga dengan embel-embel kak. Karena mulai saat ini, Haikal akan memproklamirkan bahwa dia akan mengejar Jingga secara terang-terangan.


Semua orang terkejut mendengar ucapan Haikal yang memukul Angkasa gara-gara mengira bahwa Angkasa sengaja menyembunyikan Jingga. Padahal, sebelumnya Simon sudah mengatakan kalau Jingga tidak segera di antar pulang ke rumah


karena sedang menjalani pengobatan.


Awalnya, Haikal percaya, tapi setelah melihat siapa pria yang mengantar Jingga pulang. Dia jadi curiga kalau itu hanya akal-akalan pria itu agar


bisa membuat Jingga berada di sampingnya.


Cemburu? Marah? Mungkin itu yang


Haikal rasakan saat ini karena wanita yang di cintanya bermalam dengan pria saingannya. Sejak bertemu dengan Angkasa di rumah sakit, Haikal sudah menduga bahwa dia menyukai Jingga.


“ Kal, bukankah aku__”


“ Gue tau, Mon. tapi, setelah melihat pria itu, gue jadi


nggak percaya kalau dia hanya menolong Jingga saja,” potong Haikal seraya menunjuk ke arah Angkasa.


“ Sudahlah, lebih baik kita masuk ke dalam saja,” saran Elia agar masalahnya tak semakin panjang.


Dia tak mau ada perkelahian di depan rumahnya, apalagi sampai di lihat oleh pengunjung atau karyawan restoran. Bisa-bisa jadi tontonan gratis.


Melihat wanita cantik yang begitu memikat hati, membuat Doni tak berkedip sedikitpun. Apalagi ketika angin menerpa rambut Elia, membuat dia semakin terlihat cantik dan seksi.


Semua setuju dengan saran yang di berikan oleh Elia untuk masuk ke dalam rumah. Simon segera membawa Haikal masuk ke dalam rumah. Melihat temannya yang masih diam mematung, sekaligus senyam- senyum sendiri menatap kearah sahabat Jingga, membuat Angkasa geleng-geleng kepala.


Dasar playboy cap tikus! Matanya langsung ijo kalau lihat wanita cantik! Gerutu Angkasa dalam hati.

__ADS_1


“ Air liurmu hampir jatuh!” dusta Angkasa untuk membuat Doni bangun dari lamunannya.


Dengan reflek, Dini segera mengelap bibirnya, namun tak ada air liur yang menetes.


"Sialan A! Gue di kibulin lagi" gerutu Doni yang segera berlari ikut masuk ke dalam rumah.


Melihat banyak tamu yang datang, Elia segera mengambilkan minuman, camilan serta kompres es batu instan dan obat p3k untuk mengobati luka


Angkasa.


Melihat ada pria yang menatap istrinya dengan tatapan terpesona tanpa berkedip, membuat Simon mengepalkan tangannya.


“ Ini kompres dan obat untuk mengobati lukamu.” Elia menyodorkansebuah kotak p3k mini dan juga kompres di depan Angkasa.


Saat Angkasa ingin mengambilnya, Doni terlebih dulu merampasnya agar bisa bersentuhan tangan dengan Elia.


“ Biar aku yang membantu mengobati lukanya,” ucap Doni seraya tersenyum manis dan sedikit mengelus tangan Elia.


Melihat hal itu, membuat Simon berdeham cukup keras. Elia juga yang merasa risih dengan sikap pria yang ada di depannya ini, segera melepaskan tangannya secara paksa.


Ketika Elia ingin duduk di dekat Jingga, Simon lebih dulu menarik tubuh Elia duduk di  pangkuannya untuk memperlihatkan bahwa Elia itu miliknya.


“ Sayang, lepasin. Malu di lihatin orang, "lirih Elia yang tak di hiraukan Simon. Karena dia fokus menatap tajam ke arah Doni.


Untung saja, jarak mereka dengan tempat duduk Simon sedikit jauh terhalang meja panjang. Jika dekat, mungkin sudah habis Doni di gebukin.


" Dia tak membunuhmu saja sudah untung!" tukas Angkasa.


" La apa salahku? "tanya Doni yang belum mengerti apa kesalahannya.


Angkasa menghela nafas panjang. Andai dia tahu kalau Doni bersikap akan bersikap seperti ini, pasti sudah dia keluarkan sejak tadi dia dari mobil. Angkasa benar-benar malu mempunyai teman yang mata keranjang dan tulalit seperti Doni. Dalam ilmu ilmiah saja dia jago, tapi dalam menilai situasi, kondisi dan mimik wajah orang nol! Katanya playboy, masak menilai raut wajah cemburu saja tidak bisa.


Doni ... Doni ... Dasar playboy cap tikus yang nggak peka! gumam Angkasa dalam hati.


" Karena dia suami dari wanita itu!" pungkas Angkasa setelah diam beberapa detik.


Doni terkejut dan menoleh ke arah Angkasa. " Lo serius A?" tanya Doni memastikan.


Angkasa hanya berkedip saja.

__ADS_1


" Ternyata benar ya, istri orang itu lebih menggoda dan menantang! " tandas Doni.


Angkasa hanya bisa menepuk jidatnya ketika mendengar ucapan Doni. Angkasa tidak mengerti, dari apa otak, pikiran dan wajah Doni terbuat. Dia sama sekali nggak ada malu dan canggung - canggung nya sama sekali setelah mengetahui bahwa wanita yang dia sukai,sudah memiliki suami.


Setelah, pembicaraan mereka selesai. Elia benar-benar mengucapkan terima kasih karena Angkasa sudah menyelamatkan Jingga dari racun itu. Dia juga meminta maaf karena tadi sempat ada salah paham sampai membuat Angkasa terluka. Angkasa hanya tersenyum, dia tidak menganggap semua itu serius.


Ketika Angkasa ingin pamit pulang, Elia dan Runi menyenggol lengan Jingga agar dia mengantarkan Angkasa sampai depan.


" Apaan sih, El, Run?" tanya Jingga yang tak paham maksud dari kedua sahabatnya itu.


" Anterin sampai depan, lirih Runi yang segera mendorong tubuh Jingga agar maju ke depan."


" Kamu kenapa?" tanya Angkasa sedikit cemas takut kalau Jingga terjatuh.


" Gapapa, Kok, " Jingga menengok ke belakang sedikit.


Elia dan Runi, masih saja memberikan kode agar dia pergi mengantar kepulangan Angkasa. Mereka berdua seakan punya insting yang kuat pada Jingga dan Angkasa.


Sedangkan Haikal, ketika melihat tingkah Elia dan Runi yang seakan mendukung jika Angkasa dekat dengan Jingga, membuatnya mengepalkan tangan.


Bukankah, beberapa hari yang lalu Elia mendukungku untuk mendekati Jingga? Lalu kenapa sekarang terlihat seperti mendukung Angkasa? Dasar wanita, plin plan! Gerutu Haikal dalam hati.


Jingga hanya bisa menghembuskan nafas panjang, lalu menuruti perintah kedua sahabatnya. Walaupun Jingga tak menyukai Angkasa, tapi dia juga sedikit merasa bersalah melihat Angkasa terluka. Bagaimana juga, selama dua hari ini Angkasa bersikap baik dan tak berbuat macam-macam kepadanya, hanya menyentuh pipi saja. Andai itu orang lain, entah apa yang sudah terjadi pada Jingga.


" Aku antar kamu sampai depan rumah!" ujar Jingga.


Angkasa tersenyum sangat tipis sampai hampir tak terlihat.


" A," panggil Jingga sebelum Angkasa masuk ke dalam mobil.


" Terimakasih sekaligus Maaf ya, karena sudah merepotkan dan membuatmu terluka!" ujar Jingga.


Angkasa tersenyum, akhirnya dia bisa mendengar ucapan terima kasih dari Jingga.


" Iya sama-sama, jaga diri baik-baik ya. Kalau ada apa-apa, kamu hubungi aku lewat nomor yang sudah aku simpan di ponsel barumu. "


" Ponsel baru? "ulang Jingga yang tak mengerti maksud Angkasa.


" Iya, aku sudah membelikan ponsel terbaru untukmu. Aku simpan di dalam paper bag baju."

__ADS_1


" Sampai jumpa Dokter cantik, " ucap Angkasa dengan tersenyum dan melambaikan tangan, lalu masuk ke dalam mobil.



__ADS_2